Jakarta – Jasmine Jasudavicius memiliki kisah yang berbeda dari kebanyakan petarung UFC. Lahir pada 1 Maret 1989 di St. Catharines, Ontario, Kanada, ia tidak tumbuh sejak kecil dengan bayangan menjadi petarung profesional. Justru, perjalanan menuju oktagon baru dimulai ketika usianya sekitar 26–27 tahun. Pada 2016, pertemuannya dengan pelatih Chris Prickett menjadi titik balik. Jasudavicius bergabung dengan Niagara Top Team, saat sasana tersebut bahkan belum memiliki tempat latihan permanen. Tim kecil itu berlatih di berbagai tempat sederhana, tetapi lingkungan tersebut justru menjadi fondasi perjalanan luar biasa sang atlet Kanada.
Jasudavicius sebelumnya memang dikenal sebagai atlet, tetapi MMA menjadi sesuatu yang datang belakangan dalam hidupnya. Setelah mulai berlatih, perkembangannya berlangsung cepat. Ia menjalani debut amatir pada 2017 dan menyapu bersih empat pertarungan dengan kemenangan. Pada 2019, ia memasuki dunia profesional dan langsung menunjukkan karakter khasnya: tekanan, wrestling, kontrol tubuh, serta kemampuan membuat lawan bekerja keras sepanjang pertandingan. Brigid Chase menjadi lawan pertamanya dan ditaklukkan melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Setelah itu, kemenangan atas Kylie O’Hearn, Christina Ricker, dan Gabriella Gulfin membuat rekor profesionalnya berkembang menjadi 4-0.
Momentum tersebut sempat terhenti ketika Jasudavicius mencoba bertarung di strawweight. Pada Agustus 2020, ia menghadapi Elise Reed dalam perebutan gelar Cage Fury Fighting Championships dan kalah melalui keputusan split. Kekalahan itu menjadi pengalaman penting karena memperlihatkan bahwa perjalanan menuju level tertinggi tidak selalu berjalan mulus. Ia kembali ke flyweight, mengalahkan Ashley Deen lewat keputusan mutlak, kemudian mendapat kesempatan tampil di Dana White’s Contender Series pada September 2021. Menghadapi Julia Polastri, Jasudavicius tampil disiplin selama tiga ronde dan menang mutlak. Hasil tersebut memberinya tiket menuju UFC.
Debut UFC-nya berlangsung pada Januari 2022 melawan Kay Hansen di UFC 270. Jasudavicius meraih kemenangan keputusan mutlak dan mengawali perjalanan oktagonnya dengan positif. Namun, pertarungan berikutnya menghadirkan salah satu pelajaran terbesar dalam kariernya. Menghadapi Natalia Silva pada Juni 2022, Jasudavicius kesulitan menghadapi kecepatan dan kombinasi serangan lawannya hingga kalah telak melalui keputusan mutlak. Kekalahan tersebut menunjukkan kelemahannya ketika dipaksa mengejar petarung yang sangat cepat di jarak luar. Namun, ia tidak membiarkan hasil itu menjadi identitasnya. Ia kembali dengan kemenangan atas Gabriella Fernandes dan Miranda Maverick pada 2023, sebelum kembali kalah dari Tracy Cortez melalui keputusan mutlak.
Perubahan terbesar mulai terlihat pada 2024. Di UFC 297, Jasudavicius menghadapi Priscila Cachoeira dalam laga yang akhirnya berubah menjadi catchweight karena Cachoeira gagal memenuhi batas berat flyweight. Alih-alih terganggu oleh situasi tersebut, Jasudavicius tampil dominan dan menutup pertarungan dengan anaconda choke pada ronde ketiga. Ia mencatat keunggulan luar biasa 326-26 dalam total serangan, sebuah selisih yang menjadi rekor UFC untuk pertarungan perempuan saat itu, sekaligus memberinya bonus Performance of the Night. Beberapa bulan kemudian ia mengalahkan Fatima Kline melalui keputusan mutlak, lalu menaklukkan Ariane Lipski dengan brabo choke pada ronde ketiga. Dua kemenangan submission beruntun tersebut semakin menegaskan bahwa kemampuan grappling-nya terus berkembang.
Tahun 2025 menjadi fase terpenting dalam perjalanan Jasudavicius. Ia membuka tahun dengan kemenangan atas Mayra Bueno Silva melalui keputusan mutlak, sebelum menghadapi mantan juara UFC Jessica Andrade di UFC 315. Di Montreal, di hadapan publik Kanada, Jasudavicius tampil sangat tenang. Ia menjatuhkan Andrade, mengontrol posisi, melakukan ground-and-pound, kemudian mengambil punggung lawannya dan menyelesaikan pertarungan dengan rear-naked choke hanya dalam 2 menit 40 detik ronde pertama. Kemenangan atas mantan juara dunia tersebut merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya dan memperpanjang rentetan kemenangannya menjadi lima. Ia juga menerima penghargaan Performance of the Night.
Kemenangan itu mengantarnya ke level penantang serius, tetapi tantangan berikutnya kembali menguji batasnya. Pada Oktober 2025, ia menghadapi Manon Fiorot dan mengalami kekalahan TKO akibat pukulan pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menghentikan lima kemenangan beruntunnya dan menjadi kekalahan KO/TKO pertama dalam karier profesionalnya. Namun, respons Jasudavicius kembali memperlihatkan mentalitas seorang kompetitor. Pada April 2026, ia bangkit dengan mengalahkan Karine Silva melalui keputusan mutlak di Winnipeg. Ia bahkan mengakui bahwa penampilannya tidak memuaskan, tetapi tetap melihat kemenangan itu sebagai langkah penting untuk kembali membangun momentum. Hingga Agustus 2026, rekor profesionalnya tercatat 15 kemenangan dan 4 kekalahan, termasuk 9 kemenangan keputusan, 4 submission, dan 2 kemenangan KO/TKO.
Secara gaya, Jasudavicius adalah gambaran petarung pressure-grappler yang memanfaatkan ukuran tubuh, reach, wrestling, dan kontrol untuk menguras lawan. Ia bukan petarung yang mengandalkan ledakan kecepatan, tetapi justru membangun pertarungan melalui tekanan konstan, clinch, takedown, dan kontrol dari posisi atas. Pengalaman di Niagara Top Team membentuk pendekatan tersebut, sementara perkembangan Brazilian jiu-jitsu membuat permainan submission-nya semakin berbahaya. Pada 2025 ia bahkan memperoleh sabuk hitam BJJ setelah kemenangan atas Andrade. Metode bertarungnya mencerminkan filosofi yang sederhana: kenali kekuatan sendiri, paksa lawan bertarung dalam wilayah tersebut, dan jangan berhenti bekerja.
Yang membuat perjalanan Jasudavicius menarik bukan hanya jumlah kemenangan, melainkan usia ketika semuanya dimulai. Ia memasuki MMA ketika banyak calon petarung profesional sudah bertahun-tahun membangun karier. Dari latihan di tempat sederhana tanpa sasana permanen, ia perlahan naik melalui kompetisi amatir, panggung regional, Contender Series, hingga menjadi salah satu nama berpengalaman di divisi flyweight UFC. Kini, setelah melewati kekalahan dari Silva, Cortez, dan Fiorot serta membalas tekanan tersebut dengan kemenangan atas nama-nama seperti Andrade, Bueno Silva, Lipski, dan Silva, Jasudavicius membuktikan bahwa perkembangan tidak selalu mengenal usia. Kisahnya adalah tentang kerja keras, adaptasi, dan keberanian memulai ketika jalan menuju puncak tampaknya sudah terlambat.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda