Bilal Hasan: Petarung Indonesia Yang Menembus UFC

Piter Rudai 26/08/2026 3 min read
Bilal Hasan: Petarung Indonesia Yang Menembus UFC

Jakarta – Perjalanan Bilal Alakai Hasan menuju UFC bukanlah kisah tentang seorang petarung yang tiba-tiba muncul di panggung terbesar. Di balik rekor sempurna 9-0 yang kini dimilikinya, terdapat perjalanan panjang yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Bilal lahir di Hawaii, Amerika Serikat, pada 16 Juli 2001 dari orang tua yang berasal dari Jakarta, Indonesia. Ia kemudian pindah dan tumbuh besar di Washington. Latar belakang inilah yang membuat sosoknya memiliki ikatan khusus dengan Indonesia, sekaligus menjadikannya salah satu petarung berdarah Indonesia yang berhasil menembus UFC. Pada usia sekitar empat atau lima tahun, Bilal sudah mengenal taekwondo, olahraga yang kemudian menjadi fondasi penting dalam perjalanan bela dirinya.

Ketertarikan Bilal terhadap bela diri berkembang dari sekadar aktivitas masa kecil menjadi sesuatu yang serius. Ia bahkan pernah mengalami dua kekalahan dalam pertandingan awalnya, tetapi pengalaman tersebut tidak membuatnya meninggalkan olahraga tarung. Salah satu sumber inspirasi yang disebut dalam profilnya adalah film The Karate Kid. Gerakan tendangan dan cara karakter dalam film tersebut menggunakan sudut serangan membuat Bilal semakin tertarik mempelajari bela diri. Kerja kerasnya kemudian membuahkan prestasi di level junior. Pada 2017, ia menjadi juara PAN-American Taekwondo Junior Championships, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa kemampuan striking-nya sudah terbentuk jauh sebelum ia masuk ke MMA.

Setelah bertahun-tahun menekuni taekwondo, Bilal mulai mengalihkan fokus ke MMA pada 2021. Perpindahan tersebut menuntutnya menambahkan kemampuan yang sebelumnya tidak menjadi fokus utama, terutama gulat, grappling dan permainan di lantai. Ia kemudian memasuki karier profesional pada 2022 dan bergabung dengan Cage Fury Fighting Championships (CFFC). Di organisasi tersebut, Bilal berkembang sangat cepat. Ia tidak hanya mempertahankan rekor tak terkalahkan, tetapi juga menunjukkan kemampuan menyelesaikan pertandingan melalui berbagai cara. Pada September 2024, ia merebut gelar kelas flyweight CFFC setelah mengalahkan Jose Leon melalui rear-naked choke ronde kedua. Gelar tersebut kemudian berhasil dipertahankannya tiga kali.

Pengalaman di CFFC membuat Bilal semakin matang sebagai petarung. Ia bukan lagi sekadar striker yang mengandalkan latar belakang taekwondo, melainkan atlet MMA dengan permainan yang semakin lengkap. UFC mencatat bahwa sebelum tampil di Dana White’s Contender Series, Bilal telah mengoleksi sembilan kemenangan profesional tanpa kekalahan, termasuk tujuh kemenangan KO dan empat kemenangan dalam pertarungan perebutan gelar di bawah bendera CFFC. Rekor tersebut membuatnya datang ke DWCS sebagai salah satu prospek paling diperhitungkan, bahkan disebut sebagai favorit terbesar dalam sejarah ajang tersebut.

Kesempatan yang ditunggu akhirnya datang pada 11 Agustus 2026, ketika Bilal menghadapi petarung India, Mridul Saikia, pada Dana White’s Contender Series Season 10. Pertandingan tersebut hanya berlangsung 45 detik. Bilal terlebih dahulu memberikan tendangan ke tubuh, kemudian membaca serangan lawannya dan melepaskan pukulan kanan yang telak. Saikia langsung terjatuh, dan Bilal melanjutkan serangan di ground sampai wasit Herb Dean menghentikan pertandingan. Kemenangan TKO tersebut mempertahankan rekor sempurnanya menjadi 9-0 sekaligus mengantarkannya mendapatkan kontrak UFC dari Dana White.

Gaya bertarung Bilal memperlihatkan pengaruh kuat taekwondo, terutama melalui kemampuan menggunakan tendangan, menjaga jarak dan menciptakan sudut serangan. Namun, kekuatannya tidak berhenti di striking. Pengalaman MMA membuatnya mampu mengombinasikan serangan berdiri dengan grappling, sebagaimana terlihat dari kemenangan submission atas Jose Leon. Kemampuan menyelesaikan pertarungan melalui pukulan maupun kuncian membuat Bilal lebih sulit ditebak. Ia memiliki fisik yang mendukung permainan cepat, sementara latar belakang taekwondo memberinya variasi serangan yang tidak selalu mudah dibaca lawan. UFC mencatat tinggi badannya sekitar 170 cm dengan reach 177,8 cm, dan ia bertanding di kelas flyweight.

Di luar teknik, mentalitas Bilal juga menjadi bagian menarik dari kariernya. Setelah mendapatkan kontrak UFC, ia mengatakan bahwa tekanan di panggung besar justru dipandang sebagai sebuah keistimewaan. Baginya, proses menuju UFC—mulai dari latihan, pemotongan berat badan hingga menerima pukulan dalam sesi latihan—merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Sikap tersebut menunjukkan bahwa ia tidak ingin terbebani oleh status sebagai petarung tak terkalahkan. Ia justru ingin menikmati perjalanan dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkembang. Selebrasi moonwalk setelah mengalahkan Saikia juga memperlihatkan sisi kepribadiannya yang santai dan percaya diri, sekaligus kecintaannya kepada Michael Jackson.

Kini, Bilal Hasan memasuki babak paling penting dalam kariernya. Setelah sembilan kemenangan profesional tanpa kekalahan dan tiga kali mempertahankan sabuk CFFC, ia resmi menjadi bagian dari UFC. Debutnya dijadwalkan menghadapi Nilson Rojas pada 29 Agustus 2026 di UFC Fight Night Shanghai. Bagi Bilal, perjalanan dari seorang anak yang mulai menendang dan belajar taekwondo di Amerika hingga berdiri sebagai petarung 9-0 di UFC adalah bukti bahwa fondasi teknik, keberanian mengambil tantangan dan kemampuan beradaptasi dapat membawa seorang atlet melampaui batas yang semula terlihat jauh. Kini, panggung yang lebih besar menunggu, dan tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa dirinya bukan hanya prospek yang menarik, tetapi benar-benar mampu bertahan di antara petarung flyweight terbaik dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...