Jakarta -Bagi penggemar sepak bola, melihat sebuah tim mengenakan dua atau bahkan tiga warna jersey berbeda dalam satu musim adalah hal yang biasa. Ketika bermain di kandang, Manchester United identik dengan merah, Real Madrid dengan putih, atau AC Milan dengan garis merah-hitam. Namun saat bertandang, warna-warna tersebut bisa berubah drastis menjadi hitam, biru, hijau, emas, bahkan merah muda. Banyak orang menganggap perbedaan warna jersey hanya sebatas urusan desain atau pemasaran. Padahal, tradisi penggunaan jersey kandang dan tandang berakar pada kebutuhan praktis yang telah ada sejak lebih dari satu abad lalu.
Pada masa awal sepak bola modern di Inggris pada akhir abad ke-19, aturan mengenai seragam belum seketat sekarang. Banyak klub masih menggunakan pakaian sederhana, bahkan terkadang hanya mengenakan kaus berwarna polos yang dipadukan dengan celana putih atau hitam. Ketika dua tim memiliki warna yang hampir sama, pertandingan sering kali berlangsung membingungkan. Pemain kesulitan mengenali rekan setim, wasit sulit membedakan kedua kubu, dan penonton pun sering salah mengidentifikasi jalannya pertandingan.
Masalah tersebut semakin terasa ketika sepak bola mulai berkembang menjadi olahraga yang terorganisasi. Pada era sebelum televisi, pertandingan masih mengandalkan penglihatan langsung dari tribun, sehingga warna seragam menjadi elemen yang sangat penting. Karena itulah, asosiasi sepak bola mulai memperkenalkan aturan bahwa kedua tim yang bertanding harus menggunakan warna yang jelas berbeda.
Pada awalnya belum ada istilah “jersey kandang” dan “jersey tandang”. Jika dua klub memiliki warna serupa, salah satu tim diminta berganti seragam. Dalam banyak kasus, tim tamu yang harus mengalah. Tradisi inilah yang perlahan berkembang menjadi konsep home kit dan away kit yang digunakan hingga sekarang.
Seiring berkembangnya kompetisi sepak bola pada awal abad ke-20, setiap klub mulai menetapkan warna utama sebagai identitas permanen. Warna tersebut biasanya memiliki hubungan dengan sejarah klub, kota asal, atau simbol tertentu. Liverpool mempertahankan merah sebagai lambang semangat dan keberanian. Juventus mempertahankan garis hitam-putih yang menjadi ciri khas sejak awal abad ke-20. Barcelona tetap menggunakan kombinasi biru dan merah yang dikenal dengan istilah blaugrana.
Karena warna utama menjadi bagian dari identitas klub, muncul kesepakatan tidak tertulis bahwa tim tuan rumah memiliki hak menggunakan jersey utamanya. Sebaliknya, tim tamu harus mengganti seragam apabila warna keduanya dianggap terlalu mirip. Kebiasaan tersebut akhirnya menjadi standar internasional dan kemudian dituangkan dalam berbagai regulasi kompetisi.
Perkembangan teknologi penyiaran televisi turut memperkuat pentingnya perbedaan warna jersey. Pada era televisi hitam putih sekitar tahun 1950-an hingga awal 1970-an, beberapa warna yang berbeda di dunia nyata justru terlihat hampir sama di layar televisi. Misalnya merah tua dan biru tua sama-sama tampak gelap. Karena itu, federasi dan penyelenggara kompetisi mulai mengatur kontras warna dengan lebih ketat agar pertandingan tetap nyaman ditonton.
Ketika televisi berwarna mulai digunakan secara luas, aturan tersebut tetap dipertahankan. Bahkan kini FIFA, UEFA, dan berbagai liga domestik memiliki standar khusus mengenai kontras warna, termasuk warna kaus kaki, celana, hingga kostum penjaga gawang. Semua itu bertujuan menghindari kebingungan bagi pemain, wasit, penonton di stadion, maupun pemirsa televisi.
Dalam pertandingan internasional seperti Piala Dunia, keputusan mengenai penggunaan jersey biasanya ditentukan jauh sebelum hari pertandingan. FIFA melakukan evaluasi terhadap warna utama kedua tim. Jika dianggap terlalu mirip, salah satu tim diwajibkan menggunakan jersey tandang atau bahkan jersey ketiga. Menariknya, status sebagai tuan rumah atau tamu dalam turnamen internasional sering kali ditentukan melalui undian administrasi, bukan berdasarkan lokasi pertandingan.
Seiring berkembangnya industri sepak bola modern, fungsi jersey tandang pun berubah. Jika dahulu hanya digunakan ketika warna utama berbenturan, kini jersey tandang menjadi bagian penting dari strategi bisnis klub. Produsen perlengkapan olahraga setiap musim merancang desain baru yang tidak selalu berkaitan dengan warna tradisional klub.
Contohnya, Juventus pernah menggunakan jersey merah muda, Manchester United tampil dengan motif hitam-hijau, Arsenal mengenakan kombinasi kuning dan biru tua, sedangkan Real Madrid beberapa kali memakai warna ungu, hitam, hingga merah muda. Desain-desain tersebut bukan semata-mata karena kebutuhan pertandingan, tetapi juga untuk menarik perhatian pasar global.
Dalam beberapa dekade terakhir, bahkan muncul konsep third kit atau jersey ketiga. Jersey ini digunakan apabila warna kandang dan tandang sama-sama berpotensi berbenturan dengan lawan. Selain itu, jersey ketiga juga menjadi media kreativitas produsen untuk menghadirkan desain yang unik. Tidak sedikit jersey ketiga yang justru menjadi produk terlaris karena tampil berbeda dari identitas tradisional klub.
Meski demikian, warna utama tetap memiliki makna emosional yang tidak tergantikan. Bagi para suporter, jersey kandang merupakan simbol sejarah dan kebanggaan. Ketika Liverpool mengenakan merah di Anfield atau Celtic memakai garis hijau-putih di Celtic Park, para pendukung merasa sedang menyaksikan bagian dari identitas klub yang diwariskan lintas generasi.
Ada pula klub yang hampir tidak pernah mengubah warna utamanya selama puluhan bahkan ratusan tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa warna jersey bukan sekadar pilihan estetika, melainkan bagian dari warisan budaya olahraga. Perubahan kecil pada desain biasanya masih diterima, tetapi perubahan total terhadap warna utama sering memicu penolakan dari para pendukung.
Menariknya, beberapa klub justru memiliki cerita unik mengenai asal-usul warna jersey mereka. Juventus, misalnya, awalnya menggunakan seragam merah muda sebelum akhirnya berganti menjadi hitam-putih karena kesalahan pengiriman jersey dari Inggris. Chelsea mulai mengenakan biru sejak era pemilik awal klub, sementara Borussia Dortmund memilih kuning-hitam sebagai simbol komunitas lokal yang mendukung pembentukannya.
Tidak hanya sepak bola, konsep jersey kandang dan tandang kini diterapkan hampir di seluruh cabang olahraga beregu, seperti basket, hoki es, rugby, bola voli, hingga futsal. Prinsipnya tetap sama, yaitu memberikan identitas visual yang jelas sehingga pertandingan berlangsung lebih mudah diikuti oleh semua pihak.
Saat ini, teknologi juga mulai berperan dalam menentukan pemilihan jersey. Beberapa liga menggunakan perangkat lunak yang dapat menganalisis tingkat kontras warna berdasarkan sudut pandang kamera televisi maupun persepsi mata manusia. Bahkan, aspek aksesibilitas bagi penyandang buta warna turut dipertimbangkan dalam beberapa kompetisi elite agar pertandingan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.
Pada akhirnya, perbedaan warna antara jersey kandang dan tandang bukan sekadar persoalan mode atau pemasaran. Tradisi tersebut lahir dari kebutuhan sederhana untuk membedakan dua tim yang bertanding, kemudian berkembang menjadi bagian penting dari identitas, sejarah, dan budaya sepak bola dunia. Di balik setiap warna yang dikenakan sebuah klub, tersimpan kisah panjang mengenai asal-usul, kebanggaan, dan perjalanan mereka selama bertahun-tahun.
Ketika sebuah tim memasuki lapangan dengan jersey kandangnya, mereka membawa simbol yang telah dikenali jutaan pendukung di seluruh dunia. Sebaliknya, saat mengenakan jersey tandang, mereka tetap membawa identitas yang sama meski dalam balutan warna berbeda. Itulah sebabnya, hingga kini, perbedaan warna jersey kandang dan tandang tetap dipertahankan. Bukan hanya demi memudahkan jalannya pertandingan, tetapi juga sebagai tradisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola modern.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda