Jakarta – Nama Rod Alavi mungkin belum sebesar bintang-bintang UFC atau ONE Championship, tetapi perjalanan “The Alchemist” menunjukkan bagaimana seorang atlet dapat menemukan jalannya sendiri di dunia olahraga tarung. Berasal dari Amerika Serikat dan bertarung dari Rancho Cucamonga, California, Alavi tercatat memiliki tinggi 5 kaki 10 inci (178 cm), berat 170 pound (77 kg), dan berkompetisi di kelas welterweight Power Slap. Hingga data resmi terbaru yang tersedia, ia memiliki rekor profesional 1 kemenangan dan 1 kekalahan.
Jalur Alavi menuju olahraga tarung juga tidak sepenuhnya konvensional. Sebelum dikenal sebagai atlet slap fighting, ia memiliki ketertarikan luas terhadap berbagai bentuk seni bela diri. Salah satu sumber pelatihan yang menampilkan Alavi menyebut dirinya telah mempelajari internal arts dan bahkan melakukan perjalanan untuk mempelajari berbagai tradisi bela diri. Ketertarikannya kemudian membawanya kepada pendekatan yang menekankan bagaimana tubuh menghasilkan dan menerima kekuatan. Dalam latihan bersama praktisi Tai Chi Sifu Zongqing Lin, Alavi mempelajari konsep menghasilkan tenaga tanpa sekadar mengandalkan ketegangan otot. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang berbeda dari sekadar menerima pukulan keras.
Perjalanan kompetitifnya mulai mendapat sorotan ketika Alavi tampil dalam Power Slap: Road to the Title Season 3. Pada babak awal, ia menghadapi Tyler Gross dalam pertarungan kelas welterweight. Alavi menunjukkan kemampuan menghasilkan daya ledak ketika menjatuhkan Gross melalui TKO pada ronde kedua, hanya 17 detik setelah ronde dimulai. Catatan resmi Nevada State Athletic Commission mengonfirmasi kemenangan tersebut, sementara Power Slap mencatat bahwa kemenangan itu membuat Alavi melangkah ke babak berikutnya.
Momentum tersebut membawanya menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Dalam babak berikutnya, Alavi bertemu Vince Tracey, setelah keduanya sama-sama kehilangan lawan yang sebelumnya dijadwalkan dan sepakat untuk saling berhadapan. Pertandingan itu menjadi salah satu ujian penting dalam perjalanan singkatnya. Alavi sempat menjatuhkan Tracey dengan pukulannya pada ronde pertama, tetapi pertarungan berubah menjadi duel ketahanan. Pada ronde kedua, Tracey berhasil mengguncang Alavi, sementara Alavi kemudian mendapat penalti karena pelanggaran clubbing. Setelah tiga ronde, Tracey dinyatakan menang melalui split decision.
Kekalahan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Alavi kembali tampil di Power Slap 11 di Riyadh, Arab Saudi, pada Januari 2025. Kali ini ia berhadapan dengan Cole “Full Send” Young dalam pertarungan welterweight. Young mengakhiri pertandingan melalui KO/TKO pada ronde pertama. Hasil tersebut menjadi kekalahan kedua dalam catatan pertarungan profesional Alavi jika dihitung bersama kekalahan dari Tracey, tetapi catatan resmi Power Slap saat ini justru mencantumkan rekor 1–1–0, sehingga terdapat perbedaan antara catatan kompetisi Road to the Title dan klasifikasi rekor profesional resmi promotor.
Gaya Alavi dibangun di atas satu karakteristik utama: daya ledak. Kemenangan atas Gross memperlihatkan kemampuannya menghasilkan pukulan yang mampu mengakhiri pertandingan, sementara pengalamannya dengan seni bela diri internal menunjukkan ketertarikan pada mekanika tubuh, keseimbangan, dan efisiensi tenaga. Dalam konteks Power Slap, kemampuan tersebut menjadi sangat penting karena seorang striker bukan hanya dituntut menghasilkan kekuatan, tetapi juga harus mampu menerima serangan lawan tanpa kehilangan keseimbangan maupun konsentrasi.
Pada akhirnya, perjalanan Rod Alavi masih berada pada tahap awal. Ia belum pernah tampil di UFC maupun ONE Championship; panggung profesionalnya sejauh ini adalah Power Slap, dengan kelas welterweight sebagai rumah kompetisinya. Namun perjalanan dari kemenangan spektakuler atas Gross, duel keras melawan Tracey, hingga kekalahan dari Young memperlihatkan proses seorang atlet yang sedang mencari bentuk terbaiknya. Julukan “The Alchemist” terasa relevan: Alavi masih dalam proses mengolah pengalaman, teknik, dan ketahanan menjadi identitas kompetitif yang lebih matang di panggung slap fighting.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda