Amir Albazi: Dari Baghdad Ke Panggung Elite UFC

Piter Rudai • 31/10/2026 • 4 min read
Amir Albazi: Dari Baghdad Ke Panggung Elite UFC

Jakarta – Perjalanan menuju panggung tertinggi Mixed Martial Arts (MMA) tidak selalu dimulai dengan fasilitas mewah atau jalan yang mudah. Bagi Amir Albazi, perjalanan tersebut berawal dari pengalaman hidup sebagai imigran yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Petarung berjuluk The Prince ini berhasil mengubah pengalaman sulit masa kecilnya menjadi motivasi untuk menekuni bela diri hingga menjadi salah satu petarung yang diperhitungkan di kelas flyweight Ultimate Fighting Championship (UFC).

Amir Albazi lahir pada 27 Oktober 1993 di Baghdad, Irak. Ketika berusia tujuh tahun, ia pindah bersama keluarganya ke Swedia. Masa kecilnya tidak selalu berjalan mudah karena perbedaan bahasa dan statusnya sebagai pendatang membuatnya pernah mengalami perundungan. Situasi tersebut mendorongnya belajar mempertahankan diri. Ketertarikannya terhadap MMA semakin besar ketika berusia sekitar 14 tahun setelah menyaksikan pertandingan UFC di televisi. Ia kemudian mulai berlatih Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) di Stockholm. Dari sinilah kecintaannya terhadap bela diri berkembang menjadi ambisi untuk berkompetisi secara profesional.

Albazi memulai karier profesional MMA pada 2009 ketika usianya masih 16 tahun. Sebelum dikenal sebagai petarung UFC, ia menghabiskan bertahun-tahun membangun kemampuan melalui kompetisi regional dan internasional. Selain MMA, ia juga aktif mengikuti kejuaraan jiu-jitsu dan submission wrestling. Kemampuannya dalam grappling berkembang pesat hingga berhasil meraih berbagai gelar di tingkat Swedia, Skandinavia, Eropa, dan Asia. Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah keberhasilannya menjadi juara dunia Brazilian Jiu-Jitsu tingkat sabuk biru di Los Angeles. Pengalaman tersebut membentuk fondasi teknik yang kemudian menjadi kekuatan utamanya di MMA.

Sebelum bergabung dengan UFC, Albazi memperoleh pengalaman bertanding di organisasi internasional seperti Bellator. Ia mencatat dua kemenangan di organisasi tersebut sebelum melanjutkan karier melalui berbagai kompetisi profesional. Kesempatan bergabung dengan UFC akhirnya datang pada 2020. Ia menjalani debut pada 18 Juli 2020 di UFC Fight Night melawan Malcolm Gordon. Albazi berhasil memenangkan pertandingan melalui triangle choke pada ronde pertama. Kemenangan tersebut menjadi pernyataan awal bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi.

Kariernya di UFC berkembang secara bertahap. Pada Januari 2021, ia mengalahkan Zhalgas Zhumagulov melalui keputusan mutlak. Setahun kemudian, ia kembali menunjukkan kemampuan submission dengan menundukkan Francisco Figueiredo menggunakan rear-naked choke pada ronde pertama di UFC 278. Pada Desember 2022, Albazi menghadapi Alessandro Costa dan meraih kemenangan melalui knockout pada ronde ketiga. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa kemampuannya tidak hanya bertumpu pada teknik kuncian, tetapi juga berkembang dalam pertarungan berdiri.

Momen penting berikutnya terjadi pada 3 Juni 2023 ketika Albazi menghadapi Kai Kara-France dalam pertandingan utama UFC Fight Night. Kara-France merupakan petarung berpengalaman sehingga pertandingan tersebut menjadi ujian besar. Pertarungan berlangsung selama lima ronde dan berakhir dengan kemenangan Albazi melalui split decision. Hasil ini menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya karena memperlihatkan kemampuan bertahan, mengatur strategi, dan menjaga konsentrasi dalam pertandingan berdurasi panjang. Kemenangan tersebut sekaligus memperkuat posisinya sebagai penantang serius di divisi flyweight.

Namun, perjalanan menuju gelar juara tidak berjalan tanpa hambatan. Setelah kemenangan atas Kara-France, Albazi menghadapi persoalan kesehatan yang cukup serius. Ia menjalani operasi jantung dan operasi leher sehingga harus cukup lama meninggalkan Octagon. Ia bahkan sempat menarik diri dari sejumlah pertandingan karena belum mendapatkan izin medis. Situasi tersebut menjadi tantangan besar, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Meski demikian, dukungan keluarga dan kecintaannya terhadap MMA membuatnya tetap berusaha kembali.

Albazi kembali bertanding melawan Brandon Moreno pada 2 November 2024 dalam pertandingan utama UFC Fight Night. Pertarungan lima ronde tersebut berakhir dengan kekalahan melalui keputusan mutlak. Hasil itu menghentikan rentetan kemenangan UFC-nya. Pada 7 Februari 2026, ia kembali menghadapi Kyoji Horiguchi, tetapi harus menerima kekalahan melalui keputusan mutlak setelah tiga ronde. Dua hasil tersebut menjadi pengingat bahwa persaingan di kelas flyweight semakin ketat dan membutuhkan kesiapan fisik maupun strategi yang matang.

Gaya Bertarung dan Mentalitas Kompetitif

Albazi bertanding di kelas flyweight dengan batas berat 125 pon atau sekitar 56,7 kilogram. Ia memiliki tinggi sekitar 165 sentimeter dan jangkauan tangan 173 sentimeter. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu yang dipadukan dengan teknik gulat dan striking. Ia dikenal agresif ketika berhasil membawa lawan ke pertarungan bawah. Kemampuannya melakukan takedown, mempertahankan posisi dominan, serta mencari peluang kuncian membuatnya menjadi lawan yang berbahaya.

Dalam pertarungan berdiri, Albazi mengandalkan kombinasi pukulan dan tendangan untuk membuka pertahanan lawan. Pukulan right uppercut menjadi salah satu senjata yang pernah membantunya meraih kemenangan knockout atas Alessandro Costa. Kombinasi grappling dan striking tersebut membuat lawan harus mempertimbangkan berbagai ancaman sepanjang pertandingan.

Dalam persiapannya, Albazi dikenal menjalani latihan intensif yang mencakup pengembangan teknik, kekuatan fisik, dan daya tahan. Ia juga pernah menempuh pendidikan Sport and Exercise Science di University of Roehampton, London. Pengetahuan akademis tersebut memberikan tambahan pemahaman mengenai kebugaran dan performa olahraga. Ia mengagumi Jorge Masvidal karena gaya bertarungnya yang berani dan Muhammad Ali sebagai sosok inspiratif dalam dunia olahraga.

Rekor dan Pencapaian Profesional

Hingga 30 Oktober 2026, Amir Albazi memiliki rekor profesional 17 kemenangan dan 3 kekalahan. Dari total kemenangan tersebut, sembilan diraih melalui submission, lima melalui KO/TKO, dan tiga melalui keputusan juri. Pencapaian pentingnya meliputi berbagai gelar Brazilian Jiu-Jitsu, pengalaman bertanding di Bellator, serta kemenangan atas petarung berpengalaman seperti Kai Kara-France.

Perjalanan Amir Albazi memperlihatkan bahwa menjadi petarung elite bukan hanya tentang kemampuan mengalahkan lawan di dalam arena. Pengalaman sebagai imigran, perjuangan menghadapi perundungan, serta berbagai operasi yang menghambat kariernya membentuk mentalitas yang lebih matang. Julukan The Prince menjadi bagian dari perjalanan seorang petarung yang ingin membawa nama Irak ke panggung internasional. Meskipun belum berhasil meraih gelar juara UFC, Albazi tetap memiliki pengalaman dan kemampuan yang membuatnya menjadi salah satu nama menarik dalam persaingan kelas flyweight.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...