Asu Almabayev: Perjalanan Petarung Kazakhstan Di UFC

Piter Rudai • 31/10/2026 • 3 min read
Asu Almabayev: Perjalanan Petarung Kazakhstan Di UFC

Jakarta – Dalam dunia seni bela diri campuran (MMA), perjalanan menuju panggung tertinggi membutuhkan kerja keras, konsistensi, dan mentalitas kompetitif. Asu Almabayev menjadi salah satu petarung asal Kazakhstan yang berhasil membuktikan kemampuannya di tingkat internasional. Dikenal dengan julukan Zulfikar, ia menarik perhatian penggemar UFC melalui kemampuan gulat, penguasaan teknik submission, serta gaya bertarung agresif yang membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.

Lahir pada 1994 di Kazakhstan, Almabayev tumbuh di negara yang memiliki tradisi kuat dalam olahraga bela diri, khususnya gulat dan tinju. Ketertarikannya terhadap dunia pertarungan mulai berkembang ketika berusia 16 tahun. Ia kemudian menekuni latihan bela diri secara serius hingga memutuskan menjadikan MMA sebagai jalan karier profesional. Sebelum dikenal luas sebagai petarung, Almabayev juga pernah membantu pekerjaan di pasar milik keluarganya. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk kedisiplinan dan ketangguhannya.

Karier profesional Almabayev dimulai pada 1 Juni 2013 ketika menghadapi Vadim Buseev di ajang Rod Fighting. Ia berhasil memenangkan debutnya melalui keputusan juri. Namun, perjalanan awalnya tidak selalu berjalan mulus. Pada 2017, ia mengalami dua kekalahan dari Tagir Ulanbekov dan Mehman Mamedov. Hasil tersebut menjadi pengalaman penting yang mendorongnya memperbaiki kemampuan bertarung dan meningkatkan kualitas persiapannya.

Kebangkitan Almabayev mulai terlihat melalui kemenangan atas Ibragim Mamaev pada September 2017. Ia mengakhiri pertandingan menggunakan teknik Peruvian necktie, sebuah kuncian leher yang menunjukkan kreativitasnya dalam grappling. Setelah itu, ia membangun rentetan kemenangan dan mulai mendapatkan perhatian dari berbagai organisasi MMA internasional. Pada 2019, ia mengalahkan Chris Kelades melalui keputusan mutlak dalam pertarungan lima ronde sekaligus merebut gelar interim M-1 Global Flyweight. Ia juga mencatat kemenangan penting atas Zach Makovsky pada 2022, mantan juara Bellator yang memiliki pengalaman panjang di dunia MMA.

Kesempatan menuju panggung terbesar akhirnya datang pada 2023 ketika Almabayev bergabung dengan Ultimate Fighting Championship (UFC). Ia menjalani debut pada 5 Agustus 2023 melawan Ode’ Osbourne di UFC Fight Night. Dalam pertandingan tersebut, Almabayev memperlihatkan keunggulan kemampuan grappling dengan mengakhiri perlawanan Osbourne melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Kemenangan itu memberinya bonus Performance of the Night sekaligus menjadi awal yang menjanjikan dalam perjalanan UFC-nya.

Sepanjang 2024, Almabayev semakin menunjukkan konsistensinya dengan mengalahkan C.J. Vergara, Jose Johnson, dan Matheus Nicolau melalui keputusan juri. Kemenangan atas Nicolau menjadi salah satu pencapaian penting karena lawannya merupakan petarung berpengalaman yang pernah bersaing di jajaran atas divisi flyweight. Hasil tersebut membuktikan bahwa Almabayev tidak hanya mengandalkan kemampuan submission, tetapi juga mampu menjaga tekanan dan mengendalikan tempo pertandingan selama beberapa ronde.

Pada 1 Maret 2025, ia menghadapi ujian berat ketika bertemu Manel Kape. Pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan setelah Almabayev tidak dapat melanjutkan pertarungan pada ronde ketiga akibat serangan lawannya. Kekalahan itu menghentikan rentetan kemenangan panjangnya di UFC. Namun, ia mampu bangkit dengan mengalahkan Jose Ochoa melalui keputusan mutlak pada Juli 2025. Selanjutnya, ia menundukkan Alex Perez menggunakan teknik guillotine choke pada November 2025.

Performa positifnya berlanjut pada 27 Juni 2026 ketika menghadapi Charles Johnson. Almabayev berhasil mengakhiri pertandingan melalui teknik Suloev stretch pada ronde ketiga. Kemenangan tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu petarung yang patut diperhitungkan di kelas flyweight. Hingga 30 Oktober 2026, ia memiliki rekor profesional 24 kemenangan dan tiga kekalahan, dengan 11 kemenangan melalui submission, tiga melalui KO/TKO, dan 10 melalui keputusan juri. Ia juga dijadwalkan menghadapi Kyoji Horiguchi pada November 2026.

Dalam bertanding di kelas flyweight dengan batas berat 125 pon atau sekitar 56,7 kilogram, Almabayev mengandalkan kecepatan, kemampuan membaca pergerakan lawan, serta penguasaan gulat dan Brazilian Jiu-Jitsu. Ia dikenal mampu melakukan takedown, mengambil posisi dominan, kemudian mencari kesempatan untuk mengunci lawan. Teknik rear-naked choke, guillotine choke, dan Peruvian necktie menjadi bagian penting dari persenjataannya.

Gaya bertarung tersebut mencerminkan filosofi yang mengutamakan pengendalian pertarungan dan efisiensi teknik. Ia tidak selalu mencari kemenangan melalui pukulan keras, tetapi lebih memilih memanfaatkan kelemahan lawan dan mempertahankan tekanan. Dalam persiapannya, latihan grappling, gulat, striking, serta pengembangan kondisi fisik menjadi bagian penting untuk menghadapi persaingan di UFC. Ia juga dikenal sebagai pengagum petinju Kazakhstan, Gennadiy Golovkin, yang menjadi salah satu inspirasi dalam perjalanan olahraganya.

Perjalanan Asu Almabayev memperlihatkan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Dari kompetisi regional hingga menghadapi petarung elite UFC, ia telah melewati kekalahan, proses pembelajaran, dan berbagai tantangan. Dengan kemampuan grappling yang kuat serta mentalitas kompetitif, Almabayev terus membawa ambisi besar untuk menjadi juara dunia dan mengharumkan nama Kazakhstan di panggung MMA internasional.

 

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...