Charles Jourdain: Petarung Eksplosif Kanada Di UFC

Piter Rudai • 02/11/2026 • 4 min read
Charles Jourdain: Petarung Eksplosif Kanada Di UFC

Jakarta – Bagi Charles “Air” Jourdain, MMA bermula bukan sebagai rencana hidup yang sudah tersusun, melainkan rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi obsesi. Lahir pada 27 November 1995 di Longueuil, Quebec, Kanada, Jourdain mulai bertanding sebagai amatir pada 2015. Ia mengaku awalnya hanya ingin mencoba dunia pertarungan, tetapi rasa ingin tahu itu segera berkembang menjadi kecintaan terhadap MMA. Sebelum sepenuhnya menjadi petarung profesional, ia pernah bekerja sebagai penjaga pintu bar di kota asalnya sekaligus memberikan latihan privat Muay Thai. Ia bahkan sempat merencanakan masuk akademi kepolisian sebelum akhirnya memilih mengejar karier sebagai petarung.

Karier profesional Jourdain dimulai pada 2016 dan sejak awal ia tampil sebagai petarung yang mengandalkan keberanian serta kreativitas. Ia memenangkan lima pertandingan profesional pertamanya sebelum mengalami kekalahan pertama dari T.J. Laramie pada 2017. Kekalahan tersebut tidak menghentikan lajunya. Jourdain kemudian membangun kembali momentum dengan serangkaian kemenangan di TKO Major League MMA. Pada Desember 2018, ia merebut gelar TKO World Featherweight dengan mengalahkan Alex Morgan melalui guillotine choke pada ronde pertama. Empat bulan kemudian, ia naik kelas untuk merebut interim lightweight championship dengan menghentikan Damien Lapilus pada ronde kelima. Dua gelar di dua kelas berbeda membuat namanya semakin diperhitungkan di Kanada.

Kesempatan UFC datang pada 2019, tetapi debutnya tidak berjalan ideal. Jourdain menerima pertarungan melawan Desmond Green dalam waktu singkat dan bahkan harus bertanding di lightweight, kelas yang lebih berat daripada featherweight alaminya. Ia kalah melalui keputusan mutlak. Menariknya, Jourdain kemudian mengakui bahwa masalah utamanya bukan kemampuan teknis, melainkan tekanan. Bertarung di depan sekitar 16.000 penonton membuatnya merasa tidak mampu menjadi dirinya sendiri. Ia belajar dari pengalaman tersebut dan kembali ke featherweight beberapa bulan kemudian. Hasilnya spektakuler: di UFC Busan, ia menghentikan veteran Korea Selatan Doo Ho Choi pada ronde kedua. Kemenangan itu memberinya bonus Fight of the Night dan menjadi salah satu momen yang memperkenalkan gaya “Air Jourdain” kepada penonton UFC.

Tahun-tahun berikutnya memperlihatkan sisi lain perjalanan Jourdain. Ia mengalahkan Marcelo Rojo dan Andre Ewell, mencatat kemenangan submission atas Lando Vannata, serta berbagi hasil imbang dengan Josh Culibao. Namun konsistensi menjadi tantangan. Ia juga mengalami kekalahan dari Andre Fili, Julian Erosa, Shane Burgos, Nathaniel Wood dan Jean Silva. Pertarungan melawan Kron Gracie pada 2023 menjadi salah satu kemenangan penting karena Jourdain mampu mengendalikan ancaman grappling lawannya dan memenangkan keputusan mutlak. Meski demikian, periode 2023–2024 kembali diwarnai hasil naik-turun, termasuk kekalahan dari Jean Silva dan Jean Matsumoto. Saat itu, gaya Jourdain masih sering terlihat eksplosif dan improvisasional—menarik untuk ditonton, tetapi tidak selalu menghasilkan performa yang konsisten.

Perubahan besar terjadi ketika Jourdain turun ke bantamweight 135 pound pada akhir 2024. Langkah tersebut ternyata membawa transformasi. Dalam debut kelas barunya, ia menghadapi Victor Henry dan mencetak submission melalui high-elbow guillotine pada ronde kedua. Henry sebelumnya hanya tujuh kali kalah dalam 31 pertandingan profesional, sehingga kemenangan tersebut menjadi validasi penting bagi Jourdain. Setahun kemudian, ia mengulangi formula tersebut terhadap Davey Grant: sebuah flying knee membuka jalan menuju guillotine choke ronde pertama. Dua kemenangan itu membuatnya memperoleh reputasi baru sebagai ancaman serius di bantamweight.

Transformasi tersebut bukan sekadar persoalan menurunkan berat badan. Jourdain mengatakan bahwa kelahiran putranya, Hector, mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dan karier. Ia mengakui pernah berada dalam periode penuh keraguan dan kebiasaan yang menurutnya menghambat perkembangan. Setelah itu, ia mulai lebih serius memanfaatkan UFC Performance Institute, melakukan persiapan lawan secara jauh lebih mendalam, serta memperhatikan aspek profesional dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, menjadi petarung profesional bukan hanya soal berlatih keras, tetapi juga memahami pola lawan dan mempersiapkan pertandingan secara detail. Ia menggambarkan kesalahan dalam latihan sebagai “potongan Lego”—bukan akhir dunia, melainkan bagian kecil yang dapat digunakan untuk membangun sesuatu yang lebih besar.

Secara teknis, UFC mengategorikan Jourdain sebagai striker. Ia memiliki tinggi sekitar 175 cm dengan reach 69 inci dan kini berlatih di Brazilian Top Team di bawah Fabio Holanda. Jourdain dikenal memiliki kemampuan striking kreatif, serangan lutut terbang, kombinasi pukulan, serta kemampuan submission yang membuat lawan tidak bisa hanya fokus pada pertarungan berdiri. Ia tercatat memiliki 18 kemenangan profesional: 8 KO/TKO, 7 submission, dan 3 keputusan, menunjukkan bahwa permainannya tidak terbatas pada satu jalur kemenangan. Ia juga telah menyelesaikan 15 dari 18 kemenangan tersebut melalui stoppage.

Pada April 2026, Jourdain menambah kemenangan penting melalui unanimous decision atas Kyler Phillips. Namun pada 19 September 2026, rangkaian positifnya di bantamweight terhenti ketika ia menghadapi Marlon “Chito” Vera di UFC 331. Jourdain akhirnya dihentikan pada ronde ketiga setelah knockdown dan tidak melanjutkan pertandingan. Setelah laga, ia menjelaskan bahwa penglihatannya terganggu sehingga memilih memberi tanda kepada wasit untuk menghentikan pertarungan. Kekalahan itu membuat rekor profesionalnya menjadi 18-9-1.

Meski demikian, kisah Jourdain justru menarik karena evolusinya belum berhenti. Dari petarung muda yang mengejar highlight dan sering bertarung dengan spontanitas, ia berubah menjadi atlet yang lebih disiplin dalam membaca lawan, mempersiapkan pertandingan, dan memahami dirinya sendiri. Ia pernah menyebut Anthony “Showtime” Pettis sebagai petarung favoritnya karena kemampuan memberikan pertunjukan secara natural. Kini, dengan pengalaman bertahun-tahun di UFC dan perjalanan dari featherweight menuju bantamweight, “Air” Jourdain membawa kombinasi yang sama: kreativitas seorang striker, kemampuan submission seorang grappler, dan mentalitas seorang petarung yang terus belajar dari setiap kekalahan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...