Kyler Phillips: Perjalanan Sang “Matrix” Menuju Octagon UFC

Piter Rudai • 02/11/2026 • 3 min read
Kyler Phillips: Perjalanan Sang “Matrix” Menuju Octagon UFC

Jakarta – Jauh sebelum namanya dikenal di panggung UFC, Kyler Phillips sudah hidup dalam dunia bela diri. Lahir di Torrance, California, pada 12 Juni 1995, Phillips diperkenalkan kepada Brazilian Jiu-Jitsu oleh ayahnya ketika baru berusia tiga tahun. Apa yang pada awalnya merupakan aktivitas masa kanak-kanak perlahan berubah menjadi bagian penting dari kehidupannya. Phillips kemudian menekuni berbagai disiplin, termasuk jiu-jitsu, gulat, judo, striking, dan Nikidokai. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai seorang martial artist yang menjalani bela diri sebagai gaya hidup, bukan sekadar profesi.

Perkembangannya berlangsung sejak usia muda. Phillips mencatat prestasi sebagai juara dunia IBJJF pada 2012 dan juara gulat CIF pada 2013. Pengalaman dari berbagai cabang tersebut kelak membentuk gaya bertarung yang sulit ditebak. Julukan “The Matrix” pun menggambarkan pendekatan tersebut. Menurut Phillips, julukan itu diberikan ayahnya ketika masih di sekolah menengah karena kemampuan bela dirinya semakin multidimensional. Di atas arena, ia dikenal sebagai petarung yang menggabungkan pergerakan, tendangan, pukulan, gulat, dan permainan bawah dengan cara yang dinamis.

Phillips memasuki dunia profesional MMA pada 2016. Tiga kemenangan awalnya diraih melalui penyelesaian: mengalahkan Taylor Alfaro dan George Garcia lewat TKO serta P.J. Ste-Marie melalui calf slicer. Keberhasilannya membawa Phillips ke Dana White’s Contender Series pada Agustus 2017. Ia menghentikan James Gray Jr. pada ronde pertama, tetapi kemenangan tersebut belum langsung membawanya mendapatkan kontrak UFC. Setelah itu, ia mengikuti The Ultimate Fighter musim ke-27 dan menghadapi Brad Katona. Phillips kalah melalui majority decision dari Katona, yang kemudian menjadi pemenang turnamen tersebut.

Perjalanan menuju UFC ternyata membutuhkan kesabaran. Phillips kembali ke sirkuit regional dan mengalami pasang surut sebelum akhirnya memperoleh kesempatan debut di Octagon. UFC mencatat bahwa ia sempat harus menarik diri dari pertarungan melawan Ray Borg pada 2019, sebuah situasi yang turut menunda langkahnya ke organisasi terbesar MMA dunia. Hampir dua setengah tahun setelah tampil di Contender Series, Phillips akhirnya menjalani debut UFC pada 29 Februari 2020 melawan Gabriel Silva. Ia menang melalui unanimous decision.

Debut tersebut menjadi awal yang menjanjikan. Phillips kemudian menghentikan Cameron Else melalui TKO pada 2020 dan mencatat kemenangan penting atas Song Yadong melalui unanimous decision di UFC 259 pada Maret 2021. Kekalahan pertamanya di UFC datang beberapa bulan kemudian ketika Raulian Paiva mengalahkannya melalui majority decision. Namun, Phillips merespons dengan kemenangan submission atas Marcelo Rojo di UFC 271 pada Februari 2022, mengakhiri pertarungan melalui triangle armbar pada ronde ketiga.

Setelah kembali tampil pada 2023, Phillips mengalahkan Raoni Barcelos melalui unanimous decision. Momentum tersebut berlanjut ketika ia mengalahkan Pedro Munhoz di UFC 299 pada Maret 2024. Kemenangan atas petarung berpengalaman seperti Munhoz menjadi salah satu hasil penting dalam perkembangan kariernya. Namun, perjalanan menuju level elite tidak selalu berjalan lurus. Phillips kemudian mengalami tiga kekalahan beruntun melalui keputusan dari Rob Font pada 2024, Vinicius Oliveira pada 2025, dan Charles Jourdain pada April 2026.

Terlepas dari hasil tersebut, karakter bertarung Phillips tetap terlihat jelas. Statistik UFC menunjukkan mayoritas significant strikes yang ia lepaskan berasal dari posisi berdiri, sementara ia juga memiliki kemampuan gulat yang cukup aktif. Hingga pembaruan 2026, ia memiliki lima kemenangan KO/TKO, dua kemenangan submission, dan lima kemenangan melalui keputusan. Catatan tersebut menunjukkan seorang petarung yang tidak bergantung pada satu metode untuk memenangkan pertandingan.

Basis latihannya di MMA Lab juga menjadi bagian penting dari perkembangannya. Di sana Phillips berlatih bersama sejumlah nama besar dan berada di bawah bimbingan pelatih John Crouch. Lingkungan tersebut membantunya mengembangkan kemampuan secara menyeluruh, dari striking hingga grappling. Filosofi Phillips sendiri tampak berakar pada proses belajar terus-menerus. Ia pernah menggambarkan pengalaman Contender Series dan The Ultimate Fighter sebagai semacam “kuliah” yang memberinya kesempatan belajar, menjadi lebih sabar, dan memahami aspek-aspek yang sebelumnya belum matang.

Dengan tinggi sekitar 173 sentimeter dan bertanding di kelas bantamweight 135 pon, Phillips membawa pendekatan yang mengandalkan variasi dan kreativitas. Ia memiliki reputasi sebagai striker yang atraktif, tetapi latar belakang gulat dan jiu-jitsu membuat lawan tidak bisa hanya mempersiapkan diri menghadapi permainan jarak jauh. Teknik favoritnya bahkan mencerminkan karakter tersebut: ia menyebut “Matrix armbar” sebagai teknik grappling favorit dan 720 hurricane kick sebagai salah satu teknik striking kesukaannya.

Kini, setelah lebih dari satu dekade menjalani bela diri secara kompetitif, Kyler Phillips berada pada fase penting dalam kariernya. Rekor profesionalnya mencapai 12-5, seluruh lima kekalahannya tercatat melalui keputusan, sementara 12 kemenangannya terdiri dari lima KO/TKO, dua submission, dan lima keputusan. Perjalanan dari anak kecil yang diperkenalkan kepada jiu-jitsu hingga menjadi petarung UFC memperlihatkan satu benang merah: bagi Phillips, bela diri bukan sekadar rangkaian pertandingan, melainkan proses panjang untuk terus belajar, beradaptasi, dan menyempurnakan dirinya sebagai seorang martial artist.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...