Dooho Choi: “The Korean Superboy” Di UFC

Piter Rudai 09/08/2025 4 min read
Dooho Choi: “The Korean Superboy” Di UFC

Jakarta – Bagi para penggemar MMA, nama Dooho Choi menjadi sinonim dari pertarungan penuh aksi, kombinasi pukulan mematikan, dan mental bertarung yang pantang mundur. Lahir pada 10 April 1991 di Gumi, Korea Selatan, Choi berhasil mencatatkan namanya di jajaran petarung paling menghibur di divisi Featherweight Ultimate Fighting Championship (UFC). Julukannya, “The Korean Superboy”, bukan sekadar nama panggung—melainkan cerminan dari gaya bertarungnya yang eksplosif, muda, dan penuh semangat.

Awal Perjalanan Seni Bela Diri

Gumi, sebuah kota industri di Provinsi Gyeongsang Utara, menjadi saksi awal perjalanan Dooho. Tumbuh di lingkungan sederhana, Choi kecil sudah menunjukkan ketertarikan pada olahraga bela diri sejak usia remaja. Ia mulai mempelajari teknik striking dan grappling, mengasah kecepatan, kekuatan, dan insting bertarung.

Berbeda dengan banyak anak muda di usianya yang memilih jalur olahraga populer seperti sepak bola atau baseball, Choi tertarik pada seni bela diri yang memadukan teknik dan strategi. Ketekunannya membawanya masuk ke dunia MMA profesional pada usia yang relatif muda.

DEEP dan Sengoku Raiden Championship

Tahun 2009 menjadi awal langkah Choi di panggung profesional ketika ia bertanding di organisasi Jepang DEEP, salah satu promotor MMA terbesar di Asia. Di sini, ia mulai membangun reputasi sebagai petarung dengan striking presisi tinggi dan mental tempur agresif.

Setelah menunjukkan performa konsisten, Choi juga tampil di Sengoku Raiden Championship (SRC), ajang MMA prestisius yang mempertemukan para talenta top Asia. Dalam periode ini, ia mencatat rekor fenomenal 9 kemenangan beruntun, sebuah pencapaian yang membuat UFC mulai melirik potensinya.

Mimpi Menjadi Kenyataan

Pada November 2013, UFC resmi mengumumkan perekrutan Dooho Choi ke divisi Featherweight. Namun, debutnya sempat tertunda akibat cedera. Kesempatan akhirnya datang pada UFC Fight Night 57 di Austin, Texas, pada 22 November 2014.

Dalam debut tersebut, Choi hanya memerlukan 18 detik untuk mengalahkan Juan Puig melalui TKO. Pukulan straight kanan yang tajam di awal ronde membuat lawannya tak mampu melanjutkan pertarungan. Kemenangan ini menjadi KO tercepat dalam debut UFC Featherweight dan langsung melambungkan namanya.

Kronologi Pertarungan Penting di UFC

Berikut adalah beberapa laga kunci Dooho Choi yang membentuk reputasinya:

    1. 22 Nov 2014 – UFC Fight Night: Edgar vs. Swanson
      Menang TKO vs. Juan Puig (0:18 R1) – Debut spektakuler yang memecahkan rekor.
    2. 28 Nov 2015 – UFC Fight Night: Henderson vs. Masvidal
      Menang KO vs. Sam Sicilia (R1) – Menampilkan kombinasi pukulan cepat dan akurat. Meraih penghargaan Performance of the Night.
    3. 8 Juli 2016 – The Ultimate Fighter 23 Finale
      Menang KO vs. Thiago Tavares (R1) – Membuktikan konsistensi dalam menyelesaikan laga cepat.
    4. 0 Des 2016 – UFC 206
      Kalah UD vs. Cub Swanson – Salah satu Fight of the Year dalam sejarah UFC. Kedua petarung saling menyerang tanpa henti selama tiga ronde penuh.
    5. 14 Jan 2018 – UFC Fight Night: Stephens vs. Choi
      Kalah TKO vs. Jeremy Stephens (R2) – Laga penuh aksi yang kembali meraih Fight of the Night.
    6. 21 Des 2019 – UFC Fight Night: Edgar vs. The Korean Zombie
      Kalah TKO vs. Charles Jourdain (R2) – Meski kalah, pertarungan ini juga dianugerahi Fight of the Night.

Analisis Gaya Bertarung

Dooho Choi dikenal dengan gaya striking ortodoks yang tajam, didukung refleks cepat dan akurasi tinggi. Ciri khasnya meliputi:

    • One-Two Kombinasi Mematikan – Jab untuk mengukur jarak, diikuti straight kanan yang bertenaga.
    • Timing Counter-attack – Mampu membaca celah lawan dan membalas dengan cepat.
    • Pressure Fighting – Menekan lawan terus-menerus tanpa memberi ruang bernafas.
    • Durabilitas Tinggi – Meski menerima pukulan keras, Choi tetap mampu menyerang balik.

Penghargaan dan Prestasi

    • KO tercepat debut UFC Featherweight – 18 detik (vs. Juan Puig, 2014)
    •  Performance of the Night – vs. Sam Sicilia (2015)
    • Rekor profesional: Mengoleksi kemenangan mayoritas melalui KO/TKO.

Wajib Militer dan Masa Absen

Karier Dooho sempat terhenti sementara akibat wajib militer di Korea Selatan, yang merupakan kewajiban setiap pria di negaranya. Selain itu, cedera juga membuatnya absen cukup lama dari oktagon. Meski begitu, setiap kali kembali, Choi selalu memberikan laga penuh aksi yang disukai penggemar.

Pengaruh dan Warisan di MMA Asia

Dooho Choi telah membuka jalan bagi generasi petarung Korea berikutnya. Ia menjadi bukti bahwa atlet Asia, khususnya dari Korea Selatan, mampu bersaing dan bersinar di panggung terbesar MMA dunia. Sosoknya menginspirasi banyak petarung muda untuk berani bermimpi besar.

Fakta Menarik

    1. Dijuluki “The Korean Superboy” karena wajah muda dan gaya bertarungnya yang penuh energi.
    2. Hampir semua kemenangannya diraih lewat KO atau TKO.
    3. Masuk nominasi Fight of the Year 2016 oleh berbagai media MMA.
    4. Memiliki basis penggemar setia di Korea dan Jepang.

Perjalanan Dooho Choi adalah kisah tentang ketekunan, keberanian, dan mental juara. Dari remaja di kota kecil Gumi, meniti karier di Jepang, hingga menjadi bintang UFC, “The Korean Superboy” membuktikan bahwa determinasi mampu membawa seseorang ke puncak olahraga dunia.

Meski menghadapi pasang surut, Dooho tetap menjadi salah satu petarung Featherweight paling menghibur yang pernah ada—dan setiap kali ia melangkah ke oktagon, para penggemar tahu mereka akan disuguhi pertarungan yang tak terlupakan.

(PR/timKB).

Sumber foto: scmp.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...