Nico Carrillo: Petarung ONE Championship Dari Skotlandia

Piter Rudai 12/08/2026 4 min read
Nico Carrillo: Petarung ONE Championship Dari Skotlandia

Jakarta – Di tengah dominasi nama-nama besar Thailand dalam Muay Thai, muncul seorang petarung dari Glasgow, Skotlandia, yang perlahan mengubah peta persaingan. Nico “King of the North” Carrillo dikenal sebagai salah satu striker paling berbahaya di ONE Championship berkat pukulan eksplosif, tekanan tanpa henti, dan kemampuan mengakhiri pertarungan dengan KO atau TKO. Per Juli 2026, namanya bahkan resmi berada di puncak divisi setelah Tawanchai PK Saenchai melepaskan gelar ONE Featherweight Muay Thai, sehingga Carrillo yang sebelumnya berstatus juara interim dinaikkan menjadi juara dunia tak terbantahkan.

Namun, ada beberapa informasi yang perlu diluruskan. Carrillo bukan lahir pada 10 September 1998, melainkan tercatat lahir pada 17 Oktober 1998 dan tumbuh di Glasgow, Skotlandia. Tingginya sekitar 179 cm, bertanding dengan gaya orthodox, dan bernaung di Deachkalek Muay Thai Academy bersama pelatih J.P. Gallacher. Ia juga bukan petarung UFC; perjalanan karier internasionalnya berlangsung melalui berbagai promotor Muay Thai sebelum membawanya ke ONE Championship. Data terbaru ONE pada Juli 2026 mencatat rekor profesionalnya 30 kemenangan dan 4 kekalahan dengan 16 kemenangan melalui finis, sementara rekor ONE-nya mencapai 7-1.

Kisah Carrillo dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Sebelumnya ia telah mengenal tinju, tetapi Muay Thai memberikan sesuatu yang berbeda. Setelah mengikuti latihan pertamanya, ia langsung merasakan kecocokan dengan olahraga tersebut dan mulai menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di gym. Carrillo sendiri pernah menggambarkan Muay Thai sebagai sesuatu yang mengubah arah hidupnya dan menjauhkannya dari lingkungan negatif. Ia kemudian melakukan debut ring pada 2016, sebelum membangun karier profesional secara bertahap di Inggris dan Eropa. Cedera yang berulang sempat menghambatnya pada 2018, tetapi ia kembali dan terus berkembang hingga akhirnya memilih mengejar karier bertarung secara penuh.

Perjalanannya di Eropa kemudian menghasilkan sejumlah gelar penting, termasuk WBC Muay Thai European Championship, ISKA dan WMO. Sebelum bergabung dengan ONE, Carrillo telah membangun reputasi sebagai petarung yang sangat agresif dengan catatan kemenangan yang solid. Momentum besar datang ketika ia mendapatkan kesempatan tampil di ONE Friday Fights pada 2023. Dalam debut promosionalnya, ia menghentikan Furkan Karabag lewat TKO ronde ketiga, kemudian mengalahkan Muangthai PK Saenchai dengan TKO ronde kedua. Dua kemenangan tersebut menghasilkan kontrak senilai US$100.000 dengan ONE Championship.

Nama Carrillo benar-benar meledak ketika menghadapi Nong-O Hama pada Desember 2023. Menghadapi mantan juara dunia yang sangat berpengalaman, Carrillo sempat mendapat masalah akibat low kick, tetapi mengubah jalannya pertarungan pada ronde kedua. Kombinasi pukulannya membuat Nong-O terdesak sebelum sebuah left elbow menjatuhkan sang legenda Thailand pada menit 1:28. Kemenangan KO tersebut membuat rekor Carrillo menjadi 26-3-1 dan menegaskan bahwa “King of the North” bukan sekadar prospek Eropa. Ia kemudian menambah kemenangan atas Saemapetch Fairtex melalui TKO ronde kedua pada Juli 2024.

Akan tetapi, perjalanan menuju gelar tidak berjalan lurus. Pada Januari 2025, Carrillo mendapatkan kesempatan memperebutkan gelar interim ONE Bantamweight Muay Thai melawan Nabil Anane. Petarung bertubuh tinggi tersebut menghentikannya melalui TKO ronde pertama. Kekalahan itu menjadi salah satu titik terberat dalam karier Carrillo. Setelahnya, ia menyadari bahwa memaksakan tubuh turun ke bantamweight bukan lagi pilihan terbaik. Ia kembali ke featherweight, kelas yang membuatnya merasa lebih sehat dan kuat. Carrillo juga mengubah pendekatannya: tidak lagi sekadar mengandalkan tinju dan kekuatan, tetapi kembali memaksimalkan seluruh senjata Muay Thai, termasuk tendangan dan pertahanan.

Perubahan tersebut langsung menghasilkan kebangkitan luar biasa. Pada April 2025, ia menghentikan legenda kickboxing dan Muay Thai Sitthichai Sitsongpeenong melalui KO ronde kedua. Tujuh bulan kemudian, Luke Lessei menjadi korban berikutnya setelah Carrillo meraih kemenangan TKO ronde kedua. Puncaknya terjadi pada Februari 2026 ketika ia menghadapi Shadow Mavinn dalam perebutan gelar interim Featherweight Muay Thai. Kali ini Carrillo tidak terburu-buru mencari KO. Setelah melewati lima ronde, ia menang mutlak dan merebut sabuk dunia interim. Menariknya, kemenangan itu sekaligus membuktikan bahwa ia mampu bertarung dalam tempo tinggi selama lima ronde, bukan hanya mengandalkan kekuatan pukulan.

Gaya bertarung Carrillo dibangun di atas tekanan, kontrol jarak, ring-cutting, dan kekuatan pukulan. Ia senang mengarahkan lawan menuju tali atau sudut ring sebelum melancarkan kombinasi. Pukulan kanan menjadi salah satu senjata paling berbahaya, sementara elbow dan tendangan melengkapi serangannya. ONE menggambarkan kemampuan ring control-nya sebagai kemampuan untuk menekan lawan secara sistematis, bukan sekadar maju membabi buta. Empat kemenangan KO/TKO awalnya di ONE juga memperlihatkan betapa efektifnya kekuatan tersebut, terutama dengan sarung tangan empat ons.

Di balik gaya agresif itu terdapat mentalitas yang semakin matang. Carrillo mengakui bahwa pada awal karier ONE ia terlalu sering mengejar KO dan percaya kekuatannya dapat menyelesaikan semua masalah. Setelah kekalahan dari Anane, ia mulai berlatih lebih cerdas, memberi perhatian lebih besar pada pertahanan, teknik, pemulihan, dan pengaturan tenaga. Ia juga dikenal memiliki rutinitas lari yang berat, termasuk berlari di medan berbukit sekitar Glasgow untuk membangun daya tahan sekaligus membiasakan tubuh menghadapi rasa tidak nyaman. Baginya, latihan bukan hanya persiapan fisik, tetapi cara menetapkan standar tinggi bagi dirinya sendiri.

Kini, pada usia 27 tahun, Carrillo berdiri sebagai Juara Dunia ONE Featherweight Muay Thai. Status itu bukan sekadar hasil dari deretan KO, melainkan buah perjalanan panjang dari gym di Glasgow, gelar-gelar Eropa, kegagalan menghadapi Anane, hingga kebangkitan di kelas featherweight. Dengan rekor 30-4 dan 16 kemenangan melalui finis per Juli 2026, “King of the North” telah berubah dari petarung Skotlandia yang mencari pengakuan menjadi salah satu wajah utama generasi baru Muay Thai dunia. Dan menariknya, perjalanan itu belum berhenti: ia dijadwalkan menjalani debut kickboxing ONE melawan Zhou Jiaqiang pada 14 Agustus 2026.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...