Jakarta – Di tengah generasi baru petarung Kanada yang mencoba meneruskan warisan Georges St-Pierre, nama Mike “Proper” Malott muncul dengan perjalanan yang tidak biasa. Lahir pada 7 November 1991 dan tumbuh di Waterdown, Ontario, Malott sejak remaja sudah membayangkan dirinya bertarung di panggung UFC. Ketika berusia sekitar 17 tahun, ia mulai serius berlatih setelah melihat pertandingan MMA dan merasa terpukau dengan perpaduan striking, gulat, dan Brazilian jiu-jitsu. Saat itu, fasilitas MMA di daerahnya masih terbatas sehingga ia berlatih di sebuah gym karate lokal. Malott sendiri kemudian mengakui bahwa dirinya masih “sangat buruk” pada masa awal tersebut, tetapi keyakinan untuk suatu hari menjadi petarung UFC membuatnya terus berlatih.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke tingkat amatir sebelum akhirnya memasuki dunia profesional. Malott bahkan meraih gelar nasional WKC Kanada dalam kickboxing ketika berusia 17 tahun. Ia juga mengembangkan kemampuan grappling hingga memperoleh sabuk hitam Brazilian jiu-jitsu. Setelah menempuh pendidikan di Dalhousie University dan meraih gelar Bachelor of Commerce, Malott tetap menjalankan karier sebagai petarung. Debut profesionalnya berlangsung pada April 2011 melawan James Saunders di Extreme Cage Combat, dan ia langsung menang melalui armbar hanya dalam 32 detik. Kemenangan atas Michael Imperato dan Jon Williams kemudian membuatnya mengawali karier profesional dengan rekor 3-0.
Namun, jalan menuju UFC tidak pernah benar-benar lurus. Setelah menang atas Allan Wilson pada 2014, Malott mengalami kekalahan profesional pertamanya ketika dihentikan Hakeem Dawodu pada WSOF 14. Setahun kemudian, ia bermain imbang secara mayoritas melawan Ousmane Thomas Diagne dalam Bellator 142. Malott bangkit dengan kemenangan KO atas Craig Shintani pada 2017 untuk merebut gelar lightweight XFFC, tetapi setelah itu justru mengambil jeda panjang dari kompetisi MMA. Ia memilih memperdalam kemampuan grappling, tampil dalam berbagai pertandingan jiu-jitsu, dan menyempurnakan tekniknya. Pada periode tersebut, ia tidak meninggalkan dunia pertarungan; justru ia menggunakan waktu itu untuk memperluas fondasi sebagai mixed martial artist.
Kembalinya Malott pada 2020 menjadi titik penting. Ia mengalahkan Solomon Renfro melalui rear-naked choke pada CFFC 91, kemudian mendapat kesempatan tampil di Dana White’s Contender Series pada Oktober 2021. Lawannya, Shimon Smotritsky, ketika itu memiliki rekor tak terkalahkan. Malott hanya membutuhkan 39 detik untuk mengakhiri pertarungan melalui guillotine choke dan mendapatkan kontrak UFC. Menariknya, Malott sendiri menyebut pertandingan Contender Series tersebut sebagai pertarungan kunci dalam kariernya karena tanpa kemenangan itu, impiannya untuk tampil di UFC mungkin tidak akan terwujud.
Debut UFC akhirnya terjadi pada 9 April 2022 di UFC 273 melawan Mickey Gall. Malott menunjukkan bahwa jeda panjangnya bukan sebuah kemunduran. Ia menghentikan Gall melalui TKO pada ronde pertama setelah 3 menit 41 detik. Kemenangan tersebut diikuti dua kemenangan submission beruntun atas Yohan Lainesse dan Adam Fugitt pada 2023. Ketika UFC kembali ke Kanada untuk UFC 289 di Vancouver, Malott mendapatkan salah satu momen emosional dalam kariernya. Sejak menyaksikan Georges St-Pierre bertarung di Toronto pada UFC 129, ia memang bermimpi suatu hari mewakili Kanada di panggung internasional. Pertarungan melawan Fugitt menjadi kesempatan untuk mewujudkan impian tersebut di depan publik negaranya.
Laju tersebut sempat terhenti pada Januari 2024 ketika Malott menghadapi veteran Neil Magny di UFC 297. Setelah mengendalikan sebagian besar pertarungan, Malott akhirnya dihentikan melalui ground-and-pound pada ronde ketiga. Kekalahan itu menjadi pelajaran penting karena memperlihatkan bahwa ia harus mampu mempertahankan intensitas dan ketajaman hingga menit terakhir. Ia kemudian bangkit dengan kemenangan keputusan mutlak atas Trevin Giles pada November 2024. Tahun berikutnya menjadi awal kebangkitan besar: Malott menghentikan Charles Radtke hanya dalam 26 detik ronde kedua, kemudian mengalahkan Kevin Holland melalui keputusan mutlak dalam pertarungan tiga ronde pada Oktober 2025.
Kemenangan atas Holland membawa Malott ke level yang lebih tinggi, tetapi ujian terbesar datang ketika ia menghadapi mantan penantang gelar UFC, Gilbert Burns, dalam main event UFC Winnipeg pada 18 April 2026. Malott tampil matang dan tidak terburu-buru. Setelah dua ronde yang membuat Burns mengalami kerusakan signifikan, Malott meningkatkan tekanan pada ronde ketiga, menjatuhkan lawannya dua kali sebelum wasit menghentikan pertarungan pada menit 2:08. Kemenangan TKO tersebut memperpanjang rentetan kemenangannya menjadi empat dan menempatkannya di jajaran Top 15 welterweight UFC. UFC mencatat Malott memiliki enam kemenangan KO/TKO, enam submission, serta sembilan kemenangan melalui penyelesaian pada ronde pertama.
Secara gaya, Malott adalah gambaran mixed martial artist modern yang mampu menggabungkan striking agresif dengan grappling teknis. Ia memiliki sabuk hitam BJJ dan menyebut rear-naked choke sebagai teknik grappling favoritnya, sementara lutut menjadi senjata striking yang paling disukainya. Ia kini berlatih bersama Niagara Top Team, dengan dukungan sejumlah pelatih seperti Chris Prickett dan Kru Alin Halmagean. Malott menggambarkan lingkungan latihannya sebagai tempat yang membuat setiap sesi memiliki tujuan spesifik, mulai dari sparring melawan petarung berkualitas tinggi hingga latihan yang dirancang untuk memperbaiki kelemahannya.
Di balik ambisinya, Malott memiliki filosofi yang sederhana: mengejar kehebatan tanpa menyisakan penyesalan. Ia pernah mengatakan bahwa motivasinya bukan semata-mata sabuk juara atau uang, melainkan kesempatan untuk suatu hari melihat kembali kehidupannya dan mengetahui bahwa ia telah mengejar impiannya dengan seluruh kemampuan. Mentalitas itu menjelaskan mengapa ia mampu melewati kekalahan, masa jeda panjang, dan perjalanan bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapatkan panggung utama. Hingga Agustus 2026, rekor profesional Malott adalah 14 kemenangan, 2 kekalahan, dan 1 hasil imbang, dengan enam kemenangan KO/TKO dan enam submission. Kini, pada usia 34 tahun, “Proper” bukan lagi sekadar petarung Kanada dengan mimpi besar—ia telah menjadi salah satu nama yang patut diperhitungkan di kelas welter UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget and