Anak Perempuan dan Sepakbola Indonesia

Boas Simanjuntak 09/08/2022 3 min read
Anak Perempuan dan Sepakbola Indonesia

Dari dahulu hingga kini, para orang tua kerap memastikan bahwa anak-anak seharusnya bermain dengan permainan yang identik dengan jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan. Istilah tersebut, bahkan menjadi bagian dari gender, sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial dan budaya. Mungkin, karena zaman yang dianggap telah terbolak-balik, tidak sesuai kodrat, maka orang tua pun semakin khawatir anaknya mengalami pergeseran perilaku terkait gender. 

Namun, saat ini, setelah penerimaan terkait selain laki-laki dan perempuan, anak-anak gen-Z lebih leluasa memilih apa yang sesuai dengan minatnya terhadap sebuah permainan. Begitu pula dengan cabang olahraga, yang tadinya didominasi oleh laki-laki, kini perempuan bisa mengisi kekosongan, baik stok pelatih dan pemain. Sepakbola salah satunya. Sejak Piala Dunia Wanita dimulai pertama kali tahun 1991, minat anak perempuan dan perkembangan klub sepakbola khusus perempuan pun meningkat. 

Indonesia pun memiliki tim nasional (timnas) wanita, dengan pelatih Rudy Eka Priyambada. Paling baru, mereka bertanding dalam Piala Wanita AFF 2022 di Filipina. Dengan perjuangan luar biasa, mereka membuat satu gol ke gawang tim tuan rumah, dengan skor akhir 1-4. Secara organisasi pun, sepakbola wanita Indonesia sudah ada. Bernama ASBWI (Asosiasi Sepakbola Wanita Indonesia) dan merupakan anggota resmi PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).

Foto: ANTARA

Albert Bandura, psikolog asal Kanada, menjelaskan sebuah teori yang disebut Learning Social. Teori ini bisa menjadi salah satu patokan sederhana, agar orang tua bisa memahami pilihan sadar dari seorang anak, terkait jenis kelamin dan gender. Dengan memahami teori tersebut, orang tua akan menjadi “rumah” yang suportif bagi sang anak. Bandura menjelaskan dalam teorinya, ada empat tahapan yang menjadi dasar, yaitu: 

  • Perhatian (attention). Memperhatikan hal-hal yang dianggap menarik bagi diri anak. Pada fase ini, role model bagi anak harus mampu memberikan contoh yang jelas dan mudah dipahami.
  • Penahanan (retention). Anak mengingingat hal-hal yang dianggap menarik, telah diamati lalu dipelajari untuk disimpan di dalam alam pikiran, sebagai bagian dari informasi.
  • Reproduksi (reproduction). Sikap, kemampuan, dan pengetahuan dari anak adalah hal yang dibutuhkan dalam fase ini. Karena, akan ada pencarian feedback dari anak terhadap role model.
  • Motivasi (motivation). Fase akhir yang berhubungan dengan penguatan oleh anak, dari apa yang telah diolah dari tiga fase yang lain. Akan ada mekanisme penghargaan dan hukuman dari lingkungan sosial yang membuat anak tahu risiko benar dan salah dalam pengambilan keputusan.

Teori Learning Social bisa membentuk orang tua dan komunitas untuk memiliki perilaku yang adaptif terhadap lingkungan sosial. Sehingga, tidak ada lagi pola hukuman yang anak dapatkan, saat perilaku dianggap tidak sejalan dengan gender yang menjadi pilihannya. Hal tersebut bisa mencegah kekerasan terhadap anak. Karena, dianggap tidak patuh terhadap kemauan orang tua.

Sejak tanggal 22 Juli hingga 4 Agustus 2022, berlangsung Piala AFF U-18 Wanita di Palembang. Timnas Indonesia berada di grup A, bersama Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Singapura. Dalam skuad timnas U-18 kali ini ada Claudia Scheunemann, perempuan blasteran Jawa-Jerman. Berumur 13 tahun, dengan nomor punggung 23, Claudia telah mencetak gol di laga perdananya melawan Singapura. Ia adalah keponakan dari eks pelatih timnas putri 2009, Timo Scheunemann. Selain Claudia, ada Sheva Imut Furyzcha yang mencetak gol dari jarak jauh ke gawang Kamboja.

Anak-anak Indonesia dari gen-Z punya masa depan yang luar biasa. Ada harapan untuk pilihan-pilihan mereka di era yang semakin terbuka, dari akses terhadap berbagai hak hidup dan akses terhadap kecanggihan teknologi. Melihat perkembangan timnas sepakbola, laki-laki dan wanita, ada harapan dari anak-anak muda Indonesia. 

Claudia dan Sheva, juga anak-anak muda perempuan di Indonesia, ayo bermain sepakbola. Saat Claudia bermain di lapangan, Timo menulis status di Instagram pribadinya “Don’t forget to have fun”. Karena olahraga bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan.

(BS/timKB)

Sumber Foto: ASEAN Football

 

Loading next article...