Jakarta – Sebelum era Si Leher Beton yang dikenal sebagai Raja KO dengan kekuatan pukulan yang luar biasa yang membawanya menjadi Juara Kelas Berat, di kelas menengah awal tahun 80’an telah lebih dulu dikenal seorang Raja KO yang mempunyai kekuatan dan gaya bertinju yang ofensif bernama Marvin Hagler.
Berdiri di atas ring tinju dengan kedua tinjunya yang kuat dan tekad baja, Marvelous Marvin Hagler merupakan ikon dalam dunia tinju kelas menengah. Dilahirkan pada 23 Mei 1954 di New Jersey, Hagler tumbuh menjadi petinju Amerika yang berhasil meraih sabuk juara dunia tinju kelas menengah dari tahun 1980 hingga 1987.
Berawal dari kemiskinan dan kesulitan, Hagler merangkak naik melalui jajaran tinju dengan gigih. Dia adalah definisi dari petinju pekerja keras yang berjuang dari bawah untuk mencapai puncak kesuksesan. Kehidupan dan karirnya menunjukkan bahwa melalui kerja keras dan determinasi, segalanya mungkin.
Menurut catatan, dari 67 pertandingan yang pernah dia ikuti, Marvel menang 62 kali, kalah tiga kali dan seri dua kali. Namun, perjuangan Hagler di kelas menengah bukanlah perjalanan yang mudah. Dia harus bertarung bertahun-tahun sebelum bisa memenangkan sabuk juara pertamanya. Bahkan, petinju kidal ini seringkali harus berjuang di kota kelahiran lawannya untuk menantang mereka.
Di tahun-tahun awal karirnya, Hagler berhadapan dengan Willie Monroe yang dilatih oleh petinju kelas berat dunia, Joe Frazier. Pertandingan panjang yang berakhir pada ronde ke-12 menghasilkan kemenangan bagi Hagler. Monroe, yang tidak terima dengan kekalahan, meminta rematch. Namun, Hagler meredam asa Monroe dengan memukul KO pada ronde ke-2 pada pertarungan ulang mereka.
Tahun 1972 menjadi titik penting dalam karir Hagler ketika dia menantang Sugar Ray, peraih medali emas Olimpiade 1972. Dalam pertarungan yang digelar sampai tiga kali tersebut, Hagler sukses meraih kemenangan pada pertemuan pertama dan ketiga, dengan hasil seri pada pertemuan kedua.
Kemenangan-kemenangan yang diraih Hagler menarik perhatian promotor kenamaan, Bob Arum. Memandang potensi besar dalam diri Hagler, Arum akhirnya mengontraknya. Karir Hagler mulai mendapatkan momentum yang ditandai dengan pertarungan pertama untuk perebutan gelar pada tahun 1979. Dia menghadapi Vito Antuefermo, pemegang sabuk gelar juara dunia kelas menengah saat itu. Meskipun sepanjang lima belas ronde Hagler mendominasi, keputusan dewan juri mencatat hasil imbang yang menguntungkan Antuofermo. Keputusan tersebut mengejutkan banyak pihak dan menjadi sumber frustrasi bagi Hagler.
Namun, kekecewaan tidak pernah menghalangi Marvin Hagler untuk terus maju. Dia terus berjuang dan meraih banyak kemenangan. Pada November 1979, Hagler berhasil meraih gelar World Middleweight Champion di Las Vegas, yang menjadi titik balik dalam karirnya.
Hagler mempertahankan sabuk juaranya selama tujuh tahun, menaklukkan setiap lawan yang datang padanya. Namun, semua berakhir ketika dia berhadapan dengan petinju legendaris, Sugar Ray Leonard. Pertandingan yang berlangsung sengit dan penuh kontroversi itu akhirnya dimenangkan oleh Leonard. Keputusan tersebut masih menjadi subjek perdebatan sampai saat ini.
Pasca kekalahan itu, Hagler memutuskan untuk pensiun dari dunia ring. Dia pindah ke Italia, menjauh dari sorotan publik dan memulai hidup baru. Meskipun sudah pensiun, prestasi Hagler dalam dunia tinju tidak pernah terlupakan. Dia telah diabadikan dalam International Boxing Hall of Fame dan World Boxing Hall of Fame.
Selama karirnya, Hagler telah menerima berbagai penghargaan dan pengakuan. Dia dijuluki Fighter Dekade (1980) oleh Boxing Illustrated dan dua kali mendapat gelar Fighter of the Year oleh Ring Magazine dan the Boxing Writers Association of America. The Ring juga menempatkannya sebagai petinju menengah keempat terbaik sepanjang masa pada tahun 2001 dan 2004. Sedangkan pada tahun 2002, dia dinobatkan sebagai petarung ke-17 terbesar sejak 80 tahun terakhir oleh The International Boxing Research Organisation (IBRO).
Kisah hidup Marvin Hagler berakhir pada 13 Maret 2021 ketika ia meninggal dunia di rumah sakit New Hampshire setelah mengalami nyeri dada dan kesulitan bernapas. Namun, prestasinya dalam dunia tinju tetap hidup, menjadi inspirasi bagi generasi petinju yang datang setelahnya. Jauh lebih dari sekedar petinju, Hagler adalah simbol dari kegigihan dan determinasi, dan legenda dari dunia tinju.
(EA/timKB).
Sumber foto: cnn.com