Fabricio “Hokage” Andrey: Dari Manaus Ke ONE Championship,

Jakarta – Ada dua jenis grappler yang biasanya membuat lawan gelisah. Yang pertama: spesialis kontrol atas—menindih, memaku pinggul, pelan tapi mencekik. Yang kedua: spesialis guard yang tidak pernah diam—seolah-olah “posisi bawah” hanyalah panggung untuk membuat badai. Fabricio “Hokage” Andrey masuk kategori kedua. Ia bukan sekadar nyaman bertahan di bawah; ia menyerang dari bawah dengan cara yang agresif, eksplosif, dan sering terasa kreatif seperti improvisasi—padahal sebenarnya itu hasil ribuan jam latihan dan rasa percaya diri yang dibentuk sejak remaja di Manaus, Brasil.

Di ONE Championship, Andrey tampil di divisi submission grappling—khususnya kelas featherweight—membawa gaya permainan bawah yang hidup, memanfaatkan kelincahan dan transisi cepat untuk memaksa lawan terus bereaksi. ONE sendiri memperkenalkannya sebagai juara dunia BJJ dengan gaya yang “electrifying”, menegaskan bahwa ini bukan rekrutan “pelengkap”, melainkan pemantik untuk membuat laga grappling terlihat atraktif dan mudah dinikmati penonton umum.

Manaus, kota panas yang melahirkan petarung-petarung matras

Manaus sering disebut sebagai salah satu “hotbed” Brazilian Jiu-Jitsu. Bagi banyak atlet Brasil, tempat seperti ini bukan sekadar lokasi—ini ekosistem. Kompetisi internal keras, budaya latihan ketat, dan tradisi menguji diri di turnamen sejak usia muda.

Dalam profil resminya, ONE menyebut Andrey lahir dan besar di Manaus, menemukan jiu-jitsu pada usia 13 tahun, lalu “tidak pernah menoleh ke belakang” sejak hari itu. Ia disebut sudah berlatih bersama atlet elit hampir sejak awal karena bakatnya cepat menonjol.

Ada hal menarik dari frase “tidak pernah menoleh ke belakang.” Banyak anak usia 13 tahun datang ke matras untuk sekadar coba-coba. Andrey, dari narasi yang berkembang, seolah datang dengan rasa lapar: ia bukan hanya ingin bisa, tapi ingin jadi yang terbaik—dan ingin cepat.

Kilat di sabuk berwarna

Di BJJ, jalur sabuk berwarna sering dianggap “masa sekolah”—fase membangun fondasi, menata disiplin, dan menemukan gaya. Tapi pada Andrey, fase itu justru menjadi panggung prestasi.

ONE mencatat bahwa Andrey meraih gelar juara dunia BJJ pada level sabuk biru dan ungu, serta menjadi juara Eropa pada level sabuk cokelat. Kalimat ini penting karena menggambarkan dua hal: konsistensi dan akselerasi. Ia bukan hanya menang sekali; ia menang berulang saat level kompetisi makin tinggi.

Di balik gelar, ada efek psikologis yang besar: ketika seorang atlet terbiasa menang sejak sabuk berwarna, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa gaya miliknya “bekerja” melawan berbagai tipe lawan—pressure passer, guard player lain, atlet eksplosif, atau teknisi sabar. Dan dari situ, ia biasanya berkembang menjadi petarung yang tidak takut mengambil risiko, karena ia punya memori kemenangan sebagai bahan bakar.

“Hokage”: ketika gaya bertarung jadi persona

Julukan “Hokage” bukan sekadar label lucu. Ia membangun persona yang mudah diingat, sering dikaitkan dengan referensi anime, tapi di matras ia menghidupkannya lewat cara bertarung: cepat, licin, penuh jebakan, dan berani “mengacak-acak” struktur lawan.

Yang membuatnya khas adalah fokus pada permainan bawah yang eksplosif dan teknis. Banyak grappler punya guard bagus, namun tidak semua guard itu ofensif. Guard Andrey bukan tempat menunggu poin; itu ruang untuk memancing reaksi lawan, lalu memutar arah permainan dengan transisi yang terasa spontan: ancaman satu memancing tangan lawan bergerak, lalu celah muncul untuk ancaman berikutnya.

Panggung besar untuk grappler “all-action”

ONE Championship secara resmi mengumumkan Andrey sebagai rekrutan submission grappling mereka dan menempatkannya ke divisi yang “talent-laden”. Dari sini, arah kariernya berubah: bukan lagi sekadar berburu medali turnamen, tetapi membangun narasi sebagai entertainer teknik—mengubah grappling menjadi tontonan yang tegang, cepat, dan mudah diikuti.

Profil atlet ONE menekankan bahwa ia telah menjadi “mainstay” di level elite sejak mendapat sabuk hitam pada 2020—sebuah penanda bahwa ia matang di level tertinggi sebelum masuk ke panggung global ONE.

Yang menarik, ONE juga mulai menempatkannya dalam laga-laga yang menyimpan cerita personal—bukan hanya “matchmaking nama besar”, tetapi duel yang punya bumbu rivalitas, pembalasan, dan pembuktian.

Dua kemenangan keputusan, tapi pesan yang jelas di 2025

Dalam salah satu artikel resmi ONE, disebutkan bahwa Andrey tampil 2–0 di ONE sepanjang 2025, dengan kemenangan keputusan mutlak atas Ashley Williams dan Eduardo Granzotto. Ini poin penting karena banyak orang mengira petarung seatraktif Andrey harus menang submission cepat untuk “terlihat dominan”. Faktanya, ia menunjukkan bahwa ia bisa menang lewat kontrol dan efektivitas sepanjang durasi pertandingan—tanpa kehilangan gaya atraktifnya.

Kemenangan keputusan sering dianggap “kurang spektakuler” bagi penonton baru. Tapi untuk grappler, keputusan mutlak justru menunjukkan dominasi yang rapi: menang posisi, menang ancaman, menang kontrol tempo. Dan untuk Andrey, ini adalah bukti bahwa permainan bawahnya bukan “trik highlight”, melainkan sistem yang bisa mengalahkan lawan elit ketika submission tidak tersedia.

Laga penting vs Eduardo Granzotto: pembalasan, ego, dan kualitas jiu-jitsu level tinggi

Salah satu bab paling menarik dalam kisahnya di ONE adalah rematch melawan Eduardo “Dudu” Granzotto di ONE Fight Night 36. Laporan-laporan menyebut kemenangan ini terasa sebagai “avenging loss” karena ada latar kekalahan sebelumnya di panggung IBJJF Worlds pada tahun yang sama—membuat pertarungan tersebut bukan sekadar laga ONE biasa, tapi juga semacam pembuktian harga diri.

Di matras, duel seperti ini biasanya berlapis:

    • Satu pihak ingin membuktikan kemenangan sebelumnya bukan kebetulan.
    • Pihak lain ingin menunjukkan bahwa ia sudah membaca pola dan punya jawaban baru.

Hasil akhirnya: Andrey menang keputusan, dan kemenangan itu dipotret sebagai pertunjukan jiu-jitsu yang “thrilling” dan keras, sebuah duel yang memperlihatkan bahwa ia bisa bertahan di perang teknik tingkat tinggi—bukan hanya menang lewat ledakan cepat.

Ketika ONE membangun duel “Brasil vs Brasil” untuk puncak reputasi

ONE kemudian memasangkannya dengan Joao “Bisnaga” Mendes dalam duel featherweight submission grappling di ONE Fight Night 40. Artikel ONE menggambarkan Mendes datang dengan pedigree besar, termasuk status juara dunia IBJJF black belt featherweight 2025, sehingga laga ini terasa seperti “uji kredibilitas” untuk Andrey—bukan hanya sebagai entertainer, tetapi sebagai kandidat elite yang benar-benar layak diperhitungkan di puncak.

Guard yang membuat lawan kehilangan rasa aman

Mengapa gaya “permainan bawah” Andrey begitu memikat?

    • Ia membuat posisi atas tidak nyaman.
      Dalam grappling, banyak atlet merasa aman ketika berada di atas. Andrey membalik logika itu—posisi atas justru sering menjadi tempat lawan “dipancing” masuk ke jebakan.
    • Ia hidup dari transisi.
      Guard-nya bukan satu teknik, melainkan rangkaian: ancam—pindah sudut—ancam lagi—buat lawan bereaksi—ambil ruang berikutnya. Karena itulah ia terlihat kreatif.
    • Ia agresif tanpa terlihat ceroboh.
      Agresif di grappling bisa berarti membuka celah. Namun Andrey sering menyerang sambil menjaga rute keluar—seolah ia sudah menyiapkan pintu darurat setiap kali lawan mencoba membalikkan posisi.
    • Ia mengerti “nilai tontonan”.
      ONE merekrut grappler yang tidak hanya kuat, tapi juga bisa membuat pertandingan menarik. Andrey termasuk tipe yang sejak awal dicitrakan sebagai “all-action”.

“Hokage” sebagai simbol era grappling yang lebih atraktif

Fabricio “Hokage” Andrey adalah contoh bagaimana submission grappling bisa punya daya tarik luas jika dibawakan oleh atlet yang tepat. Ia datang dari Manaus, menemukan BJJ di usia 13, menumpuk prestasi besar di sabuk berwarna, lalu membawa gaya guard eksplosifnya ke ONE Championship—bukan untuk sekadar ikut daftar nama, tetapi untuk memimpin gelombang grappling yang lebih cepat, lebih hidup, dan lebih mudah dinikmati.

Dan mungkin itulah inti julukan “Hokage” di panggung ONE: bukan hanya pemimpin dalam cerita—tetapi pemimpin gaya. Ia memaksa semua orang, termasuk lawannya, untuk bermain di tempo yang ia tentukan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Tahaneak Nayokatasala: Petarung Yang Membuat Ring Membara

Jakarta – Di Lumpinee Boxing Stadium, ada satu hukum yang diam-diam dipahami semua petarung: kamu boleh punya teknik, tapi kamu harus punya nyali. Karena di ONE Friday Fights, sarung tangan kecil dan ritme tiga ronde membuat setiap detik terasa seperti pertaruhan—satu kesalahan kecil bisa jadi penutup malam.

Nama Tahaneak Nayokatasala tumbuh dari atmosfer itu. Ia bukan tipe petarung yang menunggu pertandingan jadi nyaman. Ia lebih sering membuat pertarungan jadi panas—kombinasi pukulan dan tendangan yang agresif, keberanian masuk clinch untuk mengunci, lalu kemampuan yang paling menyita perhatian penonton: menyelesaikan laga ketika ronde terakhir menguji napas dan mental.

Catatan kecil soal data: kamu menulis Tahaneak lahir 16 Maret 1996 (29 tahun), tetapi profil resmi ONE mencantumkan ia berusia 23 tahun (berarti tahun lahirnya berbeda dari informasi tersebut). Karena itu, artikel ini memakai acuan dari data ONE.

Profil singkat Tahaneak Nayokatasala

    • Nama: Tahaneak Nayokatasala
    • Negara: Thailand
    • Tinggi: 163 cm (5’4”)
    • Kelas ONE (weight limit): 117.9 lbs / 53.5 kg (rentang flyweight Muay Thai/catchweight di Friday Fights)
    • Tim: Sor Chokmeechai
    • Panggung: ONE Championship (ONE Friday Fights – Muay Thai)

Dari “nama kecil” ke ring besar: ketika Friday Fights jadi jalan naik

Banyak petarung Thailand sudah kenyang pengalaman sebelum masuk ONE, tapi Friday Fights adalah panggung yang berbeda: ring Lumpinee, sorotan global, dan lawan yang datang dari berbagai negara. Di sini, seorang petarung tidak hanya diuji soal teknik—ia diuji soal ketenangan, respons saat tertekan, dan kemampuan membuat keputusan cepat ketika ritme berubah.

Tahaneak mulai dikenal luas karena gaya Muay Thai yang lugas dan agresif. Bukan agresif yang liar, melainkan agresif yang punya arah: pukulan untuk membuka jalan, tendangan untuk merusak ritme, clinch untuk mengunci posisi dan “mengambil napas lawan”. Dalam laporan pertarungan ONE, Tahaneak beberapa kali terlihat nyaman saat laga masuk ke area yang kotor—tempat clinch, lutut, dan positioning menentukan siapa yang lebih kuat secara mental.

KO ronde 1: perkenalan yang langsung “berbunyi” di ONE Friday Fights 65

Nama Tahaneak benar-benar meledak ketika ia menghadapi Petnongnoey Nokkhao KorMor11 di ONE Friday Fights 65. Hasilnya tegas: KO ronde 1 pada 2:17.

Kemenangan KO cepat seperti ini adalah “stempel” di Friday Fights. Bukan cuma soal menang—tapi cara menang yang langsung memaksa orang mengingat namamu. Saat petarung lain membangun momentum lewat keputusan juri, Tahaneak memilih jalur yang lebih keras: menyelesaikan secepat mungkin, sebelum lawan sempat menata strategi.

Dan sejak momen itu, ia tak lagi sekadar petarung yang “ikut kartu”. Ia mulai dilihat sebagai ancaman yang bisa menutup pertandingan kapan saja.

Kekalahan yang membentuk: Payaksurin menahan agresi Tahaneak di ONE Friday Fights 70

Namun Friday Fights juga kejam: setelah sorotan besar, ujian besar biasanya datang cepat.

Di ONE Friday Fights 70, Tahaneak bertemu Payaksurin JP Power (Or AudUdon) dalam duel catchweight 119 lbs. ONE melaporkan Payaksurin keluar sebagai pemenang lewat unanimous decision, dengan cerita pertarungan yang menampilkan adu tendangan, lalu pukulan balasan yang meredam agresi Tahaneak.

Kekalahan keputusan seperti ini sering menjadi titik balik untuk petarung agresif. Kamu dipaksa bertanya: kapan harus menekan, kapan harus mengatur jarak, kapan harus masuk clinch, kapan harus keluar agar tidak “dibaca”. Dalam pertarungan melawan petarung yang mampu menjaga ritme, agresi saja tidak cukup—agresi harus ditemani disiplin.

Tahaneak menelan pelajaran itu—dan beberapa bulan kemudian, ia menunjukkan bahwa ia bisa menang dalam laga yang jauh lebih rumit.

Menang split decision vs Andrii Mezentsev: bertahan di badai, menang lewat detail

Masuk ONE Friday Fights 93, Tahaneak menghadapi Andrii Mezentsev (118 lbs). Ini bukan laga yang bisa diselesaikan cepat dengan satu momen. ONE menggambarkan bagaimana kedua petarung saling bertukar tendangan keras, Mezentsev sempat menjatuhkan Tahaneak dengan sapuan, tetapi Tahaneak membalas lewat pemulihan cepat dan kerja clinch—knee, posisi, dan kontrol yang membuat laga tetap berada dalam jangkauan.

Hasil akhirnya: Tahaneak menang split decision.

Kemenangan split decision biasanya berarti dua hal:

    • pertarungan berjalan ketat,
    • ada detail kecil yang menentukan.

Dan untuk Tahaneak, kemenangan ini terasa seperti “upgrade”: ia membuktikan bahwa dirinya bukan hanya finisher, tetapi juga petarung yang bisa bertahan dalam duel teknis, menyusun skor ronde demi ronde.

Puncak karakter: knockdown dulu, lalu TKO ronde 3 vs Binladin Sangmorakot

Jika kamu ingin melihat “inti” dari Tahaneak sebagai petarung, lihat kisahnya di ONE Friday Fights 112 melawan Binladin Sangmorakot.

ONE menulis bahwa Tahaneak sempat terjatuh (knockdown) lebih dulu akibat serangan kiri Binladin. Tetapi ia tidak panik. Ia kembali ke rencana: tendangan kaki dan tubuh yang presisi, tekanan yang dibangun pelan, lalu serangan yang makin menggigit ketika laga berjalan.

Dan benar saja, Tahaneak menutup pertarungan dengan cara yang paling “Friday Fights”: TKO pada 1:55 ronde 3.

Inilah yang membuatnya disebut sebagai petarung dengan kemampuan menyelesaikan laga di ronde akhir: ia seperti menyimpan bensin untuk kilometer terakhir. Ketika lawan mulai melambat—tangan turun, napas berat—Tahaneak justru terlihat lebih berani mengambil risiko.

Bahkan, Wikipedia mencatat Tahaneak termasuk penerima bonus “Performance of the Night” di ONE Friday Fights 112 (laporan sekunder, bukan rilis resmi ONE).

Gaya bertarung Tahaneak: agresif, klasik, dan nyaman di zona “keras”

Meski statistik detail stance tidak selalu ditampilkan di profil ONE, beberapa database pertarungan mencatat Tahaneak sebagai southpaw, dan ia memang terlihat sering memanfaatkan serangan kiri serta tendangan untuk merusak ritme.

Secara gaya, Tahaneak bisa dibaca lewat tiga kebiasaan:

    • Membuka dengan tendangan kaki dan tubuh
    • Ini bukan hanya untuk skor, tapi untuk mencuri mobilitas lawan—membuat mereka ragu menekan balik.
    • Agresi pukulan untuk memaksa lawan bertukar
    • Di Friday Fights, petarung yang berani bertukar sering mendapat momentum psikologis. Tahaneak tahu cara “mengundang” pertukaran itu, lalu memindahkan pertarungan ke area yang ia sukai.
    • Clinch sebagai alat kontrol dan kerusakan
    • Dalam laporan laga vs Mezentsev, clinch jadi salah satu kunci Tahaneak untuk mengontrol jalannya pertukaran.

Prestasi dan hal menarik yang membuat Tahaneak layak diikuti

    • KO ronde 1 vs Petnongnoey Nokkhao KorMor11 (ONE Friday Fights 65)
    • Menang split decision vs Andrii Mezentsev (ONE Friday Fights 93)
    • Comeback win setelah knockdown: TKO ronde 3 vs Binladin Sangmorakot (ONE Friday Fights 112)
    • Pernah diuji oleh petarung kuat Thailand: kalah UD vs Payaksurin JP Power (ONE Friday Fights 70)

Rangkaian ini memperlihatkan spektrum lengkap: Tahaneak bisa menang cepat, bisa menang ketat, bisa kalah lalu kembali lebih matang, dan bisa bangkit dari knockdown untuk menghabisi di ronde 3.

Tahaneak dan masa depan di kelas flyweight ONE Friday Fights

Di divisi flyweight—yang sering bertemu catchweight 118–123 lbs di Friday Fights—kamu tidak bisa hanya mengandalkan satu senjata. Tahaneak sudah menunjukkan paket yang menarik: agresi khas Muay Thai, kemampuan clinch yang fungsional, dan mental “tidak runtuh” ketika jatuh lebih dulu.

Kalau ia terus memoles disiplin defensif tanpa menghilangkan agresinya, Tahaneak punya peluang menjadi nama yang stabil di Lumpinee—tipe petarung yang selalu berbahaya sampai detik terakhir, dan selalu punya kesempatan membuat highlight.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mark “The Shark” Choinski: Spesialis Wrestling-Submission

Jakarta – Ada petarung yang menang dengan kilatan—satu pukulan, satu momen, satu highlight yang diputar berulang-ulang. Lalu ada tipe lain yang menang dengan cara yang lebih sunyi, lebih melelahkan, dan jauh lebih mengganggu bagi lawan: menempel, mengikat, menyeret, lalu pelan-pelan mengunci udara dari paru-paru dan pilihan dari kepala.

Mark “The Shark” Choinski adalah tipe kedua.

Ia lahir 22 Oktober 1995, bertarung dari Milwaukee, Wisconsin, dan sejak awal karier profesionalnya, identitasnya tidak pernah samar: wrestling sebagai bahasa ibu, submission sebagai “tanda tangan”.

Di kertas, gaya itu tercermin rapi di rekornya: 8 kemenangan, 1 kekalahan, dengan mayoritas kemenangan lewat submission (5 kali), ditambah 1 KO/TKO dan 2 keputusan.

Choinski bertarung di kelas lightweight (155 lbs), berlatih di Roufusport MMA Academy, dan tercatat memiliki fondasi wrestling serta latar kampus Wisconsin–Oshkosh di halaman profilnya.

Ia masuk UFC pada 2025 lewat jalur yang keras: bukan promosi bertahap dengan jadwal nyaman, melainkan panggilan mendadak untuk tampil di UFC 316—dan di sana ia langsung diuji oleh striker presisi, MarQuel Mederos.

Profil singkat Mark Choinski

    • Nama: Mark Choinski
    • Julukan: The Shark
    • Lahir: 22 Oktober 1995 (Milwaukee, Wisconsin, AS)
    • Divisi: Lightweight UFC (155 lbs)
    • Tinggi / Reach: 5’8” (173 cm) / 69” (175 cm)
    • Tim: Roufusport MMA Academy
    • Rekor pro: 8–1 (5 SUB, 1 KO/TKO, 2 DEC)

Milwaukee, gulat, dan lahirnya “The Shark”

Milwaukee membentuk karakter petarung dengan cara yang tidak glamor: kamu tidak diajari untuk “tampil cantik”, kamu diajari untuk bertahan. Choinski membawa nuansa itu ke dalam cage—gaya yang lebih terasa seperti pekerjaan kasar ketimbang seni pertunjukan.

Di profil Tapology, Choinski dicatat memiliki foundation style: wrestling dan berafiliasi dengan Roufusport, sebuah gym yang identik dengan petarung-petarung disiplin—mereka yang bisa bertarung di bawah tekanan tanpa kehilangan struktur.

Bagi Choinski, wrestling bukan hanya alat mengambil poin. Wrestling adalah cara mengatur dunia: menentukan di mana pertarungan berlangsung, kapan lawan boleh bernapas, dan kapan lawan dipaksa membuat keputusan panik.

Itulah kenapa julukan “The Shark” terasa pas. Hiu tidak selalu menggigit besar di detik pertama. Hiu berenang, mengikuti ritme, dan ketika jarak cukup dekat—ia mengunci.

Jalur regional: Anthony Pettis FC, LFA, dan reputasi sebagai pemilik “tangan dingin” di matras

Sebelum UFC, Choinski mengukir namanya lewat panggung regional. Combat Corner—yang memasukkan Choinski dalam profil atlet—menyebutnya sebagai APFC Lightweight Champion dan menekankan reputasinya sebagai petarung dengan grappling-wrestling elit.

Terlepas dari bahasa promosi, benang merahnya konsisten: Choinski menang karena mampu membuat lawan terjebak di permainan bawah.

Salah satu kemenangan yang paling sering dirujuk sebagai bukti insting itu adalah laga melawan John Ramirez di Anthony Pettis FC 16. Di Tapology, Choinski menang via technical submission (rear-naked choke) pada ronde 1 menit 3:20.

RNC bukan hanya “kuncian klasik”—itu kuncian yang biasanya lahir dari detail: kontrol punggung, pengait kaki, tekanan dada, lalu kesabaran menunggu leher benar-benar terbuka. Ini jenis kemenangan yang menggambarkan watak Choinski: tidak terburu-buru, tapi juga tidak memberi kesempatan kedua.

Cageside Press, menjelang debutnya, merangkum pola yang sama: Choinski punya jalur kemenangan paling jelas ketika laga turun ke matras, dan di sana ia diproyeksikan punya keunggulan jika mampu mendapatkan cukup kesempatan takedown.

Dengan kata lain: di level regional, “The Shark” tumbuh karena orang sulit lepas dari cengkeramannya.

Panggilan UFC 316: ketika jadwal berubah dalam semalam

Banyak prospek masuk UFC lewat jalur yang rapi. Choinski masuk lewat jalur yang khas petarung sejati: mendadak.

MMA Fighting melaporkan bahwa UFC menambahkan laga MarQuel Mederos vs Mark Choinski ke kartu UFC 316, dan menekankan dua hal penting:

Choinski saat itu tak terkalahkan (8-0),
ia ditarik dari jadwal APFC (laga rencana vs Zach Zane) untuk mengambil debut UFC—dengan modal kemenangan submission atas John Ramirez.

Situasi seperti ini biasanya memecah petarung menjadi dua tipe: yang panik, dan yang siap. Choinski punya satu keuntungan yang sering dimiliki grappler-wrestler: selama tubuhnya fit, game plan-nya tidak butuh “kesempurnaan timing” seperti striker. Ia butuh momen kontak—sekali tangan menempel, sekali clinch terbentuk, dunia bisa berubah.

Debut di UFC 316: kalah angka, tetapi mendapatkan peta masa depan

Di UFC 316 (7 Juni 2025), Choinski akhirnya debut menghadapi MarQuel Mederos. Pertarungan itu berjalan sesuai prediksi banyak analis: Mederos unggul di jarak, Choinski berusaha mencuri momen untuk membawa laga ke matras. Cageside Press bahkan sebelum laga sudah menilai Mederos memiliki teknik dan setup striking yang lebih bersih, sementara Choinski butuh pertarungan di bawah untuk benar-benar dominan.

Hasil akhirnya: Choinski kalah lewat unanimous decision.

Skor juri yang beredar dan dilaporkan menegaskan kemenangan Mederos: 30-27, 30-27, 29-28.

MMA Mania, dalam “rookie report card” UFC 316, menggambarkan Choinski sebagai petarung yang menunjukkan ketahanan namun “ter-outstrike” dan menerima nilai tengah (C-)—penilaian yang memperkuat narasi bahwa ia belum bisa memaksakan jalur grapplingnya secara penuh di debut.

Bagi sebagian orang, debut kalah adalah lampu merah. Bagi petarung yang masuk short notice di PPV, debut seperti ini justru sering menjadi cermin paling jujur: di mana batasnya saat ini, dan apa yang harus dibangun agar gaya utamanya bisa “mendarat” di level UFC.

Gaya bertarung: “kontrol dulu, baru makan”

Jika kamu ingin memahami Choinski, jangan mulai dari pukulannya—mulailah dari cara ia menghapus ruang.

1. Wrestling sebagai remote control

Wrestling Choinski bukan sekadar “shoot takedown”. Ia lebih mirip remote control: ia ingin memindahkan lawan ke pagar, menahan pinggul, memaksa hand-fighting, lalu menyusun takedown dari situ. Fondasi wrestling ini ditegaskan di profil Tapology.

2. Submission sebagai akhir cerita

Lima submission dari delapan kemenangan menunjukkan bahwa begitu ia berada di atas, ia tidak puas hanya menahan. Ia mencari momen untuk menutup: back take → RNC, posisi dominan → arm triangle, atau transisi → armbar.

3. “Lebih sering grappling untuk mengontrol lawan”

Sherdog merinci metode kemenangannya dan memperlihatkan dominasi submission sebagai porsi terbesar (63% dari kemenangan).

Itulah identitas Choinski: ia bukan petarung yang ingin menang cantik di atas kaki. Ia ingin menang di tempat yang membuat lawan merasa tenggelam.

Prestasi dan momen kunci yang membentuk “The Shark”

APFC Lightweight Champion menjadi salah satu sorotan yang melekat pada namanya di materi profil sponsor/perlengkapan, memperkuat statusnya sebagai prospek regional Midwest.

Lalu kemenangan atas John Ramirez lewat RNC ronde 1 menjadi “tiket” yang paling sering disebut ketika UFC membutuhkan pengganti cepat yang siap tempur.

Dan meski debutnya berakhir kalah angka, ia mendapatkan hal yang sering lebih berharga untuk jangka panjang: pengalaman tiga ronde melawan striker UFC yang rapi—pengalaman yang memaksa evolusi.

Ke mana arah Choinski setelah UFC 316?

Bila Choinski ingin benar-benar menjadi “hiu” yang ditakuti di lightweight UFC, jalur peningkatannya biasanya akan terlihat di tiga area:

1. Entry takedown yang lebih licin

Di UFC, lawan membaca takedown lebih cepat. Choinski perlu lebih banyak variasi: ancaman pukulan untuk menutup jarak, feint untuk membekukan kaki lawan, dan transisi takedown dari clinch yang lebih tajam.

2. Cage cutting

Grappler paling efektif bukan yang paling cepat—melainkan yang paling pintar memotong ruang. Menutup pintu samping, memaksa lawan ke pagar, lalu bekerja dari sana.

3. Striking yang “cukup” untuk memaksa respek

Choinski tidak perlu jadi striker elite. Ia hanya perlu cukup berbahaya agar lawan tidak berdiri santai di jarak jauh. Begitu respek muncul, momen clinch akan lebih mudah tercipta.

Dan jika tiga hal itu mulai terkunci, statistik submission-nya tidak akan sekadar catatan masa lalu—melainkan ancaman masa depan.

Satu kekalahan tidak menghapus identitas

Mark “The Shark” Choinski masuk UFC lewat cara paling kejam: short notice, panggung besar, lawan yang tepat untuk menguji kelemahannya. Ia kalah, ya—tetapi ia juga menunjukkan bahwa ia punya bekal yang tidak bisa diajarkan dalam sebulan: jalur kemenangan yang jelas dan naluri mematikan di matras.

Di lightweight UFC, selalu ada tempat untuk petarung yang bisa membuat lawan panik saat punggungnya menyentuh pagar. Dan Choinski—dengan wrestling dan lima kemenangan submission—punya modal untuk kembali “menggigit”, selama ia bisa menemukan cara masuk ke habitatnya.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

MarQuel Tevan Mederos: Striker Akurat Dari Texas Di UFC

Jakarta – Ada tipe petarung yang membangun karier dengan cara “tenang tapi pasti”: tidak banyak gimmick, tidak banyak drama, tapi setiap kali bertarung, ia terlihat seperti orang yang sudah tahu persis ke mana arah pertarungan ingin dibawa. MarQuel Tevan Mederos adalah tipe itu—seorang lightweight dengan gaya striking agresif, namun rapi. Ia bisa menekan, tapi tidak asal maju. Ia bisa menghabisi, tapi tetap sabar menunggu celah.

Mederos lahir pada 30 November 1996 di Texas, Amerika Serikat. Ia bertarung di divisi lightweight UFC, dan di kertas statistik, identitasnya terlihat jelas: rekor 11–1, dengan 6 kemenangan KO/TKO dan 5 kemenangan lewat keputusan—tanpa satu pun kemenangan submission.

Itu menjelaskan banyak hal: Mederos adalah striker murni yang menyukai pertarungan berdiri. Ia bukan petarung yang sibuk berburu takedown atau “memaksa” grappling. Namun justru karena fokus itu, permainannya tampak tajam—dibangun dari timing, jarak, dan keyakinan pada kombinasi.

Profil singkat MarQuel Mederos

    • Nama lengkap: MarQuel Tevan Mederos
    • Lahir: 30 November 1996, Texas, AS
    • Divisi: Lightweight (155 lbs)
    • Rekor pro: 11–1 (6 KO/TKO, 5 keputusan)
    • Stance: Orthodox
    • Akurasi striking (UFC Stats): ~56% (sering dibulatkan ~57%)
    • Tim (ESPN/Tapology): FactoryX Muay Thai (Colorado)

Dibentuk oleh jalur regional: menang cepat, lalu belajar menang “rapi”

Sebelum UFC, Mederos mengasah reputasi lewat pertarungan-pertarungan regional yang keras—jenis arena tempat seorang petarung tidak bisa cuma mengandalkan bakat. Ia harus belajar mengelola momen: kapan menekan, kapan menunggu, dan kapan mengakhiri.

Jejaknya di catatan pertarungan menunjukkan ritme itu. Ia pernah merasakan pahitnya kekalahan—split decision melawan Santiago Guzman pada Februari 2022—yang menjadi satu-satunya noda di rekornya. Namun setelah itu, Mederos seperti menemukan versi terbaiknya: rentetan kemenangan yang konsisten, dengan kombinasi KO cepat dan kemenangan keputusan yang menunjukkan ia bisa “menang dengan cara apa pun” selama pertarungan tetap berada di jalur yang ia kuasai.

Salah satu sinyal bahwa ia punya finishing instinct adalah kemenangan-kemenangan KO di sirkuit regional (misalnya di Fury Fighting Championship), termasuk kemenangan ronde pertama yang sangat cepat pada 2023.

Di titik ini, ia bukan lagi sekadar petarung yang “puncher”. Ia petarung yang mengerti bagaimana merangkai tekanan.

Oktober 2023: pintu UFC terbuka lewat DWCS dan satu lutut yang mengubah hidup

Setiap petarung punya satu malam yang menggeser kariernya dari “menunggu kesempatan” menjadi “kesempatan itu sendiri”. Untuk Mederos, malam itu terjadi di Dana White’s Contender Series Season 7, Week 10 pada 10 Oktober 2023.

Melawan Issa Isakov, Mederos menang lewat TKO (knee) di ronde 1 pada menit 4:09.

Cara finisnya penting: bukan KO keberuntungan, melainkan hasil dari tekanan yang terukur sampai celah terbuka—lalu dihukum dengan senjata yang tepat.

Kemenangan itu menjadi stempel resmi: Mederos bukan hanya siap tampil, tapi siap bersaing di level UFC.

Debut UFC Februari 2024: tidak mencari sensasi, tapi mengambil kemenangan

Ketika akhirnya debut UFC datang, Mederos tidak tampil seperti petarung yang mabuk sorotan. Ia tampil seperti petarung yang ingin “mengamankan ruang kerja”: pertarungan berdiri, ritme terkontrol, dan poin bersih.

Debutnya terjadi melawan Landon Quiñones pada Februari 2024. Menurut laporan Cageside Press, Mederos menjalani debut yang solid dan menang lewat unanimous decision.

ESPN juga mencatat hasil yang sama: menang keputusan juri mutlak atas Quiñones.

Ada pesan besar dari kemenangan seperti ini. Banyak debutan ingin langsung “meledak” dengan KO. Mederos justru menunjukkan kedewasaan: ia bisa menang tanpa harus memaksakan highlight. Ini fondasi penting untuk striker—karena striker yang hanya mengejar KO sering kehabisan rencana ketika lawan bertahan.

2025: tiga ronde penuh, dua kemenangan keputusan, dan bukti bahwa ia punya bensin

Tahun berikutnya menguji hal yang paling sering dipertanyakan pada petarung dengan label “finisher”: apakah ia tetap efektif jika tidak ada KO?

Mederos menjawabnya dengan dua kemenangan penting:

    • Split decision atas Austin Hubbard (Maret 2025)
    • Unanimous decision atas Mark Choinski (Juni 2025)

Dua kemenangan ini mempertegas karakter yang sering luput dibaca: ia bukan cuma pemukul. Ia petarung yang bisa mengumpulkan ronde, mengunci keunggulan, dan tetap disiplin hingga akhir.

Gaya bertarung: agresif, tapi berbasis presisi

Di mata penonton, Mederos tampak seperti striker agresif. Tapi kalau melihat angka dan hasil, agresifnya punya pola.

1. Akurasi tinggi, bukan volume liar

UFC Stats mencatat Striking Accuracy sekitar 56% (sering dikutip sebagai 57% jika dibulatkan).

Artinya, Mederos tidak sekadar melempar; ia memilih tembakan yang masuk.

2. “No submission wins” = identitas yang sangat jelas

Dengan 0 kemenangan submission dan mayoritas menang lewat KO/keputusan, Mederos adalah striker yang benar-benar hidup dari tangan dan timing.

Ini membuat pertarungannya mudah dipahami—namun tidak mudah dihentikan. Karena semua orang tahu ia ingin bertarung berdiri, tapi tidak semua orang bisa memaksanya keluar dari jalur itu.

3. Lutut sebagai senjata penutup

Finis paling menentukan dalam kariernya—DWCS—datang dari lutut.

Bagi striker yang jarang menembak takedown, serangan seperti ini sering jadi kunci: saat lawan mulai menunduk atau masuk terlalu jauh, lutut naik seperti “pintu terakhir” yang menutup pertandingan.

Prestasi dan momen penting

    • Kontrak UFC lewat DWCS 2023: TKO (knee) ronde 1 atas Issa Isakov
    • Rekor 11–1 dengan 6 KO/TKO: konsistensi sebagai finisher dan pemenang ronde
    • 3 kemenangan di UFC sejauh ini (tercatat di Tapology): membangun pijakan awal di lightweight

“Diam-diam mematikan” adalah tipe paling berbahaya di lightweight

Lightweight UFC itu seperti jalan tol dengan traffic padat: semua orang cepat, semua orang kuat, semua orang punya pengalaman. Untuk bertahan, kamu butuh identitas yang tajam. Dan identitas Mederos jelas—striker presisi yang bisa menang cepat lewat KO/TKO, tapi juga tidak rapuh ketika pertarungan harus dibawa sampai keputusan.

Ia mungkin tidak selalu tampil dengan cara paling heboh. Namun justru petarung seperti inilah yang sering naik pelan-pelan… sampai tiba-tiba sudah berada di posisi yang sulit digeser.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Harry “Houdini” Hardwick: Eks Juara Cage Warriors Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang menang karena rencana mereka berjalan mulus. Ada juga petarung yang menang—atau setidaknya tetap hidup—karena mereka mampu keluar dari situasi buruk seperti pesulap meloloskan diri dari borgol. Di situlah julukan “Houdini” terasa melekat pada Harry Hardwick: bukan karena ia selalu tampil indah, melainkan karena ia punya naluri untuk mengubah kekacauan menjadi peluang, dan menemukan jalan keluar ketika pertarungan mengancam karam.

Hardwick lahir pada 29 September 1994 di Middlesbrough, Inggris, sebuah kota di North East yang keras dan apa adanya—tempat orang belajar cepat bahwa kerja keras lebih penting daripada gaya. Di atas kanvas oktagon, ia bertarung di kelas featherweight, dengan tinggi 173 cm dan jangkauan 180 cm. Rekor profesionalnya tercatat 13 menang, 4 kalah, 1 imbang, dengan kemenangan yang tersebar lewat KO/TKO, submission, dan keputusan juri.

Namun, angka-angka itu baru bagian depan poster. Cerita sesungguhnya ada pada jalurnya: dari petarung lokal dan regional, menjadi juara Eropa di Cage Warriors, lalu menyeberang ke panggung terbesar—UFC—dengan sebuah debut yang pahit, tapi juga membuka bab baru yang jauh lebih menentukan.

Identitas, basis latihan, dan “DNA” bertarung

Hardwick berafiliasi dengan Middlesbrough Fight Academy—sebuah detail yang terasa penting, karena banyak petarung yang tumbuh di gym daerah membawa karakter khas: disiplin keras, jam sparring tinggi, dan mental “kerja dulu, selebrasi belakangan.” Ia terdaftar dengan rekor 13-4-1 dan julukan “Houdini.”

Ada satu hal menarik lain yang sering luput dibahas: beberapa database mencantumkan Hardwick pernah tampil di lightweight (termasuk debut UFC-nya), sementara identitas utamanya tetap lekat sebagai petarung featherweight. Perpindahan kelas ini biasanya bukan soal “ganti karier”—melainkan soal kebutuhan momen: short-notice, lawan berubah, kartu butuh penyelamat. Dan Hardwick sudah pernah mengambil risiko itu.

Dari kota industri ke ring Eropa

Middlesbrough bukan kota yang punya kemewahan fasilitas olahraga kelas dunia di setiap sudut. Tapi justru karena itu, banyak atlet yang lahir dari sana berkembang dengan satu modal utama: keteguhan. Hardwick tumbuh dalam ekosistem yang memaksa petarung untuk jadi lengkap—tidak cukup hanya bisa satu hal. Kamu harus bisa menahan tekanan, bisa merapikan jarak, bisa bertahan saat tubuh mulai lelah.

Di titik ini, gaya Hardwick mulai terbentuk: striking yang variatif—bukan cuma adu jab—dan kemampuan submission yang membuatnya berbahaya ketika pertarungan jatuh ke bawah. Distribusi kemenangannya yang bercampur (KO/TKO, submission, keputusan) mendukung kesan itu: ia bukan petarung satu dimensi.

Panggung “sekolah keras” sebelum UFC

Kalau bicara jalur Eropa menuju UFC, Cage Warriors sering disebut sebagai “jalan raya utama.” Banyak nama besar UFC pernah lewat sana, dan gelarnya bukan gelar “murah.” Menjadi juara di Cage Warriors berarti kamu terbiasa menghadapi petarung yang lapar, teknis, dan sering kali punya mimpi yang sama: masuk UFC secepat mungkin.

Hardwick bukan sekadar singgah. Ia mengukir nama sampai menjadi juara dan kemudian membuktikan bahwa sabuknya bukan kebetulan.

Pertahanan gelar yang menegaskan status

Pada akhir 2024, Cage Warriors menulis bahwa Hardwick melakukan successful defence pertamanya sebagai juara featherweight dalam main event.

Bukan cuma menang—narasinya menekankan bahwa itu adalah “mahkota” dari malam besar untuk MMA North East Inggris. Di level cerita, ini momen ketika seorang petarung daerah berubah status: dari “anak kota” menjadi simbol.

Lalu pada 2025, ia kembali mempertahankan sabuk dalam situasi yang tak ideal—sebuah laga yang dipengaruhi insiden benturan kepala, namun tetap berakhir dengan Hardwick retain gelarnya. Ini jenis malam yang sering merusak mental petarung: ritme hancur, hasil tak romantis, debat terjadi. Tapi bagi petarung yang ingin bertahan di level tinggi, kemampuan melewati malam semacam itu adalah bekal yang sangat nyata.

Mengapa Cage Warriors membentuk “Houdini”?

Karena di sana, kamu tak bisa hanya mengandalkan “rencana A.” Lawan-lawan Cage Warriors umumnya:

    • cukup bagus untuk menghukum kesalahan kecil,
    • cukup kuat untuk memaksa fight panjang,
    • dan cukup berani untuk membuat pertarungan menjadi kacau.

Di lingkungan seperti itu, petarung yang bertahan adalah petarung yang bisa beradaptasi—dan adaptasi adalah inti dari julukan “Houdini.”

Striking variatif + submission yang diam-diam mematikan

Hardwick dikenal punya striking yang variatif—kaya tempo dan perubahan ritme—serta kemampuan submission solid. Ini bukan klaim kosmetik; rekornya menunjukkan kemenangan lewat KO/TKO dan submission sama-sama muncul sebagai jalur kemenangan yang valid.

Secara “rasa” bertarung, petarung seperti Hardwick biasanya berbahaya karena:

    • Ia tidak panik ketika rencana berubah.
    • Banyak striker mendadak “mati” ketika lawan memaksa grappling. Hardwick, setidaknya secara rekam jejak, tidak berada di kategori itu.
    • Ia bisa menang dengan cara yang berbeda pada malam yang berbeda.
    • Kadang kamu butuh keputusan juri. Kadang kamu butuh kuncian. Kadang kamu butuh momen KO. Hardwick punya pengalaman di ketiganya.
    • Ia terbiasa mengelola tekanan mental sebagai juara.
    • Menjadi juara Eropa berarti setiap orang ingin mengambil sesuatu darimu. Itu membuatmu terbiasa bertarung dalam kondisi emosional yang berat.

Debut UFC 2025: kesempatan besar, kondisi sulit, dan pelajaran paling pahit

Masuk UFC adalah impian. Tapi cara masuknya menentukan banyak hal.

Hardwick akhirnya debut di UFC pada 2025. Namun debut itu datang dengan faktor yang sangat menentukan: short notice dan situasi kartu pertarungan yang berubah. Pada momen itu, ia menghadapi Kauê Fernandes dan pertarungan berakhir dengan TKO akibat serangan leg kick yang brutal—jenis penyelesaian yang jarang dan menyakitkan, sampai membuat Hardwick kesulitan berdiri setelahnya.

Kalau kamu ingin memahami mental petarung, lihat cara mereka kalah. Kekalahan Hardwick bukan kekalahan “pasrah.” Ia mencoba beradaptasi, bahkan mengganti stance untuk mengurangi kerusakan, tetapi serangan terus datang dan kerusakan menumpuk. Pada akhirnya, tubuh “memutuskan” sebelum hati: kakinya tak lagi bisa menahan.

Dan di sinilah sisi “Houdini” diuji dengan cara yang ironis: biasanya ia dikenal bisa lolos dari masalah—kali ini, masalahnya terlalu spesifik, terlalu sistematis, terlalu menghancurkan mobilitas.

Namun justru dari malam seperti itu, petarung yang matang lahir.

Titik balik mental: dari “juara Eropa” menjadi “pekerja roster” UFC

Banyak petarung Eropa pernah mengalami ini: kamu datang sebagai juara, lalu UFC memperlihatkan kenyataan baru—di sini, semua orang kuat. Semua orang cepat. Dan semua orang punya satu hal: mereka tidak peduli reputasimu sebelumnya.

Hardwick harus memindahkan identitasnya:

dari “pemegang sabuk”
menjadi
“orang yang harus membuktikan diri tiap kali naik oktagon.”

Ini perubahan psikologis yang tidak selalu terlihat di statistik, tapi sering menentukan panjangnya karier.

Laga berikutnya: Harry Hardwick vs Marwan Rahiki, Maret 2026

Hardwick dijadwalkan bertarung melawan Marwan Rahiki pada 14 Maret 2026 di event yang dikenal sebagai UFC Fight Night: Emmett vs. Vallejos (juga disebut UFC Fight Night 269 / UFC Vegas 114) di UFC Apex area Las Vegas.

Secara naratif, matchup ini terasa seperti ujian dua arah:

Untuk Hardwick: pertanyaan tentang kaki, jarak, dan adaptasi

Setelah kekalahan akibat leg kick, lawan berikutnya yang berprofil agresif akan memaksanya menjawab pertanyaan yang sama:

    • Apakah ia bisa mengembalikan pergerakan?
    • Apakah ia bisa menjaga jarak dan sudut dengan lebih disiplin?
    • Apakah ia bisa “menghilang” dari tekanan dengan grappling atau clinch saat dibutuhkan?

Untuk Rahiki: apakah finishing rate bisa bertahan di level UFC?

Rahiki datang dengan reputasi prospek tak terkalahkan dan gaya agresif. Tapi menghadapi petarung yang bisa menang lewat berbagai cara—dan punya pengalaman sebagai juara Eropa—adalah tes yang berbeda. Ini bukan sekadar “siapa yang lebih keras,” tetapi “siapa yang lebih cerdas saat rencana pertama gagal.”

Aspek menarik yang membuat Hardwick layak diikuti

1. Jalur Cage Warriors yang terbukti “relevan” untuk UFC

Hardwick membangun nama sebagai juara Cage Warriors dan melakukan pertahanan gelar—sebuah indikator bahwa ia terbiasa dengan tekanan di laga-laga utama.

2. Rekor yang menunjukkan kelengkapan

Dengan 13 kemenangan yang datang lewat berbagai metode, ia bukan petarung yang “harus menang dengan satu cara.” Ini penting di UFC, karena lawan akan selalu berusaha mematikan senjata utamamu.

3. Keberanian mengambil short notice

Debutnya memperlihatkan satu kualitas yang sering dihargai UFC: bersedia mengambil kesempatan meski situasi tidak ideal. Tidak semua petarung mau melakukan itu, apalagi ketika yang dipertaruhkan adalah reputasi yang dibangun bertahun-tahun.

4. Narasi “reborn” yang kuat

Petarung yang paling menarik bukan selalu yang tak pernah jatuh, tetapi yang jatuh keras—lalu kembali dengan versi yang lebih rapi. Hardwick, dengan pengalaman pahit di debut, kini memasuki fase karier yang biasanya melahirkan dua kemungkinan ekstrem: naik level atau tenggelam. Karena itu, tiap pertandingannya terasa punya bobot cerita.

“Houdini” dan trik terbesar—menulis ulang kisahnya di UFC

Harry Hardwick sudah membuktikan ia bisa menjadi raja di Eropa. Ia juga sudah merasakan sisi paling kejam dari UFC—kekalahan yang bukan sekadar kalah angka, tetapi kalah oleh kerusakan tubuh yang nyata.

Sekarang, pertanyaannya sederhana, tapi berat: apakah ia bisa melakukan trik terbaiknya—meloloskan diri dari nasib buruk—dan muncul kembali sebagai ancaman di roster UFC?

Maret 2026 melawan Marwan Rahiki adalah panggung yang tepat. Karena jika Hardwick menang, ia bukan cuma meraih satu angka di kolom “W.” Ia sedang membangun ulang identitasnya: dari juara Eropa yang jatuh di debut, menjadi petarung UFC yang benar-benar pantas bertahan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Marwan “Freaky” Rahiki: Dari Rabat Ke Sydney

Jakarta – Ada tipe petarung yang menang dengan rapi—poin demi poin, kontrol demi kontrol. Lalu ada tipe petarung yang menang dengan cara yang terasa seperti lampu stadion mendadak lebih terang: satu momen, satu ledakan, dan semuanya selesai. Marwan “Freaky” Rahiki berada di kubu kedua itu. Ia lahir pada 10 Mei 2002 di Rabat, lalu menata ulang hidup dan kariernya hingga kini berbasis di Sydney, menjelma prospek muda di kelas featherweight dengan rekor yang masih bersih: 7 kemenangan tanpa kekalahan.

Di atas kertas, angka-angkanya sudah cukup untuk membuat siapa pun menoleh. Dari tujuh kemenangan, enam di antaranya berakhir lewat KO/TKO—sekitar 86%—sementara satu sisanya melalui submission. Tidak ada kemenangan keputusan. Tidak ada “menang tipis.” Hanya dua pilihan: kamu jatuh, atau kamu menyerah.

Julukan “Freaky” pun terasa seperti petunjuk. Bukan karena ia bertarung serampangan—justru sebaliknya—melainkan karena ia punya cara menutup laga yang tidak biasa untuk petarung muda: tajam, ganas, dan seolah selalu memaksa lawan bertarung di batas kemampuan mereka.

Siapa Rahiki dan apa yang ia bawa?

Rahiki adalah petarung featherweight (145 lbs) yang secara statistik terdaftar dengan tinggi 5’8” (173 cm), jangkauan 72 inci (183 cm), dan stance orthodox. Ia lahir 10 Mei 2002 dan tercatat “born: Rabat, Morocco” serta “fighting out of: Sydney, Australia.”

Di level gym, ia terafiliasi dengan Lions Den Academy. Itu penting, karena petarung striker agresif biasanya butuh dua hal agar “agresif” tidak berubah menjadi “ceroboh”: disiplin camp latihan, serta sistem yang memastikan ia bisa mengulang tekanan tanpa kehilangan bentuk.

Dari Morocco ke Australia

Perpindahan basis dari Rabat ke Sydney adalah salah satu detail paling menarik dari Rahiki. Ia datang dari Maroko—negara yang kini semakin sering melahirkan talenta tarung lintas disiplin—lalu menetap di Australia, sebuah ekosistem MMA yang keras, kompetitif, dan sangat menuntut “fight IQ” karena banyak petarungnya tumbuh dari kultur sparring yang intens.

Dari situ, kita bisa membaca mengapa Rahiki tampil sebagai striker agresif yang tidak hanya mengandalkan tangan. Polanya lebih seperti “mengejar akhir,” bukan “mencari ronde.” Dalam MMA modern, terutama di featherweight, itu bukan gaya yang mudah: tekanan tinggi membuat stamina cepat habis bila tidak diatur. Namun rekor tanpa keputusan memberi sinyal bahwa Rahiki bukan sekadar mengejar KO—ia mengejar dominasi, apa pun jalurnya.

Rekor 7-0: bahasa yang jelas tentang cara menang

Banyak prospek muda punya rekor bagus. Tapi rekor Rahiki mengirim pesan yang lebih spesifik: ia petarung yang “memaksa hasil.”

    • 7-0, tanpa kekalahan.
    • 86% kemenangan lewat KO/TKO (6 kali).
    • 14% lewat submission (1 kali).

Ada hal yang menarik di sini: kalau mayoritas kemenangan datang dari KO/TKO, biasanya publik langsung menempelkan label “murni striker.” Tetapi satu kemenangan submission—meski hanya satu—tetap penting: itu pertanda Rahiki tidak panik ketika laga masuk ke wilayah grappling. Ia punya jalan keluar. Ia punya cara mengakhiri juga di lantai.

Dan pada petarung muda, “punya cara mengakhiri di lantai” sering kali lebih berharga daripada sekadar “bisa takedown.” Karena saat lawan sudah terluka, grappling menjadi pintu untuk menutup laga—bukan sekadar bertahan

Malam yang mengubah segalanya: Oktober 2025

Pintu Rahiki menuju panggung terbesar terbuka melalui Dana White’s Contender Series pada 14 Oktober 2025. Di momen inilah, rekor sempurna di panggung regional harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana: “Apakah gaya kamu akan tetap mematikan ketika level lawan naik drastis?”

Jawabannya datang dengan keras.

Di Contender Series, Rahiki menghadapi Ananias Mulumba dan menang KO/TKO pada ronde 2, menit 2:13. Finishing-nya bukan satu pukulan kebetulan; catatan menyebut rangkaian serangan yang “komplet”: lutut, siku, dan uppercut—kombinasi yang biasanya muncul ketika petarung benar-benar membaca jarak dan reaksi lawan.

Hasil itu mengamankan kalimat yang diidamkan semua petarung muda: “awarded UFC contract.”

Bayangkan narasinya: petarung muda, lahir di Rabat, membangun diri di Sydney, lalu naik ke panggung “uji kelayakan” paling terkenal di MMA modern—dan memilih menyelesaikan laga, bukan sekadar menang angka. Ini bukan hanya menang; ini deklarasi.

Kenapa gaya “Freaky” berbahaya di featherweight

Featherweight adalah divisi yang penuh petarung cepat, berjangkauan panjang, dan mampu mengubah pertarungan dalam satu transisi. Striker agresif bisa jadi bintang—atau jadi korban—tergantung seberapa rapi mereka menutup jarak dan mengelola risiko takedown.

Rahiki tampak berada di jalur yang benar karena dua alasan besar:

    • Finishing rate yang ekstrem
    • Enam KO/TKO dari tujuh kemenangan artinya ia tidak butuh banyak waktu untuk mengunci lawan pada situasi panik.
    • Ada “rencana B” di grappling
    • Satu kemenangan submission mungkin terdengar kecil, tapi secara psikologis, itu memberi ancaman tambahan: lawan tidak bisa merasa aman hanya karena berhasil membawa Rahiki ke bawah.

Pada akhirnya, “Freaky” bukan sekadar gaya liar. Ia adalah gaya agresif yang punya arah: memaksa lawan memilih pertahanan, lalu menghukum pilihan itu.

Debut UFC 2026: ujian pertama melawan Harry Hardwick

Kontrak UFC bukan garis finis; itu pintu masuk ke arena yang lebih kejam. Dan debut Rahiki dijadwalkan pada UFC Fight Night: Emmett vs. Vallejos di UFC Apex, 14 Maret 2026, melawan Harry Hardwick, pada kelas 145 lbs.

Menariknya, Hardwick datang dengan cerita yang juga dramatis. Pada penampilan UFC sebelumnya (UFC Paris, September 2025), ia mengalami kekalahan TKO ronde pertama akibat serangan leg kick yang merusak mobilitasnya—bahkan sampai harus dibantu keluar.

Dari sudut pandang narasi, ini menciptakan panggung yang “pas” untuk Rahiki:

Hardwick akan datang dengan kebutuhan membuktikan diri, merapikan pertahanan, dan menunjukkan bahwa ia bisa bertahan dari tekanan.
Rahiki akan datang membawa reputasi sebagai pemilik “tangan panas” yang tidak suka membiarkan pertarungan berjalan lama.

Bagi Rahiki, debut ini bukan hanya tentang menang. Ini tentang menunjukkan bahwa finishing rate-nya bukan fenomena regional, tapi senjata yang bisa dibawa ke level UFC.

Prestasi dan hal-hal kecil yang membuatnya layak ditunggu

1. Tak terkalahkan (7-0) saat memasuki UFC

Di dunia MMA, rekor sempurna tidak selalu berarti kamu yang terbaik—tapi itu selalu berarti kamu tahu cara bertahan dan menang dalam berbagai situasi.

2. Lulus “tes” Contender Series dengan cara meyakinkan

Banyak petarung lolos lewat keputusan—tetap bagus. Tapi Rahiki memilih jalan yang membuat mata matchmaker terbuka lebar: finishing ronde 2 dengan kombinasi brutal.

3. Basis lintas budaya yang sering melahirkan petarung “lapar”

Lahir di Rabat, berkembang di Sydney—perpaduan yang biasanya menciptakan petarung dengan dua modal: identitas yang kuat dan motivasi besar. Dan dalam MMA, “motivasi” sering menjadi bensin untuk melewati kamp-kamp terberat.

“Freaky” dan babak baru di oktagon

Marwan “Freaky” Rahiki bukan sekadar nama baru—ia adalah proyek yang sudah menunjukkan hasil sebelum masuk UFC. Rekor 7-0, tingkat penyelesaian yang nyaris brutal, serta kemenangan penentu kontrak di Contender Series membentuk satu gambaran: seorang featherweight muda yang datang bukan untuk beradaptasi pelan-pelan, tapi untuk langsung merebut perhatian.

Debut melawan Hardwick akan menjadi panggung pertama yang benar-benar menguji apakah “86% KO/TKO” itu bisa tetap berbicara di level tertinggi. Dan kalau ya, UFC featherweight mungkin akan mendapat satu masalah baru: petarung muda yang tidak suka membiarkan pertarungan berlangsung lama.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Khaos Williams: “The Oxfighter”: Mimpi Buruk Welterweight UFC

Jakarta – Di divisi welterweight, banyak petarung mencari cara menang yang “aman”: menang angka, menang posisi, menang pelan-pelan. Khaos Williams justru menempuh jalur sebaliknya—jalur yang berisik, penuh risiko, dan sering berakhir dengan satu adegan yang tidak perlu penjelasan: lawan jatuh, wasit masuk, penonton berdiri.

Nama aslinya Kalinn Fidell Williams, lahir 30 Maret 1994 di South Bend, Indiana, Amerika Serikat.

Di UFC ia bertarung di kelas welterweight (170 lbs), dikenal sebagai striker yang eksplosif, agresif, dan berorientasi pada pukulan cepat—sebuah gaya yang tercermin jelas dari statistik paling menonjol dalam kariernya: 8 kemenangan lewat KO/TKO.

Ia memang punya dasar grappling—sabuk biru Brazilian Jiu-Jitsu—tetapi ciri khasnya tetap sederhana dan menakutkan: ia ingin membuatmu ragu berdiri di depannya.

Profil singkat Khaos Williams

    • Nama asli: Kalinn Fidell Williams
    • Nama panggung: Khaos Williams
    • Lahir: 30 Maret 1994, South Bend, Indiana (AS)
    • Divisi: Welterweight (UFC)
    • Stance: Orthodox
    • Rekor pro: 15–5 (data UFC/ESPN)
    • Kemenangan KO/TKO: 8
    • Dasar grappling: Blue belt BJJ
    • Tim: Murcielago MMA (tercatat di ESPN/Wikipedia/Tapology)

Dari sirkuit regional menuju “pukulan yang bicara”

Sebelum namanya jadi highlight ESPN, Khaos membangun reputasi di kancah regional—fase yang biasanya tidak glamor: venue kecil, lawan yang bermacam-macam, dan satu tuntutan utama: kalau kamu ingin naik level, kamu harus menonjol.

Menurut rangkuman kariernya, ia sempat bertarung di berbagai promotor regional (termasuk event King of the Cage yang digelar di wilayah tersebut) dan menumpuk kemenangan yang membuatnya terlihat sebagai prospek berbahaya.

Yang membuatnya cepat dikenali bukan “teknik rumit”, melainkan aura petarung yang selalu siap menyalakan lampu merah: maju, menekan, lalu melepaskan tangan dengan keyakinan penuh.

UFC 247: debut short notice, KO 27 detik, nama langsung meledak

Februari 2020 adalah titik yang mengubah kariernya. Khaos masuk sebagai pengganti mendadak dan debut melawan Alex Morono di UFC 247.

Apa yang terjadi setelah bel berbunyi kini jadi bagian dari “cerita turun-temurun” fans UFC: Khaos Williams menang KO dalam 27 detik.

MMA Fighting menuliskan bagaimana 27 detik itu cukup untuk “merailroad” veteran oktagon, dan momen tersebut langsung mengubah Khaos dari nama baru menjadi ancaman yang harus diperhatikan.

Kemenangan kilat itu juga membawanya pada pengakuan resmi: ia menerima Performance of the Night untuk KO cepat tersebut (dilaporkan berbagai media dan rekap bonus).

Di titik ini, “Khaos” bukan lagi sekadar nama panggung—ia jadi label gaya.

2020 lagi: “30 detik” yang memperkuat reputasi sebagai pemecah rahang

Jika debut 27 detik membuat orang menoleh, maka November 2020 membuat orang yakin itu bukan kebetulan.

Di UFC Fight Night: Felder vs. dos Anjos, Khaos menghadapi Abdul Razak Alhassan (di catchweight 172.5 lb karena Alhassan miss weight) dan menang dengan cara yang makin brutal: KO ronde 1 dalam sekitar 30 detik.

UFC sendiri merangkum bahwa ia “menghentikan Morono dalam 27 detik” dan kembali menang besar pada malam itu.

Laga tersebut juga berbuah penghargaan Performance of the Night.

Dua KO kilat dalam satu tahun, di panggung terbesar, adalah cara tercepat untuk membangun reputasi—dan juga cara tercepat untuk membuat lawan berikutnya datang dengan rasa takut.

Gaya bertarung: eksplosif, ofensif, dan “hidup-mati” di jarak pukul

Secara teknis, Khaos tercatat sebagai petarung orthodox, dengan statistik serangan yang cukup tinggi di UFC Stats.

Namun ciri khasnya bukan sekadar stance. Khaos adalah petarung yang:

    • Mengejar momen KO dengan kombinasi cepat: ia suka menekan dan membuat pertukaran menjadi liar—di situlah power-nya bekerja.
    • Memakai tekanan sebagai senjata: bukan hanya memukul, tapi memaksa lawan bereaksi, mundur, dan kehilangan ketenangan.
    • Punya dasar grappling tapi bukan identitas utama: ia tercatat blue belt BJJ, namun jalur kemenangan utamanya tetap KO/TKO.

Data UFC juga menyebut profil finishing-nya: 8 kemenangan KO dan sejumlah first-round finishes, yang menegaskan bahwa Khaos sering “mengubah pertandingan” sebelum lawan sempat menyesuaikan.

Naik-turun di UFC: tetap berbahaya, bahkan ketika hasil tak selalu ramah

Karier petarung striker seperti Khaos selalu punya konsekuensi: ketika menang, terlihat spektakuler; ketika kalah, biasanya karena lawan berhasil menetralkan power atau memaksanya bertarung di tempo yang tidak ia suka.

Rekor Khaos saat ini tercatat 15–5 (UFC Stats/ESPN). 

Wikipedia dan catatan pertandingan menunjukkan ia sempat melewati periode dengan kemenangan penting, lalu juga menerima kekalahan di level tinggi—bagian yang wajar untuk petarung yang bertarung di divisi paling dalam talentanya seperti welterweight.

Yang menarik: bahkan ketika kalah, nama Khaos tetap punya “nilai jual” yang sulit ditolak matchmaker—karena gaya bertarungnya hampir selalu menjanjikan aksi.

Aspek menarik: dari “Khaos” sampai “The Oxfighter”

Di beberapa profil, Khaos juga dikaitkan dengan julukan “The Oxfighter”—nama yang cocok untuk petarung yang gaya bertarungnya seperti banteng: maju, meledak, dan berbahaya dalam jarak dekat.

Di UFC.com, ia juga dirangkum sebagai welterweight dengan 8 KO dan finishing yang menonjol.

Dan jika kamu menonton dua KO kilatnya pada 2020, kamu bisa menangkap satu benang merah: Khaos tidak butuh “banyak waktu” untuk membuat kerusakan—yang ia butuh hanyalah satu celah, satu momen ragu dari lawan, dan satu pukulan yang mendarat bersih.

Khaos Williams adalah tes mental bagi siapa pun yang berdiri bersamanya

Banyak petarung menguji skill lawan. Khaos menguji sesuatu yang lebih mendasar: nyali.

Karena setiap kali ia masuk oktagon, ada pertanyaan yang menggantung sejak detik pertama: apakah ini akan jadi malam 27 detik lagi? Dan di divisi welterweight UFC yang penuh petarung kelas dunia, ancaman seperti itu saja sudah cukup untuk mengubah cara orang bertarung.

Khaos Williams mungkin punya BJJ, punya taktik, punya perkembangan—tetapi identitasnya tetap sama sejak debut: striker eksplosif yang bisa mematikan pertandingan dalam sekejap.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Martin Buday “Badys”: Raksasa Dari Nitra

Jakarta – Di kelas heavyweight, banyak petarung percaya satu hal: semakin besar tubuhmu, semakin cepat pertarungan selesai. Tapi Martin Buday justru sering membuktikan kebalikannya. Ia memang besar—tinggi menjulang, bahu lebar, dan tenaga yang terasa “berat” ketika sudah menempel di clinch—namun gaya bertarungnya cenderung disiplin dan sabar. Buday bukan tipe yang selalu berburu KO liar sejak detik pertama. Ia lebih suka mengambil posisi, menutup ruang, menekan pelan-pelan sampai lawan kehilangan pilihan, lalu baru menghukum dari jarak dekat.

Buday lahir pada 11 November 1991 di Nitra, Cekoslowakia (kini Slovakia).  Ia dikenal dengan julukan “Badys”, bernaung di Spartakus Fight Gym, dan namanya sempat menjadi bagian dari roster UFC heavyweight sebelum kemudian kembali menandatangani kontrak dengan OKTAGON MMA setelah UFC tidak memperpanjang kontraknya.

Profil singkat Martin Buday

    • Nama: Martin Buday
    • Julukan: Badys
    • Lahir: 11 November 1991, Nitra, Cekoslowakia (sekarang Slovakia)
    • Divisi: Heavyweight
    • Tinggi / berat tanding: 6’4” – sekitar 265 lbs
    • Reach: 77 inci
    • Stance: Orthodox
    • Tim: Spartakus Fight Gym
    • Rekor (UFC Stats): 16–2 (tercantum di UFC Stats)

Catatan penting: beberapa basis data mencatat total kekalahan berbeda (misalnya Tapology/Sherdog menampilkan 16–3). Perbedaan ini sering muncul karena pembaruan yang tidak serempak atau klasifikasi hasil tertentu. 

Awal yang tidak glamor: mulai bela diri untuk “menurunkan berat badan”

Kisah Buday tidak dimulai dari dongeng atlet kecil yang sejak bocah sudah juara nasional. Wikipedia mencatat ia mulai berlatih bela diri sekitar usia 18 tahun untuk menurunkan berat badan, lalu masuk lewat pintu Brazilian Jiu-Jitsu.

Di heavyweight, fondasi BJJ seperti ini penting: ketika tubuh besar bertemu tubuh besar, yang menang bukan hanya yang kuat—tapi yang paham cara menempel, mengunci, dan menghemat tenaga sambil tetap mengontrol posisi.

Itu menjelaskan kenapa Buday, meski dikenal sebagai petarung “fisik besar”, sering terlihat tenang. Seolah ia paham: di kelas berat, panik hanya membuat gas habis lebih cepat.

OKTAGON: sabuk yang mengubah status Buday di Eropa

Sebelum nama Buday melekat di UFC, ia lebih dulu membangun reputasi di Eropa. Ia tercatat sebagai mantan Juara Heavyweight OKTAGON MMA.

Gelar ini penting karena OKTAGON adalah promosi besar Eropa Tengah, panggung tempat petarung tak bisa hanya mengandalkan fisik. Untuk menjadi juara, kamu harus bisa menang dalam pertarungan yang tidak selalu “ideal”—kadang harus bertahan, kadang harus menahan tekanan, kadang harus mengamankan keputusan.

Dari fase ini, Buday membawa identitas yang terasa jelas: petarung yang tidak tergesa-gesa, tapi juga tidak memberi ruang nyaman bagi lawan.

Dana White’s Contender Series 2021: satu lutut, satu kontrak

Gerbang UFC terbuka pada Dana White’s Contender Series 2021 Week 7, ketika Buday menghadapi Lorenzo Hood. Hasil resminya tercatat sebagai KO/TKO (knee to the head) pada 4:56 ronde 1.

Finis di akhir ronde pertama ini memberi gambaran gaya Buday yang khas:

    • ia tidak selalu meledak sejak detik awal,
    • ia sabar menempel dan menekan,
    • lalu ketika momen terbuka di jarak dekat—barulah ia “memukul saklar”.

Di heavyweight, satu lutut yang masuk bersih sering sama nilainya dengan satu musim penuh kerja keras. Untuk Buday, itu adalah kontrak UFC.

Tahun-tahun di UFC: menang dengan cara “membuat lawan lelah dulu”

Di UFC, Buday membangun citra sebagai heavyweight yang menang lewat kombinasi sederhana tapi menyiksa: tekanan konstan, clinch kuat, kontrol posisi, lalu pukulan jarak dekat. Bahkan ketika ia tidak selalu menghabisi lawan, ia sering menang karena membuat lawan bertarung dalam kondisi tidak nyaman.

Secara statistik, Buday memang punya variasi cara menang—kombinasi KO/TKO, submission, dan keputusan—yang menunjukkan ia tidak hanya “petarung ukuran”, tetapi juga punya perangkat dasar grappling untuk menyelesaikan.

Dan itulah esensi “Badys” yang sering luput: ia bukan monster KO satu pukulan seperti sebagian heavyweight. Ia lebih mirip mesin press—menekan sedikit demi sedikit sampai lawan kehilangan tenaga, kehilangan posisi, lalu kehilangan tempo.

Keluar dari UFC, kembali ke OKTAGON: bab baru setelah keputusan yang mengejutkan

Hal menarik (dan cukup mengejutkan untuk banyak penggemar) adalah fase setelah itu. MMA Fighting melaporkan bahwa Buday—yang disebut memiliki rekor 7–1 di UFC dan bahkan datang dari kemenangan atas Marcus “Buchecha” Almeida—tetap tidak mendapatkan perpanjangan kontrak dari UFC, lalu menandatangani kontrak dengan OKTAGON MMA.

Untuk petarung, momen seperti ini sering terasa pahit. Tetapi Buday menanggapinya dengan kepala tegak—dan secara naratif, ini membuat kisahnya makin kuat: seorang heavyweight Eropa yang sudah merasakan panggung terbesar, lalu kembali untuk membangun ulang, mungkin dengan target yang sama: datang lagi dengan versi yang lebih tajam.

Gaya bertarung Buday: kenapa clinch dan tekanan jadi senjata utamanya?

Kalau dirangkum, Buday adalah heavyweight yang memaksimalkan tiga hal:

    1. Ukuran tubuh untuk menang posisi
      Tinggi 6’4”, bobot 265-an, reach 77 inci—ini bukan sekadar angka; ini alat untuk menutup jarak dan membuat lawan “terkunci” di dekat pagar.
    2. Clinch sebagai ruang kerja
      Banyak heavyweight membenci clinch karena menguras napas. Buday justru nyaman di sana—tempat ia bisa mengontrol kepala lawan, menekan pinggul, dan menghukum dengan pukulan pendek.
    3. Kesabaran sebagai strategi
      Ia sering menang bukan karena satu momen liar, tapi karena lawan perlahan kehilangan ritme. Ini gaya yang mungkin tidak selalu menghasilkan highlight, tapi sangat efektif.

Prestasi dan poin penting karier

    • Mantan Juara Heavyweight OKTAGON MMA
    • Mendapat kontrak UFC lewat DWCS 2021: menang TKO (knee to the head) vs Lorenzo Hood, ronde 1
    • Tercatat bernaung di Spartakus Fight Gym dan dikenal dengan julukan Badys
    • Menandatangani kontrak OKTAGON MMA setelah UFC tidak memperpanjang kontrak (laporan MMA Fighting)

“Badys” dan daya tarik heavyweight yang tidak tergesa-gesa

Di divisi yang sering dipenuhi petarung “sekali pukul selesai”, Buday menawarkan versi berbeda: heavyweight yang menang lewat tugas-tugas kecil yang menghabisi lawan—menempel, menekan, mengunci ruang, lalu memukul pendek sampai lawan menyerah pada tekanan.

Dan mungkin di situlah daya tariknya: Buday membuat pertarungan heavyweight terasa seperti permainan catur yang berat—bukan cepat, tapi brutal dengan cara yang tenang.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Luan Lacerda: Petarung Jiu-Jitsu Amapá Di UFC

Jakarta – Di Brasil, kisah petarung biasanya lahir dari kota-kota yang sudah lama jadi pusat olahraga tarung: Rio, São Paulo, Curitiba. Tapi Luan Lacerda datang dari arah yang berbeda—dari Macapá, tanah di tepian utara Brasil, tempat panas matahari terasa seperti napas yang menempel di kulit dan jarak ke “pusat” terasa bukan sekadar kilometer, melainkan kesempatan. Ia lahir pada 7 Januari 1993 dan tumbuh dengan satu modal yang kemudian menjadi identitasnya: ketika pertarungan menyentuh lantai, ia tidak sekadar bertahan—ia mulai “bekerja”.

Di divisi bantamweight, Lacerda dikenal sebagai spesialis grappling dan submission. Catatan kariernya menggambarkan sosok yang nyaris seperti “tukang kunci” tradisional: dari 13 kemenangan profesional, 11 di antaranya datang lewat submission—sekitar 85% kemenangan lewat kuncian. Angka itu bukan statistik pemanis; itu pernyataan gaya bertarung yang berulang-ulang ia buktikan.

Namun perjalanan ke UFC tidak pernah ramah bagi petarung yang identitasnya terlalu jelas. Di level tertinggi, lawan tak hanya mencoba menang—mereka mencoba menutup pintu yang paling sering kamu lewati. Dan dalam kisah Lacerda, justru di situlah dramanya: ia memulai UFC dengan dua pelajaran keras, lalu kembali menemukan dirinya lewat satu armbar yang terasa seperti “stempel” bahwa ia memang layak berada di panggung ini.

Dari Amapá ke panggung nasional: membangun reputasi tanpa sorotan besar

Sebagai petarung dari wilayah yang tidak selalu disorot media arus utama, Lacerda meniti karier dengan cara yang lebih sunyi: bertarung, menang, mengulang—hingga orang-orang yang paham MMA Brasil mulai mengenali pola yang sama.

Ia kerap dikaitkan dengan Nova União, salah satu rumah besar bagi banyak petarung Brasil, tempat grappling dan disiplin latihan menjadi bahasa sehari-hari.

Di ekosistem seperti itu, kamu tidak bisa hidup dari “highlight” saja. Kamu harus punya sistem. Dan sistem Lacerda sederhana tapi kejam: cari posisi, kunci pinggul, baca pergerakan, lalu tutup jalan keluar.

Pola kemenangannya pun seolah mengulang mantra yang sama—rear-naked choke, guillotine, armbar, variasi kontrol punggung—semuanya kembali ke satu inti: ia tidak butuh satu pukulan untuk mengubah laga; ia butuh satu kesalahan kecil dari lawan.

Identitas bertarung: “bukan pemukul—tapi pemecah napas”

Salah satu hal paling menarik dari Lacerda adalah kontrasnya dengan stereotip petarung Brasil modern yang sering diidentikkan dengan striking eksplosif. Lacerda, berdasarkan catatan kariernya, adalah kebalikan: kemenangan KO/TKO nyaris tidak menjadi ciri utamanya, sementara submission mendominasi peta kemenangannya.

Gaya seperti ini biasanya dibangun dari tiga kebiasaan:

    • Kesabaran di fase scramble
    • Banyak grappler panik saat posisi berubah cepat. Lacerda justru “hidup” di sana—momen ketika lawan mencoba berdiri adalah momen ketika leher dan lengan sering terbuka.
    • Kontrol kecil yang terasa besar
    • Dalam grappling, kadang satu detail—underhook, pressure kepala, kunci pergelangan—bisa mengubah lawan dari agresif menjadi defensif total. Petarung submission elit tahu caranya membuat lawan lelah sebelum kuncian benar-benar terkunci.
    • Naluri finishing
      Tidak semua grappler adalah finisher. Banyak yang unggul kontrol tapi sulit menyelesaikan. Lacerda berbeda: angka 11 submission itu menunjukkan ia punya insting “menutup cerita”.

Masuk UFC 2023: pintu terbuka, lalu langsung dihantam realitas

UFC akhirnya menjadi panggung berikutnya bagi Lacerda pada 2023, dan debutnya datang di UFC 283 melawan Cody Stamann. Hasilnya: Lacerda kalah unanimous decision dengan skor 29–28 di seluruh kartu juri.

Bagi petarung submission, kekalahan keputusan sering terasa seperti cerita yang “menggantung”. Karena bukan berarti ia tidak punya momen—tetapi berarti ia tidak berhasil memaksa laga berjalan di relnya sendiri selama cukup lama untuk menang di mata juri. Debut itu memberi pesan yang keras: di UFC, lawan tidak akan memberi kamu posisi gratis. Kamu harus merebutnya.

Lalu datang laga kedua, dan pelajarannya bahkan lebih tajam.

Pada UFC Fight Night berikutnya, Lacerda menghadapi Da’Mon Blackshear. Ia kalah TKO ronde 2 pada menit 3:54.

Kekalahan seperti ini biasanya punya efek psikologis ganda: bukan hanya soal kalah, tapi soal “dihentikan”—ditarik keluar dari rencana grappling dan dipaksa membayar harga ketika kontrol tidak berhasil terbentuk.

Dua kekalahan awal adalah titik yang sering membuat petarung pendatang baru menghilang. Namun justru di sini karakter Lacerda mulai terlihat: ia tidak membuang identitasnya. Ia memperbaiki jalannya menuju identitas itu.

UFC Rio: malam ketika armbar menjadi pengembalian identitas

Kisah kebangkitannya di UFC menjadi menarik karena datang dengan bumbu drama yang tidak ia ciptakan, namun harus ia tanggung.

Di UFC Rio, Lacerda menghadapi Saimon Oliveira—dan jelang laga, Oliveira miss weight delapan pon, membuat pertarungan bergeser ke catchweight disertai penalti.

Situasi seperti ini bisa merusak fokus petarung: emosi naik, strategi bocor, dan laga berubah jadi duel gengsi. Tapi Lacerda justru tampil seperti orang yang tahu persis apa yang ia butuhkan: kemenangan yang “membunyikan” identitas lamanya.

Laporan pertarungan menggambarkan bagaimana Lacerda mengendalikan laga dengan grappling sejak awal, lalu mengunci kemenangan lewat armbar ronde 2 pada menit 3:55.

Kemenangan itu lebih dari sekadar angka 1 di kolom win UFC—ia terasa seperti pemulihan narasi: setelah dua kekalahan yang menyakitkan, ia menang dengan cara yang paling “Luan Lacerda”.

Dalam satu momen, armbar itu seperti berkata: kamu boleh lebih berat, kamu boleh lebih besar, tapi kalau kamu membiarkan lenganku mengunci, kamu akan mengetuk kanvas.

Rekor 13–3: “peta kemenangan” yang jelas dan menakutkan

Saat ini, rekam jejaknya sebagai petarung profesional tercatat 13 menang dan 3 kalah, dengan distribusi kemenangan yang sangat condong ke submission.

Bagi lawan-lawan di bantamweight, data seperti ini selalu memengaruhi cara bertarung:

    • Mereka akan lebih hati-hati saat clinch.
    • Mereka akan menunda takedown karena takut scrambles.
    • Mereka akan menolak grappling panjang dan memilih striking aman.

Dan justru di situlah “permainan psikologis” Lacerda muncul. Ketika lawan terlalu takut grappling, mereka sering bertarung kaku—dan petarung yang kaku biasanya lebih mudah dipaksa masuk ke posisi buruk.

Bab berikutnya: ujian gulat vs jiu-jitsu

Menariknya, jadwal berikutnya yang beredar menunjukkan Lacerda akan menghadapi Rinya Nakamura.

Secara gaya, duel semacam ini sering menjadi “tesis” bagi grappler: bisakah ia memaksa permainan bawah-atas berjalan sesuai rencana ketika lawan punya disiplin posisi dan basis gulat yang rapi?

Untuk Lacerda, kunci pertandingan seperti ini biasanya bukan hanya mencari submission cepat, tetapi:

    • memenangkan posisi awal (clinch, body lock, atau scrambles),
    • menempelkan tekanan tanpa memberi ruang reset,
    • dan mengambil “momen transisi”—saat lawan bergerak setengah hati—karena di situlah leher dan lengan sering terbuka.

Petarung “sunyi” yang selalu berbahaya

Ada aura khas pada petarung submission: mereka tidak selalu terlihat heboh, tetapi mereka membuat lawan bertarung dengan rasa takut. Petarung knockout membuat orang takut dengan satu pukulan. Petarung submission membuat orang takut melakukan kesalahan kecil. Dan di level UFC, kesalahan kecil adalah mata uang yang mahal.

Luan Lacerda membawa aura itu—petarung dari Amapá yang datang tanpa banyak keramaian, tapi setiap kali pertarungan menyentuh lantai, penonton yang paham akan condong ke depan: ini bisa selesai kapan saja.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Soe Naung Oo: Petarung Muay Thai Myanmar

Jakarta – Ada petarung yang terlihat berbahaya karena satu pukulan. Ada juga petarung yang terlihat berbahaya karena sesuatu yang lebih sunyi: mereka tidak berhenti bekerja. Mereka tidak selalu mencari satu serangan pamungkas—mereka menumpuk tekanan, memotong ritme lawan, lalu mengambil ronde demi ronde seperti orang mengumpulkan koin di jalanan yang licin.

Soe Naung Oo berada di tipe kedua itu. Ia adalah petarung asal Myanmar, kini berusia 24 tahun, bertarung di panggung ONE Championship pada kelas strawweight Muay Thai, dengan tinggi badan 165 cm. Profil resmi ONE juga mencantumkan berat tandingnya di kisaran 127,2 lbs (57,7 kg), serta tim/afiliasi Taung Ka Lay.

Di ONE, rekor Soe Naung Oo memang masih singkat—1 kemenangan dan 1 kekalahan—tetapi dua laga itu sudah cukup untuk membentuk kesan: ia adalah petarung yang nyaman dengan tempo cepat, sanggup mengelola napas di bawah tekanan, dan percaya bahwa dominasi tidak harus selalu berujung KO.

Agresif, rapat, dan “tradisional tapi ganas”

Gaya bertarung Soe Naung Oo sering digambarkan agresif, dengan kombinasi pukulan dan tendangan cepat khas Muay Thai. Tetapi “agresif” di sini bukan berarti membabi buta. Dalam Muay Thai tradisional, agresif yang efektif biasanya punya tiga pondasi:

Kontrol jarak – bukan sekadar maju, tapi maju di jarak yang membuat lawan tidak nyaman.
Volume serangan – memaksa lawan bereaksi terus-menerus sampai rencana mereka rusak sendiri.
Stamina sebagai senjata – karena di level ini, banyak petarung bisa memukul keras; yang membedakan adalah siapa yang tetap rapi saat ronde akhir.

Kemenangan Soe Naung Oo yang datang lewat keputusan mutlak memperkuat narasi ini: ia menang bukan karena satu momen saja, melainkan karena konsistensi kerja sepanjang ronde.

Dari Myanmar ke panggung Bangkok: ring yang “jujur” dan tidak memaafkan

Bertarung di ONE—terutama pada seri Friday Fights—sering berarti bertarung di Lumpinee Stadium, tempat yang atmosfernya memaksa petarung tampil jujur. Di ring seperti itu, kamu bisa membawa teknik sebaik apa pun, tetapi bila kamu ragu, penonton (dan juri) akan menangkapnya.

Soe Naung Oo datang sebagai petarung Myanmar yang membawa semangat striking Asia Tenggara: tegas, keras, dan terbiasa bertarung dalam tempo tinggi. Namun panggung ONE punya “biaya masuk”: lawan-lawan datang dengan pengalaman, disiplin, dan kemampuan membaca ritme. Dan Soe Naung Oo merasakan pelajaran itu lebih dulu—sebelum ia merasakan kemenangan.

Debut di ONE Friday Fights 120: kalah, tetapi membuka peta kekurangannya

Debutnya terjadi di ONE Friday Fights 120, ketika ia berhadapan dengan Omar El Halabi. Hasilnya, Soe Naung Oo kalah unanimous decision.

Dalam karier petarung muda, kekalahan seperti ini sering menjadi “cermin paling jujur”. Karena keputusan mutlak biasanya berarti lawan tampil lebih rapi dalam mengamankan ronde, lebih efektif menanam serangan penting, atau lebih mampu mengontrol momen-momen krusial.

Yang menarik: kalah keputusan tidak selalu berarti Soe Naung Oo “tidak mampu”. Justru ini menunjukkan ia bertahan dan menyelesaikan laga, sesuatu yang penting untuk seorang striker agresif. Petarung yang agresif kadang terjebak emosi, kehilangan struktur, lalu habis di tengah jalan. Soe Naung Oo melewati tiga ronde—dan itu berarti ia pulang membawa data: apa yang perlu dipertajam, di mana ritme harus diatur, dan kapan harus menekan.

Titik balik di ONE Friday Fights 132: menang UD sambil menjatuhkan lawan dua kali

Lalu datang malam yang mengubah cara orang memandangnya: ONE Friday Fights 132, melawan Maisangngern Sor Yingcharoenkarnchang.

Soe Naung Oo menang unanimous decision—dan bukan kemenangan “aman” yang hambar. ONE menyorot bahwa ia menjatuhkan Maisangngern dua kali dalam perjalanan menuju kemenangan angka.

Di sinilah identitasnya terasa lengkap. Ia tidak hanya bisa “kerja tiga ronde” dan menang poin; ia juga bisa menciptakan momen besar (knockdown) tanpa kehilangan kendali. Dan bagi promotor seperti ONE, ini kombinasi yang sangat berharga: petarung yang mampu membuat highlight, tetapi tetap punya kedewasaan untuk mengamankan kemenangan sampai bel akhir.

Membaca gaya Soe Naung Oo dari kemenangan itu: “tekanan yang tidak putus”

Dua knockdown dalam laga yang tetap berujung keputusan mutlak biasanya lahir dari pola tertentu:

    • Serangan berlapis: bukan satu tembakan, melainkan rangkaian yang membuat lawan telat menutup celah.
    • Tempo yang stabil: ia tidak hanya meledak di awal, lalu hilang; ia menjaga ritme agar ancaman tetap ada.
    • Pukulan-tendangan yang saling membuka: ketika lawan fokus menahan tangan, kaki masuk; ketika fokus menahan kaki, tangan masuk.

ONE sendiri menampilkan narasi bahwa Soe Naung Oo tampil dominan dan efektif sepanjang laga untuk mengamankan keputusan juri.

Prestasi yang mulai terbentuk: bukan sabuk dulu, tapi “izin tinggal” di level atas

Untuk petarung yang baru dua kali tampil di ONE, orang sering buru-buru membicarakan sabuk. Padahal, tahap awal yang lebih penting adalah memperoleh sesuatu yang lebih mendasar: izin tinggal—pengakuan bahwa kamu pantas ada di panggung ini.

Sejauh ini, Soe Naung Oo sudah mengoleksi beberapa “prestasi kecil” yang secara karier sangat besar:

    • Menembus ONE dan tampil di Friday Fights (panggung yang padat talenta).
    • Memenangkan laga di ONE dengan unanimous decision, menunjukkan kemampuan mengelola ronde.
    • Mencetak dua knockdown dalam kemenangan itu, menegaskan bahwa ia bukan petarung poin pasif—ia punya daya rusak.

Jika ia terus menambah pengalaman dengan pola seperti ini—menang meyakinkan, tetap agresif, tetapi semakin rapi—maka jalur kariernya bisa terbuka lebar. Karena di ONE, petarung yang disukai adalah petarung yang membuat orang ingin menonton lagi.

Stamina sebagai senjata di divisi yang penuh sprint

Strawweight Muay Thai di ONE sering terasa seperti lomba sprint yang dipaksa berlangsung lama. Semua orang cepat. Semua orang tajam. Yang biasanya jadi pembeda adalah siapa yang masih cepat di ronde akhir.

Soe Naung Oo, dari rekor dan cara ia menang, terlihat sebagai tipe yang menjadikan stamina dan konsistensi sebagai bagian dari identitas. Ketika seorang petarung menang lewat UD sambil mencetak knockdown, itu menandakan ia mampu menjaga output serangan sekaligus tetap cukup akurat untuk menciptakan momen jatuhnya lawan.

Tantangan berikutnya adalah konsistensi dan “mencuri ronde tipis”

Setelah 1–1, tantangan berikutnya biasanya sederhana tapi kejam: jangan kembali ke nol. Artinya, Soe Naung Oo perlu menjaga momentum dari kemenangan terakhirnya—membuat kemenangan itu bukan sekadar satu malam bagus, melainkan awal dari kebiasaan.

Di level ini, peningkatan yang paling terasa biasanya datang dari:

    • memilih kapan menekan dan kapan menahan,
    • mengurangi momen “kosong” (detik-detik tanpa serangan),
    • dan memastikan setiap ronde punya pesan jelas untuk juri.

Jika ia bisa merapikan detail itu, gaya agresifnya akan makin sulit dipatahkan—karena ia bukan hanya memukul cepat, tetapi juga menang secara struktur.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mamuka Usubyan: Southpaw “Pengendali Tempo”

Jakarta – Ada petarung yang membuat pertarungan terasa seperti catur—tenang, terukur, dan penuh jeda. Tapi ada juga petarung yang membuat ring terasa seperti lorong sempit: ruang gerak dibatasi, napas dipotong, dan setiap kali lawan ingin “mengatur ulang”, selalu ada rangkaian serangan yang memaksa mereka kembali bertahan. Mamuka Usubyan tumbuh sebagai tipe kedua. Ia bukan sekadar striker yang agresif—ia adalah striker yang membangun tekanan sebagai cara berpikir, lalu mengeksekusinya dengan gaya southpaw yang menyulitkan, kombinasi yang rapi, dan kemampuan mengendalikan tempo seperti seseorang yang paham: pertarungan bukan cuma soal siapa yang paling keras memukul, tetapi siapa yang paling mampu memaksa lawan bertarung di ritme yang salah.

Lahir pada 2 Oktober 1994 di Shamiram, Armenia, Usubyan dikenal sebagai petarung yang berkiprah dari Rusia. Latar itu saja sudah memberi warna: wilayah yang melahirkan banyak atlet tempur dengan etos kerja keras, kultur latihan yang disiplin, serta kebiasaan menghadapi kompetisi tanpa banyak romantisasi. Pada akhirnya, ia menapaki jalur striking lintas disiplin—kickboxing dan Muay Thai, ditambah catatan di tinju profesional—sebelum membawa identitasnya ke ONE di kelas featherweight, divisi yang terkenal “ramai” karena dihuni atlet-atlet cepat, kuat, dan sama-sama agresif.

Yang paling menarik dari Usubyan adalah bagaimana semua potongan itu menyatu menjadi satu karakter: petarung yang tampak bisa menyerang dari banyak sudut, tetapi tetap terasa “terarah” karena ia memahami tempo.

Profil singkat: identitas yang jelas sejak bel pertama

    • Nama: Mamuka Usubyan
    • Tanggal lahir: 2 Oktober 1994
    • Tempat lahir: Shamiram, Armenia
    • Representasi: Rusia
    • Disiplin: Kickboxing, Muay Thai, dan memiliki catatan tinju profesional
    • Stance: Southpaw
    • Promosi: ONE Championship
    • Kelas: Featherweight

Di atas kertas, ini terdengar seperti biodata standar. Tetapi dalam dunia striking, kombinasi “southpaw + kickboxing + Muay Thai + pengalaman tinju” adalah formula yang jarang membosankan. Karena itu artinya ia punya empat senjata besar sekaligus:

    • Geometri southpaw yang mengubah sudut bertarung.
    • Struktur kickboxing yang memberi timing dan garis serangan.
    • Kekayaan Muay Thai yang menambah variasi dan jebakan.
    • Kepekaan tinju yang mempertajam rasa pukulan dan keberanian di jarak rapat

Akar Shamiram: tempat kecil, mental yang biasanya keras

Karier petarung sering dimulai dari tempat yang sederhana. Bukan selalu dari pusat olahraga, melainkan dari ruang-ruang latihan kecil yang membentuk kebiasaan: datang tepat waktu, menyelesaikan latihan meski badan sakit, dan menerima kenyataan bahwa kemajuan tidak selalu terlihat hari itu juga.

Shamiram—tempat kelahiran Usubyan—mewakili jenis latar yang sering melahirkan atlet “tahan proses”. Mereka terbiasa bekerja dalam sunyi, lalu baru terlihat besar ketika panggungnya datang. Ketika ia kemudian dikenal sebagai petarung dari Rusia, di sanalah biasanya perjalanan atlet berubah: sparring lebih keras, kompetisi lebih rapat, dan standar naik dari “bagus” menjadi “harus siap diuji kapan saja”.

Ini penting untuk memahami mengapa gaya Usubyan digambarkan agresif sekaligus mampu mengendalikan tempo. Banyak petarung agresif hanya tahu maju; petarung yang ditempa lingkungan kompetitif biasanya belajar satu hal tambahan: maju dengan rencana.

Fondasi kickboxing: southpaw yang membuat lawan salah langkah

Southpaw bukan sekadar posisi kaki kiri di depan. Pada level serius, southpaw adalah cara untuk memindahkan pusat bahaya dari “tengah” ke “sudut”. Lawan orthodox yang kurang nyaman melawan kidal sering mengalami dua masalah:

Mereka sulit mendapatkan jalur jab yang bersih karena sudutnya berubah.
Mereka berkali-kali masuk ke “jalan kiri” lawan—ruang yang biasanya disiapkan untuk pukulan paling mematikan.

Dalam kickboxing, southpaw yang efektif biasanya membangun pertarungan melalui hal-hal berikut:

1. Mengunci sudut luar (outside angle)

Ini membuat serangan kiri masuk lebih lurus, lebih cepat, dan lebih sulit dibaca.

2. Mengatur ritme dengan lead hand dan feint

Bukan hanya menyerang, tetapi membuat lawan ragu: “ini serangan beneran atau jebakan?”

3. Membiasakan lawan menembak dari posisi tidak ideal

Saat lawan frustrasi, mereka mulai memaksa serangan—dan di situlah counter bekerja.

Usubyan, dengan basis kickboxing southpaw, digambarkan sebagai petarung yang agresif dengan kombinasi pukulan dan tendangan efektif. Itu biasanya lahir dari struktur: ia tahu kapan membuka dengan serangan ringan, kapan mengubah level ke tendangan, lalu kapan menutup dengan pukulan keras.

Sentuhan Muay Thai: ketika tekanan menjadi lebih “lengkap”

Kickboxing memberi garis; Muay Thai memberi “isi” ring. Muay Thai punya cara unik membuat lawan tidak nyaman, bahkan tanpa harus menjatuhkan:

    • Tendangan ke kaki yang menggerus mobilitas.
    • Serangan ke tubuh yang menurunkan tenaga dan keberanian.
    • Permainan tempo—kadang cepat, kadang “menarik”, lalu meledak lagi.
    • Ancaman clinch yang membuat striker murni takut mendekat terlalu lama.

Bagi petarung kidal, Muay Thai juga memberi ruang kreatif: tendangan kiri yang masuk seperti cambuk, teep untuk menahan lawan, hingga kombinasi yang membuat lawan terjebak antara bertahan dari tangan atau dari kaki.

Inilah mengapa Usubyan sering digambarkan mampu mengendalikan tempo pertarungan. Muay Thai mengajari satu seni penting: mencuri ritme. Kamu tidak selalu menang karena pukulan paling keras, tetapi karena kamu membuat lawan bertarung “setengah detik lebih lambat” dari yang mereka rencanakan.

Pelajaran tinju profesional: rasa pukulan, ketenangan, dan nyali di pocket

Catatan di tinju profesional biasanya mengubah striker menjadi lebih “tajam” dalam tiga aspek:

1. Jarak rapat (pocket fighting)

Tinju memaksa kamu nyaman berada di jarak bahaya, tetap melihat celah, dan tetap melempar dengan teknik.

2. Pertahanan kepala dan timing counter

Di tinju, kesalahan kecil dibayar cepat. Itu membuat petarung lebih peka kapan harus mengangkat guard, kapan harus slip, kapan harus step out.

3. Efisiensi pukulan

Tinju mengajarkan bahwa satu pukulan yang tepat sering lebih bernilai daripada tiga pukulan yang “mengenai sarung”.

Jika Usubyan adalah petarung agresif yang kombinasi tangan-kakinya efektif, pengalaman tinju bisa menjelaskan mengapa agresivitasnya tidak hanya “ramai”, tetapi juga terasa terstruktur. Ia tidak sekadar mengejar pertukaran; ia mengejar momen ketika lawan sedikit terlambat merespons—dan di situ pukulan kiri kidal biasanya bekerja.

Masuk ONE Championship: featherweight yang menuntut segalanya

Divisi featherweight di ONE dikenal sebagai wilayah striker elit dan atlet eksplosif. Kecepatan tinggi, power cukup besar, dan jarak bisa berubah dalam sekejap. Ini bukan kelas yang ramah bagi petarung yang hanya punya satu pola.

Karena itu, profil Usubyan terasa cocok: ia datang dengan perpaduan disiplin. Ketika kickboxing mengatur “kerangka”, Muay Thai memberi variasi, dan tinju memberi rasa pukulan. Itu membuatnya punya peluang untuk:

    • Menekan lawan dengan kombinasi berlapis.
    • Mengubah tempo agar lawan tidak menemukan ritme.
    • Menang di pertukaran jarak dekat tanpa panik.

Tentu, panggung sebesar ONE juga menuntut penyesuaian: lawan-lawan di sana bukan hanya kuat—mereka juga pintar, berpengalaman, dan terbiasa menghadapi pressure fighter. Di titik ini, hal yang sering membedakan adalah detail kecil: footwork, pilihan momen, dan disiplin defensif ketika menyerang.

Ciri khas gaya bertarung: agresif, tapi tidak sembarang maju

Dari deskripsi yang kamu berikan, ada tiga “benang merah” yang bisa dibaca dari gaya Usubyan:

1. Tekanan yang memaksa keputusan

Pressure fighter sejati membuat lawan harus memilih: mundur terus atau bertukar. Pilihan mana pun punya risiko. Mundur membuatmu kehabisan ruang; bertukar membuatmu masuk ke permainan kombinasi.

2. Kombinasi yang mematikan ritme

Bukan serangan tunggal, melainkan rangkaian—tangan membuka, kaki menutup, lalu tangan kembali menyelesaikan. Kombinasi seperti ini membuat lawan sulit “membalas di tengah”.

3. Kontrol tempo sebagai senjata

Ini aspek yang paling menarik: kontrol tempo bukan cuma soal cepat atau lambat, tetapi soal kapan mengubahnya. Petarung yang bisa mengubah tempo sering terlihat “mengatur musik” pertarungan—lawan mengikuti, bukan memimpin.

Aspek menarik: southpaw multi-disiplin yang berpotensi sulit dipetakan

Bagi penonton, petarung seperti Usubyan biasanya menyenangkan karena jarang membosankan. Bagi lawan, ia sering merepotkan karena persiapan menjadi lebih kompleks:

    • Kalau kamu fokus menahan tendangan, kamu bisa kebobolan pukulan.
    • Kalau kamu fokus menahan pukulan, kakimu bisa dipotong.
    • Kalau kamu berani masuk jarak dekat, pengalaman tinjunya memberi dia kenyamanan di pocket.
    • Kalau kamu mundur terlalu lama, pressure dan tempo tinggi membuatmu kehabisan ruang.

Di sinilah identitas “agresif” berubah menjadi kualitas strategis: agresif bukan berarti liar—agresif bisa menjadi cara untuk menguasai peta ring.

Cerita striker yang menunggu bab besar

Mamuka Usubyan adalah contoh petarung striking modern yang tidak terkurung oleh satu disiplin. Ia lahir di Shamiram, membawa akar Armenia, berkarier dari Rusia, dan menyatukan kickboxing southpaw, Muay Thai, serta pengalaman tinju profesional menjadi satu gaya yang agresif dan efektif.

Di ONE Championship, terutama di featherweight, petarung seperti ini selalu punya peluang mencuri perhatian—bukan hanya karena mereka menyerang, tetapi karena mereka menyerang dengan identitas yang jelas: menekan, mengubah tempo, dan memaksa lawan beradaptasi.

Dan dalam olahraga tarung, petarung yang membuat lawan “beradaptasi” biasanya tinggal selangkah lagi dari momen paling penting: malam ketika semua elemen itu bertemu sempurna—tekanan, timing, dan keberanian—lalu ring menjadi panggung untuk sebuah penegasan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Detchawalit Silkmuaythai: Petarung Masa Depan

Jakarta – Ada petarung muda yang masuk panggung besar lewat jalur “belajar pelan-pelan”: menang angka, kalah tipis, lalu merangkak naik sambil menambal kekurangan. Tapi ada juga yang datang seperti pintu yang ditendang terbuka—sekali muncul, seluruh arena langsung paham: anak ini bukan sekadar prospek, ini ancaman. Di gelombang kedua itulah nama Detchawalit Silkmuaythai mulai mencuat.

Detchawalit adalah petarung muda asal Thailand, lahir pada tahun 2007, dan bertarung di kelas bantamweight di ONE. Yang membuatnya terasa “tidak biasa” bukan hanya usia—melainkan paket lengkap yang ia bawa ke ring: tinggi 180 cm (jangkauan panjang untuk ukuran bantamweight), gaya Muay Thai yang agresif, dan naluri finishing yang sudah terlihat sangat dini. Di laman profil resmi ONE, ia tercatat berusia 18 tahun, berpostur 180 cm, dan bernaung di tim/gym Silk Muaythai.

Dari situ, gambaran awalnya jelas: ini petarung yang punya “alat” fisik untuk mengontrol jarak. Namun yang membuatnya berbahaya, Detchawalit tidak memakai alat itu untuk bertahan aman—ia memakainya untuk menekan sejak awal ronde, memaksa lawan panik, dan membangun jalan menuju KO/TKO.

Profil singkat yang langsung terasa “mengerikan” untuk divisi bantamweight

Pada kelas ini, banyak petarung cepat dan eksplosif. Tetapi Detchawalit membawa jenis ancaman yang berbeda: ancaman jarak. Dengan tubuh tinggi, ia bisa membuat lawan merasa ring menyempit, karena setiap langkah maju selalu dibalas dengan pagar serangan.

Ia dikenal memadukan:

    • Teep tajam untuk “mengunci” jarak dan memotong momentum,
    • Low kick keras untuk merusak fondasi langkah lawan,
    • serta kombinasi siku dan lutut saat jarak pecah dan pertarungan masuk fase klinis (clinch/infight).

Pada level ONE—khususnya seri Friday Fights—gaya seperti ini sering jadi tiket tercepat menuju sorotan. Karena ONE adalah panggung yang menghargai aksi: petarung yang bisa membuat orang berdiri dari kursi akan lebih cepat dibicarakan.

Teep sebagai “setir”: cara Detchawalit mengendalikan pertarungan sebelum memulai perang

Banyak orang menganggap teep hanya tendangan dorong sederhana. Pada petarung tinggi seperti Detchawalit, teep adalah setir—alat untuk mengarahkan arah pertarungan.

Teep yang efektif melakukan tiga hal sekaligus:

    • Menghentikan laju lawan dan memaksa mereka “mulai lagi” dari nol.
    • Membuat lawan ragu untuk masuk karena setiap percobaan masuk terasa seperti menabrak tembok.
    • Menciptakan jarak ideal bagi petarung tinggi untuk menyusun kombinasi berikutnya.

Di titik ini, Detchawalit terlihat seperti petarung yang paham: sebelum menghantam, ia ingin memastikan lawan berdiri di tempat yang ia mau. Karena begitu lawan mulai mengejar dengan emosi, low kick dan serangan lanjutan menjadi lebih mudah masuk.

Low kick sebagai “pajak”: setiap langkah maju harus dibayar

Jika teep adalah pagar, low kick adalah pajak. Lawan boleh mengejar, tapi setiap langkah maju harus membayar harga: kaki depan memerah, ritme langkah berubah, dan daya ledak menurun.

Pada petarung muda, low kick sering jadi senjata yang “bagus di teori” tapi belum konsisten di praktik—karena butuh timing dan disiplin. Namun Detchawalit dikenal menjadikannya bagian dari mesin tekanan: lawan yang terlalu sibuk memikirkan teep akan terlambat membaca low kick; lawan yang fokus menjaga kaki akan membuka ruang untuk pukulan, lutut, atau masuknya serangan ke tubuh.

Inilah gaya Muay Thai modern yang agresif tapi tetap terstruktur: tidak hanya “tukar pukulan”, melainkan memotong kemampuan lawan untuk bertukar dengan nyaman.

Siku-lutut sebagai penutup pintu: ketika jarak rapat, bahaya justru naik

Bagian paling menakutkan dari profil Detchawalit adalah ia tidak kehilangan senjata saat jarak menutup. Banyak petarung tinggi canggung ketika lawan berhasil masuk ke jarak rapat. Detchawalit justru disebut memadukan kombinasi siku dan lutut—dua senjata Muay Thai yang paling “mendadak” merusak.

Siku dan lutut bekerja seperti ini:

Siku memotong pertahanan yang rapat; celah kecil cukup untuk menimbulkan damage besar.
Lutut menghukum lawan yang mencoba menempel terlalu lama, sekaligus menguras napas.

Jika lawan berpikir “aku harus masuk supaya teep-nya tidak aktif,” Detchawalit punya jawaban: silakan masuk—tapi di dalam, kamu masuk ke wilayah siku dan lutut.

TKO ronde pertama yang menegaskan identitasnya

Nama Detchawalit makin keras dibicarakan ketika ia mencatat kemenangan cepat di ONE. Pada ONE Friday Fights 119, ia mengalahkan Majid Seydali melalui TKO ronde pertama—di laporan resmi ONE tercatat berakhir pada 2:12 ronde 1.

Yang membuat kemenangan jenis ini terasa penting bukan semata angka waktunya, melainkan pesan yang ikut dibawanya: Detchawalit bukan petarung yang perlu “pemanasan” tiga ronde untuk tampil. Ia bisa menekan sejak awal, menciptakan momen knockdown, lalu menutup tanpa memberi lawan kesempatan menemukan ritme. ONE sendiri menggambarkan laga itu sebagai ronde pembuka yang penuh knockdown dan berakhir cepat.

Untuk seorang petarung kelahiran 2007, kemenangan dengan tempo setinggi itu membuat orang menoleh dua kali. Karena di panggung internasional, “talenta” bukan hanya soal teknik—tetapi soal apakah teknik itu tetap muncul ketika lampu besar menyala.

Panggung Lumpinee Stadium dan seni bertarung di ruang sempit

Seri ONE Friday Fights identik dengan atmosfer Bangkok dan ring yang terasa “hidup”. Di tempat seperti itu, tekanan punya nilai lebih besar. Petarung yang bisa memaksa lawan bertahan akan terlihat dominan bahkan sebelum terjadi KO.

Detchawalit—dengan teep untuk mengunci jarak, low kick untuk merusak langkah, lalu siku-lutut untuk mengunci jarak dekat—secara alami cocok dengan dinamika itu. Ia membuat lawan bekerja keras hanya untuk masuk jarak, lalu memaksa mereka bekerja lebih keras lagi untuk keluar.

Dan yang paling membuat orang berbisik: ia bukan sekadar menekan—ia menekan dengan niat menyelesaikan.

KO ronde pertama yang mengunci status “prospek paling berbahaya”

Jika TKO di Friday Fights 119 adalah pernyataan, maka Friday Fights 130 adalah pengumuman.

Di ONE Friday Fights 130, Detchawalit menang KO ronde pertama atas Ivan Bodeant. Laporan resmi ONE mencatat penyelesaiannya pada 2:32 ronde 1.

Kemenangan ini mempertegas satu pola: ketika Detchawalit memegang kendali jarak dan tempo sejak menit awal, pertarungan bisa berhenti sebelum lawan sempat “membaca” apa yang terjadi. ONE bahkan menyorotnya sebagai debut yang menghasilkan KO ronde pertama.

Dalam konteks divisi bantamweight Muay Thai yang padat dan keras, dua kemenangan cepat semacam itu membuat sebuah reputasi terbentuk dengan sendirinya: Detchawalit bukan prospek untuk nanti—ia ancaman untuk sekarang.

Mengapa kombinasi tinggi 180 cm + gaya agresif itu “langka” untuk usia 2007

Di Muay Thai, tinggi badan bisa menjadi pedang bermata dua. Petarung tinggi sering tergoda bermain terlalu aman: jaga jarak, menang angka, dan menghindari risiko. Detchawalit mengambil jalan yang lebih berani—menggunakan tinggi untuk memaksa kontrol, lalu mengubah kontrol menjadi serangan.

Itu langka untuk petarung muda, karena butuh dua hal:

Kepercayaan diri pada senjata jarak jauh (teep dan tendangan) agar lawan tidak bebas masuk.
Keberanian di jarak dekat (siku-lutut) agar lawan takut menempel.

Artinya, Detchawalit tidak hanya mengandalkan satu “mode.” Ia bisa berbahaya jauh, menengah, dan dekat. Dan ketika seorang petarung muda sudah terlihat nyaman di tiga jarak, potensi pertumbuhannya biasanya besar—karena ia tinggal memperhalus detail, bukan membangun fondasi dari nol.

Arah karier: ujian berikutnya adalah konsistensi saat lawan mulai “siap menghadapi hype”

Satu hal yang pasti dalam seri ONE Friday Fights: begitu seorang prospek terkenal sebagai finisher, ia akan ditempatkan melawan lawan yang lebih berpengalaman, lebih tahan banting, dan lebih cerdas menahan tekanan.

ONE sendiri menyorot bahwa di ONE Friday Fights 141, Saw Min Min akan berusaha menghentikan “finishing run” Detchawalit dalam laga bantamweight Muay Thai.

Di sinilah fase “naik kelas” sesungguhnya terjadi: bukan cuma soal menang, tetapi soal bagaimana menang ketika lawan sudah mempelajari pola, sudah menyiapkan jawaban untuk teep dan low kick, dan siap memaksa Detchawalit bertarung di area yang tidak ia sukai.

Jika Detchawalit bisa tetap menekan dan menemukan penyelesaian—atau minimal tetap dominan—maka narasinya akan berubah dari “prospek muda berbahaya” menjadi “nama yang wajib ditonton.”

Detchawalit dan bahasa bintang di ONE

Detchawalit Silkmuaythai muncul membawa sesuatu yang selalu dicari di panggung besar: identitas yang jelas.

    • Teep-nya bukan hanya serangan—ia alat kontrol.
    • Low kick-nya bukan hanya damage—ia alat merusak rencana.
    • Siku-lututnya bukan hanya variasi—ia ancaman yang membuat lawan takut masuk.
    • Dan yang paling penting: ia sudah menunjukkan bahwa ketika kesempatan finishing datang, ia tidak ragu menutup pertarungan.

Untuk petarung kelahiran 2007, itu adalah modal yang bisa mempercepat segalanya. Di ONE, orang naik cepat—dan jatuh cepat. Detchawalit sedang berada di jalur naik, dengan gaya yang “berisik” di ring dan “nyaring” di highlight.

Sekarang tinggal satu pekerjaan besar: menjaga konsistensi ketika tekanan eksternal ikut naik—lawan makin keras, ekspektasi makin tinggi, dan setiap ronde pertama menjadi panggung untuk membuktikan bahwa KO cepat bukan kebetulan, melainkan kebiasaan.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Saw Min Min Dan Jalan Kerasnya di ONE Championship

Jakarta – Di banyak kota kecil, mimpi besar sering lahir bukan dari fasilitas mewah, melainkan dari kebiasaan sederhana: latihan berulang, keringat yang sama tiap hari, dan keyakinan bahwa sebuah kesempatan—sekali saja—cukup untuk mengubah hidup. Itulah nuansa yang melekat pada kisah Saw Min Min, petarung asal Thaton, wilayah selatan Mon State, yang mulanya hidup “seperti anak kebanyakan” sebelum akhirnya memilih jalan keras dunia tarung. Ia mengaku baru mulai berlatih seni bela diri pada 2016, ketika ia menekuni Lethwei sekadar sebagai hobi—sebuah detail yang terasa kecil, tetapi justru menjadi titik balik besar dalam hidupnya.

Dari titik itu, kisahnya bergerak cepat: dari pemula yang baru “coba-coba”, menjadi nama yang pernah merasakan gelar turnamen, merasakan pahitnya kalah tipis, hingga menutup laga dengan penyelesaian dramatis di detik-detik akhir di panggung ONE. Ia bukan tipe petarung yang tumbuh lewat jalur mulus; sebaliknya, ia seperti ditempa oleh tekanan—dan sering kali, ia terlihat paling hidup justru saat ronde berjalan ke menit-menit penentuan.

Identitas, Latar, dan Ciri Utama

Secara identitas, Saw Min Min dikenal sebagai petarung dari Myanmar yang memulai latihan pada 2016. Dalam semesta ONE, ia pernah tampil pada partai-partai yang menempel kuat di ingatan fans Myanmar—mulai dari panggung ONE: Light of a Nation sampai ONE: Quest for Gold.

Yang membuatnya menarik bukan semata hasil menang-kalah, melainkan karakter bertarungnya: tipe striker yang mau “menghidupkan” laga, menerima risiko, dan sering memaksa pertarungan berjalan dalam tempo tinggi. Dalam kerangka ONE Friday Fights, namanya kembali mencuat lewat sebuah kemenangan KO yang datang di ujung ronde—jenis penutup yang biasanya lahir dari mental bertahan, bukan sekadar teknik.

Dari Thaton ke Ring: Awal yang “terlambat” tapi serius

Banyak atlet top memulai sejak kanak-kanak. Tapi kisah Saw Min Min justru dimulai relatif “telat”—ia sendiri menyebut baru memulai latihan pada 2016, dan itu pun berawal dari rasa penasaran yang sederhana.

Di Myanmar, Lethwei bukan sekadar olahraga; ia budaya tarung yang keras, keras sekali—dengan reputasi pertarungan brutal yang menuntut keberanian, daya tahan, dan ketegasan mental. Memasuki dunia seperti itu sebagai “hobi” terdengar nyaris mustahil bagi sebagian orang. Tetapi di situlah salah satu kunci kisahnya: ketika keputusan sudah diambil, ia menjalaninya dengan kesungguhan yang membuat perkembangannya melesat.

Juara Turnamen Flyweight di Panggung ONE Championship

Momen yang mengangkat namanya ke perhatian publik datang pada 2017. Pada ajang ONE: Light of a Nation di Yangon, ia merebut gelar ONE Myanmar Flyweight Tournament Championship—sebuah trofi yang bukan hanya prestasi personal, tetapi juga simbol bahwa talenta lokal Myanmar bisa berdiri di panggung besar.

Laga perebutan gelar itu berlangsung di Thuwunna Indoor Stadium, venue yang kerap menjadi saksi hidup kebangkitan atlet-atlet Myanmar pada era awal ONE menggelar pertunjukan besar di sana.

Di titik ini, kariernya seperti mendapat cap: ia bukan lagi “anak daerah yang nekat bertarung”, melainkan juara turnamen—dan itu mengubah cara orang menatapnya.

Ujian 2018: Thriller Tiga Ronde yang Mengajarkan Detail

Namun gelar bukan akhir cerita; justru setelah itu datang bab yang lebih rumit: mempertahankan momentum di hadapan ekspektasi publik sendiri. Pada ONE: Quest for Gold, ia bertemu sesama petarung Myanmar, Ye Thway Ne, dalam duel yang disebut banyak pihak sebagai laga all-Myanmar yang intens.

Pertarungan itu berakhir split decision untuk lawannya—kekalahan tipis yang sering kali lebih menyakitkan daripada kalah cepat, karena meninggalkan ruang “seandainya”: seandainya satu momen kecil di ronde tertentu berjalan berbeda, seandainya satu kombinasi mendarat lebih bersih, seandainya satu takedown dicegah.

Dari sisi narasi karier, kekalahan model begini sering menjadi penanda kedewasaan: petarung belajar bahwa kemenangan tidak selalu soal keberanian, tetapi juga soal detail, kontrol ritme, dan kemampuan mengunci ronde.

Drama KO di Detik Akhir

Nama Saw Min Min kembali terasa “hidup” ketika ia tampil di format ONE Friday Fights—panggung yang terkenal brutal karena tempo cepat dan atmosfer yang memaksa petarung terus aktif. Puncaknya, ia meraih kemenangan KO atas Josh Trowbridge pada ONE Friday Fights 112, sebuah laga yang ditutup pada 2:53 ronde ketiga.

Yang membuat kemenangan itu menempel di ingatan bukan hanya hasil KO-nya, melainkan konteksnya: terjadi di Lumpinee Stadium, Bangkok—arena yang punya aura sakral bagi petarung striking.

Kemenangan “buzzer-beater” semacam itu biasanya lahir dari dua hal: stamina yang tersisa saat orang lain mulai habis, dan keyakinan untuk tetap menyerang ketika waktu tinggal sedikit. Dan di laga itu, ia menunjukkan keduanya.

Tekanan, Tempo, dan Mental “Tidak Mau Mundur”

Jika harus merangkum ciri tarungnya, maka tiga kata ini paling dekat: tekanan, tempo, dan ketahanan.

Tekanan konstan
Ia cenderung maju, memaksa lawan bekerja lebih keras sejak awal. Dalam format Friday Fights, gaya seperti ini sering jadi pembeda—karena juri dan penonton merasakan siapa yang “menguasai suasana”.

Tempo tinggi
Ia nyaman bertarung dalam ritme cepat. Saat lawan ingin mengambil jeda untuk mengatur napas atau jarak, ia sering “mengusik” dengan kombinasi-kombinasi yang membuat lawan kembali bertahan.

Mental ronde akhir
Kemenangan KO atas Josh Trowbridge yang datang di akhir ronde ketiga memperlihatkan bahwa ia masih bisa menaikkan intensitas ketika jam sudah hampir habis.

Prestasi dan Momen Penting

Berikut rangkaian pencapaian yang paling menonjol dari perjalanannya di panggung ONE:

    • Juara ONE Myanmar Flyweight Tournament Championship (2017) di ajang ONE: Light of a Nation, digelar di Yangon.
    • Laga all-Myanmar yang ketat melawan Ye Thway Ne pada ONE: Quest for Gold, berakhir split decision.
    • Kemenangan KO dramatis atas Josh Trowbridge pada ONE Friday Fights 112 di Lumpinee Stadium.

Aspek Menarik: Petarung Myanmar yang “Tumbuh” di Panggung yang Keras

Ada sesuatu yang khas dari petarung Myanmar yang lahir dari tradisi striking keras: mereka sering bertarung seolah tidak punya tombol “mundur”. Pada Saw Min Min, karakter itu terlihat dari dua bab penting kariernya: menjadi juara turnamen lokal yang membawa beban ekspektasi publik, lalu kembali membuktikan diri di Friday Fights dengan kemenangan KO dramatis.

Dan justru di situ daya tarik utamanya: ia terasa seperti petarung yang hidup dari momen—dari atmosfer, dari tekanan, dari pertukaran serangan yang membuat laga terasa “nyata”. Bukan tipe yang mengejar kemenangan aman; ia lebih sering memilih jalan yang menuntut keberanian.

Ke Mana Arah Kariernya?

Kemenangan di ONE Friday Fights 112 memberi sinyal bahwa ia masih relevan di ekosistem ONE, terutama pada format yang menghargai agresivitas dan penyelesaian.

Jika ia mampu menjaga konsistensi—mengurangi momen “kehilangan ronde” sambil mempertahankan tempo khasnya—maka ia punya peluang menjadi salah satu nama Myanmar yang terus disebut ketika ONE membicarakan talenta striking dari kawasan tersebut.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Sornsueknoi FA Group: Southpaw Muay Thai Klasik

Jakarta – Ada petarung yang membuat penonton terpukau karena ledakan—kombinasi cepat, KO kilat, sorak-sorai pecah sebelum ronde pertama selesai. Tapi ada juga tipe lain yang lebih “sunyi” namun menyiksa: ia menang bukan karena satu momen dramatis, melainkan karena menguasai jarak, mengatur ritme, dan memaksa lawan bekerja dua kali lipat hanya untuk bisa menyentuhnya. Di ranah Muay Thai modern ONE, sosok seperti itulah yang sering dicari—petarung yang bisa membungkam agresi lawan dengan disiplin teknik.

Itulah citra yang melekat pada Sornsueknoi FA Group—petarung Thailand kelahiran 6 Desember 1994 yang dikenal membawa Muay Thai klasik ke panggung global, dengan stance southpaw dan pendekatan yang rapi: tendangan untuk mengunci ruang, pukulan untuk memotong langkah, serta clinch yang membuat lawan seolah terjebak dalam perang kecil yang tak pernah mereka minta. Ia bernaung di FA Group, dan tampil di bawah bendera ONE Championship.

Di atas kertas, rekornya mungkin terlihat sederhana—5 kemenangan dan 2 kekalahan. Namun di balik angka itu ada pola yang jelas: Sornsueknoi adalah tipe petarung yang mengutamakan kontrol jarak dan akurasi serangan, tetapi tetap punya “gigi” untuk menyelesaikan laga ketika lawan mulai kehilangan jawaban.

Data yang Menggambarkan Karakter Petarungnya

ONE mencatat Sornsueknoi dengan tinggi sekitar 165 cm, berasal dari Thailand, dan berada di bawah tim FA Group. Di laman atlet ONE juga tercantum weight limit 127.6 lbs (57.9 kg)—angka yang menjelaskan mengapa ia di ONE kerap tampil pada pertarungan catchweight di kisaran 128–132 lbs, alih-alih berada pada satu kelas yang “kaku”.

Yang menarik, catatan hasilnya di ONE memperlihatkan dua wajah:

Ia mampu menang via KO/TKO saat ritme pertarungan terbuka,
namun juga bisa menang via keputusan juri ketika duel berubah menjadi perang taktik dan detail.

Dengan kata lain, Sornsueknoi bukan petarung yang bergantung pada satu pintu. Ia bisa masuk lewat pintu “teknis”, tapi tetap membawa kunci cadangan bernama finishing.

Southpaw Klasik yang Menyusun Kemenangan Seperti Catur

Di Muay Thai, southpaw sering identik dengan kekacauan: sudut-sudut serangan yang tidak biasa, tendangan kiri yang datang dari jalur yang sulit dibaca, dan ritme yang membuat lawan ragu mengambil langkah. Namun “kekacauan” Sornsueknoi terasa lebih halus—ia menekan bukan dengan liar, melainkan dengan rapi.

Bayangkan seorang petarung yang:

    • menaruh tendangan kiri seperti patok di ring—sekali mendarat, lawan mulai berhitung ulang kapan harus masuk,
    • menyisipkan pukulan untuk memotong jalur, bukan sekadar mengejar KO,
    • lalu ketika jarak rapat, clinch berubah menjadi pagar—tempat ia bisa mengunci posisi, mengatur napas, dan mencuri poin sedikit demi sedikit.

Itulah Muay Thai klasik: menang lewat kontrol, bukan lewat kegaduhan. Dan saat kontrol itu sudah terbentuk, barulah finishing datang sebagai konsekuensi.

Satu Tendangan yang Mengubah Segalanya

Nama Sornsueknoi mulai benar-benar “terlihat” saat tampil di rangkaian ONE Friday Fights—panggung yang terkenal keras karena atmosfernya seperti campuran: tradisi Muay Thai Thailand dan tuntutan hiburan global.

Pada ONE Friday Fights 31 (1 September 2023), ia menghadapi Udomlek Nupranburi. Yang terjadi kemudian bukan drama panjang—melainkan satu pernyataan singkat: Sornsueknoi menang KO ronde 1 pada 2:09. Laporan ONE menyebutkan kemenangan itu terjadi lewat KO, dan catatan lain merinci bahwa penyelesaiannya datang dari serangan kaki (leg kick).

Di momen seperti ini, publik biasanya baru sadar: “Oh, dia bukan cuma teknisi.”

Karena KO lewat serangan kaki bukan sekadar kekuatan—itu sering lahir dari timing, dari kemampuan membaca posisi kaki lawan, dan dari kebiasaan menaruh serangan di titik yang sama sampai tubuh lawan menyerah.

Saat Akurasi Berubah Menjadi TKO

Setelah “membuka pintu” lewat KO, Sornsueknoi melanjutkan langkahnya pada ONE Friday Fights 42 (24 November 2023) melawan Petkhaowang Sor Jor Lekmuangnon.

Kali ini, ia menang TKO ronde 2 pada 1:16—sebuah kemenangan yang memperlihatkan sisi lain dari dirinya: ketika pertarungan tidak selesai cepat di ronde pertama, ia tidak kehilangan ketenangan. Ia tetap menyusun ritme, memaksa lawan bereaksi, lalu menghentikan laga begitu celahnya muncul.

Dua kemenangan beruntun dengan penyelesaian seperti ini biasanya membangun reputasi yang spesifik: Sornsueknoi adalah petarung yang bisa menuntaskan pekerjaan.

ONE Friday Fights 60: Ujian dari Jepang dan Pelajaran tentang Detail

Namun karier tidak pernah bergerak lurus. Pada ONE Friday Fights 60 (26 April 2024), Sornsueknoi berhadapan dengan petarung Jepang Eisaku Ogasawara dan kalah melalui majority decision.

Kekalahan majority decision biasanya terasa seperti kalah tipis—bukan runtuh, bukan dihancurkan, tetapi kalah pada detail: mungkin jumlah serangan bersih, kontrol ring, atau momen dominan yang terlihat lebih jelas bagi juri.

Bagi petarung dengan gaya kontrol jarak, duel seperti ini sering menjadi pengingat pahit: di level internasional, rapi saja belum tentu cukup. Kadang kamu harus membuat dominasi terlihat tegas, bukan sekadar “lebih efisien”.

ONE Friday Fights 73: Kembali ke Jalur Menang dengan Disiplin

Sornsueknoi merespons ujian itu dengan cara yang sangat sesuai karakternya: bukan dengan berubah menjadi petarung liar, tetapi dengan kembali pada disiplin.

Pada ONE Friday Fights 73 (2 Agustus 2024), ia mengalahkan Jencherng Pumpanmuang melalui unanimous decision.

Kemenangan unanimous decision seperti ini adalah kemenangan “pekerja”: ia harus menjaga jarak, menghindari momen buruk, dan terus mengumpulkan poin dengan serangan yang tepat sasaran. Ini bukan kemenangan yang selalu meledak, tetapi kemenangan yang menunjukkan IQ bertarung.

ONE Friday Fights 88: Menang Tipis, tapi Menang di Panggung yang Paling Kejam

Lalu datang ONE Friday Fights 88 (22 November 2024). Di sini, Sornsueknoi menghadapi Sing Sor Chokmeechai dan menang melalui split decision.

Split decision sering memecah penonton menjadi dua kubu—ada yang merasa pertarungan bisa ke arah sebaliknya. Tapi justru di situlah nilai sebuah kemenangan split di ONE Friday Fights: kamu menang dalam duel yang margin-nya tipis, di panggung yang intensitasnya tinggi, dan kamu keluar tanpa kehilangan identitas.

Kemenangan tipis semacam ini biasanya menambah satu kualitas penting: ketahanan mental. Karena menang besar itu menyenangkan, tapi menang tipis itu membentuk karakter.

ONE Friday Fights 100: Tumbang dari “El Matador” dan Realitas Kompetisi

Pada ONE Friday Fights 100 (14 Maret 2025), Sornsueknoi kembali diuji dan kali ini kalah lewat unanimous decision dari petarung Skotlandia Stephen Irvine.

Catatan Tapology juga menempatkan pertarungan itu di Lumpinee Boxing Stadium, arena yang sudah seperti altar bagi petarung Muay Thai—tempat menang dan kalah terasa lebih “berat” karena sejarahnya.

Kekalahan UD ini, dalam konteks perjalanan kariernya, terlihat seperti penanda bahwa Sornsueknoi berada di level di mana setiap duel adalah adu detail. Ketika ia menang, ia menang karena detail. Ketika ia kalah, ia pun kalah karena detail.

Prestasi dan Hal Menarik yang Membuat Sornsueknoi Layak Diikuti

1. Finisher yang tidak tergantung “brawl”

Dua kemenangan paling mencoloknya di ONE datang lewat penyelesaian: KO ronde 1 dan TKO ronde 2. Namun cara ia sampai ke sana bukan lewat chaos, melainkan lewat kontrol dan akurasi.

2. Terbukti bisa menang lewat keputusan

Kemenangan UD atas Jencherng dan kemenangan SD atas Sing menunjukkan ia bisa bertahan dalam duel ketat dan tetap mengamankan hasil.

3. Terbiasa bertarung di catchweight keras

Di ONE Friday Fights, banyak pertandingan berlangsung di kisaran 128–132 lbs. Sornsueknoi sudah “hidup” di zona itu—melawan lawan Thailand maupun Jepang, dengan gaya dan ritme yang berbeda.

4. Identitas jelas: southpaw teknis, bukan sekadar agresif

Di era ketika banyak petarung mengejar highlight KO, Sornsueknoi justru menonjol karena ia bisa membuat pertarungan terlihat “terkendali”—dan itu kualitas langka di panggung sebesar ONE.

Petarung yang Menang dengan Cara “Membuat Lawan Salah”

Jika ada benang merah dari perjalanan Sornsueknoi FA Group di ONE, itu adalah satu konsep: ia menang dengan membuat lawan mengambil keputusan yang salah.

Masuk terlalu cepat—kamu kena tendangan atau pukulan balasan. Terlalu ragu—kamu tertinggal poin. Memaksa clinch tanpa posisi—kamu terjebak dan kehabisan napas. Dan ketika lawan sudah kehilangan ritme, barulah Sornsueknoi menutup pintu: KO atau TKO.

Dengan rekor 5-2 dan pengalaman menghadapi berbagai tipe lawan di ONE Friday Fights, Sornsueknoi berdiri sebagai contoh bahwa Muay Thai klasik belum mati—ia hanya berevolusi, menemukan panggung baru, dan tetap menang… lewat cara yang cerdas.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mateusz Rębecki:Petarung Divisi Lightweight UFC

Jakarta – Ada petarung yang menang karena “lebih rapi”. Ada juga petarung yang menang karena membuat pertarungan berubah menjadi badai—tempo tinggi, tekanan tanpa putus, dan ancaman selesai dari dua arah: pukulan keras atau kuncian yang tiba-tiba mengunci leher. Mateusz Tadeusz Rębecki adalah tipe kedua.

Lahir pada 3 Oktober 1992 di Gryfice, Polandia, Rębecki datang dari lingkungan MMA Eropa yang keras dan “lapar”—sebuah kultur yang membuat petarung terbiasa menutup jarak, mematahkan ritme, lalu memaksa lawan bertahan di bawah gelombang serangan.  Ia bertarung di divisi lightweight UFC, dan sejak awal dikenal sebagai petarung dengan identitas yang jelas: agresif, eksplosif, dan sulit ditebak.

Di atas kertas, rekornya menggambarkan keseimbangan yang berbahaya: 9 kemenangan KO/TKO, 7 kemenangan submission, dan 4 kemenangan keputusan, sebuah distribusi yang menandakan ia bisa menyelesaikan laga di mana pun pertarungan berada—di kaki atau di matras.

Julukannya pun seperti dua wajah yang berbeda: “Rebeasti”—menggambarkan sisi buasnya—dan “Chińczyk/Chinczyk”, nama panggilan yang sudah melekat lama di sirkuit Polandia.

Profil singkat Mateusz Rębecki

    • Nama lengkap: Mateusz Tadeusz Rębecki
    • Tanggal lahir: 3 Oktober 1992
    • Tempat lahir: Gryfice, Polandia
    • Divisi: Lightweight (UFC)
    • Stance (data ESPN): Southpaw
    • Julukan: “Rebeasti”, “Chińczyk/Chinczyk”
    • Gaya umum: tekanan tempo tinggi; striking keras + submission tajam (tercermin dari sebaran kemenangan KO dan kuncian).

Dari Gryfice ke “pabrik petarung” Szczecin: identitas yang dibentuk oleh grind

Kalau kamu menonton Rębecki bertarung, ada satu hal yang terasa konstan: ia tidak suka membiarkan lawan bernapas nyaman. Ia menekan—bukan sekadar maju, tapi mendikte. Gaya ini sangat cocok dengan DNA gym Polandia yang terkenal keras, terutama saat ia berkembang sebagai petarung yang “hidup” dari pace dan kekuatan grappling.

Di catatan publik, Rębecki berafiliasi dengan Berserker’s Team dan juga sempat tercatat bersama American Top Team.  Namun benang merahnya jelas: ia adalah petarung yang memadukan striking agresif dengan kemampuan submission yang nyata—bukan tempelan.

Rekor KO dan submission yang sama-sama tebal itu bukan kebetulan. Itu biasanya hasil dari dua hal: (1) keberanian untuk mengambil risiko dalam pertukaran, dan (2) kenyamanan untuk “mengunci” ketika lawan panik atau terlalu fokus menahan pukulan.

Naik takhta di FEN: ketika Rębecki menjadi juara dan mulai terdengar di luar Polandia

Sebelum UFC, Polandia punya panggung yang penting: Fight Exclusive Night (FEN). Di sanalah Rębecki membangun reputasi sebagai mesin tekanan—petarung yang sanggup bertarung 5 ronde, tapi juga bisa menyudahi laga dengan kekerasan.

Puncak fase ini datang pada FEN 20: Next Level (10 Maret 2018). Dalam laga perebutan sabuk lightweight FEN yang kosong, Rębecki menghadapi Marian Ziółkowski dan menang lewat KO/TKO (punches) pada 3:49 ronde 4 (dari 5 ronde).

Bukan hanya menang—cara menangnya menyampaikan pesan: Rębecki bukan sekadar grappler. Ia bisa memecahkan lawan dengan tangan, dan bisa mempertahankan ancaman itu sampai ronde-ronde akhir.

Fase juara ini diakui luas: ia tercatat sebagai mantan FEN Lightweight Champion.  Dan dari sana, narasi “pintu UFC” mulai terasa semakin dekat.

Dana White’s Contender Series 2022: 3 menit 5 detik yang mengubah hidup

Bagi banyak petarung Eropa, Dana White’s Contender Series (DWCS) adalah gerbang yang paling logis: tampil sekali, menang meyakinkan, dapat kontrak. Rębecki melakukan itu dengan cara paling “Rębecki”: cepat, menekan, lalu mengunci.

Pada DWCS Season 6 Week 6 (30 Agustus 2022), ia menghadapi Rodrigo Lídio dan menang lewat submission (rear-naked choke) pada 3:05 ronde 1.

Kemenangan ini bukan sekadar menang. Ini statement: kalau kamu memberi Rębecki ruang sedikit saja untuk mengikat posisi, lehermu bisa selesai. Dan benar—laga itu menjadi tiket kontrak menuju UFC, sebagaimana juga tercatat di rangkuman resmi hasil DWCS.

Masuk UFC: awal yang menjanjikan, lalu ujian keras yang membentuknya

Di UFC, Rębecki melanjutkan identitasnya sebagai petarung tempo tinggi. Catatan pertarungannya memperlihatkan naik-turun yang wajar untuk petarung yang bertarung “panas”—gaya yang bisa menciptakan kemenangan spektakuler, tapi juga membuka risiko saat lawan elite mulai membaca pola.

Wikipedia merangkum awal karier UFC-nya dengan beberapa momen kunci: debut UFC menang keputusan, lalu kemenangan TKO, lalu submission—seolah menegaskan “paket lengkap”-nya memang nyata.

Namun UFC selalu menagih harga. Ia mengalami kekalahan KO/TKO dari Diego Ferreira pada 2024, sebuah pengingat bahwa di level ini, sedikit kelengahan saja bisa jadi akhir ronde.

Tapi yang menarik, Rębecki bukan petarung yang mengecil setelah kalah. Ia cenderung menjadi lebih berbahaya—karena rasa urgensinya makin besar.

“Rebeasti” meledak di UFC 308: perang berdarah yang mengukuhkan reputasi

Jika ada satu pertarungan yang mengubah cara publik melihat Rębecki, itu adalah duel melawan Myktybek Orolbai di UFC 308.

Laporan MMA Fighting menggambarkan duel itu sebagai salah satu pertarungan paling brutal dan berdarah tahun tersebut: pertukaran keras tiga ronde, kerusakan di wajah lawan, dan keputusan split yang membuat arena ikut menahan napas.

Yang lebih penting: duel itu resmi menghasilkan Fight of the Night. 

Buat Rębecki, penghargaan itu seperti cap kualitas: ia bukan hanya menang. Ia menghibur, tahan banting, dan tetap mematikan dalam chaos—persis karakter petarung yang disukai UFC, karena setiap kali namanya ada di kartu, fans tahu satu hal: ini bisa jadi perang.

Tempo tinggi sebagai identitas: mengapa Rębecki sulit diprediksi?

Ada alasan mengapa Rębecki sering terlihat “liar”, tapi sebenarnya terstruktur.

    1. Southpaw + tekanan maju
      Southpaw memberi sudut serangan yang berbeda, dan saat dipadukan dengan tekanan, lawan sering dipaksa bergerak ke arah yang tidak nyaman.
    2. Ancaman ganda: KO atau submission
      Rekornya menunjukkan keseimbangan nyata antara penyelesaian lewat pukulan dan kuncian.
      Ini membuat lawan tidak bisa “memilih satu pertahanan”. Saat fokus menahan tangan, leher terbuka. Saat fokus menahan kuncian, dagu bisa kena.
    3. Pace yang merusak rencana lawan
      Banyak petarung punya gameplan yang butuh ritme. Rębecki memaksa pertarungan jadi “tidak nyaman”—dan di titik itu, kemampuan bertahan mental sering jadi penentu.

Periode 2025: kalah pun tetap jadi tontonan (dan tetap dapat bonus)

Tahun 2025 memberi contoh lain tentang siapa Rębecki sebenarnya: bahkan ketika hasil tidak memihak, gaya bertarungnya tetap menghasilkan duel yang layak bonus.

Di UFC Fight Night: Taira vs. Park (2 Agustus 2025), Rębecki kalah keputusan dari Chris Duncan, namun UFC sendiri menyebut laga itu sebagai “entertaining scrap”, dan berbagai laporan bonus menegaskan pertarungan tersebut meraih Fight of the Night.

ESPN juga menampilkan kekalahan itu dalam riwayat laga 2025, bersama hasil lain di tahun yang sama, menunjukkan betapa padatnya jadwal dan kerasnya kompetisi di lightweight.

Dalam konteks karier, ini penting: ada petarung yang ketika kalah menjadi “biasa”. Rębecki justru sering tetap menciptakan perang—dan itu membuatnya selalu relevan dalam percakapan matchmaking.

Rębecki adalah jenis petarung yang membuat lightweight selalu hidup

Divisi lightweight UFC adalah tempat paling ramai—bakat melimpah, teknik tinggi, dan margin kesalahan tipis. Dalam keramaian itu, Mateusz Rębecki menonjol bukan karena gaya yang paling indah, tetapi karena gaya yang paling “mengganggu”: tempo tinggi, tekanan tanpa henti, dan ancaman selesai dari dua arah.

Dari Gryfice ke panggung Polandia sebagai juara FEN, lalu mengunci kontrak UFC lewat RNC 3:05 ronde 1 di DWCS, hingga mencetak perang legendaris dan meraih Fight of the Night—Rębecki membuktikan bahwa “Rebeasti” bukan hanya julukan. Itu cara dia bertarung.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda