Jakarta – Di dunia MMA, ada pintu yang terbuka karena kemenangan—dan ada pintu yang terbuka karena seseorang membuat pertarungan terasa mustahil untuk diabaikan. Sofia Anabela Montenegro, petarung asal Córdoba, Argentina, masuk ke UFC lewat jalur kedua. Ia memang kalah tipis di Dana White’s Contender Series, tetapi justru dari sanalah reputasi “La Bruja” (Sang Penyihir) mulai punya arti yang lebih besar: petarung yang tidak perlu menunggu sempurna untuk terlihat berbahaya.
Lahir 18 Juni 1999, bertarung di Women’s Flyweight (125 lbs), tinggi 5’6” (168 cm) dengan jangkauan sekitar 67,5–68 inci (±173 cm), Montenegro dikenal sebagai petarung orthodox yang cenderung maju, berani bertukar serangan, dan punya naluri menyelesaikan laga—baik lewat pukulan maupun kuncian.
Dan kini, bab berikutnya sudah tertulis jelas: ia dijadwalkan menghadapi Ernesta Kareckaitė pada UFC Fight Night: Moreno vs. Almabayev di Arena CDMX, Mexico City, 28 Februari 2026—malam besar yang juga menandai kembalinya UFC ke Mexico City dengan Brandon Moreno vs Asu Almabayev sebagai laga utama.
Profil singkat: data yang membentuk “La Bruja”
Montenegro berangkat ke UFC dengan rekam jejak profesional 6-2-0, dengan pola kemenangan yang menjelaskan identitasnya: 3 KO/TKO, 1 submission, dan 2 kemenangan keputusan.
Namun angka yang lebih “bercerita” justru datang dari statistik gaya bertarungnya: ia mendaratkan 4,27 significant strike per menit, tetapi juga menyerap 5,67 per menit—gambaran petarung yang tak sekadar menyerang, melainkan bersedia “membayar harga” untuk menekan lawan. Akurasinya tercatat 40%, pertahanan strike 48%, sementara rata-rata takedown 1,00 per 15 menit dengan pertahanan takedown yang tercatat 100% (dari sampel laga yang ada).
Sofia juga tercatat berlatih/berafiliasi dengan Alfa Team, sebuah detail penting karena dari sinilah biasanya lahir gaya tarung yang disiplin, penuh repetisi, dan kuat secara kardio—modal yang terasa cocok dengan karakter “La Bruja” yang senang menjaga tempo tinggi.
Córdoba, sirkuit lokal, dan pelajaran paling pahit—KO dalam 10 detik
Setiap petarung punya momen yang mengubah cara ia memandang pertarungan. Pada catatan pertarungan Sofia, momen itu terasa tajam: kekalahan KO/TKO pada ronde pertama dalam 0:10 di tahun 2022. Itu jenis kekalahan yang bisa menghancurkan mental—atau justru memaksa seseorang membangun ulang pertahanannya dari nol.
Yang menarik: setelah titik jatuh itu, ia tidak menghilang. Ia kembali menata jalur kemenangan—dan bukan hanya dengan satu cara.
“La Bruja” menemukan senjata kedua—heel hook yang menegaskan ia bukan striker satu dimensi
Sofia sering dibaca sebagai petarung striking agresif, tetapi rekam jejaknya menyimpan bukti bahwa ia juga bisa mengakhiri laga di lantai. Pada 2023, ia mencatat kemenangan submission melalui heel hook di ronde pertama. Heel hook bukan kuncian “asal coba”—biasanya itu datang dari pemahaman mekanik kaki dan keberanian mengambil risiko di scramble. Di titik ini, “La Bruja” mulai terlihat sebagai petarung yang bisa menang jika pertarungan berubah bentuk.
Setahun berikutnya, ia mengumpulkan kemenangan lewat keputusan (2024), lalu mengulangnya lagi di 2025. Dua kemenangan keputusan ini penting karena menunjukkan perkembangan yang sering luput dari sorotan: kemampuan bertahan tiga ronde, mengelola ritme, dan tetap efektif tanpa harus selalu mencari KO.
Dana White’s Contender Series—kalah split decision, tetapi menang “kontrak”
Tanggal 23 September 2025, Sofia tampil pada DWCS Season 9 Week 7 melawan Jeisla Chaves. Hasilnya: kalah split decision (29-28 di satu kartu untuk Montenegro, dua kartu untuk Chaves). Secara formal, itu kekalahan—tetapi secara narasi karier, itu adalah “panggung audit” tempat UFC menilai siapa yang layak dibawa ke liga.
Yang kemudian terjadi menjadi salah satu alasan mengapa kisah Sofia cepat menyebar: laporan-laporan menyebut pertarungan itu brutal, berdarah, dan cukup mengesankan hingga Dana White memberi kontrak kepada keduanya—termasuk Montenegro yang kalah. Malam itu, jarang terjadi semua pemenang plus satu petarung yang kalah tetap mendapatkan kontrak, dan itu menggambarkan betapa kuatnya kesan yang ditinggalkan “La Bruja.”
Di level ini, julukan “La Bruja” terasa pas: Sofia mungkin tidak mengendalikan kartu juri, tetapi ia mampu “menyihir” perhatian—membuat pihak promotor merasa, petarung ini akan selalu menciptakan pertarungan yang hidup.
Menuju UFC Mexico City—ujian pertama yang sesungguhnya
Kontrak adalah tiket masuk. Tetapi UFC hanya peduli pada satu hal setelah itu: apakah kamu bisa bertahan, berkembang, dan menang di bawah lampu paling terang.
Sofia dijadwalkan bertarung melawan Ernesta Kareckaitė (“Heavy-Handed”) pada 28 Februari 2026 di Arena CDMX, bagian dari kartu UFC Fight Night: Moreno vs. Almabayev di Mexico City.
Lawan yang ia hadapi bukan nama acak. Kareckaitė memiliki rekor 6-1-1, postur 5’9” dengan jangkauan 71 inci, dan dikenal lebih sering menang lewat keputusan—ciri petarung yang rapi, sabar, dan mampu menjaga kontrol ronde demi ronde.
Di atas kertas, ini terlihat seperti benturan gaya:
-
- Sofia “La Bruja” Montenegro: tempo tinggi, berani tukar serangan, statistik menunjukkan ia juga cukup sering menyerap pukulan—artinya mental bertarungnya keras, tetapi disiplin defensif akan jadi isu yang wajib diperbaiki.
- Ernesta “Heavy-Handed” Kareckaitė: jangkauan lebih panjang, cenderung menang lewat keputusan, profil yang mengarah pada kontrol jarak dan manajemen ronde.
Kunci untuk Sofia (secara logika gameplan) bukan sekadar maju membabi buta. Ia perlu maju dengan struktur: masuk-keluar jarak, memotong sudut, dan memaksa Kareckaitė bertukar di ruang sempit—tempat gaya “La Bruja” biasanya paling terasa. Dan ketika momen scramble muncul, sejarah heel hook-nya jadi pengingat bahwa Sofia punya opsi untuk mengubah arah pertarungan tiba-tiba.
Aspek menarik: mengapa Sofia Montenegro terasa “produk UFC” sejak awal?
1. Ia petarung yang membuat pertarungan terlihat nyata.
Statistiknya “keras”: serangan masuk 4,27 per menit, serangan diterima 5,67 per menit. Itu bukan gaya bersih—itu gaya petarung yang berani hidup di garis tipis.
2. Ia berkembang dari trauma cepat ke kemenangan tiga ronde.
Dari KO 10 detik (2022) ke kemenangan submission (2023), lalu menang keputusan (2024–2025). Ini pola petarung yang belajar, bukan hanya bertahan.
3. Ia punya “momen kontrak” yang ikonik.
Kalah split decision di DWCS, tapi tetap direkrut. Banyak petarung masuk UFC karena menang; lebih sedikit yang masuk karena tampil begitu meyakinkan sampai promotor memaafkan hasil.
“La Bruja” dan bab yang belum ditulis
Sofia Montenegro datang dari Córdoba bukan sebagai petarung yang sudah dipoles sempurna, melainkan sebagai petarung yang mengerti satu hal: di UFC, kamu harus membuat orang ingat. Ia sudah membuktikan itu di DWCS. Kini ia harus membuktikan versi yang lebih sulit—menang di bawah sorot global, di kartu besar Mexico City, melawan lawan dengan jangkauan lebih panjang dan gaya lebih sistematis.
Jika ia bisa membawa “sihir” itu tanpa kehilangan disiplin, maka julukan “La Bruja” tidak lagi sekadar warna—melainkan peringatan bagi divisi flyweight wanita: ada petarung Argentina yang datang untuk mengacak pola.