Jakarta – Dalam daftar panjang striker Belanda yang produktif, nama Klaas-Jan Huntelaar mungkin tidak selalu bersinar paling terang di panggung global seperti Ruud van Nistelrooy atau Robin van Persie. Namun, bagi para penggemar yang menghargai efisiensi mematikan di kotak penalti dan kesetiaan yang luar biasa kepada klub yang dicintainya, Klaas-Jan Huntelaar adalah sosok legenda yang tak terbantahkan. Dikenal dengan julukan ‘The Hunter’ (Sang Pemburu), Huntelaar menghabiskan dua dekade kariernya dengan melakukan satu hal yang paling dikuasainya: mencetak gol.
Dari Lembah Achterhoek ke Kawah Eredivisie
Lahir pada 12 Agustus 1983 di Drempt, Belanda, Klaas-Jan Huntelaar menunjukkan bakatnya sejak usia muda di akademi De Graafschap. Meski sempat berpindah ke PSV Eindhoven, masa-masa awal kariernya diwarnai dengan status pinjaman, termasuk ke AGOVV Apeldoorn. Di sana, ia meraih gelar top scorer Divisi Kedua Belanda dengan 26 gol dalam 35 pertandingan (musim 2003-2004).
Baca juga: Striker Gaek Belanda Pensiun
Momentum besar datang saat ia pindah ke SC Heerenveen. Di Friesland, bakatnya meledak. Dalam waktu singkat, ia mencetak 33 gol dalam 46 pertandingan Eredivisie, statistik yang tak bisa diabaikan oleh klub raksasa Belanda, Ajax Amsterdam.
Masa Keemasan di Ajax (Periode Pertama)
Kepindahan ke Ajax pada Januari 2006 menandai babak paling memukau dalam karier Huntelaar di Belanda. Ia dengan cepat mengisi posisi striker utama dan menjadi jantung serangan De Godenzonen.
Performa Huntelaar di Ajax hampir tanpa cela. Ia tidak hanya rutin mencetak gol, tetapi juga sering kali mencetak gol-gol penting. Pada musim 2005-2006, ia meraih gelar Top Scorer Eredivisie dengan total 33 gol, dan mengulangi prestasi tersebut pada musim 2007-2008 dengan 33 gol liga. Total, ia mencetak 105 gol dalam 136 penampilan di periode pertamanya bersama Ajax. Ia adalah prototipe striker klasik: cerdas dalam pergerakan tanpa bola, memiliki penyelesaian dingin dengan kedua kaki, dan yang paling penting, sangat berbahaya dalam duel udara. Di usia muda, ia sudah menjadi kapten dan ikon klub.
Petualangan Singkat di Dua Raksasa Eropa
Kehebatan Huntelaar di Ajax menarik perhatian klub-klub terbesar di dunia. Pada Januari 2009, ia mendarat di Real Madrid dengan biaya transfer yang besar. Sayangnya, waktunya di Santiago Bernabéu sangat singkat dan terbilang kurang beruntung. Meskipun mencetak 8 gol dalam 20 pertandingan La Liga, ia segera menjadi korban perombakan besar-besaran skuat Los Blancos yang mendatangkan bintang-bintang seperti Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema.
Setelah Madrid, ia hijrah ke AC Milan pada musim 2009-2010. Di Italia, ia kembali berjuang menemukan konsistensi, hanya mencetak 7 gol dalam 25 penampilan Serie A. Dua klub raksasa tersebut ternyata bukan habitat yang ideal baginya, yang membutuhkan peran sentral dan dukungan penuh dari tim.
Menjadi Legenda Sejati di Schalke 04
Musim panas 2010 menjadi titik balik ketika Huntelaar memutuskan pindah ke klub Bundesliga Jerman, Schalke 04. Di Gelsenkirchen, ia tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga menjadi legenda klub.
Di bawah Schalke, ‘The Hunter’ benar-benar melepaskan instingnya. Musim 2011-2012 menjadi puncak performanya. Ia dinobatkan sebagai Top Scorer Bundesliga dengan raihan fantastis 29 gol (sekaligus meraih Sepatu Emas Bundesliga), menjadi pemain Belanda pertama yang melakukannya.
Selama tujuh tahun (periode pertama) di Schalke, Huntelaar mencetak 128 gol dalam 240 penampilan di semua kompetisi. Ia membantu klub memenangkan DFB-Pokal dan DFL-Supercup pada tahun 2011. Kesetiaannya yang panjang, kemampuan mencetak gol yang konsisten, dan komitmennya terhadap Die Königsblauen menjadikannya salah satu pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub, dihormati oleh Ultras Schalke sebagai salah satu pahlawan modern mereka.
Karier Internasional Bersama Oranje
Di level tim nasional, Klaas-Jan Huntelaar dikenal sebagai salah satu supersub terbaik yang pernah dimiliki De Oranje, meskipun ia adalah pencetak gol terbanyak kedua sepanjang masa dengan 42 gol dalam 76 penampilan (di belakang Van Persie).
Ia adalah bagian penting dari tim Belanda yang mencapai final Piala Dunia 2010 (peringkat kedua) dan meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 2014. Kontribusi terpentingnya sering kali datang saat ia masuk dari bangku cadangan, memberikan energi dan ancaman gol instan, seperti gol penalti krusialnya melawan Meksiko di Piala Dunia 2014. Ia juga merupakan top scorer sepanjang masa untuk timnas Belanda U-21.
Kepulangan Emosional dan Akhir Karier
Pada tahun 2017, Huntelaar membuat langkah emosional, kembali ke klub kecintaannya, Ajax. Meskipun perannya berubah menjadi veteran berpengalaman dan pemain pengganti, kehadirannya sangat vital. Ia menjadi mentor bagi pemain muda berbakat seperti Matthijs de Ligt dan Frenkie de Jong. Dalam periode keduanya di Ajax, ia membantu klub memenangkan dua gelar Eredivisie dan dua Piala KNVB.
Ia pensiun pada tahun 2021 setelah periode singkat kembali ke Schalke 04 untuk membantu klub menghindari degradasi (meskipun upaya itu gagal), sebuah tindakan yang menunjukkan kesetiaan dan dedikasi luar biasa.
Gaya Bermain: Spesialis Kotak Penalti
Apa yang membuat Huntelaar begitu efektif? Sederhana: dia adalah “Striker Kelas 9” murni. Ia tidak dikenal karena dribbling yang spektakuler atau passing yang rumit, melainkan karena:
-
- Posisi Cerdas (Off-the-ball movement): Kemampuannya membaca permainan dan bergerak ke ruang kosong, sering kali hanya sepersekian detik lebih cepat dari bek, adalah kelas dunia.
- Penyelesaian Klaas-Sick: Istilah ini diciptakan untuk menggambarkan penyelesaiannya yang akurat, keras, dan tenang di bawah tekanan, sering kali hanya dengan satu sentuhan.
- Kekuatan Udara: Postur tingginya (186 cm) dikombinasikan dengan timing lompatan yang sempurna menjadikannya target superior untuk umpan silang.
Secara keseluruhan, Klaas-Jan Huntelaar adalah simbol efisiensi dan kesetiaan di era sepak bola modern. Dengan total karier lebih dari 360 gol profesional, ‘The Hunter’ telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu legenda pencetak gol terbesar yang pernah dihasilkan Belanda.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Ketika Para Underdog Mengejutkan Dunia
Alexandre Pato, Perjalanan Penuh Lika-liku Sang Striker Brasil
Estadio Azteca: Kuil Sepak Bola Yang Menggelar Tiga Piala Dunia