Jakarta – Johannes Jacobus “Johan” Neeskens adalah nama yang pantas disandingkan dengan keagungan sepak bola Belanda, berdiri setara di samping mentor dan rekan setimnya, Johan Cruyff. Lahir pada 15 September 1951, di Heemstede, Belanda, Neeskens merupakan arsitek keemasan Total Football di lapangan, sebuah filosofi yang mengubah cara dunia melihat sepak bola. Ia bukan hanya seorang gelandang; ia adalah mesin tanpa henti, seorang box-to-box midfielder yang agresif, cerdas, dan yang paling penting, merupakan jantung yang membuat sistem Total Football milik Rinus Michels berdetak.
Neeskens adalah pemain yang melambangkan kekuatan fisik yang dipadukan dengan kecerdasan taktis yang luar biasa. Jika Cruyff adalah otak filosofis dari revolusi sepak bola Belanda, maka Neeskens adalah otot yang melaksanakan perintah, mengisi setiap ruang kosong, dan menghancurkan setiap serangan lawan. Warisan besarnya sebagai salah satu gelandang terhebat sepanjang masa tidak hanya terlihat dari koleksi gelarnya yang memukau, tetapi juga dari kontribusinya yang tak terhapuskan pada evolusi permainan modern.
Karier di Ajax: Pilar Fondasi Total Football
Karier profesional Neeskens dimulai dengan Ajax Amsterdam, klub yang menjadi tempat kelahiran Total Football. Awalnya ia bermain sebagai bek sayap kanan, namun pelatih legendaris Rinus Michels dengan cepat menyadari potensi Neeskens sebagai gelandang tengah yang komplet. Keputusan ini terbukti jenius.
Di bawah bimbingan Michels dan kemudian Stefan Kovacs, Neeskens menjadi penghubung yang sempurna antara lini belakang dan lini depan Ajax. Perannya sangat krusial: ia mampu melakukan pressing tinggi untuk merebut bola, mendistribusikannya dengan akurat, dan kemudian meluncur ke depan untuk mencetak gol atau memberikan assist. Daya tahannya yang legendaris membuatnya mendapat pujian, bahkan dari rekan setim, yang mengatakan ia “berharga seperti dua pemain di lini tengah.”
Gelar yang Membuktikan Dominasi Eropa
Masa-masa Neeskens bersama Ajax adalah era dominasi absolut di Eropa. Selama bermain untuk klub Amsterdam tersebut, ia berhasil mengumpulkan total delapan gelar bergengsi. Di kompetisi domestik, Neeskens membantu Ajax meraih dua gelar Eredivisie (Liga Belanda) pada musim 1971–72 dan 1972–73, serta dua gelar Piala KNVB (Piala Belanda) pada tahun 1971 dan 1972. Namun, kejayaan terbesarnya adalah di panggung Eropa, di mana ia menjadi bagian penting dari tim yang memenangkan Piala Eropa (sekarang Liga Champions UEFA) tiga kali berturut-turut pada tahun 1971, 1972, dan 1973. Dominasi ini dilengkapi dengan satu gelar Piala Interkontinental (1972) dan dua gelar Piala Super UEFA (1972 dan 1973).
Membawa Revolusi ke Spanyol Bersama Barcelona
Pada tahun 1974, setelah kemilau Piala Dunia, Neeskens mengikuti jejak Johan Cruyff dan Rinus Michels pindah ke Barcelona. Di Camp Nou, ia langsung menjadi idola fans dan dijuluki “Johan The Second” (Johan Kedua) karena perannya yang sama pentingnya di lini tengah.
Meskipun Barcelona saat itu sedang berada dalam periode paceklik gelar domestik, kehadiran Neeskens membantu Barcelona menanamkan benih-benih filosofi Total Football yang kemudian akan berkembang menjadi gaya bermain ikonik klub tersebut. Dalam lima tahun masa baktinya di Spanyol, Neeskens turut mempersembahkan dua gelar bagi Blaugrana: satu gelar Copa del Rey (Piala Raja Spanyol) pada tahun 1978 dan satu gelar Piala Winners UEFA pada tahun 1979. Kemenangan di Piala Winners 1979 sangat emosional bagi klub, menandai salah satu trofi Eropa penting bagi Barcelona sebelum era modern.
Kegemilangan di Kancah Internasional: Oranje yang Legendaris
Di level tim nasional, Johan Neeskens adalah bagian integral dari generasi emas Belanda, yang dijuluki “Oranje Mekanik”, yang mencapai dua final Piala Dunia berturut-turut. Di Piala Dunia FIFA 1974 di Jerman Barat, Neeskens mencatatkan sejarah abadi. Pada final melawan Jerman Barat, ia mencetak gol pembuka lewat titik penalti hanya dalam waktu 90 detik setelah kick-off, menjadikannya gol tercepat yang pernah dicetak dalam sejarah Final Piala Dunia (rekor yang dipegangnya selama 20 tahun). Gol itu lahir setelah Total Football menunjukkan masterpiecenya, di mana tim Belanda melakukan operan tanpa henti dan Cruyff dijatuhkan di kotak penalti. Meskipun akhirnya Belanda harus takluk 1-2, penampilan Neeskens di turnamen itu, termasuk empat golnya, menjadikannya salah satu pemain terbaik turnamen. Empat tahun kemudian, di Piala Dunia FIFA 1978 di Argentina, Neeskens kembali menjadi andalan tim Oranje, membantu mereka mencapai final kedua berturut-turut, meskipun lagi-lagi harus puas sebagai runner-up setelah kalah dari tuan rumah. Ia juga memenangkan Medali Perunggu di Kejuaraan Eropa UEFA 1976.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Setelah meninggalkan Barcelona pada 1979, Neeskens melanjutkan karier di Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL) dan kemudian bermain di Swiss sebelum pensiun pada tahun 1991. Setelah pensiun, Neeskens tetap dekat dengan sepak bola, kembali bekerja sebagai asisten pelatih bersama sahabatnya, Frank Rijkaard, di Tim Nasional Belanda dan kemudian di Barcelona.
Johan Neeskens telah diakui secara luas, termasuk dinobatkan sebagai salah satu dari 125 Greatest Living Footballers dalam upacara Penghargaan FIFA tahun 2004. Ia meninggal dunia pada 6 Oktober 2024, meninggalkan warisan yang mendefinisikan Total Football. Neeskens adalah contoh sempurna dari gelandang modern: pekerja keras, versatile, agresif, dan selalu efektif, membuktikan bahwa keberanian, stamina, dan kecerdasan taktis adalah sama pentingnya dengan keindahan teknis dalam permainan yang indah ini. Kontribusinya akan selalu dikenang sebagai jiwa dan jantung yang membuat Total Football menjadi revolusi yang abadi.
(EA/timKB).
Sumber foto: youtube
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Ketika Para Underdog Mengejutkan Dunia
Alexandre Pato, Perjalanan Penuh Lika-liku Sang Striker Brasil
Estadio Azteca: Kuil Sepak Bola Yang Menggelar Tiga Piala Dunia