Rui Costa: Sang Maestro Terakhir Dari Generasi Emas Portugal

Eva Amelia 18/04/2026 4 min read
Rui Costa: Sang Maestro Terakhir Dari Generasi Emas Portugal

Jakarta – Rui Costa adalah salah satu seniman sepak bola terakhir yang pernah menghiasi lapangan hijau. Di era di mana sepak bola mulai mengandalkan fisik dan kecepatan, Costa muncul sebagai antitesis dengan keanggunan, visi bermain yang luar biasa, dan kemampuan mengumpan yang presisi. Artikel ini akan mengulas perjalanan hidup sang maestro, mulai dari masa kecilnya di Portugal hingga menjadi legenda di Italia.

Kelahiran dan Awal Kehidupan

Rui Manuel César Costa lahir pada 29 Maret 1972 di Amadora, sebuah kota satelit di pinggiran ibu kota Portugal, Lisbon. Sejak usia dini, bakat Costa sudah terlihat menonjol dibandingkan anak-anak seusianya. Pada usia sembilan tahun, ia mengikuti seleksi di klub raksasa Portugal, Benfica.

Momen legendaris terjadi saat legenda sepak bola Portugal, Eusébio, mengamati sesi latihan tersebut. Hanya dalam waktu sepuluh menit melihat pergerakan Rui Costa kecil, Eusébio langsung terkesan dan memberikan persetujuan untuk merekrutnya ke akademi Benfica. Dari sinilah perjalanan panjang sang “Maestro” dimulai.

Awal Karier dan Generasi Emas Portugal

Sebelum menembus tim utama Benfica, Rui Costa sempat dipinjamkan ke klub Fafe selama satu musim untuk menambah jam terbang. Sekembalinya ke Benfica, ia langsung menjadi pilar penting. Di level internasional, nama Rui Costa mulai mendunia ketika ia membawa Portugal menjuarai Piala Dunia U-20 tahun 1991. Bersama Luís Figo dan João Pinto, ia menjadi bagian dari apa yang kemudian disebut sebagai “Generasi Emas” Portugal.

Kariernya di Benfica mencapai puncak pertamanya ketika ia membantu klub tersebut memenangkan gelar Primeira Liga pada musim 1993/1994 dan Taça de Portugal pada 1993. Namun, krisis keuangan yang melanda Benfica memaksa klub untuk menjual aset paling berharganya. Pada tahun 1994, Rui Costa hijrah ke Italia untuk bergabung dengan Fiorentina dengan nilai transfer sekitar 6 juta Euro.

Era Kejayaan di Fiorentina

Florence menjadi tempat di mana Rui Costa benar-benar mematangkan dirinya sebagai salah satu playmaker (trequartista) terbaik di dunia. Di Fiorentina, ia membentuk kemitraan yang mematikan dengan penyerang tajam asal Argentina, Gabriel Batistuta. Duet “Batigol” dan Rui Costa menjadi salah satu kombinasi paling ditakuti di Serie A pada tahun 90-an.

Selama tujuh musim berseragam La Viola, Costa menjadi ikon klub. Ia mewarisi nomor punggung 10 dan ban kapten. Meski Fiorentina sulit bersaing dengan klub-klub raksasa seperti Juventus atau AC Milan untuk gelar Scudetto, Costa berhasil mempersembahkan dua gelar Coppa Italia (1996 dan 2001) serta satu Supercoppa Italiana. Kepiawaiannya dalam melepaskan umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan membuatnya dijuluki “Il Maestro”.

Pindah ke AC Milan: Meraih Mimpi Eropa

Pada tahun 2001, kebangkrutan kembali membayangi klub yang dibela Costa. Fiorentina terpaksa melepas kapten mereka. AC Milan, di bawah asuhan Carlo Ancelotti, bergerak cepat dan memecahkan rekor transfer klub saat itu dengan menebus Costa seharga 85 miliar Lira (sekitar 42 juta Euro).

Di San Siro, Rui Costa bermain bersama talenta-talenta luar biasa seperti Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi, dan Andrea Pirlo. Meskipun ia harus bersaing dan kemudian berbagi peran dengan bintang muda Brasil, Kaká, kontribusi Costa tetap krusial. Bersama AC Milan, ia akhirnya meraih gelar yang selama ini ia impikan:

  • UEFA Champions League (2002/2003)
  • Serie A (2003/2004)
  • Coppa Italia (2002/2003)
  • UEFA Super Cup (2003)

Rui Costa adalah sosok yang sangat dihormati di ruang ganti Milan. Meskipun menit bermainnya mulai berkurang dengan kehadiran Kaká, ia tetap menunjukkan profesionalisme tinggi dan menjadi mentor bagi pemain muda.

Kepulangan yang Emosional ke Benfica

Setelah lima musim yang sukses di Milan, Rui Costa memutuskan untuk pulang ke rumah. Pada tahun 2006, ia kembali ke Benfica dengan status bebas transfer. Bagi Costa, ini bukan sekadar mengakhiri karier, melainkan memenuhi janji hatinya kepada klub masa kecilnya.

Ia bermain selama dua musim lagi untuk Benfica sebelum akhirnya memutuskan pensiun pada 11 Mei 2008. Pertandingan terakhirnya melawan Vitória de Setúbal menjadi momen yang penuh air mata bagi para pendukung Benfica. Sang Maestro meninggalkan lapangan hijau, namun cintanya pada sepak bola tidak pernah pudar.

Karier Internasional

Bersama tim nasional Portugal, Rui Costa mencatatkan 94 penampilan dan mencetak 26 gol. Meskipun ia gagal mempersembahkan trofi di level senior—dengan kekalahan paling menyakitkan di final Euro 2004 di kandang sendiri—warisannya tetap abadi. Ia adalah otak dari permainan menyerang Portugal yang indah selama lebih dari satu dekade.

Pasca Pensiun: Sang Presiden

Setelah menggantung sepatu, Rui Costa tidak menjauh dari dunia sepak bola. Ia langsung menjabat sebagai Direktur Olahraga Benfica. Dengan kecerdasan dan pemahamannya tentang permainan, ia berhasil membawa Benfica meraih berbagai kesuksesan di kompetisi domestik dan rutin melahirkan bakat-bakat besar yang dijual ke klub elit Eropa.

Puncaknya, pada tahun 2021, Rui Costa terpilih menjadi Presiden Benfica ke-34. Ia menjadi salah satu dari sedikit pemain legenda yang berhasil memimpin klub masa kecilnya dari kursi kepemimpinan tertinggi.

Rui Costa adalah representasi dari keindahan sepak bola. Ia membuktikan bahwa permainan ini bukan hanya soal statistik atau kekuatan fisik, melainkan soal seni, visi, dan loyalitas. Dari jalanan Amadora hingga menjadi Presiden di Lisbon, ia akan selalu diingat sebagai sang Maestro sejati.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...