Jai Herbert, Striker Muay Thai Inggris Di UFC

Piter Rudai 18/05/2026 5 min read
Jai Herbert, Striker Muay Thai Inggris Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke UFC sebagai prospek muda penuh sorotan. Ada juga yang justru membangun namanya lewat jalan yang lebih panjang, lebih keras, dan lebih jujur. Jai Herbert termasuk dalam kelompok kedua. Ia lahir pada 13 Mei 1988 di Wolverhampton, Inggris dan hingga kini dikenal sebagai salah satu petarung Inggris paling berbahaya yang pernah beredar di divisi lightweight UFC. Ia adalah petarung berjuluk “The Black Country Banger”, bertarung di kelas ringan, dengan tinggi sekitar 6’1”, reach 77 inci, dan stance orthodox. Rekor profesional terbarunya saat ini tercatat 14 kemenangan, 6 kekalahan, dan 1 hasil imbang.

Julukan “The Black Country Banger” terasa sangat pas untuk menggambarkan siapa Jai Herbert di atas arena. Ia berasal dari kawasan Black Country di West Midlands, dan gaya bertarungnya memang seperti seorang striker yang dibentuk untuk menghibur sekaligus menghancurkan. Data latar belakangnya adalah Muay Thai ortodoks dengan fokus pada striking, dan data publik terbaru sangat mendukung itu. Rekor kemenangannya juga memperlihatkan identitas yang cukup jelas: 10 kemenangan KO/TKO, 1 submission, dan 3 keputusan, menurut statistik yang ada.

Yang membuat kisah Jai Herbert menarik bukan hanya hasil-hasilnya, tetapi juga jalur kariernya. Ia bukan petarung yang langsung masuk UFC dari awal karier profesional. Sebuah sumber menulis bahwa Herbert termasuk late arrival, karena baru menjalani debut MMA profesional pada 2015 saat usianya sudah 26 tahun. Dari sana, ia membangun namanya perlahan di sirkuit Inggris dan Eropa, lalu berkembang menjadi salah satu striker ringan paling menonjol di luar UFC. Dalam proses itu, ia juga membangun hubungan kuat dengan Team Renegade / Renegade Jiu-Jitsu, camp yang hingga kini masih melekat pada identitasnya menurut sumber yang ada.

Sebelum masuk UFC, salah satu bab paling penting dalam karier Herbert tentu datang di Cage Warriors. Ia tidak sekadar bertarung di sana, tetapi berhasil menjadi juara lightweight Cage Warriors, pencapaian yang menjadi batu loncatan besar menuju UFC. Wikipedia yang merangkum rekam jejak kariernya, dan juga berbagai profil publik, menempatkan status mantan juara Cage Warriors lightweight sebagai salah satu identitas paling penting dalam perjalanan profesionalnya. Ini sangat relevan, karena Cage Warriors dikenal sebagai salah satu promotor regional paling bergengsi di Eropa dan telah melahirkan banyak nama besar UFC. Dengan kata lain, Herbert tidak datang ke UFC sebagai petarung tanpa bukti, melainkan sebagai juara dari panggung yang memang dihormati.

Saat akhirnya mendapat kontrak UFC, Jai Herbert membawa bekal yang cukup kuat: pengalaman, gelar regional, dan striking yang eksplosif. Ia resmi memulai kiprahnya di UFC pada 2020, seperti tercantum di profil resminya. Salah satu feature UFC juga menulis bahwa ketika ia akhirnya mendapat panggilan ke organisasi terbesar dunia, ia bahkan segera bisa beralih penuh waktu menjadi petarung profesional, meninggalkan pekerjaan hariannya. Detail ini memberi warna penting pada kisahnya. Ia bukan petarung yang sejak awal hidup nyaman sebagai atlet penuh waktu. Ia harus bekerja sambil mengejar mimpi, dan baru setelah UFC memanggil, ia bisa benar-benar hidup sepenuhnya dari olahraga yang ia cintai.

Dalam konteks hasil di UFC, salah satu kemenangan awal yang cukup penting datang saat ia mengalahkan Khama Worthy lewat TKO ronde pertama pada 23 Oktober 2021. Hasil ini tercatat jelas, dan kemenangan tersebut memberi validasi besar bahwa Herbert bukan hanya striker Eropa yang atraktif, tetapi petarung yang benar-benar bisa menyelesaikan lawan di panggung tertinggi. Kemenangan seperti ini sangat penting di lightweight UFC, divisi yang penuh nama kuat dan nyaris tidak memberi ruang bagi petarung yang hanya “lumayan bagus”. Herbert membuktikan ia lebih dari itu.

Namun, seperti banyak petarung lain, perjalanan Jai Herbert di UFC tidak selalu mulus. Ia juga mengalami kekalahan penting, termasuk submission dari Renato Moicano pada 26 Juni 2021, serta knockout dari Ilia Topuria pada 19 Maret 2022. Dua kekalahan ini punya makna besar dalam membaca kariernya. Mereka menunjukkan bahwa Herbert berani menghadapi lawan berkaliber tinggi, tetapi juga bahwa gaya striking terbuka yang ia bawa selalu datang dengan risiko besar. Bagi penonton, itulah yang membuatnya menarik. Bagi kariernya, itu juga berarti jalan yang lebih berat.

Salah satu momen paling diingat dari karier Herbert dalam beberapa tahun terakhir datang ketika ia menghadapi Chris Padilla di London. Walau ia kalah split decision, laga itu mendapat sorotan luas karena luka besar yang dialami lawannya dari serangan siku Herbert. TalkSPORT bahkan menulis bagaimana pertarungan itu membuat banyak penggemar terkejut karena luka tersebut tampak sangat mengerikan. Meskipun hasil akhirnya bukan kemenangan, laga seperti itu kembali menegaskan reputasi Herbert: bahkan ketika ia tidak menang, ia hampir selalu meninggalkan jejak visual dan naratif yang kuat.

Menariknya, Jai Herbert terus bertahan dan tetap relevan. Pada 19 April 2026 di UFC Winnipeg, ia menghadapi pendatang baru Mandel Nallo dalam duel lightweight, dan berhasil menang lewat TKO ronde pertama pada 2:05. Hasil ini dikonfirmasi langsung oleh artikel hasil resmi UFC dan scorecard resmi UFC. Kemenangan ini terasa sangat penting karena menunjukkan bahwa pada usia 37 tahun, Herbert masih punya refleks, ketahanan mental, dan daya pukul untuk membalikkan keadaan. UFC menulis bahwa ia “spoiled the promotional debut” Nallo, sementara laporan media lain menggambarkan kemenangan itu sebagai comeback yang dramatis setelah Herbert sempat diguncang di awal pertarungan.

Kemenangan atas Mandel Nallo juga memperkuat dimensi paling menarik dari karier Jai Herbert: ia adalah petarung yang tidak pernah terasa benar-benar habis. Bahkan setelah melewati fase naik turun, kalah dari lawan besar, dan memasuki usia yang tidak lagi muda untuk lightweight, ia masih mampu menghasilkan penyelesaian yang keras di panggung utama. Ini bukan hal kecil. Divisi lightweight adalah salah satu divisi paling padat dan paling brutal di UFC, dan bertahan di dalamnya saja sudah sulit. Menang dengan TKO di usia 37 membuat kisah Herbert terasa semakin kuat.

Aspek lain yang layak diperhatikan adalah bahwa Jai Herbert bukan hanya striker Muay Thai. Wikipedia dan profil publik juga mencatat bahwa ia memegang brown belt Brazilian Jiu-Jitsu di bawah Tom Caughey. Walau kemenangan submission-nya hanya satu menurut statistik terbaru, detail ini menunjukkan bahwa Herbert bukan petarung yang sepenuhnya satu dimensi. Ia memang hidup dari striking, tetapi punya fondasi grappling yang cukup untuk bertahan dan beradaptasi dalam pertarungan yang tidak berjalan sesuai rencana. Dalam MMA modern, apalagi di lightweight, kualitas seperti ini sangat penting.

Dari sisi prestasi, Jai Herbert mungkin belum pernah menjadi juara UFC. Namun kariernya tetap sangat layak dihargai. Ia adalah mantan juara Cage Warriors lightweight, petarung Inggris yang berhasil menembus UFC, membangun rekor profesional 14-6-1, dan terus bertahan di level tinggi sampai usia 37 tahun. Ia juga telah mencatat 10 kemenangan KO/TKO, yang menegaskan reputasinya sebagai salah satu striker paling berbahaya dari Inggris di kelas ringan. Selain itu, fakta bahwa ia masih aktif dan menang di 2026 menunjukkan bahwa warisannya belum selesai.

Pada akhirnya, Jai Herbert adalah kisah tentang petarung yang tidak pernah mengambil jalan mudah. Ia lahir di Wolverhampton, membawa identitas Muay Thai orthodox, meniti karier dari Cage Warriors ke UFC, lalu membangun nama sebagai “The Black Country Banger” lewat pukulan keras, keberanian, dan gaya bertarung yang selalu layak ditonton. Rekornya mungkin penuh luka, tetapi justru di situlah kekuatan ceritanya. Jai Herbert bukan petarung yang dibangun oleh kenyamanan. Ia dibentuk oleh pertarungan, oleh jalan panjang, dan oleh keberanian untuk tetap berdiri di level tertinggi meski gelombang karier terus naik turun.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...