Jakarta – Ada petarung yang membangun karier dengan tetap berada di lingkungan asalnya. Zoe Neuschwander memilih jalan berbeda. Petarung asal Lausanne, Swiss, kelahiran 31 Maret 2000 ini meninggalkan negaranya dan menetap di Thailand untuk mengejar perkembangan sebagai atlet Muay Thai. Keputusan itu bukan sekadar pindah tempat latihan. Neuschwander benar-benar menjadikan Thailand sebagai pusat kehidupannya sebagai petarung, berlatih di Phuket Fight Club dan kemudian membawa pengalaman tersebut ke dua panggung penting: Rajadamnern World Series dan ONE Championship.
Sebelum beralih serius ke Muay Thai, Neuschwander memiliki fondasi kuat dalam kickboxing. Ia tercatat sebagai juara Swiss pada 2019, 2021, dan 2023. Pada 2023, namanya juga tercantum dalam daftar atlet elite WAKO Switzerland. Namun, ambisinya tidak berhenti pada keberhasilan di Swiss. Dalam sebuah wawancara pada 2023, Neuschwander menceritakan bagaimana ia mengambil langkah berani dengan membeli tiket sekali jalan menuju Thailand dan kemudian menetap di Phuket untuk mendalami Muay Thai. Perpindahan itu menunjukkan pendekatan yang sangat serius terhadap kariernya: bukan sekadar berlatih beberapa minggu di Thailand, tetapi masuk langsung ke lingkungan latihan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para petarung profesional.
Perjalanan profesionalnya kemudian mulai memperoleh bentuk yang lebih jelas. Pada November 2023, ia mengalami kekalahan melalui TKO dari Brittany Thomas dalam ajang Roots Muay Thai. Beberapa bulan kemudian, ia melakukan debut di Rajadamnern World Series (RWS) pada April 2024 menghadapi Allegra Vickas dan kembali kalah melalui unanimous decision. Dua hasil tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi setelah berpindah dari kickboxing menuju Muay Thai. Responsnya cukup kuat: pada Mei 2024 ia menghentikan Naila Garcia melalui TKO ronde pertama, kemudian mengalahkan Merle Ploghoeft melalui unanimous decision pada November. Momentum itu berlanjut ketika ia menaklukkan Wendy Talbot lewat unanimous decision pada April 2025. Catatan yang terdokumentasi Muay Thai Records mencatat rangkaian pertandingan tersebut sebagai bagian dari tujuh laga yang mereka masukkan ke database.
Panggung yang lebih besar kemudian terbuka pada 30 Januari 2026, ketika Neuschwander melakukan debut di ONE Friday Fights 140. Menghadapi Yara Saleh dari Lebanon dalam laga Muay Thai kelas strawweight, petarung Swiss tersebut meraih kemenangan melalui unanimous decision. Hanya beberapa bulan kemudian, ia kembali bertanding di ONE Friday Fights 153 melawan Taylor McClatchie. Pertarungan di kelas flyweight itu berlangsung ketat hingga tiga ronde dan berakhir dengan split decision untuk Neuschwander. Dua kemenangan tersebut membuatnya datang ke laga berikutnya dengan momentum sempurna di ONE.
Ujian terbesar sejauh ini datang pada 25 September 2026 di The Inner Circle 32, Lumpinee Stadium, Bangkok. Lawannya adalah Susanti Ndapataka, petarung Indonesia yang memasuki debut ONE setelah meraih medali emas Asian Kickboxing Championship 2024 dan belum terkalahkan sebelum pertandingan. Neuschwander tampil dengan ciri khas yang kemudian banyak disorot ONE: volume serangan tinggi dan tempo yang tidak mudah turun. Susanti sempat mencetak knockdown pada ronde ketiga, tetapi Neuschwander mampu mempertahankan tekanan hingga bel terakhir. Tiga juri akhirnya memberikan unanimous decision kepadanya. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan ketiganya secara beruntun di ONE dan membawa rekor profesional yang dicatat ONE menjadi 16-2.
Gaya bertarung Neuschwander merupakan perpaduan antara fondasi kickboxing dan pengalaman Muay Thai yang ditempa di Thailand. Ia tidak terlalu bergantung pada satu serangan penentu, melainkan membangun kemenangan melalui volume, kombinasi, tekanan, dan kemampuan menjaga tempo. Pertandingan melawan Susanti memperlihatkan karakter tersebut dengan jelas. Bahkan setelah lawannya mendapatkan knockdown pada ronde ketiga, Neuschwander tetap aktif dan mempertahankan ritme hingga akhir. ONE juga menggambarkannya sebagai petarung yang menggunakan relentless volume striking. Secara fisik, ia tercatat memiliki tinggi sekitar 167 cm, bertarung dari stance orthodox, dan kini berkompetisi terutama di kelas flyweight Muay Thai ONE.
Di balik gaya tersebut terdapat proses latihan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di Phuket Fight Club. Dokumentasi latihan Neuschwander menunjukkan sesi padwork bersama pelatih, ronde heavy bag, dan persiapan teknik sebagai bagian dari rutinitasnya. Keputusan untuk meninggalkan Swiss dan hidup di Thailand selama bertahun-tahun juga menjadi tantangan tersendiri—terutama karena ia harus beradaptasi dengan lingkungan, budaya latihan, serta tuntutan kompetisi Muay Thai yang berbeda dari kickboxing. Namun justru lingkungan itulah yang membentuk identitasnya sebagai petarung.
Kini, pada usia 26 tahun, Neuschwander telah berkembang dari juara kickboxing Swiss menjadi petarung yang mampu memenangkan tiga pertandingan pertamanya di ONE Championship. Rekor ONE resminya adalah 3-0, dengan dua kemenangan unanimous decision dan satu split decision, tanpa kemenangan melalui KO/TKO. ONE mencatat rekor profesional keseluruhannya 16-2 setelah kemenangan atas Susanti. Angka itu sekaligus menggambarkan transformasi seorang petarung yang berani meninggalkan rumah untuk mencari level kompetisi yang lebih tinggi. Dari Lausanne ke Phuket, dari kickboxing ke Muay Thai, perjalanan Neuschwander menunjukkan bahwa bagi seorang atlet, perkembangan sering kali dimulai ketika ia bersedia meninggalkan lingkungan yang sudah dikenalnya
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda