Chartpayak Saksatoon: Veteran Dengan Tangan Kiri Mematikan

Jakarta – Nama Chartpayak Saksatoon mungkin belum setenar sejumlah bintang utama Muay Thai Thailand, tetapi perjalanan panjangnya di ring membuatnya layak diperhitungkan. Petarung yang berafiliasi dengan Kiatpet ini merupakan produk dari kerasnya kompetisi Muay Thai Thailand. Sebelum tampil di panggung internasional, ia sudah mengumpulkan puluhan kemenangan. ONE Championship mencatat bahwa ketika menghadapi Kongchai Chanaidonmueang pada Maret 2025, Chartpayak telah memiliki rekor profesional 67 kemenangan dan 15 kekalahan, sekaligus menunjukkan betapa panjang pengalaman yang dimilikinya sebelum menjadi bagian dari ONE.

Chartpayak kemudian mendapatkan kesempatan membuktikan kemampuannya di ONE Friday Fights. Ia tampil sebagai salah satu petarung yang memiliki kemampuan finis mengesankan dan dengan cepat membangun reputasi sebagai striker berbahaya. Dalam perjalanan awalnya di organisasi tersebut, kemenangan demi kemenangan membuatnya menjadi salah satu nama yang mulai diperhatikan. Salah satu periode terbaiknya terjadi ketika ia mampu membukukan enam kemenangan beruntun dan menjaga rekor sempurna 6-0 di ONE. Kemenangan atas Kongchai pada ONE Friday Fights 98 menjadi pencapaian penting karena ia mampu mengatasi tekanan lawan melalui kombinasi serangan, pertahanan dan counterattack untuk menang lewat keputusan mutlak.

Salah satu karakter paling menonjol dari Chartpayak adalah kemampuannya menciptakan ancaman melalui serangan tangan dan kombinasi pukulan. ONE beberapa kali menggambarkannya sebagai petarung knockout yang eksplosif. Ia tidak sekadar menunggu lawan membuka ruang, tetapi berusaha mengambil inisiatif dan memaksa pertarungan berlangsung dalam tempo yang ia inginkan. Kekuatan tersebut terlihat dari rangkaian kemenangan KO yang mengantarkannya semakin dekat ke level elite. Meski demikian, pertarungan melawan Kongchai memperlihatkan sisi lain dari permainannya: Chartpayak juga mampu bertarung selama tiga ronde, membaca serangan lawan dan menggunakan counterattack ketika diperlukan.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya menghadapi Ramadan Ondash pada ONE Friday Fights 114, 27 Juni 2025. Pertarungan itu menjadi salah satu ujian terbesar dalam kariernya. Chartpayak akhirnya mengalami kekalahan KO dan kehilangan momentum setelah sebelumnya membangun rentetan kemenangan di ONE. Kekalahan tersebut menjadi pengalaman penting karena menunjukkan bahwa agresivitas dan kemampuan menyerang harus diimbangi dengan pertahanan yang lebih disiplin ketika menghadapi lawan dengan kemampuan finishing tinggi. Pertandingan melawan Ondash menjadi bagian dari proses Chartpayak untuk memahami bahwa di level internasional, satu kesalahan kecil dapat mengubah arah pertarungan secara drastis.

Alih-alih tenggelam setelah kekalahan tersebut, Chartpayak berusaha membangun kembali kepercayaan dirinya. Dalam wawancara menjelang pertarungan pada awal 2026, ia berbicara tentang perkembangan dirinya sebagai petarung. Pengalaman menghadapi lawan-lawan internasional membuatnya semakin memahami pentingnya mengontrol emosi, menjaga pertahanan dan tidak memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengambil alih pertandingan. Ia tetap ingin menjadi petarung yang agresif, tetapi agresivitas itu kini harus disertai kemampuan membaca situasi. Pendekatan tersebut memperlihatkan evolusi seorang veteran yang tidak ingin hanya mengandalkan naluri bertarung, melainkan juga pengalaman dan fight IQ.

Namun, perjalanan kebangkitan itu kembali mendapat ujian ketika Chartpayak bertemu Ayad Albadr di ONE Friday Fights 138 pada 16 Januari 2026. Dalam pertarungan strawweight Muay Thai tersebut, Chartpayak sempat memberikan tekanan melalui tendangan dan pukulan. Ia bahkan terus berusaha menyerang setelah dijatuhkan oleh sebuah spinning elbow pada ronde kedua. Akan tetapi, Albadr mampu mempertahankan keunggulannya hingga akhir dan meraih kemenangan melalui unanimous decision. Kekalahan tersebut membuat rekor profesional Chartpayak yang dicatat ONE menjadi 19-5 dalam konteks rekor yang digunakan organisasi itu, sebuah angka yang berbeda dari catatan keseluruhan pertandingannya.

Yang menarik dari Chartpayak adalah kemampuannya untuk tetap mempertahankan identitas sebagai striker meskipun menghadapi berbagai gaya lawan. Ia mempunyai keberanian untuk bertukar serangan, tetapi juga menunjukkan kemampuan menyesuaikan strategi ketika pertarungan tidak berjalan sesuai rencana. Dalam konteks latihan, informasi publik mengenai rutinitas hariannya memang terbatas, sehingga tidak tepat mengarang detail seperti jumlah ronde sparring atau program fisik tertentu. Yang dapat dipastikan dari wawancara dan penampilannya adalah ia terus berusaha memperbaiki aspek teknis, pertahanan, pengendalian emosi dan pengambilan keputusan di dalam ring.

Kini, Chartpayak kembali mendapatkan pertandingan besar. Pada 28 Agustus 2026, ia menghadapi Rambong Sor Therapat dalam duel flyweight Muay Thai di The Inner Circle 28, Lumpinee Stadium, Bangkok. ONE menyebut Chartpayak membawa rekor profesional 71 kemenangan dan 18 kekalahan, dengan catatan 10-2 di ONE Championship. Di sisi lain, Rambong datang dengan 84 kemenangan dan rekor 11-4 di ONE. Pertarungan tersebut mempertemukan dua veteran Thailand yang sama-sama memiliki pengalaman panjang dan kemampuan mengakhiri laga lebih awal.

Chartpayak Saksatoon pada akhirnya adalah contoh petarung yang dibentuk oleh perjalanan panjang, bukan sekadar popularitas. Ia telah merasakan kemenangan beruntun, kekalahan yang menyakitkan, tekanan menghadapi lawan internasional, serta tuntutan untuk terus memperbaiki diri. Dengan gaya striking agresif, kemampuan counterattack dan keberanian bertukar serangan, ia selalu membawa ancaman ketika memasuki ring. Duel melawan Rambong menjadi kesempatan baru untuk menunjukkan bahwa pengalaman panjang tersebut belum habis. Bagi Chartpayak, pertarungan itu bukan sekadar soal menambah satu kemenangan lagi, melainkan pembuktian bahwa seorang veteran masih mampu berevolusi dan bersaing di panggung Muay Thai yang semakin kompetitif.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Duane Crespo Jr: “The Iron Giant” Di Dunia Power Slap

Jakarta – Di tengah popularitas olahraga tarung modern, Power Slap hadir sebagai disiplin yang memadukan kekuatan fisik, ketahanan mental, dan keberanian dalam bentuk yang sangat berbeda. Salah satu atlet yang berhasil mencuri perhatian sejak era awal kompetisi ini adalah Duane Crespo Jr., sosok bertubuh besar yang dikenal dengan julukan “The Iron Giant.” Lahir sekitar 1994–1996 di kawasan Linden atau Elizabeth, New Jersey, Amerika Serikat—meski tidak ada catatan resmi mengenai tanggal lahirnya—Crespo memiliki tinggi sekitar 188 sentimeter dengan berat bertanding di kisaran 118–120 kilogram (260 lbs). Berlatih di sejumlah gym lokal di New Jersey, ia membangun reputasi sebagai atlet yang mengandalkan kekuatan alami, daya tahan luar biasa, dan mental baja. Hingga pertengahan 2026, Crespo membukukan rekor profesional 6 kemenangan dan 2 kekalahan, dengan 2 kemenangan melalui knockout (KO) dan empat kemenangan melalui keputusan juri.

Tidak seperti kebanyakan atlet seni bela diri yang tumbuh melalui jalur gulat, tinju, atau MMA, perjalanan Crespo menuju dunia olahraga profesional berlangsung dengan cara yang berbeda. Sejak muda, ia dikenal memiliki postur tubuh besar dan kekuatan fisik di atas rata-rata. Aktivitas angkat beban, latihan kebugaran, serta pekerjaan yang menuntut tenaga fisik menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika Power Slap mulai diperkenalkan sebagai kompetisi resmi yang mengedepankan teknik pukulan terbuka dan kemampuan menerima pukulan, Crespo melihat peluang untuk memanfaatkan atribut fisik yang selama ini menjadi keunggulannya.

Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia mulai menjalani latihan khusus yang berfokus pada penguatan otot leher, bahu, inti tubuh, serta teknik menghasilkan pukulan terbuka yang efisien. Berbeda dengan olahraga tarung konvensional, Power Slap menuntut akurasi dan mekanika tubuh yang tepat karena setiap atlet hanya memiliki satu kesempatan untuk memberikan pukulan pada setiap giliran. Crespo menyadari bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan semata, tetapi juga keseimbangan, pengaturan napas, serta kemampuan menyerap benturan tanpa kehilangan konsentrasi.

Saat Power Slap menggelar proses seleksi perdana pada 2022, Crespo berhasil lolos melalui babak kualifikasi dan memperoleh kesempatan tampil di kompetisi resmi. Debut tersebut langsung memperlihatkan karakter bertarungnya. Dengan postur besar dan ayunan tangan yang eksplosif, ia mampu memberikan tekanan kepada lawan sejak ronde pertama. Walaupun belum selalu meraih kemenangan dengan knockout, penampilannya meninggalkan kesan mendalam karena ketenangannya ketika menerima pukulan balasan. Sejak saat itu, nama “The Iron Giant” mulai dikenal oleh penggemar Power Slap sebagai salah satu atlet heavyweight yang sulit dijatuhkan.

Seiring bertambahnya pengalaman, performa Crespo menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia mulai menghadapi lawan-lawan dengan kekuatan pukulan yang sama besar, sehingga setiap pertandingan menjadi ujian terhadap daya tahan fisik maupun mentalnya. Dua kemenangan lewat knockout membuktikan bahwa ia memiliki kekuatan pukulan yang mampu mengakhiri pertandingan secara instan. Sementara itu, empat kemenangan melalui keputusan juri menunjukkan sisi lain dari permainannya, yaitu kemampuan mempertahankan stabilitas, menerima pukulan keras, dan tetap tampil efektif hingga pertandingan berakhir. Rekor 6–2 mencerminkan perjalanan yang cukup solid dalam olahraga yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Meski demikian, perjalanan Crespo tidak selalu berjalan mulus. Ia juga mengalami kekalahan yang menjadi pengingat bahwa Power Slap adalah olahraga dengan margin kesalahan yang sangat kecil. Satu pukulan yang tidak mengenai titik ideal atau sedikit kehilangan keseimbangan dapat mengubah hasil pertandingan. Kekalahan-kekalahan tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki teknik, meningkatkan koordinasi tubuh, dan memperkuat aspek mental agar mampu kembali tampil lebih baik pada pertandingan berikutnya.

Filosofi bertarung Crespo berpusat pada disiplin dan kesiapan menghadapi tekanan. Ia percaya bahwa kekuatan terbesar seorang atlet bukan hanya terletak pada kemampuan memukul, tetapi juga keberanian untuk tetap berdiri setelah menerima pukulan keras. Prinsip tersebut diterapkannya dalam setiap sesi latihan. Selain memperkuat otot tubuh bagian atas, ia juga menjalani latihan keseimbangan, fleksibilitas leher, latihan reaksi, hingga pengondisian mental agar tetap fokus ketika berada di bawah tekanan. Bagi Crespo, setiap pertandingan merupakan ujian terhadap karakter, bukan sekadar adu kekuatan.

Gaya bertarung “The Iron Giant” identik dengan pukulan terbuka yang bertenaga dan mekanika tubuh yang efisien. Ia memanfaatkan rotasi pinggul dan bahu secara maksimal untuk menghasilkan tenaga yang besar tanpa kehilangan keseimbangan. Di sisi lain, kemampuannya menyerap benturan menjadi salah satu keunggulan yang paling menonjol. Ia jarang menunjukkan reaksi berlebihan setelah menerima pukulan, sebuah kualitas penting dalam olahraga yang mengutamakan ketahanan fisik sekaligus mental.

Sebagai salah satu atlet generasi awal Power Slap, Duane Crespo Jr. ikut menjadi bagian dari perkembangan olahraga yang masih relatif baru di tingkat profesional. Walaupun belum memiliki popularitas sebesar bintang-bintang UFC atau organisasi MMA lainnya, ia telah membangun reputasi sebagai heavyweight yang tangguh dan konsisten. Dengan rekor profesional 6 kemenangan dan 2 kekalahan, serta karakter bertarung yang menggabungkan kekuatan, ketenangan, dan daya tahan, “The Iron Giant” terus menunjukkan bahwa kesuksesan dapat diraih melalui kerja keras, adaptasi, dan keberanian menghadapi tantangan dalam salah satu cabang olahraga paling unik di dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Lance Anoa’i: Dari Gulat Menuju Panggung Power Slap

Jakarta – Lance Sterling Anoa’i adalah sosok yang membawa nama besar salah satu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah professional wrestling ke arena yang sama sekali berbeda. Lahir pada 15 Februari 1992 di Allentown, Pennsylvania, Amerika Serikat, Lance kini tercatat sebagai petarung Power Slap yang berdomisili di Orlando, Florida. Profil resmi Power Slap mencantumkan usianya 34 tahun, tinggi 6 kaki atau sekitar 183 cm, berat 255 pon atau sekitar 116 kg, serta bertarung di kelas Heavyweight dengan tangan kiri sebagai tangan pukulan. Yang paling penting, catatan resminya kini adalah 1 kemenangan dan 1 kekalahan tanpa hasil imbang (1-1-0). Jadi, informasi sebelumnya yang menyebut rekor 1-0 memang perlu diperbaiki.

Darah gulat mengalir kuat dalam kehidupan Lance. Ia adalah putra Samu, mantan juara tag team WWE/WWF yang dikenal sebagai bagian dari The Headshrinkers, sekaligus cucu Afa “The Wild Samoan”, salah satu tokoh penting dalam sejarah gulat profesional. Dari keluarga besarnya lahir pula nama-nama seperti Yokozuna, Rikishi, Umaga, Roman Reigns, The Usos, Solo Sikoa, Jacob Fatu, Nia Jax, dan The Rock. Dengan lingkungan seperti itu, ketertarikan Lance terhadap olahraga kontak fisik tumbuh secara alami. Sebelum terjun penuh ke dunia gulat, ia juga bermain baseball hingga tingkat sekolah menengah, tetapi cedera lutut mengakhiri musim terakhirnya. Pada 2010, ketika berusia 18 tahun, ia memulai perjalanan profesionalnya di dunia wrestling dan kemudian menghabiskan lebih dari satu dekade membangun reputasi di berbagai promosi.

Karier gulat Lance berkembang melalui sejumlah organisasi independen sebelum membawanya ke panggung yang lebih besar. Ia pernah tampil di MLW, Pro Wrestling NOAH, NWA, House of Hardcore, serta berbagai promosi lainnya. Salah satu pencapaian pentingnya adalah menjadi MLW World Tag Team Champion bersama Juicy Finau, yang menariknya juga merupakan petarung Power Slap. Lance kemudian mendapat kesempatan bergabung dengan WWE pada 2024. Namun, kesempatan tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Cedera bilateral sports hernia dan masalah bahu membuatnya tidak sempat menjalani pertandingan televisi resmi WWE. Setelah dilepas WWE pada Oktober 2025, ia kembali ke dunia independen sebelum mendapatkan kesempatan baru melalui Power Slap.

Peralihan menuju Power Slap terjadi setelah organisasi tersebut menghubunginya dan mengundangnya mengikuti combine. Lance kemudian mulai mempersiapkan tubuhnya untuk olahraga yang menuntut kemampuan berbeda dari wrestling. Ia menjelaskan bahwa latihan Power Slap membutuhkan perhatian khusus terhadap kekuatan leher dan trapezius, mobilitas pinggul, serta kemampuan rahang menerima benturan. Pengalaman panjang sebagai pegulat memberinya fondasi berupa kekuatan fisik, keseimbangan, keberanian menerima kontak, dan terutama ketangguhan mental. Namun, slap fighting menuntut penyesuaian karena atlet tidak dapat mengandalkan gerakan kaki atau pertahanan seperti dalam olahraga tarung konvensional.

Debutnya berlangsung di Power Slap 19, 17 April 2026, Las Vegas, menghadapi Amanpreet Singh dalam pertandingan Heavyweight tiga ronde. Lance tidak mendapatkan keuntungan psikologis sebagai penyerang pertama karena Singh memenangkan coin toss. Namun, setelah menerima serangan lawan, Lance mampu bangkit dan kemudian memberikan respons menentukan. Ia mencatat kemenangan KO pada ronde kedua. Power Slap sendiri menampilkan laga tersebut sebagai debut yang sukses bagi pegulat generasi ketiga itu, sementara Tapology mencatat pertandingan berlangsung pada bobot 265 pon atau sekitar 120 kg. Momen tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan dan pengalaman fisiknya dapat diterjemahkan ke dalam format olahraga baru.

Kemenangan tersebut ternyata bukan awal dari perjalanan tanpa cela. Pada Power Slap 21, 10 Juli 2026, Lance kembali bertanding menghadapi Juli Montana dalam pertandingan Heavyweight tiga ronde yang ditempatkan di preliminary card. Profil resmi Power Slap kini mencatat rekor Lance 1-1-0, sehingga laga melawan Montana menjadi kekalahan pertama dalam karier Power Slap-nya. Detail metode kekalahan tersebut tidak saya cantumkan karena sumber resmi yang tersedia tidak memberikan rincian hasil secara memadai. Yang jelas, dua pertandingan pertamanya menunjukkan bahwa Lance sudah langsung menghadapi fase penting dalam perkembangan karier: dari sensasi debut dengan KO menuju ujian konsistensi pada penampilan kedua.

Secara gaya, Lance membawa karakter heavyweight yang sangat bergantung pada kekuatan, ketenangan, dan ledakan tenaga. Ia tercatat sebagai striker kidal, sebuah karakteristik yang dapat memberi sudut serangan berbeda bagi lawan. Pengalaman baseball juga pernah ia kaitkan dengan cara menghasilkan pukulan, sementara latar belakang wrestling membuatnya terbiasa mengontrol tubuh, menjaga keseimbangan, dan menghadapi tekanan. Meski demikian, baru dua pertandingan Power Slap belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ia telah memiliki gaya teknis yang benar-benar mapan. Filosofi kompetitifnya justru terlihat dari keberaniannya mencoba tantangan baru setelah karier WWE terganggu cedera. Baginya, Power Slap merupakan kesempatan membangun jalannya sendiri sembari tetap membawa semangat kompetitif keluarganya.

Lance Anoa’i dengan demikian bukanlah petarung yang datang dari UFC, ONE Championship, atau karier MMA profesional. Debut profesionalnya di olahraga tarung yang terdokumentasi adalah Power Slap pada 2026, setelah sekitar 16 tahun membangun pengalaman di professional wrestling. Kini catatannya adalah 1-1-0 dengan satu kemenangan KO, bertarung di Heavyweight dan memiliki latar belakang wrestling yang sangat kuat. Tantangan berikutnya bukan sekadar memperbaiki rekor, tetapi membuktikan bahwa ia mampu beradaptasi secara konsisten dengan tuntutan slap fighting. Di usia 34 tahun, dengan pengalaman panjang di ring dan tubuh yang terbiasa menghadapi benturan, Lance masih memiliki kesempatan untuk mengubah kekalahan keduanya menjadi bagian dari proses membangun identitas baru—bukan hanya sebagai anggota keluarga Anoa’i, tetapi sebagai atlet yang memiliki cerita dan prestasinya sendiri.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mukhammed Amantayev: Petarung Kazakhstan Di Power Slap

Jakarta – Nama Mukhammed “Asadullah” Amantayev belum terlalu dikenal luas di panggung olahraga tarung internasional. Namun, satu penampilan sudah cukup untuk membuat petarung asal Kazakhstan ini mulai diperhitungkan. Amantayev mencatat debut profesionalnya di Power Slap 17, yang berlangsung di Mohammed Abdo Arena, Riyadh, Arab Saudi, pada 31 Oktober 2025. Dalam laga tersebut, ia menghadapi petarung China, Honggang “Wukong” Zhao, dan mengakhiri pertarungan melalui KO pada ronde ketiga. Catatan resmi Power Slap kini menempatkan Amantayev dengan rekor sempurna 1-0-0 dan berada di peringkat kedelapan kelas Lightweight.

Data pertarungan yang dicatat informasi yang tersedia menyebutkan tinggi badannya sekitar 173 cm dengan jangkauan 173 cm. Yang juga penting untuk diluruskan, Amantayev secara resmi tercatat bertarung di kelas Lightweight dengan batas 154 pon. Debutnya di Power Slap 17 dapat dianggap sebagai titik awal dalam perjalanan profesionalnya. Hal ini membuat kisah Amantayev berbeda dari banyak petarung lain yang memasuki arena slap fighting setelah memiliki pengalaman panjang di tinju, kickboxing, atau MMA.

Debutnya melawan Zhao menjadi ujian yang langsung menuntut ketenangan sekaligus kemampuan menghasilkan pukulan eksplosif. Keduanya sama-sama berstatus pendatang baru di Power Slap, dan Amantayev mendapatkan kesempatan menyerang lebih dahulu setelah memenangkan coin toss. Pertarungan berjalan hingga ronde ketiga sebelum Amantayev mencatat kemenangan KO/TKO. Hasil resmi Power Slap menyatakan kemenangan tersebut sebagai knockout pada ronde ketiga, sedangkan Tapology mengklasifikasikannya sebagai KO/TKO. Zhao kemudian tercatat memiliki rekor profesional 0-1-0.

Yang menarik dari penampilan perdana tersebut adalah cara Amantayev membangun reputasinya bukan melalui volume serangan, melainkan momen-momen yang menentukan. Dalam slap fighting, kemampuan menghasilkan tenaga bukan satu-satunya faktor. Timing, akurasi, keseimbangan tubuh, konsentrasi, serta kemampuan menerima tekanan menjadi bagian penting dari pertarungan. Power Slap sendiri menggambarkan duel Amantayev dan Zhao sebagai pertandingan yang berakhir dengan knockout besar dan kontroversi, sementara pihak General Entertainment Authority Arab Saudi menyoroti kecepatan, presisi, dan agresivitas dalam penampilan petarung Kazakhstan tersebut.

Dari satu pertandingan yang tersedia, gaya Amantayev dapat digambarkan sebagai striker yang mengandalkan power dan timing. Dapat dikatakan secara faktual adalah ia mampu menjaga efektivitas hingga ronde ketiga dan menemukan penyelesaian ketika kesempatan datang. Untuk seorang debutan, kemenangan tersebut menjadi fondasi penting karena ia langsung mengawali karier dengan kemenangan KO.

Kemenangan atas Zhao juga memberi Amantayev modal berharga untuk menghadapi tantangan berikutnya. Power Slap merupakan arena yang menuntut kesiapan mental karena setiap kesempatan menyerang dapat mengubah jalannya pertandingan secara drastis. Sebagai pendatang baru, tantangan terbesar Amantayev adalah membuktikan bahwa kemenangan debutnya bukan sekadar momentum sesaat. Ia perlu mempertahankan akurasi, kekuatan, disiplin, serta ketenangan ketika menghadapi lawan yang lebih berpengalaman. Sampai saat ini belum terdapat catatan resmi mengenai pertandingan profesional keduanya, sehingga perjalanan kariernya masih berada pada tahap yang sangat awal.

Dengan demikian, profil Mukhammed “Asadullah” Amantayev lebih tepat dipandang sebagai kisah awal seorang prospek Kazakhstan yang baru membuka lembaran kariernya. Rekornya masih sederhana—1 kemenangan dari 1 pertandingan, seluruhnya melalui KO/TKO—tetapi cara kemenangan itu diraih membuat debutnya layak diperhatikan. Ia belum memiliki koleksi gelar, belum mempunyai sejarah panjang di organisasi tarung lain, dan informasi personalnya masih minim. Justru karena itulah perjalanan selanjutnya menjadi menarik: kemenangan atas Honggang Zhao di Power Slap 17 telah memberinya pintu masuk, sementara pertandingan-pertandingan berikutnya akan menentukan apakah “Asadullah” mampu berkembang dari seorang debutan dengan pukulan keras menjadi salah satu nama penting di kelas Lightweight Power Slap.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mahesuan Aekmuangnon, Finisher Di Kelas Atomweight

Jakarta – 20 Desember 2000, Mahesuan Aekmuangnon lahir di Thailand dan kemudian tumbuh menjadi salah satu petarung muda yang menarik perhatian di kelas atomweight Muay Thai ONE Championship. Pada usia 25 tahun per 2026, ia memiliki postur sekitar 165 cm dengan bobot bertarung 52 kg dan menggunakan stance orthodox. Mahesuan berafiliasi dengan Singpatong, salah satu gym yang menjadi tempat berkembangnya sejumlah petarung Muay Thai di Phuket. Meski informasi mengenai masa kecil dan kehidupan pribadinya tidak banyak terdokumentasi di sumber publik, perjalanan profesionalnya memperlihatkan sosok petarung yang berkembang melalui pengalaman langsung di ring. Ia bukan tipe atlet yang membutuhkan waktu panjang untuk menunjukkan identitasnya: sejak tampil di ONE, agresivitas dan kemampuan mencari penyelesaian sudah menjadi bagian utama dari permainannya.

Sebelum memasuki ONE Championship, Mahesuan telah mengumpulkan pengalaman dalam kompetisi Muay Thai Thailand. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting ketika ia mendapatkan kesempatan tampil di panggung internasional. Debut ONE-nya berlangsung pada ONE Friday Fights 53, 23 Februari 2024, menghadapi Pet Fairtex dalam pertarungan atomweight Muay Thai. Mahesuan tidak membutuhkan keputusan juri untuk memperkenalkan dirinya. Ia menghentikan Pet melalui TKO pada ronde ketiga, tepat pada 2:30, sekaligus membuka perjalanan ONE dengan kemenangan meyakinkan. Debut tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki gaya yang cocok dengan format pertandingan ONE Friday Fights yang menuntut tempo tinggi dan kemampuan mencuri perhatian sejak awal.

Hanya dua bulan kemudian, Mahesuan menghadapi ujian yang jauh lebih berat ketika bertemu Yodnumchai Fairtex pada ONE Friday Fights 60. Pertandingan itu berakhir pahit. Yodnumchai memanfaatkan momen dalam pertukaran jarak dekat dan menjatuhkan Mahesuan dengan serangan siku sebelum melanjutkan tekanan hingga wasit menghentikan pertandingan pada 1:21 ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi gambaran bahwa agresivitas yang menjadi senjatanya juga membawa risiko besar ketika berhadapan dengan lawan yang memiliki timing dan kemampuan counter yang sama tajamnya. Namun Mahesuan tidak membiarkan kekalahan itu menghentikan lajunya. Pada November 2024, ia kembali ke ring menghadapi Panlam Sor Sommai di ONE Friday Fights 86. Kali ini ia tampil jauh lebih efektif, menjatuhkan Panlam dua kali melalui straight right sebelum menutup pertarungan dengan left hook pada menit 2:36 ronde pertama.

Pertandingan tersebut memperlihatkan salah satu karakter paling menonjol dari Mahesuan: tekanan yang dibangun melalui kombinasi pukulan cepat dan serangan beruntun. Ia tidak sekadar menyerang untuk mengumpulkan angka, tetapi berusaha menciptakan kerusakan sampai lawan kehilangan kemampuan untuk melanjutkan pertandingan. Setelah kemenangan atas Panlam, ia harus menghadapi tantangan lain pada Mei 2025 ketika bertemu Petnaya NhongBangsai. Dalam duel atomweight yang berlangsung sengit, Petnaya menjatuhkan Mahesuan pada ronde pertama dengan left cross. Mahesuan bangkit dan membalas pada ronde ketiga, bahkan mencetak knockdown melalui left hook, tetapi agresivitasnya belum cukup untuk membalikkan penilaian juri. Petnaya akhirnya menang melalui keputusan mutlak.

Mahesuan kemudian mencoba bangkit di luar ONE dan pada 25 Desember 2025 meraih kemenangan keputusan mutlak atas Raktemroi Jaheakmuangtai di Patong Fight Night. Namun ketika kembali ke ONE pada Februari 2026, ia kembali mendapatkan ujian keras. Chokdee Maxjandee menghentikannya melalui TKO ronde pertama pada ONE Friday Fights 141. Dua kekalahan beruntun di ONE tentu menjadi periode yang menantang, terutama bagi petarung yang mengandalkan kepercayaan diri dan momentum. Akan tetapi, respons Mahesuan justru memperlihatkan mentalitas kompetitifnya. Ia kembali dua bulan kemudian menghadapi Aung Tun Bo dan membalas dengan kemenangan TKO ronde kedua pada ONE Friday Fights 154, 15 Mei 2026.

Momentum itu mencapai puncaknya pada 24 Juli 2026 di ONE Friday Fights 163 ketika Mahesuan menghadapi YodUdon K Tongtalingchan dalam pertarungan atomweight Muay Thai. Pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi sejak awal. YodUdon berusaha maju dan menekan, tetapi Mahesuan menunjukkan pergerakan kaki serta kecepatan memulai serangan yang lebih baik. Ketika pertarungan memasuki ronde kedua dan keduanya mulai bertukar pukulan dari jarak dekat, Mahesuan menemukan celah untuk melakukan serangan balasan. Ia menjatuhkan YodUdon dan kemudian kembali menerjang dengan pukulan keras setelah lawannya bangkit. Hasil akhirnya adalah KO pada 1:07 ronde kedua. ONE mencatat kemenangan tersebut sebagai kemenangan keempat Mahesuan di organisasi.

Secara statistik, karakter Mahesuan sangat jelas. Rekor ONE-nya kini 4 kemenangan dan 3 kekalahan, dengan seluruh empat kemenangannya berakhir melalui penyelesaian—satu KO dan tiga TKO menurut statistik resmi ONE. Durasi rata-rata pertarungannya hanya 4 menit 44 detik, dengan total waktu tujuh pertandingannya sekitar 33 menit 8 detik. Artinya, pertandingan Mahesuan jarang berkembang menjadi duel panjang yang penuh kalkulasi. Ia cenderung memaksa lawan bertarung dalam ritme yang ia inginkan. Sumber Muay Thai Records juga mencatat rekor terdokumentasi keseluruhannya sebagai 5–3, karena memasukkan kemenangan di Patong Fight Night.

Gaya bertarung Mahesuan pada akhirnya merupakan perpaduan antara tekanan agresif, kecepatan masuk, kombinasi pukulan, dan naluri finishing. Kemenangan atas Panlam memperlihatkan bagaimana ia dapat menggunakan straight right untuk membuka pertahanan sebelum menyelesaikan serangan dengan hook, sementara kemenangan atas YodUdon memperlihatkan kemampuan melakukan counter ketika lawan mencoba mendekat. Filosofi bertarungnya tampak sederhana tetapi efektif: jangan memberikan lawan kesempatan untuk nyaman. Setiap serangan harus menghasilkan tekanan berikutnya. Dengan pengalaman yang terus bertambah, ia juga mulai memperlihatkan kemampuan beradaptasi—sebuah perkembangan penting setelah mengalami kekalahan dari Yodnumchai, Petnaya, dan Chokdee.

Kini, pada usia 25 tahun, Mahesuan berada di titik menarik dalam kariernya. Ia memang belum memiliki sabuk juara ONE, tetapi rentetan kemenangan finisnya membuatnya menjadi petarung yang sulit diabaikan di atomweight. Dari debut melawan Pet Fairtex, kekalahan-kekalahan yang memaksanya belajar, hingga kemenangan TKO atas Aung Tun Bo dan KO spektakuler atas YodUdon, perjalanan Mahesuan menunjukkan seorang striker yang terus berkembang melalui tekanan. Jika ia mampu mempertahankan agresivitas sekaligus meningkatkan pertahanan dan pengambilan keputusan, Mahesuan Aekmuangnon berpotensi menjadi salah satu finisher paling berbahaya di generasi berikutnya kelas atomweight ONE Championship.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Nick Klein: Perjalanan Panjang Seorang Petarung MMA

Jakarta – Dalam dunia MMA, perjalanan seorang petarung tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak kemenangan yang berhasil dikumpulkan. Di balik setiap pertarungan, terdapat proses panjang yang mencakup latihan, adaptasi teknik, disiplin, serta keberanian menghadapi lawan dengan gaya berbeda. Nick Klein merupakan nama yang perlu dilihat melalui catatan kompetisinya secara menyeluruh, terutama untuk membedakan pencapaian yang telah terverifikasi dari informasi biografis yang belum tersedia secara publik.

Dari Wrestling ke MMA Profesional

Lahir pada 8 September 1995 di Plymouth, Wisconsin, Amerika Serikat, Nicholas James Klein dikenal di dunia pertarungan dengan julukan “Blue Collar.” Ia bertanding dari Pura Vida BJJ & MMA dan memiliki latar belakang gulat yang menjadi bagian penting dari fondasi olahraganya. Klein tercatat sebagai finalis kejuaraan gulat tingkat negara bagian Wisconsin ketika bersekolah di Random Lake High School pada 2014. Catatan UFC juga menyebutkan bahwa ia memiliki rekor amatir 7–1 dan mulai menjalani karier profesional pada 2021.

Informasi publik mengenai masa kecil Klein, alasan awalnya memilih bela diri, serta proses detail perpindahannya dari gulat menuju MMA masih terbatas. Karena itu, tidak tepat untuk mengarang cerita tentang motivasi personal atau pengalaman masa mudanya yang belum didukung sumber. Yang dapat dipastikan adalah bahwa pengalaman gulat dan latihan Brazilian Jiu-Jitsu di Pura Vida membentuk bagian dari perjalanan menuju kompetisi profesional.

Delapan Hari Menuju Kesempatan Besar

Salah satu titik balik karier Klein terjadi pada Dana White’s Contender Series musim kedelapan, episode ke-10, pada 15 Oktober 2024. Ia menghadapi Heraldo Souza dan meraih kemenangan submission melalui rear-naked choke hanya dalam 37 detik pada ronde pertama. Hasil tersebut memberinya kesempatan melangkah ke UFC. Menurut profil resmi UFC, Klein menerima pertarungan Contender Series dengan pemberitahuan delapan hari, setelah menggantikan rekan latihannya, Wes Schultz. Situasi ini memperlihatkan bagaimana kesempatan besar dalam MMA terkadang hadir dalam waktu persiapan yang sangat singkat.

Debutnya di UFC berlangsung pada 22 Februari 2025 dalam UFC Fight Night: Cejudo vs. Song, ketika ia menghadapi Mansur Abdul-Malik. Klein kalah melalui TKO akibat knee dan punches pada ronde kedua, tepatnya 3 menit 24 detik. Ia kemudian kembali ke oktagon pada 2 Agustus 2025 untuk menghadapi Andrey Pulyaev dalam UFC Fight Night: Taira vs. Park. Pertarungan tersebut berakhir dengan kekalahan TKO akibat body kick dan punches pada ronde kedua, 1 menit 31 detik. Dua hasil ini menjadi bagian dari fase awalnya di UFC, ketika ia menghadapi tingkat persaingan yang lebih tinggi.

Gaya Bertarung dan Fondasi Teknik

Klein bertanding di kelas middleweight, dengan tinggi sekitar 185 cm, jangkauan 196 cm, dan stance orthodox. Statistik UFC mencatat rata-rata takedown sebesar 5,79 per 15 menit, akurasi takedown 35 persen, serta pertahanan takedown 66 persen. Data tersebut memberikan gambaran tentang keterlibatan aktifnya dalam aspek gulat dan grappling, meskipun statistik tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan strategi atau filosofi bertarung seorang atlet.
UFC Stats

Catatan karier profesional Klein menunjukkan enam kemenangan, dengan dua kemenangan KO/TKO dan tiga submission. Profil resmi UFC juga menyebut bahwa tiga kemenangan terakhirnya sebelum masuk UFC diraih melalui rear-naked choke, serta empat kemenangan profesionalnya berakhir pada ronde pertama. Rekor tersebut menunjukkan riwayat penyelesaian pertarungan yang kuat, khususnya melalui submission, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia hanya mengandalkan satu pendekatan.

Tantangan, Mentalitas, dan Kehidupan sebagai Petarung

Julukan Blue Collar dan informasi mengenai pekerjaannya menjadi bagian menarik dari narasi karier Klein. Dalam wawancara menjelang pertarungan Agustus 2025, ia membahas bagaimana dirinya tetap bekerja penuh waktu sambil menjalani latihan sebagai petarung profesional. Kondisi tersebut menggambarkan tantangan praktis yang dapat muncul ketika seorang atlet harus membagi waktu antara pekerjaan dan persiapan kompetisi. Namun, detail tentang filosofi hidup, metode latihan harian secara lengkap, serta pandangan personalnya mengenai kekalahan masih membutuhkan sumber wawancara yang lebih mendalam agar dapat disajikan secara akurat.
YouTube

Hingga catatan pertarungan terakhir yang ditemukan pada 2 Agustus 2025, Nick Klein memiliki rekor profesional MMA 6–3–0, dengan rekor UFC 0–2. Ia bertanding di middleweight dan berlatih bersama Pura Vida BJJ & MMA. Perjalanan kariernya menunjukkan perpindahan dari fondasi gulat dan kompetisi regional menuju panggung UFC, sementara tantangan berikutnya dalam kariernya perlu dilihat melalui pertandingan dan perkembangan yang terverifikasi setelah periode tersebut.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Tainara Lisboa: Dari Juara Muay Thai Dunia Ke Oktagon UFC

Jakarta – Di dalam dunia MMA, perjalanan menuju panggung terbesar tidak selalu berjalan lurus. Ada petarung yang tumbuh dari akademi ternama, ada pula yang menempa dirinya melalui kompetisi lokal sebelum akhirnya mendapat kesempatan di organisasi elite. Tainara Barati de Almeida Lisboa, yang dikenal dengan julukan Thai Panther, termasuk sosok yang memiliki fondasi bela diri kuat sebelum menapakkan kaki di Ultimate Fighting Championship (UFC). Kisahnya berawal dari ketertarikan pada Muay Thai dan berkembang menjadi perjalanan panjang menuju persaingan MMA profesional.

Lisboa lahir pada 2 Maret 1991 dan berasal dari Brasil. Dalam wawancara resmi UFC, ia menceritakan bahwa ketertarikannya pada bela diri muncul ketika berusia sekitar 13–14 tahun. Saat itu, ia mengaku memiliki kecemasan dan merasa tubuhnya agak gemuk. Ayahnya menjadi sosok yang paling mendorongnya untuk mencari tempat latihan bela diri. Apa yang semula dimulai sebagai upaya untuk beraktivitas dan mengatasi persoalan pribadi kemudian berubah menjadi ketertarikan serius terhadap dunia pertarungan. Ia mulai mengikuti kompetisi lokal pada usia 14 tahun, sebelum menjalani debut Muay Thai pada usia 16 tahun.

Muay Thai menjadi fondasi penting dalam perkembangan Lisboa. Ia mengklaim telah meraih dua gelar juara dunia Muay Thai di Thailand, selain prestasi pada level Brasil, Amerika Selatan, dan negara bagian. Ia juga menyandang sabuk hitam Muay Thai serta memiliki latar belakang Brazilian Jiu-Jitsu dengan sabuk ungu. Pengalaman tersebut membentuk dasar striking dan grappling yang kemudian dibawanya ke MMA. Namun, keberhasilan dalam Muay Thai tidak otomatis menjamin keberhasilan di oktagon, karena MMA menuntut kemampuan menggabungkan pukulan, tendangan, pertahanan takedown, dan pertarungan bawah.

Menapaki MMA Profesional dan Panggung UFC

Setelah menekuni Muay Thai, Lisboa beralih ke MMA profesional pada 2016. Debutnya berlangsung di Jungle Fight 90, ketika ia menghadapi Norma Dumont dan kalah melalui rear-naked choke pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan yang kemudian membawanya mencatat tujuh kemenangan dalam delapan pertarungan berikutnya setelah debut. Pada 2019, ia kembali bertanding dan meraih kemenangan atas Mara Suzamaque melalui penghentian pojok pada ronde ketiga. Rentetan hasil positif berlanjut dengan kemenangan atas Daline Gomes Silvestre, Leticia Hille, Gloria Amaral, dan Conceicao Oliveira pada periode 2020–2022.

Performa tersebut membuka jalan menuju UFC. Pada 13 Mei 2023, Lisboa menjalani debut oktagon menghadapi Jessica-Rose Clark. Ia menutup pertarungan melalui rear-naked choke pada ronde ketiga, kemenangan yang memperlihatkan kemampuannya menggabungkan tekanan striking dengan penyelesaian di ground. Lima bulan kemudian, ia mengalahkan Ravena Oliveira melalui keputusan mutlak pada 14 Oktober 2023. Dua kemenangan UFC tersebut menjadi tonggak penting dalam kariernya, sekaligus memperkuat reputasinya sebagai petarung yang memiliki kemampuan submission.

Cedera, Pemulihan dan Ujian Mental

Di balik catatan pertandingan, Lisboa menghadapi tantangan besar ketika mengalami cedera serius pada lutut kiri. Ia menjalani operasi rekonstruksi tulang rawan pada Desember 2023, setelah sebelumnya bertanding melawan Ravena Oliveira dalam kondisi cedera. Masa pemulihan tidak hanya menuntut rehabilitasi fisik, tetapi juga menguji kondisi emosional dan keyakinannya untuk kembali berkompetisi. Dalam wawancara dengan MMA Fighting, ia menceritakan kehilangan massa otot yang signifikan, kenaikan berat badan, dan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari hingga harus belajar berjalan kembali.

Setelah melewati masa pemulihan panjang, Lisboa kembali bertanding melawan Luana Santos pada 17 Mei 2025. Pertarungan tersebut berakhir dengan kekalahan melalui submission americana pada ronde kedua. Ia kemudian menghadapi Melissa Croden pada 18 Oktober 2025 dan dihentikan melalui serangan pukulan pada ronde ketiga. Kedua hasil tersebut menjadi bagian terbaru dari rekor profesional yang tercatat dalam sumber statistik yang diperiksa.

Gaya Bertarung dan Filosofi Kompetitif

Sebagai petarung dengan dasar Muay Thai, Lisboa memiliki pendekatan yang mengandalkan striking, tekanan, dan kemampuan bertarung dalam jarak dekat. Ia menyebut sikut sebagai teknik striking favoritnya, sementara arm-triangle choke menjadi teknik grappling yang paling disukainya. Dalam sesi latihan, ia menjelaskan bahwa jadwalnya dapat mencakup latihan MMA pada pagi hari, tinju pada sore hari, dan Brazilian Jiu-Jitsu pada malam hari. Pola latihan tersebut menggambarkan kebutuhan seorang petarung MMA untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan, bukan hanya mengandalkan satu disiplin bela diri.

Bagi Lisboa, UFC merupakan realisasi dari proyek kehidupan yang dibangun melalui tahun-tahun kerja keras. Perjalanannya memperlihatkan bahwa karier profesional tidak hanya ditentukan oleh kemenangan, tetapi juga oleh kemampuan menghadapi cedera, masa tidak bertanding, dan proses kembali ke kompetisi. Dengan latar belakang juara Muay Thai, pengalaman MMA sejak 2016, serta penampilan di UFC, Thai Panther menjadi contoh perjalanan atlet yang terus berhadapan dengan tuntutan fisik dan mental olahraga tarung tingkat tinggi.

Rekor profesional: 7 kemenangan, 4 kekalahan, 0 seri (7–4–0), berdasarkan catatan yang tersedia hingga pertarungan melawan Melissa Croden pada 18 Oktober 2025. Kelas bertandingnya adalah women’s bantamweight, dengan tinggi sekitar 170 cm dan jangkauan 170 cm. Rekor UFC yang tercatat adalah 2 kemenangan dan 2 kekalahan dalam empat pertandingan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mongkolpetch Petchyindee, Veteran Tangguh ONE Championship

Jakarta – 28 Juli 1995, Mongkolpetch Petchyindee, nama asli Somsuk Pansarapoom, lahir di Provinsi Roi Et, Thailand, dari keluarga petani yang sederhana. Jauh sebelum dikenal di ONE Championship, ia tumbuh dalam lingkungan yang membuat olahraga tarung terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketertarikannya bermula dari sang kakak yang lebih dahulu menyukai tinju. Mongkolpetch kerap diam-diam mengikuti sang kakak berlatih hingga akhirnya ikut merasakan sendiri kerasnya latihan Muay Thai. Pada usia sekitar 10 tahun, ia menjalani pertandingan pertamanya. Bayaran dari laga tersebut bahkan ia berikan kepada orang tuanya untuk membantu keluarga. Dari titik itulah olahraga yang awalnya menjadi jalan untuk membantu keluarga perlahan berubah menjadi profesi.

Mongkolpetch memulai perjalanan profesionalnya dengan nama ring Mongkoldetlek Wor.Panyawai, sebelum kemudian menggunakan nama Mongkoldetlek Kesa Gym. Ia bergabung dengan Kesa Gym pada 2014 setelah dibeli dari kamp sebelumnya dengan nilai sekitar 200.000 baht. Di sana performanya berkembang dan membawanya tampil dalam pertandingan-pertandingan bergengsi di Lumpinee Stadium melalui promotor Kiatpetch. Salah satu fase penting datang pada 2017. Setelah mengalahkan sejumlah lawan kuat di sirkuit Thailand, ia merebut gelar Lumpinee Stadium 130 pound dengan kemenangan angka atas Suakim Sor Jor Thongprajin pada 9 Juni 2017. Pada tahun yang sama, pertarungannya melawan Nawaphol Lookpachrist juga membantunya meraih penghargaan Channel 7 Stadium Fight of the Year.

Kariernya kemudian memasuki babak baru ketika Kesa Gym mengalami masalah finansial dan harus tutup. Pada 2018, Mongkolpetch bergabung dengan Petchyindee Academy, salah satu kamp Muay Thai paling terkenal di Thailand. Perpindahan tersebut juga membawa perubahan nama ring menjadi Mongkolpetch Petchyindee Academy. Tidak lama setelah bergabung, ia kembali menunjukkan kualitasnya dengan memenangkan Toyota Marathon Tournament 140 pound pada 2018. Gelar tersebut memperlihatkan kemampuan Mongkolpetch untuk bertarung pada bobot lebih tinggi dan menghadapi lawan dengan karakter berbeda. Tahun 2019 kemudian menjadi salah satu periode produktifnya, termasuk kemenangan atas Chanasuek Kor Kampanat melalui KO dan kemenangan atas Alexi Serepisos dalam debutnya di ONE Championship.

Mongkolpetch resmi memasuki panggung ONE Championship pada 19 Januari 2019 di ONE: Eternal Glory, ketika menghadapi Alexi Serepisos di Jakarta dan menang melalui keputusan mutlak. Setelah itu ia menghadapi Joseph Lasiri dan meraih kemenangan keputusan mayoritas. Perjalanan tersebut berlanjut pada 2020 ketika ia mengalahkan Sok Thy melalui keputusan mutlak. Salah satu penampilan terpentingnya datang pada Juni 2021 dalam ONE: Full Blast II. Menghadapi petarung Aljazair Elias Mahmoudi, yang ketika itu merupakan salah satu nama penting di peringkat flyweight Muay Thai ONE, Mongkolpetch menang melalui keputusan mayoritas. Kemenangan tersebut memperkuat statusnya sebagai teknisi Muay Thai yang mampu menghadapi striker dengan gaya berbeda.

Ujian terbesar berikutnya datang pada Februari 2022 ketika ia menghadapi Jonathan Haggerty di ONE: Bad Blood. Haggerty mampu mengontrol pertandingan dan Mongkolpetch akhirnya kalah melalui keputusan mutlak. Setelah itu, hubungannya dengan ONE ikut terpengaruh oleh perselisihan antara Petchyindee Academy dan organisasi tersebut, yang membuat para petarung dari gym itu keluar dari roster ONE. Mongkolpetch kemudian melanjutkan kariernya di berbagai panggung Thailand dan Asia. Ia sempat bertanding di Rajadamnern World Series serta menghadapi Zhao Chongyang di Wu Lin Feng. Periode tersebut menunjukkan bahwa kariernya tidak berhenti hanya karena keluar dari ONE; ia tetap aktif menguji kemampuan melawan generasi petarung yang lebih muda.

Kembali ke ONE pada 2026, Mongkolpetch memperlihatkan bahwa pengalaman panjang masih memiliki nilai besar. Pada 29 Mei 2026, ia mengalahkan Ruslan Tuktarov melalui keputusan mutlak di ONE Friday Fights 156. ONE menggambarkannya sebagai counter-striker dengan tendangan tajam, timing presisi dan kemampuan clinch yang kuat. Dua bulan kemudian, pada 24 Juli 2026, ia menghadapi Utkirzhon Khamidov di ONE Friday Fights 163 dan menang melalui TKO ronde kedua. Hasil tersebut menjadi salah satu comeback paling menarik bagi veteran yang telah berkarier selama lebih dari satu dekade.

Secara teknis, Mongkolpetch bukan tipe petarung yang hanya mengandalkan kekuatan mentah. Ia dikenal sebagai counter-striker yang sabar membaca serangan lawan sebelum membalas dengan tendangan, kombinasi pukulan, lutut, dan permainan clinch. Tingginya sekitar 167 cm, dengan reach sekitar 178 cm, dan ia bertarung dalam stance orthodox. Pengalaman lebih dari 170 pertandingan yang tercatat dalam berbagai sumber membuatnya memiliki kemampuan membaca tempo dan jarak yang sangat matang. Ia juga menunjukkan mentalitas kompetitif yang kuat: kekalahan tidak membuatnya meninggalkan ring, melainkan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk terus beradaptasi.

Kini, Mongkolpetch memasuki fase karier yang berbeda. Ia bukan lagi prospek muda yang mengejar pengakuan di Lumpinee, melainkan veteran dengan pengalaman menghadapi banyak generasi petarung. Rekor yang tersedia di basis data saat ini mencatat 125 kemenangan, 50 kekalahan, dan 1 seri, termasuk enam kemenangan KO/TKO, sementara sumber lain menggunakan pencatatan karier yang lebih luas dan menghasilkan angka berbeda. Yang tidak terbantahkan adalah pencapaiannya: mantan juara Lumpinee 130 pound, pemenang Toyota Marathon 140 pound, peraih penghargaan Fight of the Year Channel 7, serta pemenang atas nama-nama seperti Elias Mahmoudi dan Ruslan Tuktarov. Kemenangan TKO atas Khamidov pada Juli 2026 menjadi bukti terbaru bahwa Mongkolpetch Petchyindee belum selesai.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Akram Hamidi, “La Pépite”: Petarung Muay Thai Dari Prancis

Jakarta – Di tengah derasnya talenta Muay Thai dan kickboxing dari Thailand, nama Akram Hamidi muncul dari jalur yang berbeda. Lahir di Strasbourg, Prancis, pada 4 Januari 1999, Hamidi tumbuh sebagai petarung Prancis-Aljazair yang membangun reputasinya dari panggung Eropa sebelum akhirnya menembus ONE Championship. Dijuluki “La Pépite”, atau “permata”, ia dikenal sebagai striker bertubuh relatif kecil namun memiliki kecepatan tangan dan daya ledak yang membuat lawan harus selalu waspada. Data yang tersedia mencatat tinggi sekitar 168 cm dan berat bertarung sekitar 55–56,7 kg, dengan gaya orthodox dan basis latihan di Team Valente/Elite Boxing 67, di bawah pelatih Steeve Valente. ONE sendiri menggambarkannya sebagai salah satu talenta Muay Thai terbaik yang muncul dari Aljazair dalam beberapa tahun terakhir.

Ketertarikannya pada olahraga tarung bermula ketika masih sangat muda. Hamidi mulai berlatih sekitar usia 13 tahun, setelah menemukan sebuah gym di dekat rumahnya. Dari sana, latihan yang awalnya menjadi aktivitas fisik berkembang menjadi jalan hidup. Ia kemudian menonjol di level junior Eropa dan mengambil langkah ke dunia profesional ketika baru berusia 17 tahun. Perjalanan tersebut menunjukkan karakter yang kemudian menjadi ciri khasnya: berani mengambil tantangan lebih cepat daripada kebanyakan petarung muda dan tidak takut keluar dari zona nyaman. Di lingkungan Strasbourg, ia ditempa dalam kultur gym yang menuntut disiplin, repetisi teknik, kondisi fisik, serta kemampuan beradaptasi terhadap lawan dengan karakter berbeda.

Fondasi karier Hamidi mulai terlihat melalui keberhasilannya merebut AFMT Bantamweight Championship pada 2017. Setahun kemudian, ia memenangkan gelar WKN European Bantamweight setelah menghentikan Samuele Andolina pada ronde kedua. Tahun 2019 menjadi periode penting karena Hamidi menambahkan WBC Muaythai International Bantamweight Championship setelah mengalahkan Frederico Cordeiro melalui keputusan mutlak. Tidak lama berselang, ia merebut ISKA World K-1 Flyweight Championship dengan kemenangan KO ronde kedua atas Sandro Martin. Dua gelar dunia ISKA lainnya kemudian melengkapi reputasinya sebagai salah satu striker muda paling berbahaya di kelas sekitar 55 kilogram.

Perjalanan menuju panggung internasional tidak selalu berjalan mulus. Salah satu pengalaman penting datang ketika Hamidi menghadapi Yoshiki Takei dalam K-1 World Grand Prix 2018 di Jepang. Ia mengalami kekalahan melalui TKO pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi bagian penting dari proses pendewasaannya sebagai petarung. Alih-alih berhenti, Hamidi terus mengembangkan karier di Eropa, menghadapi lawan-lawan dari berbagai negara dan memperkaya pengalamannya. Ia juga sempat mencoba tinju profesional pada 2022 dan memenangkan debutnya atas Jean-Christophe Gomis melalui unanimous decision. Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan tangannya memang menjadi salah satu fondasi utama permainannya.

Kesempatan terbesar datang pada 2023 ketika Hamidi akhirnya memasuki ONE Championship melalui ONE Friday Fights 22. Lawannya adalah Jomhod Eminentair, dan Hamidi langsung memberikan pernyataan keras. Ia menghentikan Jomhod pada ronde kedua melalui pukulan hook kiri ke tubuh—sebuah penyelesaian yang kemudian menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai gaya bertarungnya. ONE mencatat kecepatan tangan serta serangan ke badan sebagai dua senjata utama Hamidi, sementara instingnya untuk mencari penyelesaian membuatnya sangat berbahaya ketika menemukan celah. Kemenangan tersebut bahkan memberinya Performance of the Night.

Namun, level ONE segera memberikan ujian yang jauh lebih berat. Pada ONE Friday Fights 34, Hamidi berhadapan dengan Prajanchai PK Saenchai, salah satu nama elite di divisi tersebut. Pertandingan berlangsung di bawah aturan kickboxing dan Hamidi akhirnya kalah melalui keputusan mutlak. Kekalahan itu justru memperlihatkan bahwa ia mampu bertahan dan beradu teknik dengan juara dunia ONE. Ia kemudian bangkit pada 2024 dengan kemenangan TKO ronde pertama atas Kongchai Chanaidonmueang, sebelum menghadapi legenda Muay Thai Sam-A Gaiyanghadao pada September tahun yang sama. Kali ini Hamidi dihentikan KO pada ronde pertama. Catatan resmi ONE saat ini mencatat rekor Hamidi di organisasi tersebut sebagai 2 kemenangan dan 2 kekalahan.

Secara gaya, Hamidi adalah petarung yang mengandalkan tekanan, kecepatan tangan, kombinasi hook, dan pukulan ke tubuh. Ia tidak membutuhkan banyak ruang untuk menciptakan ancaman karena serangannya dapat muncul dalam rangkaian pendek dan eksplosif. Tubuh lawan menjadi sasaran penting, seperti terlihat saat menghadapi Jomhod. Mentalitasnya juga tampak jelas dari keberaniannya menerima tantangan melawan nama-nama besar. Kekalahan dari Prajanchai dan Sam-A menunjukkan batas yang harus ia lampaui, tetapi pengalaman menghadapi dua mantan atau juara dunia ONE tersebut juga menjadi modal berharga. Metode latihannya bersama Team Valente dan Elite Boxing 67 pada dasarnya berorientasi pada pengulangan teknik, kecepatan, ketahanan fisik, serta kemampuan mempertahankan tekanan ketika tempo pertandingan meningkat.

Pada akhirnya, perjalanan Akram Hamidi bukan sekadar cerita tentang jumlah kemenangan atau koleksi sabuk. Ia adalah kisah seorang petarung Strasbourg yang membangun dirinya dari level junior, menjadi juara Eropa dan dunia di berbagai organisasi, kemudian memaksa masuk ke radar ONE Championship. Data publik yang paling konsisten saat ini mencatat rekor ONE 2–2, sementara angka keseluruhan 55–6 dengan 21 KO yang sering beredar tidak dapat diverifikasi secara meyakinkan dari catatan yang tersedia. Demikian pula, laga melawan Watcharaphon Laochokcharoen di ONE Friday Fights 164 pada 31 Juli 2026 memang terjadwal sebagai pertarungan utama, tetapi sumber yang tersedia belum memberikan hasil resmi yang dapat dipastikan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Alexey Balyko: Petarung Rusia Dengan Hook Kiri Mematikan

Jakarta – Bagi Alexey Balyko, jalan menuju panggung besar Muay Thai tidak ditempuh dengan tetap berada di zona nyaman. Petarung asal Rusia ini justru harus meninggalkan tanah kelahirannya dan pindah ke Phuket, Thailand, demi mendapatkan lingkungan latihan yang mampu membawanya menuju level tertinggi. Di Tiger Muay Thai, salah satu sasana paling terkenal di Thailand, Balyko mengasah kemampuan striking sekaligus membangun reputasi sebagai petarung dengan kekuatan pukulan yang berbahaya. Sebelum memasuki ONE Championship, ia juga beberapa kali mewakili Federasi Muaythai Rusia dalam kompetisi IFMA.

Perpindahan ke Thailand menjadi titik penting dalam perkembangan kariernya. Balyko tidak hanya berlatih, tetapi juga mendapatkan kesempatan menghadapi lawan-lawan dari berbagai negara dalam kompetisi Muay Thai. Data yang terdokumentasi mencatat kemenangan KO atas Phayanoi Sitniwat pada 2018, hasil imbang melawan Thong AyothayaFightGym pada 2019, serta beberapa pertandingan lainnya di Thailand. Namun, sebagian besar karier awalnya tidak terdokumentasi selengkap pertarungan-pertandingannya di ONE, sehingga angka rekor keseluruhan dari berbagai database harus dibaca dengan hati-hati.

Kesempatan besar datang pada ONE Friday Fights 33, 15 September 2023. Dalam debutnya, Balyko langsung menghadapi salah satu prospek Thailand yang sedang naik daun, Yod-IQ Or Pimolsri, dalam laga catchweight 150 pound. Balyko tampil agresif, terus menekan meski menghadapi lawan yang memiliki keunggulan tinggi badan. Pada ronde kedua, hook kiri kerasnya menjatuhkan Yod-IQ. Ia kemudian mempertahankan tekanan sampai bel berbunyi dan memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak. Kemenangan tersebut menjadi salah satu momen terpenting dalam kariernya karena menjadikannya orang pertama yang mengalahkan Yod-IQ di ONE Friday Fights.

Momentum itu berlanjut pada ONE Friday Fights 47 Januari 2024. Balyko menghadapi veteran Thailand sekaligus mantan juara dunia Lumpinee dalam tiga divisi, Suakim Sor Jor Tongprajin. Lagi-lagi, senjata utamanya bekerja. Hook kiri Balyko menghantam Suakim dan menghasilkan kemenangan KO pada ronde ketiga. Hasil tersebut memperkuat citranya sebagai striker yang tidak membutuhkan banyak kesempatan untuk mengubah jalannya pertarungan. Dua bulan kemudian ia mengalami kekalahan melalui keputusan dari Panrit Lukjaomaesaiwaree, tetapi segera bangkit. Pada ONE Fight Night 23, 6 Juli 2024, Balyko menghentikan Stefan Korodi dengan KO pada ronde pertama.

Setelah kemenangan atas Korodi, level tantangannya meningkat drastis. Pada Oktober 2024, ia menghadapi mantan bintang UFC John Lineker dalam Muay Thai di ONE Fight Night 25 dan kalah melalui KO ronde pertama. Dua bulan kemudian, Balyko kembali kalah dari Komawut FA Group melalui keputusan mutlak dalam laga catchweight 140 pound. Memasuki 2025, ia kembali naik ring melawan Gingsanglek Tor Laksong di ONE Friday Fights 115. Kali ini, petarung Rusia tersebut justru dihentikan hanya dalam 53 detik melalui spinning backfist. Kekalahan itu memperlihatkan betapa tipis jarak antara agresivitas dan risiko ketika seorang striker menghadapi lawan dengan timing elite.

Balyko kemudian mendapatkan kesempatan untuk membalikkan keadaan dalam pertandingan ulang melawan Yod-IQ di ONE Friday Fights 137 pada 19 Desember 2025. Pertarungan tersebut menjadi penting karena Yod-IQ datang dengan misi membalas satu-satunya kekalahannya di ONE. Kali ini situasinya berbeda. Yod-IQ berhasil menjatuhkan Balyko dengan high kick kanan dan mengakhiri pertarungan pada menit 2:06 ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi kekalahan ketiga beruntun bagi Balyko setelah sebelumnya tumbang dari Komawut dan Gingsanglek.

Secara gaya bertarung, Balyko adalah striker yang mengandalkan tekanan, boxing, dan kekuatan pukulan. ONE secara khusus menggambarkannya sebagai petarung dengan dangerous boxing dan devastating knockout power. Hook kiri menjadi senjata khasnya, terutama ketika ia berhasil masuk ke jarak dekat. Ia tidak selalu menunggu lawan melakukan kesalahan; Balyko cenderung menciptakan situasi tersebut dengan tekanan konstan dan pertukaran pukulan. Kemenangan atas Yod-IQ, Suakim, dan Korodi menjadi bukti betapa efektif pendekatan tersebut ketika timing dan akurasinya bekerja.

Mentalitas Balyko juga terlihat dari keputusannya meninggalkan Rusia untuk berlatih di Thailand. Ia memahami bahwa untuk mencapai puncak, ia harus berada di lingkungan yang setiap hari menuntut peningkatan. Latihan di Tiger Muay Thai mempertemukannya dengan petarung elite dari berbagai disiplin, termasuk Fabricio Andrade, yang disebut ONE sebagai salah satu rekan latihannya. Bagi Balyko, latihan bukan sekadar persiapan menuju satu pertandingan, tetapi bagian dari proses membangun dirinya sebagai petarung internasional.

Secara catatan, ONE saat ini mencatat Balyko memiliki 3 kemenangan dan 5 kekalahan di ONE Championship, dengan dua kemenangan melalui KO. Untuk rekor keseluruhan, sumber yang mengompilasi kariernya mencatat 23-15-1 setelah kekalahan dari Yod-IQ pada Desember 2025, sementara Muay Thai Records hanya mendokumentasikan sebagian pertarungannya dan menampilkan 4-5-1. Karena itu, angka 23-15-1 lebih tepat dipakai sebagai rekor keseluruhan yang dikutip dalam sumber karier ONE, bukan sebagai klaim bahwa seluruh pertandingan profesional Balyko telah terdokumentasi secara universal.

Perjalanan Balyko pada akhirnya bukan kisah tentang petarung yang selalu menang. Ia adalah striker Rusia yang berani meninggalkan lingkungan asalnya, membangun diri di Thailand, menumbangkan prospek seperti Yod-IQ dan veteran seperti Suakim, lalu harus menghadapi konsekuensi ketika level lawan semakin tinggi. Hook kiri mungkin menjadi ciri khasnya, tetapi keberanian untuk terus mencari tantangan adalah bagian yang paling menonjol dari perjalanan kariernya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Yamin P.K. Saenchai: Petarung Dengan Tendangan Mematikan

Jakarta – Nama Yamin P.K. Saenchai mungkin belum sebesar sejumlah bintang Muay Thai Thailand di panggung internasional, tetapi perjalanan kariernya menunjukkan bahwa ia dibentuk melalui lingkungan kompetisi yang keras. Lahir pada 14 Januari 1996, Yamin berasal dari Thailand dan kemudian menjadi bagian dari P.K. Saenchai Muay Thai Gym, salah satu sasana yang identik dengan tradisi Muay Thai berkualitas tinggi. Ia tumbuh sebagai petarung dengan postur yang cukup tinggi untuk kelasnya, sekitar 180 sentimeter, dan menggunakan stance southpaw atau kidal. Data Evolve MMA juga mencatat Chonburi sebagai kampung halamannya dan menempatkan Yamin sebagai salah satu instruktur Muay Thai di sana.

Seperti banyak petarung Thailand, jalan Yamin menuju level profesional tidak dibangun melalui satu pertandingan besar, melainkan melalui bertahun-tahun pertarungan di arena domestik. Pengalamannya di stadion tradisional Thailand seperti Lumpinee dan Rajadamnern menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pada 2017, namanya sudah tercatat meraih kemenangan atas Chorfah Tor Sangtiennoi di Lumpinee dan kemudian menghentikan Rangkhao Wor Sangprapai melalui knockout ronde kedua di Rajadamnern. Setahun berikutnya ia mengalahkan Mongkolpetch Petchyindee melalui keputusan di Rajadamnern. Rangkaian pertandingan itu memperlihatkan bahwa Yamin bukan petarung yang muncul secara tiba-tiba di ONE, melainkan telah menjalani proses panjang di panggung Muay Thai Thailand.

Periode 2018–2019 menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan mental kompetitifnya. Yamin beberapa kali berhadapan dengan Superball Tded99. Pada 4 Oktober 2018 ia kalah angka, tetapi pada 30 Mei 2019 ia membalas dengan kemenangan knockout ronde kedua. Persaingan itu kemudian berbalik lagi: Superball menang KO ronde kedua pada September 2019 dan kembali menang melalui keputusan pada November. Di tengah rangkaian tersebut, Yamin juga menghadapi Panpayak Jitmuangnon pada Juli 2019 dan kalah melalui keputusan. Panpayak bukan lawan sembarangan—ia merupakan juara stadion bergengsi dan salah satu nama elite generasinya. Menghadapi petarung dengan kualitas seperti itu menjadi bagian dari proses Yamin menguji kemampuannya di level tertinggi Muay Thai Thailand.

Kesempatan tampil di panggung global akhirnya datang melalui ONE Championship. Yamin melakukan debut di ONE Friday Fights 33 pada September 2023, menghadapi Zhang Jinhu dalam pertarungan Muay Thai kelas bantamweight. Debut itu langsung berakhir impresif ketika Yamin menghentikan Zhang melalui knockout dengan serangan siku pada ronde ketiga. Sebelumnya, pada Juli 2023, ia juga meraih kemenangan atas Angelos Giakoumis di Fairtex Fight. Dua kemenangan tersebut menjadi jembatan menuju posisi yang lebih besar di ONE.

Momentum terbaiknya datang di ONE Friday Fights 59 pada 19 April 2024. Yamin menjadi main event melawan Joachim Ouraghi dalam laga Muay Thai kelas flyweight. Pertarungan itu bahkan tidak berlangsung satu menit. Sebuah tendangan tinggi kiri Yamin mengenai lawannya dan menyebabkan cedera pada jari Ouraghi. Setelah pemeriksaan dokter, Ouraghi dinyatakan tidak dapat melanjutkan pertandingan sehingga Yamin dinyatakan menang TKO hanya dalam 36 detik. ONE mencatat kemenangan tersebut membuat rekor Yamin di organisasinya menjadi 2-0 dan saat itu mencatat rekor keseluruhannya 84-26-2.

Namun, perjalanan di ONE kemudian menghadirkan ujian yang lebih berat. Pada Agustus 2024, Yamin berhadapan dengan Ibragim Abdulmezhidov di ONE Friday Fights 74 dalam pertarungan catchweight 137 pound. Kali ini ia kalah melalui knockout pada ronde kedua. Lebih dari setahun kemudian, Yamin kembali ke ring menghadapi Sonrak Fairtex di ONE Friday Fights 130 pada Oktober 2025. Ia mencoba menjaga jarak dengan push kick, high kick, dan teep, tetapi Sonrak berhasil membaca momen ketika Yamin masuk menggunakan jab. Sebuah right hook Sonrak menjatuhkannya dan menghasilkan kekalahan KO pada ronde pertama.

Secara gaya bertarung, Yamin merupakan striker yang memanfaatkan jangkauan, permainan kaki, dan senjata dari posisi southpaw. Tingginya sekitar 180 sentimeter membuatnya memiliki keuntungan jangkauan di kelas 61 kilogram, sementara tendangan kiri menjadi salah satu senjata paling berbahayanya. Kemenangan atas Ouraghi menjadi contoh paling jelas bagaimana ia mampu mengakhiri pertarungan hanya dengan satu serangan yang tepat. Dalam laga melawan Sonrak, ONE juga menyoroti penggunaan push kick, high kick, dan teep yang menunjukkan kecenderungannya menjaga jarak sebelum memilih momen menyerang.

Di luar ring, Yamin juga memiliki sisi sebagai pelatih. Evolve MMA mencatatnya sebagai Kru Yamin dan menyebut ia memiliki lebih dari lima tahun pengalaman melatih. Pendekatan yang dibawa bukan hanya soal kekuatan serangan, tetapi juga presisi teknik dan fundamental yang terstruktur. Hal itu sejalan dengan karakter permainannya: tidak sekadar mengejar pertukaran pukulan, melainkan menggunakan jarak, timing, dan pemilihan senjata untuk menciptakan peluang.

Karier Yamin menunjukkan perjalanan seorang petarung Thailand yang harus terus membuktikan dirinya, dari stadion tradisional hingga panggung internasional ONE Championship. Ia belum mencapai status juara dunia ONE, tetapi pengalaman menghadapi nama-nama seperti Panpayak, Superball, Zhang, Ouraghi, Abdulmezhidov, dan Sonrak membuat kariernya penuh dengan ujian. Rekor yang tercatat di database publik saat ini adalah 7-6-0 dengan empat kemenangan KO/TKO, tetapi angka tersebut jelas tidak mencakup seluruh pertarungan profesionalnya; ONE sendiri pernah mencatat Yamin dengan rekor keseluruhan 84-26-2 pada April 2024. Karena itu, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai catatan pertandingan yang terdokumentasi dalam database, bukan keseluruhan karier Muay Thai-nya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Nontachai Jitmuangnon: Striker Thailand Di ONE Championship

Jakarta – Tidak semua petarung Muay Thai memulai perjalanan dengan ambisi menjadi bintang. Nontachai Jitmuangnon justru mengenal bela diri dari sesuatu yang sederhana: kesenangan. Lahir di Chumphon, Thailand, pada 25 April 1999, Nontachai baru mulai berlatih Muay Thai ketika berusia 15 tahun. Dari latihan yang awalnya dilakukan untuk bersenang-senang, bakatnya perlahan terlihat dan membawanya memasuki dunia pertandingan profesional. Dalam beberapa tahun, ia berkembang dari petarung lokal menjadi salah satu striker Thailand yang mendapat panggung di ONE Championship.

Berbeda dengan banyak petarung Thailand yang telah masuk ring sejak usia kanak-kanak, Nontachai datang relatif terlambat. Namun, keterlambatan tersebut tidak menghalanginya mengejar ketertinggalan. Ia menempa kemampuan di lingkungan Jitmuangnon Gym, salah satu nama penting dalam tradisi Muay Thai Thailand. Rekor yang tercatat dalam database Muay Thai Records menunjukkan bahwa ia telah menjalani puluhan pertandingan sebelum namanya benar-benar dikenal secara internasional. Salah satu catatan yang dipublikasikan FightBook MMA menyebut rekor kariernya berada di kisaran 53 kemenangan dan 22 kekalahan, meski pencatatan rekor Muay Thai memang dapat berbeda antar-database karena tidak semua pertandingan lokal terdokumentasi secara seragam.

Kesempatan besar datang pada Juli 2024 ketika Nontachai melakukan debut di ONE Championship melalui ONE Friday Fights 69. Ia masuk ke panggung global bukan sebagai petarung yang sudah memiliki nama besar, tetapi sebagai striker yang harus membuktikan bahwa pengalamannya di sirkuit Thailand dapat diterjemahkan ke dalam kompetisi ONE. Debut tersebut menjadi titik penting karena sejak saat itu setiap pertarungan menghadirkan lawan dengan gaya dan latar belakang yang semakin beragam.

Salah satu penampilan yang memperkuat reputasinya terjadi pada 8 November 2024 di ONE Friday Fights 86. Menghadapi Dmitrii Kovtun dalam pertarungan catchweight 150 pound, Nontachai tampil agresif dan menyelesaikan pertandingan pada ronde kedua. Ia menggabungkan knee ke tubuh dengan pukulan untuk menghasilkan kemenangan KO pada menit 2:39. Penampilan tersebut juga membuatnya menerima bonus penampilan US$10.000. Kemenangan itu memperlihatkan karakter Nontachai sebagai petarung yang tidak takut menaikkan tempo dan memanfaatkan celah ketika lawan mulai kehilangan keseimbangan.

Perjalanan berikutnya menghadirkan ujian yang lebih berat. Pada 12 Juli 2025, Nontachai menghadapi Abdulla Dayakaev dalam pertarungan Muay Thai 70,3 kilogram dan mengalami kekalahan KO pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi salah satu titik paling sulit dalam perjalanannya di ONE. Namun, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali. Pada 24 Oktober 2025, Nontachai turun ke kelas bantamweight dan menghadapi Soner Sen. Ia berhasil meraih kemenangan melalui majority decision setelah menjatuhkan Sen dalam pertarungan tersebut. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa ia mampu merespons kemunduran dengan kembali bekerja, bukan sekadar mengandalkan reputasi masa lalu.

Pada 6 Maret 2026, Nontachai kembali menunjukkan perkembangan tersebut ketika menghadapi Semih Sah Cindir di ONE Friday Fights 145. Kali ini ia tampil di featherweight Muay Thai dan menang melalui TKO pada ronde ketiga, sekitar 1:56. Pertandingan itu menjadi lebih dari sekadar kemenangan karena Nontachai sebelumnya mengakui adanya kritik terhadap gaya bertarungnya. Ia merespons kritik tersebut dengan memperbaiki detail dalam latihan dan memperluas variasi serangannya. ONE sendiri menggambarkan persiapannya sebagai upaya membangun “arsenal” yang lebih berbahaya.

Secara teknis, Nontachai merupakan produk khas Muay Thai Thailand: ia menggunakan delapan anggota tubuh sebagai senjata, dengan pukulan, tendangan, lutut, dan siku yang dipadukan untuk menciptakan tekanan. Namun, perkembangannya menunjukkan bahwa ia tidak ingin sekadar menjadi petarung yang mengandalkan volume serangan. Kekalahan dari Dayakaev membuatnya harus mengevaluasi kembali pendekatan bertarungnya, sementara kemenangan atas Cindir memperlihatkan peningkatan kemampuan menyelesaikan pertandingan. Mentalitas seperti inilah yang menjadi bagian penting dari perkembangan kariernya—menerima kritik, kembali ke gym, lalu menjawabnya melalui performa di ring.

Menariknya, Nontachai sebenarnya dijadwalkan menghadapi Kiamran Nabati pada Agustus 2026 dalam duel Muay Thai kelas bantamweight di ONE Fight Night 46. Pertandingan tersebut kemudian dibatalkan setelah Nontachai jatuh sakit dan harus mendapat perawatan di rumah sakit. Pembatalan itu membuat duel yang dinanti antara dua striker tersebut belum terwujud.

Pada usia 27 tahun, perjalanan Nontachai masih berada dalam fase berkembang. Ia belum memiliki status juara dunia ONE, tetapi jalurnya menunjukkan sesuatu yang tidak kalah penting: kemampuan beradaptasi. Dari anak Chumphon yang baru mengenal Muay Thai pada usia 15 tahun, ia berkembang menjadi petarung profesional dengan puluhan pertandingan, pengalaman di berbagai kelas berat, kemenangan KO, serta pengalaman menghadapi kekalahan di panggung internasional. Rekornya memang sulit dirangkum dalam satu angka yang benar-benar universal karena perbedaan pencatatan pertandingan Muay Thai, tetapi justru perjalanan panjang itulah yang menjelaskan identitasnya. Nontachai bukan petarung yang selesai dibentuk—ia masih terus ditempa setiap kali memasuki ring.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Kiamran Nabati: Dari Rusia Ke Panggung ONE Championship

Jakarta – Kiamran Rashidovich Nabati adalah gambaran petarung yang membangun reputasinya bukan melalui banyak bicara, melainkan lewat konsistensi di dalam ring. Lahir pada 23 November 1994 di Buynaksk, Rusia, Nabati tumbuh menjadi salah satu striker paling berbahaya dari generasinya. Berbasis di Podolsk dan berlatih bersama Archangel Michel, ia dikenal sebagai petarung Muay Thai dan kickboxing dengan gaya orthodox yang memadukan ketenangan membaca lawan dengan kemampuan menciptakan kerusakan dalam waktu singkat. ONE Championship bahkan menggambarkannya sebagai striker dengan naluri seorang finisher sekaligus pendekatan yang kalkulatif.

Perjalanan Nabati menuju level profesional dimulai dari kompetisi amatir Muay Thai. Sejak usia muda, ia sudah mengumpulkan prestasi di Rusia dan ajang internasional. Ia tercatat sebagai juara Russian Muaythai Cup sebanyak lima kali dan beberapa kali menjadi juara Russian Championships. Di level IFMA, Nabati juga meraih sejumlah medali, termasuk emas Kejuaraan Dunia Junior 2010 dan emas Kejuaraan Eropa Junior 2011. Pada 2015, ia memperoleh gelar Master of Sports of Russia tingkat internasional. Pengalaman panjang di level amatir tersebut membentuk fondasi teknis yang kemudian menjadi ciri khasnya: disiplin, penguasaan jarak, serta kemampuan bertarung dengan tempo tinggi tanpa kehilangan kontrol.

Nabati menjalani debut profesional Muay Thai pada 17 September 2015 melawan Jaotalae Lukjaoporongtom di Thai Fight Moscow dan menang melalui keputusan. Setelah itu, perjalanan kariernya sempat menghadapi periode sulit akibat hukuman larangan bertanding dari IFMA. Pada 2017 ia menerima larangan enam tahun setelah pelanggaran terkait doping. Setelah masa tersebut, Nabati kembali membangun karier profesionalnya dan mulai menegaskan dirinya sebagai salah satu petarung striking terbaik dari Rusia.

Kebangkitannya semakin terlihat ketika bergabung dengan Fair Fight. Pada 2022, Nabati memenangkan turnamen kelas featherweight 65 kilogram dan kemudian mempertahankan gelarnya dua kali. Salah satu momen penting datang pada Agustus 2023 ketika ia menghadapi Phal Sophorn di RCC Fair Fight 22. Nabati menghentikan lawannya dengan spinning heel kick pada ronde pertama, sebuah kemenangan yang memperlihatkan bahwa kreativitas serangannya sama berbahayanya dengan kekuatan pukulan konvensional. Tak lama kemudian, ONE Championship membuka pintu untuknya.

Debut Nabati di ONE terjadi pada ONE Friday Fights 35, September 2023. Ia menghadapi Pongsiri PK Saenchai, veteran Thailand dengan pengalaman lebih dari 200 pertandingan dan beberapa gelar dunia Muay Thai. Nabati tidak hanya menang melalui keputusan mutlak, tetapi juga memperlihatkan bahwa dirinya mampu menghadapi petarung berpengalaman dalam tekanan besar. Setelah itu ia mengalahkan Avatar PK Saenchai melalui keputusan mutlak pada Maret 2024.

Terobosan terbesar datang pada Juni 2024. Menghadapi Suablack Tor Pran49 di ONE Friday Fights 68, Nabati melepaskan left hook yang menjatuhkan lawannya pada ronde pertama. Kemenangan tersebut membuatnya memperoleh kontrak bernilai enam digit dengan ONE Championship dan mengukuhkan posisinya di roster global. Tiga bulan kemudian, tantangan yang lebih besar menanti: mantan juara dunia ONE Nong-O Hama. Nabati kembali menunjukkan kedewasaan taktiknya dan menang melalui keputusan mutlak pada ONE Friday Fights 81.

Namun, perjalanan Nabati tidak sepenuhnya mulus. Pertarungannya melawan Ferrari Fairtex pada Januari 2025 sempat berakhir dengan kemenangan KO untuk Nabati, tetapi hasil tersebut kemudian diubah menjadi no contest setelah kedua petarung dinyatakan positif zat terlarang. ONE kemudian menjatuhkan hukuman suspensi kepada Nabati. Situasi tersebut menjadi bagian kontroversial dalam perjalanan kariernya dan membuat pencapaian di ring harus selalu dilihat bersama konsekuensi di luar ring.

Sebelum menghadapi Yod-IQ Or Pimolsri pada 22 Mei 2026, Nabati datang dengan rekor profesional 23 kemenangan tanpa kekalahan. Ia akhirnya merasakan kekalahan pertama setelah Yod-IQ mengalahkannya melalui split decision. Pertandingan tersebut menjadi ujian baru bagi mentalitas kompetitifnya. Nabati kemudian dijadwalkan menghadapi Nontachai Jitmuangnon pada ONE Fight Night 46, tetapi laga itu batal setelah Nontachai mundur karena sakit.

Secara gaya bertarung, Nabati adalah striker yang tidak sekadar mengandalkan agresivitas. Ia mampu menekan lawan, tetapi tetap mencari celah dengan sabar sebelum melancarkan serangan keras. Kombinasi pukulan, tendangan, serangan berputar, serta kemampuan membaca momentum membuatnya sulit ditebak. Ia juga memiliki naluri menyelesaikan pertarungan ketika kesempatan terbuka. ONE menyebutnya sebagai petarung yang menggabungkan naluri penghancur dengan pendekatan taktis.

Detail mengenai rutinitas latihan hariannya tidak banyak dipublikasikan secara rinci. Yang jelas, Nabati dibentuk oleh tradisi Muay Thai Rusia, pengalaman panjang dalam kompetisi amatir, serta lingkungan latihan Archangel Michel. Mentalitasnya terlihat dari cara ia kembali membangun karier setelah hukuman, menaklukkan sejumlah nama besar Thailand, dan kemudian menghadapi kekalahan pertama tanpa menghilangkan ambisinya. Kini, dengan rekor profesional yang tercatat 23–1 dan satu no contest, Nabati masih menjadi salah satu striker berbahaya di kelas bantamweight Muay Thai ONE Championship. Kekalahan dari Yod-IQ mungkin menghentikan rekor sempurnanya, tetapi sekaligus membuka babak baru: bagaimana seorang petarung yang sebelumnya selalu menang merespons untuk pertama kalinya ketika dunia memperlihatkan bahwa dirinya juga bisa dikalahkan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Julio Lobo, Petarung Brasil Di ONE Championship

Jakarta – Nama Julio Lobo mungkin belum setenar bintang-bintang Muay Thai Thailand, tetapi perjalanan petarung Brasil ini memperlihatkan bagaimana ketekunan dapat membawa seorang striker dari luar Asia ke panggung terbesar. Lahir pada 10 Juni 1994, Lobo dikenal dengan nama lengkap Julio Cesar Casanova Lobo Silva Ferreira. Ia memiliki tinggi sekitar 180 cm dan bertanding di kelas bantamweight Muay Thai. Saat ini, ia berlatih serta bertanding dari Phuket Fight Club, Thailand. Berbeda dari sejumlah nama yang kerap dikaitkan dengan MMA, Lobo pada dasarnya adalah spesialis Muay Thai. Rekor MMA profesionalnya tercatat 0-0, sementara karier Muay Thai-nya telah mencapai puluhan kemenangan.

Detail mengenai masa kecil Lobo dan kapan tepatnya ia pertama kali mengenal bela diri memang tidak banyak dipublikasikan. Namun, perjalanan kariernya menunjukkan bahwa Muay Thai kemudian menjadi pusat kehidupannya. Ia membangun reputasi sebagai striker kelas bantamweight dengan kemampuan clinch yang kuat dan gaya bertarung agresif. Sebelum mendapatkan panggung ONE Championship, Lobo telah mengumpulkan pengalaman panjang menghadapi petarung-petarung Thailand. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika ia kemudian memilih Phuket Fight Club sebagai basis latihannya dan masuk ke lingkungan kompetisi Muay Thai yang sangat kompetitif. ONE sendiri menggambarkannya sebagai petarung dengan kemampuan clinch kelas dunia dan gaya all-action.

Kesempatan besar datang pada 6 Oktober 2023 ketika Lobo menjalani debutnya di ONE Friday Fights 36. Turun di kelas bantamweight, lawannya bukan nama sembarangan, melainkan Superball TDed99, petarung Thailand yang berpengalaman. Duel di Lumpinee Stadium tersebut berlangsung tiga ronde dan berakhir dengan kemenangan Superball melalui keputusan mutlak. Kekalahan itu menjadi awal yang berat, tetapi tidak membuat Lobo kehilangan arah. Hanya sekitar tujuh pekan kemudian, ia kembali ke arena yang sama untuk menghadapi mantan juara Muay Thai Lumpinee, Kaonar Sor Jor Thongprajin. Kali ini ceritanya berubah drastis.

Pada ONE Friday Fights 42, 24 November 2023, Lobo tampil jauh lebih agresif di kelas bantamweight. Setelah dua ronde yang berlangsung keras, ia menemukan celah pada ronde ketiga. Lobo menekan Kaonar ke tali ring, kemudian melepaskan kombinasi siku kanan, hook kiri, dan overhand kanan yang menjatuhkan lawannya. Wasit menghentikan pertandingan pada 46 detik ronde ketiga. Kemenangan tersebut menjadi salah satu tonggak penting karier Lobo sekaligus membuat rekor kariernya ketika itu menjadi 59-26-2.

Namun, dunia Muay Thai kembali menguji ketahanannya. Pada Februari 2024, Lobo menghadapi Kulabdam Sor Jor Piek Uthai dalam laga utama ONE Friday Fights 52 di kelas bantamweight. Ia harus menerima kekalahan TKO akibat aturan tiga knockdown pada ronde pertama. Setelah itu, Lobo tidak langsung kembali ke ONE. Ia menjalani sejumlah pertandingan di Thailand, termasuk hasil imbang dan kekalahan melawan Alessandro Sara, sebelum bangkit dengan kemenangan pada 2025. Periode tersebut memperlihatkan sisi lain karier seorang petarung veteran: kemajuan tidak selalu berjalan lurus, dan kekalahan menjadi bagian dari proses mempertahankan level kompetitif.

Kebangkitan Lobo terlihat ketika ia kembali ke ONE pada November 2025. Menghadapi Worapon Lukjaoporongtom di ONE Friday Fights 135, ia bertarung selama tiga ronde dalam kelas bantamweight dengan kombinasi clinch, siku, lutut, serta pukulan ke tubuh. Lobo akhirnya menang melalui keputusan mutlak. Lima bulan kemudian, ia kembali menghadapi Kongklai Sor Sommai di ONE Friday Fights 152. Pertarungan berlangsung keras, tetapi Lobo mampu menjatuhkan Kongklai pada ronde ketiga dan mengamankan kemenangan melalui keputusan mutlak. Hasil tersebut menjadi kemenangan ke-66 dalam kariernya.

Puncaknya datang pada 26 Juni 2026 dalam The Inner Circle 20. Menghadapi veteran Thailand PTT Apichart Farm di kelas bantamweight, Lobo justru sempat dijatuhkan oleh pukulan kanan pada ronde pertama. Alih-alih mundur, ia mengubah pertarungan menjadi adu tekanan pada ronde kedua. Lobo melepaskan rentetan pukulan tanpa henti hingga wasit menghentikan laga pada menit 2:01. Kemenangan TKO itu merupakan kemenangan ketiganya secara beruntun di ONE, memberinya bonus penampilan dan disebut ONE sebagai kemenangan terbesar dalam kariernya.

Di sinilah karakter Lobo paling jelas terlihat. Ia bukan petarung kelas bantamweight yang mengandalkan satu serangan spektakuler, melainkan tekanan bertahap, pukulan keras, clinch, serta keberanian bertarung di jarak dekat. Saat menghadapi PTT, Lobo mengungkapkan bahwa timnya memintanya “mengambil kembali ronde tersebut” setelah knockdown, dan ia memilih bertarung dengan hati. Filosofinya sederhana: bekerja keras setiap hari, menghadapi tantangan satu per satu, lalu membiarkan penampilan di ring berbicara. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terburu-buru memikirkan gelar dunia dan memilih fokus pada pertarungan berikutnya.

Metode latihannya di Phuket Fight Club pun berpusat pada disiplin dan tekanan berulang. Lobo mengatakan bahwa dirinya berlatih keras setiap hari bersama pelatih yang terus mendorong dan menantangnya. Pola tersebut terlihat dalam gaya bertarungnya: ia mampu tetap aktif setelah menerima serangan, meningkatkan tekanan ketika lawan mulai lelah, dan memanfaatkan kombinasi pukulan untuk membuka pertahanan. Hingga kemenangan atas PTT pada Juni 2026, ONE mencatat Lobo telah mengoleksi 67 kemenangan dalam kariernya. Sementara itu, rekor ONE-nya telah berkembang menjadi tiga kemenangan beruntun sejak kekalahan dari Kulabdam.

Bagi Julio Lobo, perjalanan di ONE belum selesai. Ia masih mengejar kontrak bernilai US$100.000 yang menjadi salah satu hadiah terbesar di jalur ONE Friday Fights/The Inner Circle. Ambisinya tidak dibungkus dengan klaim berlebihan. Lobo memilih pendekatan selangkah demi selangkah, pertarungan demi pertarungan. Dari Brasil menuju Thailand, dari kekalahan debut melawan Superball hingga comeback dramatis atas PTT, kisahnya adalah tentang seorang striker veteran kelas bantamweight yang menolak berhenti berkembang. Dan selama pukulannya masih mampu berbicara, Lobo masih punya alasan untuk terus mengejar panggung yang lebih besar.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

John Davis, “The Machine”: Sang Pemukul Keras Di Power Slap

Jakarta – Dalam dunia olahraga tarung, hanya sedikit kompetisi yang memancing perdebatan sekaligus menarik perhatian sebesar Power Slap. Mengandalkan kekuatan, ketahanan mental, dan kemampuan menerima maupun melancarkan pukulan, ajang ini melahirkan sejumlah nama yang langsung menjadi ikon sejak musim pertamanya. Salah satunya adalah John Davis, petarung asal Salem, Ohio, Amerika Serikat, yang dikenal dengan julukan “The Machine”. Bertarung di divisi middleweight (84 kg) dengan tinggi 183 sentimeter, Davis menjadi salah satu wajah paling dikenal pada era awal Power Slap setelah sukses merebut gelar juara dunia. Berkat kombinasi pukulan eksplosif, ketenangan saat menerima serangan, serta mental bertanding yang tangguh, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu kompetitor paling berbahaya di divisinya.

Meski lebih dikenal melalui Power Slap, perjalanan Davis sebenarnya berakar dari dunia seni bela diri. Ia tumbuh di Salem dengan ketertarikan besar terhadap olahraga yang mengandalkan disiplin fisik dan mental. Davis kemudian mengasah kemampuannya di Next Level Martial Arts Academy, tempat ia mempelajari berbagai dasar teknik bela diri, mulai dari striking hingga latihan penguatan tubuh. Walaupun Power Slap memiliki aturan yang berbeda dengan olahraga tarung konvensional, latar belakang tersebut membentuk fondasi penting dalam menjaga keseimbangan, kekuatan inti tubuh, kontrol pernapasan, dan ketahanan menghadapi benturan keras. Latihan yang dijalaninya tidak hanya berfokus pada kekuatan pukulan, tetapi juga kemampuan menyerap benturan tanpa kehilangan konsentrasi.

Ketika Power Slap resmi diperkenalkan sebagai organisasi profesional pada 2023, Davis termasuk salah satu atlet yang langsung menarik perhatian. Penampilannya sejak awal menunjukkan karakter petarung yang agresif, percaya diri, dan memiliki pukulan dengan tenaga besar. Kesempatan emas datang di Power Slap 1, ketika ia menghadapi Azael Rodriguez untuk memperebutkan gelar Middleweight Champion. Dalam pertarungan yang berlangsung sengit, Davis mampu mengakhiri duel melalui knockout, sebuah kemenangan yang sekaligus menjadikannya juara dunia middleweight pertama dalam sejarah organisasi tersebut. Gelar itu menjadi tonggak penting, baik bagi karier pribadinya maupun perkembangan Power Slap sebagai cabang olahraga baru.

Status sebagai juara dunia membawa tantangan baru. Pada Power Slap 2, Davis menjalani pertahanan gelar pertamanya. Ia kembali memperlihatkan kualitas sebagai petarung elite dengan mempertahankan sabuk juara melalui kemenangan yang mempertegas dominasinya di divisi middleweight. Keberhasilan mempertahankan gelar membuat julukan “The Machine” semakin melekat. Banyak penggemar mengagumi kemampuannya menghasilkan pukulan yang konsisten bertenaga tanpa kehilangan akurasi, sekaligus tetap tenang ketika harus menerima pukulan balasan dari lawan.

Namun, seperti banyak kisah dalam olahraga profesional, perjalanan Davis tidak selalu berada di puncak. Seiring berkembangnya Power Slap, kualitas para penantang juga meningkat. Tantangan terberat datang pada Power Slap 9 yang digelar di Abu Dhabi pada 2024. Dalam laga melawan Isaiah Quinones, Davis harus mengakui keunggulan lawannya setelah kalah melalui technical knockout (TKO). Kekalahan tersebut mengakhiri statusnya sebagai salah satu penguasa divisi, sekaligus menjadi pengingat bahwa persaingan di Power Slap semakin ketat. Meski demikian, Davis tetap menunjukkan sikap profesional dengan menerima hasil tersebut dan kembali berlatih untuk memperbaiki performanya.

Kariernya terus berlanjut dengan menghadapi berbagai lawan baru di divisi middleweight. Pada Power Slap 19 tahun 2026, Davis kembali tampil dalam salah satu pertandingan yang paling banyak diperbincangkan ketika menghadapi Stunt Marshall. Sayangnya, malam itu tidak berjalan sesuai harapan. Davis harus menerima kekalahan melalui knockout, hasil yang kembali memperlihatkan kerasnya persaingan di level tertinggi. Meskipun mengalami dua kekalahan penting dalam beberapa tahun terakhir, reputasinya sebagai mantan juara dunia dan salah satu pelopor Power Slap tidak pernah benar-benar memudar. Banyak penggemar tetap menghormatinya sebagai atlet yang membantu membangun popularitas organisasi sejak awal berdiri.

Salah satu faktor yang membuat Davis dihormati adalah filosofi bertarungnya. Ia percaya bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh kekuatan pukulan, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan emosi dan tetap fokus dalam tekanan tinggi. Karena itu, metode latihannya mencakup latihan kekuatan leher, bahu, dan otot inti, latihan daya ledak untuk meningkatkan tenaga pukulan, serta pengondisian mental agar tetap tenang ketika menerima benturan keras. Gaya bertarungnya identik dengan pukulan lurus yang eksplosif dan penuh komitmen. Ia jarang mengandalkan strategi yang rumit, melainkan lebih memilih memaksimalkan kekuatan alami dan akurasi untuk menghasilkan pukulan yang mampu mengakhiri pertandingan.

Hingga saat ini, John Davis masih dikenang sebagai salah satu nama penting dalam sejarah awal Power Slap. Rekor profesionalnya mencatat 5 kemenangan dan 2 kekalahan, dengan rincian 2 kemenangan melalui KO/TKO serta 3 kemenangan melalui keputusan. Di balik angka tersebut, tersimpan perjalanan seorang atlet yang ikut membentuk identitas organisasi sejak musim pertamanya. Meski pernah kehilangan gelar dan mengalami kekalahan di panggung besar, “The Machine” tetap menjadi simbol keberanian, daya tahan, dan dedikasi terhadap olahraga yang menuntut kekuatan fisik sekaligus mental. Namanya akan selalu tercatat sebagai salah satu juara pertama yang membantu memperkenalkan Power Slap kepada dunia sekaligus membuktikan bahwa keberhasilan sejati lahir dari keberanian menghadapi tantangan, baik saat berada di puncak maupun ketika harus bangkit dari kekalahan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda