Ada Harapan dalam “Patah Tumbuh Hilang Berganti”

Boas Simanjuntak 15/08/2022 2 min read
Ada Harapan dalam “Patah Tumbuh Hilang Berganti”

Rino Saputra dan Adam Peaty. Beda negara. Beda kondisi tubuh. Tetapi, sama semangat juangnya, menolak untuk menyerah!

Dari ASEAN Para Games 2022, Rino berhasil merebut tiga medali emas dan satu medali perunggu. Medali emas diraih dari nomor 100 meter gaya bebas, 50 meter gaya bebas, dan 4×100 meter gaya ganti. Medali perunggu diraih dari nomor 100 meter gaya punggung. Sebagai catatan, raihan empat medali tersebut adalah debutnya di kompetisi regional.

Ainur Rohman, editor olahraga Jawa Pos, mengungkapkan cerita tentang Rino, “Saat usia Rino 19 tahun, kaki kirinya harus alami amputasi, karena terlindas truk. Ia bangkit kembali dan kembangkan hobi berenangnya di sungai Riau, untuk menjadi atlet para swimming nasional. Nampaknya Rino memang lahir untuk renang. Baru setahun berlatih setelah fase bangkit pasca amputasi, ia berhasil memecahkan rekor ASEAN di tahun 2016.”

Mengutip International Paralympic Committee, jawaban Rino saat ditanya “Mengapa memilih olahraga renang (setelah mengalami amputasi)?”, adalah “Renang sebagai cara untuk pulih dari depresi pasca amputasi. Saya merasa tidak berdaya, saat teman-teman bisa bertemu di luar rumah.”

Lain lagi dengan Adam Peaty. Perenang asal Inggris yang alami patah kaki di bulan Mei 2022, di awal Agustus lalu berhasil meraih emas. Pada Commonwealth Games di Birmingham, untuk nomor 50 meter gaya dada, ia mencatat waktu 26.76 detik dua setengah bulan kemudian. Komentator renang asal Amerika Serikat, Kyle Sockwell memaparkan “Adam Peaty melewati kesempatan di kejuaraan dunia karena patah kaki, namun ia bangkit dan meraih emas di pekan olahraga negara persemakmuran di Inggris.” 

Foto: Yahoo Sports

Dalam buku berjudul Learned Optimism, penulisnya Martin Seligman menulis “Mengapa orang lain terus berjalan meski hidup mereka tidak menghasilkan apa-apa?” Martin menemukan bahwa kemampuan sejumlah orang untuk menjadi segar kembali setelah tampak kalah bukanlah, sebagaimana kita ucapkan secara sentimental, “Kemenangan keinginan manusia.”

Orang-orang seperti Rino dan Adam, mengutip Martin, lahir bukan dengan kebesaran dalam dirinya. Mereka adalah tipe orang yang mengembangkan cara untuk tidak melihat kekalahan sebagai sesuatu yang permanen atau memengaruhi semangat mereka. Ternyata, optimisme melibatkan sekumpulan keterampilan yang dapat dipelajari.

Emas yang diraihnya membuat seorang fans Adam menulis surat yang isinya saling menyemangati. Rosie, sang penulis surat, adalah perenang anak-anak. Ia menulis “Apa pun yang engkau alami, saya alami juga. Menang dan kalah adalah proses. Yang penting engkau bangkit dan apa pun yang engkau alami, enngkau saya dukung.” Adam menyemangati balik dengan “Saya harap bisa melihatmu menjadi juara Olimpiade. Teruslah bekerja keras untuk menjadi juara.”

Dari yang patah dan hilang, kita bisa belajar bahwa optimisme berulang cenderung membawa sukses. Rupanya, saat si pesimis akan kehabisan tenaga, si optimis justru dengan gigih berjuang untuk menembus penghalang. 

(BS/timKB)

Sumber Foto: Tempo

Loading next article...