Mempersiapkan anak-anak untuk tetap gembira di dalam masa pertumbuhannya, bisa dilakukan melalui banyak hal, salah satunya adalah olahraga. Tumbuh kembang anak, secara fisik, emosional, dan sosial, akan didapat melalui gerak tubuh saat berolahraga. Harapan untuk anak kelak bertumbuh dewasa, sehat dalam ketiga aspek tersebut.
Orang tua dan komunitas berperan penting untuk memperkenalkan anak-anak untuk berolahraga. Menurut Claire-Marie Roberts, psikolog dan kepala pengembangan pelatih di Liga Inggris, orang dewasa harus menyemangati anak-anak melalui berolahraga, selama masa pertumbuhan dan pembentukan daya tahan.
Mengutip Guardian, ada tiga fase yang wajib menjadi perhatian bagi orang tua untuk memperkenalkan olahraga kepada anak.
Fase Pra-Sekolah
Ini adalah fase yang baik untuk segera memulai perkenalan terhadap olahraga. Fokus kepada hal-hal yang menyenangkan. Pergi ke taman atau hutan kota, kolam renang, atau tempat bermain anak, adalah pilihan-pilihan yang menyenangkan bagi anak-anak. Belajar melempar dan menangkap adalah salah satu aktivitas fisik yang baik bagi anak-anak. Mereka akan belajar banyak hal, seperti: pertumbuhan dalam hal koordinasi tangan dan mata. Hal ini akan memberikan pengingat kepada anak-anak dalam hal hubungan antara kesehatan dan gerak tubuh.
Psikolog Claire-Marie Roberts merekomendasikan untuk tetap menjaga anak-anak untuk aktif dalam keseharian mereka. Contohnya, saat bergerak dari satu tempat ke tempat lain, yang tidak terlalu jauh, biasakan anak-anak untuk berjalan tanpa menggunakan kereta bayi. Dampak dari kebiasaan sejak anak bisa berjalan tersebut, akan membentuk pola pikir anak untuk tetap menggerakkan tubuhnya, dengan berjalan atau bersepeda, saat masuk usia 10 tahun ke atas.
Memuji anak-anak adalah penting. Pujian sekecil apa pun akan membuat anak-anak merasa dihargai atas komitmen dan intensitas yang mereka lakukan dalam berolahraga. Pujian juga akan berdampak kepada energi anak dan keinginan untuk belajar banyak hal.
Fase Sekolah Dasar
Pada fase ini, anak-anak boleh diperkenalkan lebih banyak aktivitas fisik, dengan mencoba beberapa jenis olahraga. Jangan menutup kesukaan anak terhadap jenis olahraga tertentu. semakin beragam yang anak kenal, semakin besar pula ia belajar banyak hal, seperti kompetitif tetapi bekerja sama atau disiplin dan menghormati lewat sikap sportif. Melalui pertemuan terhadap yang berbeda tersebut, anak-anak akan menemukan mana yang mereka nikmati dan akhirnya nilai-nilai baik dalam olahraga akan menempel pada mereka.
Jangan lupa, orang tua harus terlibat aktif. Tentukan contoh-contoh kelakuan yang baik dan jadikan norma di dalam keluarga. Sesibuk apa pun orang tua, damping anak saat berolahraga akan membawa dampak baik untuk hubungan orang tua-anak.
Jadikan berolahraga sebagai sebuah bentuk apresiasi baik terhadap anak. Saat anak bercerita tentang hal-hal baru yang membuatnya bertumbuh, berikan ia kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik yang menyenangkan seperti bermain bersama teman-temannya. Integrasikan aktivitas fisik ke dalam keseharian. Sehingga bagi anak, berolahraga bisa berarti pergi ke suatu tempat atau untuk bersosialisasi.
Temukan kesukaan anak dalam berolahraga, bukan kesukaan orang tua yang dipaksakan kepada anak. Ada kecenderungan orang tua memaksakan kehendak meraka untuk sesuatu yang tidak bisa mereka raih saat masa kanak-kanak. Ajak anak untuk bicara tentang sesuatu yang disukai. Arahkan ke arah yang baik dan benar untuk apa yang anak sukai.
Fase Remaja
Karena olahraga mengandung unsur kompetitif, maka fokus lah kepada kemauan dan perkembangan anak. Menyemangati anak untuk merefleksikan apa yang ia alami saat berolahraga akan membiasakan anak untuk bercerita semua hal, menyenangkan atau tidak menyenangkan, kepada orang tua tanpa beban apa pun. Karena, atlet profesional pun bisa mengalami hari yang buruk dalam karirnya.
Masa remaja erat kaitannya dengan pubertas. Bentuk tubuh yang berubah serta mengalami datang bulan adalah hal-hal umum yang harus diperhatikan saat anak beraktivitas fisik. Lagi-lagi, mengajak anak bicara adalah pilihan utama. Seperti, tidak usah malu saat masa datang bulan, karena setiap anak perempuan akan mengalami hal yang sama. Juga terhadap anak laki-laki, untuk mengingatkan bahwa, setiap anak bertumbuh dengan cara yang unik, jadi nikmati saja pertumbuhan badan dengan gembira.
Hal terakhir yang harus tertanam pada pola pikir orang tua adalah biarkan anak bertumbuh menjadi remaja. Berikan waktu bagi anak remaja untuk berkumpul dengan teman-temannya, tanpa latihan fisik, seperti jalan-jalan ke mal. Tidak harus berolahraga tiap hari. Jika anak merasa ada pilihan yang lebih pas untuk dirinya, dalam berolahraga, saatnya orang tua membantu pilihan sang anak dengan menghentikan aktivitas fisik lain. Sehingga, anak bisa lebih fokus terhadap apa yang ia suka untuk fisiknya.
(BS/timKB)
Sumber Foto: Aspen Institute