Jakarta – Timnas Indonesia akan selalu diisi oleh para pemain terbaik Indonesia yang silih berganti datang sepanjang masa. Begitupun kapten timnas akan berganti sesuai masa dan eranya masing masing. Namun ada satu nama kapten timnas yang masih melekat diingatan para fans sepakbola Indonesia, utamanya yang merasakan atmosfer sepakbola Indonesia era 70- 80an. Nama kapten timnas Indonesia yang legendaris itu adalah Ronny Pattinasarany.
Ronald Hermanus Pattinasarany, yang lebih dikenal dengan nama Ronny Pattinasarany, lahir pada tanggal 9 Februari 1949 di Makassar, Sulawesi Selatan, Ronny telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam dunia sepak bola Indonesia. Artikel ini akan mengulas perjalanan karier dan pencapaian Ronny Pattinasarany sebagai pemain dan pelatih sepak bola.
Perjalanan karier Ronny Pattinasarany sebagai pemain sepak bola dimulai ketika ia bergabung dengan tim PSM Junior pada tahun 1966. Dua tahun kemudian, pada usia yang masih sangat muda, ia berhasil naik ke level senior dan menjadi bagian dari tim PSM Makassar. Keberhasilannya sebagai pemain muda menarik perhatian dan memperoleh panggilan untuk memperkuat Timnas Indonesia Junior di kejuaraan Asia di Manila pada tahun 1970. Setelah itu, Ronny menjadi langganan Timnas Indonesia di berbagai event junior.
Puncak kiprah Ronny Pattinasarany bersama PSM terjadi pada Piala Soeharto 1974. Pada waktu itu, PSM Makassar diperkuat oleh mayoritas pemain muda, yang diprediksi akan menghadapi tantangan dan kesulitan untuk bersaing dengan tim-tim besar seperti PSMS Medan, Persija Jakarta, dan Persebaya yang diperkuat oleh pemain-pemain yang berpengalaman di Timnas Indonesia. Namun, PSM Makassar berhasil menunjukkan performa yang mengesankan dengan permainan atraktif dan semangat juang yang tinggi.
Setelah berkiprah di PSM Makassar, Ronny Pattinasarany bergabung dengan klub Galatama, Warna Agung, pada tahun 1978. Di sinilah karier sepak bola Ronny semakin menanjak. Ia terpilih masuk dan menjadi kapten Timnas Indonesia. Pada tahun 1982, Ronny pindah ke klub Tunas Inti, di mana ia hanya bermain selama setahun sebelum memutuskan untuk gantung sepatu dan beralih profesi menjadi pelatih.
Ronny Pattinasarany telah mencatatkan sejumlah pencapaian dan penghargaan selama kariernya sebagai pemain sepak bola. Ia meraih penghargaan Pemain All Star Asia pada tahun 1982, serta Olahragawan Terbaik Nasional pada tahun 1976 dan 1981. Ronny juga berhasil meraih penghargaan Pemain Terbaik Galatama pada tahun 1979 dan 1980. Selain itu, ia juga meraih Medali Perak SEA Games pada tahun 1979 dan 1981.
Setelah pensiun sebagai pemain, Ronny Pattinasarany memulai karier kepelatihan. Ia menjadi pelatih Petrokimia dan mengantarkan klub ini meraih berbagai gelar, termasuk juara pada Surya Cup, Petro Cup, dan runner-up pada Tugu Muda Cup. Di samping karier kepelatihannya, Ronny juga memiliki peran penting dalam dunia sepak bola Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI pada tahun 2006, Wakil Ketua Komdis pada tahun yang sama, dan menjadi anggota Tim Monitoring Timnas pada tahun 2007.
Ronny Pattinasarany meninggalkan dunia sepak bola Indonesia dengan duka yang mendalam pada tahun 2008. Ia mengidap kanker hati sejak Desember 2007 dan berjuang melawan penyakit tersebut sebelum akhirnya berpulang. Meskipun telah berpulang, kenangan akan jejak karier dan dedikasi Ronny Pattinasarany akan selalu hidup di hati para penggemar sepak bola Indonesia.
Ronny Pattinasarany adalah salah satu legenda sepak bola Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan sepak bola di tanah air. Dari awal karier sebagai pemain muda hingga menjadi kapten Timnas Indonesia, Ronny telah menunjukkan kemampuan dan semangatnya yang luar biasa. Prestasi dan penghargaan yang ia raih merupakan bukti nyata akan dedikasi dan ketangguhan dalam dunia sepak bola.
(EA/timKB).
Sumber foto: bola.com