Jakarta – Pada tanggal 21 Juni 1970, dunia sepak bola menyaksikan sebuah momen yang tak terlupakan di Estadio Azteca, Mexico City. Final Piala Dunia FIFA 1970 bukan hanya sekadar pertandingan puncak, melainkan sebuah penobatan. Di hari itu, tim nasional Brasil mengukir namanya dalam sejarah sebagai tim pertama yang memenangkan Piala Dunia sebanyak tiga kali, dan sang megabintang mereka, Pelé, menegaskan statusnya sebagai pemain pertama dengan koleksi tiga trofi Jules Rimet.
Turnamen di Meksiko itu sendiri adalah sebuah inovasi. Untuk pertama kalinya, Piala Dunia diselenggarakan di benua Amerika Utara, dan yang lebih penting, pertandingan disiarkan secara berwarna ke seluruh dunia. Hal ini memungkinkan jutaan pasang mata untuk menyaksikan keindahan sepak bola Brasil secara lebih hidup dan nyata. Tim Samba yang dilatih oleh Mário Zagallo ini datang dengan skuad bertabur bintang, termasuk Jairzinho, Rivelino, Tostão, Gérson, dan tentu saja, Pelé. Mereka memainkan sepak bola menyerang yang memukau, dijuluki “Jogo Bonito” – permainan indah.
Perjalanan Brasil menuju final adalah demonstrasi dominasi yang luar biasa. Mereka memenangkan setiap pertandingan di babak grup, mengalahkan Cekoslowakia, Inggris, dan Rumania. Di perempat final, mereka menyingkirkan Peru dalam pertandingan yang mendebarkan, diikuti dengan kemenangan atas Uruguay di semifinal. Setiap pertandingan adalah tontonan yang memanjakan mata, dengan gol-gol spektakuler dan kerja sama tim yang brilian.
Lawan Brasil di final adalah tim Italia yang tangguh, yang dikenal dengan pertahanan “catenaccio” mereka yang disiplin. Azzurri juga memiliki penyerang-penyerang berbahaya seperti Luigi Riva dan Roberto Boninsegna. Pertandingan dimulai dengan ketegangan tinggi, namun pada menit ke-18, Pelé membuka skor dengan sundulan ikonik setelah menerima umpan silang akurat dari Rivelino. Gol tersebut tidak hanya menunjukkan kekuatan fisik dan lompatan Pelé, tetapi juga visinya dalam membaca permainan.
Italia sempat menyamakan kedudukan melalui Roberto Boninsegna setelah kesalahan di lini belakang Brasil. Namun, gol tersebut hanya memicu Brasil untuk tampil lebih ganas. Di babak kedua, Brasil benar-benar menunjukkan kelas mereka. Gérson melepaskan tembakan kaki kiri yang keras dari luar kotak penalti pada menit ke-66, membuat kiper Italia, Enrico Albertosi, tak berdaya. Empat menit kemudian, Jairzinho mencetak gol dalam pertandingan keenam berturut-turut di turnamen ini, menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di setiap pertandingan Piala Dunia sejak babak grup hingga final.
Namun, gol yang paling diingat dan sering disebut sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia datang pada menit ke-86. Berawal dari umpan balik Pelé yang jenius kepada Carlos Alberto, sang kapten melaju dari posisi bek kanan dan melepaskan tembakan keras yang menghujam pojok bawah gawang Italia. Gol tersebut adalah puncak dari permainan tim yang luar biasa, melibatkan delapan sentuhan pemain Brasil sebelum bola masuk ke gawang. Ini adalah simbol dari keindahan dan efisiensi “Jogo Bonito”.
Peluit akhir dibunyikan, dan Brasil dinobatkan sebagai juara dunia untuk ketiga kalinya. Kemenangan ini memberikan mereka hak untuk menyimpan Trofi Jules Rimet secara permanen, sebuah kehormatan yang belum pernah dicapai oleh negara lain. Pelé, dengan koleksi tiga gelar Piala Dunia (1955, 1962, dan 1970), menegaskan dirinya sebagai “Raja Sepak Bola” – sebuah julukan yang melekat padanya hingga hari ini.
Piala Dunia FIFA 1970, dengan Brasil sebagai juaranya dan Pelé sebagai ikonnya, akan selalu dikenang sebagai salah satu edisi paling gemilang dalam sejarah turnamen. Itu adalah perpaduan sempurna antara bakat individu yang luar biasa, kerja sama tim yang harmonis, dan filosofi sepak bola menyerang yang memukau, yang hingga kini menjadi inspirasi bagi generasi-generasi pesepak bola selanjutnya.
(EA/timKB).
Sumber foto: kompas,com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda