Dedduanglek Torfunfarm: Petarung Muda Thailand

Piter Rudai 18/08/2026 3 min read
Dedduanglek Torfunfarm: Petarung Muda Thailand

Jakarta – Di tengah tradisi panjang Thailand yang melahirkan petarung-petarung Muay Thai kelas dunia, nama Dedduanglek Torfunfarm muncul sebagai salah satu generasi muda yang menarik perhatian. Lahir pada 29 Januari 2003, Dedduanglek kini berusia 23 tahun. Ia memiliki tinggi sekitar 175 cm dan dikenal sebagai petarung Muay Thai yang memiliki kemampuan teknis, ketenangan, serta kecerdasan membaca pertandingan. Basis latihannya berada di TDed99 Gym, Bangkok, dan perjalanan profesionalnya kemudian membawanya ke panggung besar ONE Championship.

Dedduanglek dikategorikan sebagai petarung flyweight Muay Thai ONE, meskipun dalam beberapa laga ia juga tampil pada kelas catchweight maupun bantamweight. Selain itu, rekor ONE-nya saat ini tercatat 9 kemenangan dan 5 kekalahan dari 14 laga. Tidak semua pertandingannya berakhir melalui keputusan juri. Sembilan kemenangannya memang seluruhnya diraih melalui keputusan, tetapi ia pernah mengalami kekalahan melalui KO/TKO, termasuk ketika Nakrob Fairtex menghentikannya pada 2023.

Seperti banyak petarung Thailand, hubungan Dedduanglek dengan Muay Thai dimulai sejak usia muda. ONE menggambarkannya sebagai bagian dari gelombang baru talenta Muay Thai Thailand yang telah mengenal “seni delapan anggota tubuh” sejak usia dini. Bertahun-tahun berlatih membuatnya berkembang bukan sekadar sebagai petarung yang mengandalkan kekuatan, tetapi sebagai Muay Femur, tipe petarung yang mengutamakan teknik, timing, kecerdikan, dan kemampuan mengontrol ritme pertarungan. Karakter tersebut kemudian menjadi identitas utama Dedduanglek di level profesional.

Sebelum memasuki panggung ONE, Dedduanglek sudah mengumpulkan pengalaman di kompetisi Muay Thai Thailand. Salah satu pencapaian penting datang pada Road to ONE: Thailand 2022, ketika ia memenangkan turnamen dan memperoleh kontrak bernilai enam digit untuk bergabung dengan ONE. Langkah tersebut menjadi titik balik besar dalam kariernya. Ia kemudian melakukan debut promosional pada Februari 2023 dan langsung menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar prospek biasa. Dalam empat penampilan awalnya, Dedduanglek meraih empat kemenangan beruntun, termasuk kemenangan atas Kongsuk Fairtex dan Taiki Naito.

Pertarungan melawan Taiki Naito menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan tersebut. Pada ONE Friday Fights 26, Dedduanglek mengalahkan petarung Jepang itu melalui keputusan mutlak. Ia kembali mengalahkan Naito pada April 2024 dalam pertandingan yang membuat namanya semakin diperhitungkan di panggung internasional. Kemenangan tersebut sekaligus memperlihatkan kualitasnya menghadapi lawan berpengalaman dan menjadi bukti bahwa teknik serta kontrol jaraknya mampu bekerja ketika tekanan pertandingan meningkat.

Namun, perjalanan Dedduanglek tidak selalu berjalan mulus. Pada November 2023, ia menghadapi Nakrob Fairtex dalam ONE Friday Fights 41. Nakrob memberikan kekalahan pertama Dedduanglek di ONE setelah menghentikannya pada ronde ketiga melalui TKO akibat pukulan keras ke tubuh. Kekalahan tersebut bahkan sempat memengaruhi kondisi psikologisnya. Tetapi justru dari pengalaman itu terlihat sisi lain karakter Dedduanglek: ia mampu kembali bangkit dan menggunakan kekalahan sebagai bahan evaluasi. Dalam pertemuan kedua pada ONE Fight Night 24, ia kembali kalah dari Nakrob lewat keputusan mutlak, tetapi pertandingan berlangsung jauh lebih kompetitif dan memperlihatkan daya tahan serta kemampuan beradaptasinya.

Secara teknis, Dedduanglek bukan petarung yang sekadar maju memburu penyelesaian. Ia dikenal sebagai petarung dengan IQ pertarungan tinggi, menggunakan footwork, pengaturan jarak, pukulan, dan tendangan tubuh untuk membongkar pertahanan lawan secara bertahap. ONE bahkan menggambarkannya sebagai sosok yang mampu “membedah” lawan dengan presisi. Tendangan kiri ke tubuh menjadi salah satu senjata pentingnya, sementara kemampuan membaca pergerakan lawan membuatnya mampu menentukan kapan harus menyerang dan kapan harus mengontrol tempo.

Setelah melewati berbagai fase, Dedduanglek terus menghadapi lawan-lawan dengan karakter berbeda. Ia sempat kalah dari Aslamjon Ortikov pada Mei 2025, kemudian bangkit dengan kemenangan atas Wuttikrai Wor Chakrawut pada November tahun yang sama. Pada Desember, ia kembali menghadapi ujian berat melawan prospek Jepang Shimon Yoshinari dan kalah melalui keputusan mutlak. Shimon memanfaatkan low kick untuk mengganggu ritme serta pergerakan Dedduanglek, sebuah gambaran bagaimana petarung teknis pun dapat dibuat kesulitan ketika lawan mampu memenangkan pertarungan jarak dan tempo.

Tahun 2026 kemudian menjadi fase kebangkitan. Dedduanglek mengalahkan Sonrak Fairtex melalui keputusan mutlak pada Maret, sebelum kembali meraih kemenangan atas Cyber Sor Tienpo di ONE Friday Fights 153 pada Mei. Dalam pertarungan tersebut ia menunjukkan kombinasi pukulan, low kick, serta kontrol clinch yang efektif untuk mengatasi tekanan lawannya. Kemenangan itu menegaskan bahwa meskipun belum memiliki kemenangan KO dalam catatan ONE, Dedduanglek memiliki kemampuan memenangkan pertarungan melalui konsistensi teknik dan penguasaan tiga ronde.

Dengan rekor 9-5 di ONE, Dedduanglek mungkin belum berada di puncak gunung, tetapi perjalanan kariernya memperlihatkan proses seorang petarung muda yang terus belajar dari kemenangan maupun kekalahan. Mentalitasnya bukan tentang selalu mencari kemenangan spektakuler, melainkan memahami bahwa pertarungan dapat dimenangkan melalui kecermatan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi. Dari gym di Bangkok menuju panggung internasional, Dedduanglek membawa filosofi khas Muay Thai modern: tidak selalu harus menjadi petarung paling brutal di dalam ring, tetapi harus menjadi petarung yang paling mampu membaca apa yang sedang terjadi di hadapannya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...