Alexey Balyko: Petarung Rusia Dengan Hook Kiri Mematikan

Piter Rudai 16/09/2026 4 min read
Alexey Balyko: Petarung Rusia Dengan Hook Kiri Mematikan

Jakarta – Bagi Alexey Balyko, jalan menuju panggung besar Muay Thai tidak ditempuh dengan tetap berada di zona nyaman. Petarung asal Rusia ini justru harus meninggalkan tanah kelahirannya dan pindah ke Phuket, Thailand, demi mendapatkan lingkungan latihan yang mampu membawanya menuju level tertinggi. Di Tiger Muay Thai, salah satu sasana paling terkenal di Thailand, Balyko mengasah kemampuan striking sekaligus membangun reputasi sebagai petarung dengan kekuatan pukulan yang berbahaya. Sebelum memasuki ONE Championship, ia juga beberapa kali mewakili Federasi Muaythai Rusia dalam kompetisi IFMA.

Perpindahan ke Thailand menjadi titik penting dalam perkembangan kariernya. Balyko tidak hanya berlatih, tetapi juga mendapatkan kesempatan menghadapi lawan-lawan dari berbagai negara dalam kompetisi Muay Thai. Data yang terdokumentasi mencatat kemenangan KO atas Phayanoi Sitniwat pada 2018, hasil imbang melawan Thong AyothayaFightGym pada 2019, serta beberapa pertandingan lainnya di Thailand. Namun, sebagian besar karier awalnya tidak terdokumentasi selengkap pertarungan-pertandingannya di ONE, sehingga angka rekor keseluruhan dari berbagai database harus dibaca dengan hati-hati.

Kesempatan besar datang pada ONE Friday Fights 33, 15 September 2023. Dalam debutnya, Balyko langsung menghadapi salah satu prospek Thailand yang sedang naik daun, Yod-IQ Or Pimolsri, dalam laga catchweight 150 pound. Balyko tampil agresif, terus menekan meski menghadapi lawan yang memiliki keunggulan tinggi badan. Pada ronde kedua, hook kiri kerasnya menjatuhkan Yod-IQ. Ia kemudian mempertahankan tekanan sampai bel berbunyi dan memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak. Kemenangan tersebut menjadi salah satu momen terpenting dalam kariernya karena menjadikannya orang pertama yang mengalahkan Yod-IQ di ONE Friday Fights.

Momentum itu berlanjut pada ONE Friday Fights 47 Januari 2024. Balyko menghadapi veteran Thailand sekaligus mantan juara dunia Lumpinee dalam tiga divisi, Suakim Sor Jor Tongprajin. Lagi-lagi, senjata utamanya bekerja. Hook kiri Balyko menghantam Suakim dan menghasilkan kemenangan KO pada ronde ketiga. Hasil tersebut memperkuat citranya sebagai striker yang tidak membutuhkan banyak kesempatan untuk mengubah jalannya pertarungan. Dua bulan kemudian ia mengalami kekalahan melalui keputusan dari Panrit Lukjaomaesaiwaree, tetapi segera bangkit. Pada ONE Fight Night 23, 6 Juli 2024, Balyko menghentikan Stefan Korodi dengan KO pada ronde pertama.

Setelah kemenangan atas Korodi, level tantangannya meningkat drastis. Pada Oktober 2024, ia menghadapi mantan bintang UFC John Lineker dalam Muay Thai di ONE Fight Night 25 dan kalah melalui KO ronde pertama. Dua bulan kemudian, Balyko kembali kalah dari Komawut FA Group melalui keputusan mutlak dalam laga catchweight 140 pound. Memasuki 2025, ia kembali naik ring melawan Gingsanglek Tor Laksong di ONE Friday Fights 115. Kali ini, petarung Rusia tersebut justru dihentikan hanya dalam 53 detik melalui spinning backfist. Kekalahan itu memperlihatkan betapa tipis jarak antara agresivitas dan risiko ketika seorang striker menghadapi lawan dengan timing elite.

Balyko kemudian mendapatkan kesempatan untuk membalikkan keadaan dalam pertandingan ulang melawan Yod-IQ di ONE Friday Fights 137 pada 19 Desember 2025. Pertarungan tersebut menjadi penting karena Yod-IQ datang dengan misi membalas satu-satunya kekalahannya di ONE. Kali ini situasinya berbeda. Yod-IQ berhasil menjatuhkan Balyko dengan high kick kanan dan mengakhiri pertarungan pada menit 2:06 ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi kekalahan ketiga beruntun bagi Balyko setelah sebelumnya tumbang dari Komawut dan Gingsanglek.

Secara gaya bertarung, Balyko adalah striker yang mengandalkan tekanan, boxing, dan kekuatan pukulan. ONE secara khusus menggambarkannya sebagai petarung dengan dangerous boxing dan devastating knockout power. Hook kiri menjadi senjata khasnya, terutama ketika ia berhasil masuk ke jarak dekat. Ia tidak selalu menunggu lawan melakukan kesalahan; Balyko cenderung menciptakan situasi tersebut dengan tekanan konstan dan pertukaran pukulan. Kemenangan atas Yod-IQ, Suakim, dan Korodi menjadi bukti betapa efektif pendekatan tersebut ketika timing dan akurasinya bekerja.

Mentalitas Balyko juga terlihat dari keputusannya meninggalkan Rusia untuk berlatih di Thailand. Ia memahami bahwa untuk mencapai puncak, ia harus berada di lingkungan yang setiap hari menuntut peningkatan. Latihan di Tiger Muay Thai mempertemukannya dengan petarung elite dari berbagai disiplin, termasuk Fabricio Andrade, yang disebut ONE sebagai salah satu rekan latihannya. Bagi Balyko, latihan bukan sekadar persiapan menuju satu pertandingan, tetapi bagian dari proses membangun dirinya sebagai petarung internasional.

Secara catatan, ONE saat ini mencatat Balyko memiliki 3 kemenangan dan 5 kekalahan di ONE Championship, dengan dua kemenangan melalui KO. Untuk rekor keseluruhan, sumber yang mengompilasi kariernya mencatat 23-15-1 setelah kekalahan dari Yod-IQ pada Desember 2025, sementara Muay Thai Records hanya mendokumentasikan sebagian pertarungannya dan menampilkan 4-5-1. Karena itu, angka 23-15-1 lebih tepat dipakai sebagai rekor keseluruhan yang dikutip dalam sumber karier ONE, bukan sebagai klaim bahwa seluruh pertandingan profesional Balyko telah terdokumentasi secara universal.

Perjalanan Balyko pada akhirnya bukan kisah tentang petarung yang selalu menang. Ia adalah striker Rusia yang berani meninggalkan lingkungan asalnya, membangun diri di Thailand, menumbangkan prospek seperti Yod-IQ dan veteran seperti Suakim, lalu harus menghadapi konsekuensi ketika level lawan semakin tinggi. Hook kiri mungkin menjadi ciri khasnya, tetapi keberanian untuk terus mencari tantangan adalah bagian yang paling menonjol dari perjalanan kariernya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...