Lajos Détári: Maestro Terakhir Sepak Bola Hungaria

Eva Amelia • 17/10/2026 • 5 min read
Lajos Détári: Maestro Terakhir Sepak Bola Hungaria

Jakarta – Sepak bola Hungaria memiliki sejarah yang sangat megah. Dunia pernah dibuat kagum oleh era Aranycsapat atau “Tim Emas” pada era 1950-an yang dipimpin oleh legenda legendaris Ferenc Puskás. Namun, setelah era keemasan itu memudar, Hungaria berjuang keras untuk melahirkan kembali talenta berkelas dunia yang mampu menyihir publik sepak bola Eropa. Di tengah kerinduan panjang tersebut, muncullah sosok Lajos Détári pada dekade 1980-an. Dengan gaya bermain yang elegan, visi bertanding yang luar biasa, serta kemampuan mengeksekusi bola mati yang luar biasa, Détári kerap dianggap sebagai maestro murni terakhir yang pernah dilahirkan oleh bumi Magyars.

Lahir pada 24 April 1963 di Budapest, Lajos Détári tumbuh di masa ketika sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah pelarian dan identitas bangsa. Bakat besarnya tercium sejak dini saat ia bergabung dengan akademi Budapest Honvéd, klub yang memiliki sejarah panjang dan ikatan kuat dengan tradisi sepak bola terbaik Hungaria. Détári bukan sekadar pemain berbakat; ia adalah tipe playmaker klasik nomor 10 yang bermain dengan ketenangan luar biasa, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat ketika bola berada di kakinya.

Masa Keemasan di Budapest Honvéd

Karir profesional Détári dimulai di Budapest Honvéd pada awal tahun 1980-an, dan dengan cepat ia menjadi ruh permainan tim. Bersama Honvéd, Détári mendominasi panggung domestik Hungaria. Ia berhasil mempersembahkan tiga gelar Liga Hungaria secara beruntun dari tahun 1984 hingga 1986, serta menyabet trofi Piala Hungaria pada tahun 1985.

Ketajaman dan kreativitasnya di lini tengah tercermin dari prestasinya sebagai pencetak gol terbanyak Liga Hungaria selama tiga musim berturut-turut antara tahun 1985 hingga 1987. Mengingat posisinya sebagai seorang gelandang, pencapaian tersebut sangatlah mengagumkan. Détári memiliki akurasi umpan yang sanggup membongkar pertahanan terrapat sekalipun dan eksekusi tendangan bebas yang ditakuti oleh setiap penjaga gawang lawan. Penampilannya yang luar biasa membuat namanya mulai bergema di luar perbatasan Hungaria, menarik perhatian klub-klub papan atas Eropa Barat.

Langkah Pertama ke Eropa Barat dan Kejayaan di Eintracht Frankfurt

Pada tahun 1987, Détári mengambil langkah besar dalam karirnya dengan hijrah ke Bundesliga Jerman untuk bergabung dengan Eintracht Frankfurt. Kepindahan ini menjadi salah satu berita besar saat itu, karena jarang ada pemain dari blok Timur yang diizinkan pindah ke klub Barat dalam usia keemasannya.

Di Jerman, Détári tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan kelasnya. Hanya dalam satu musim berseragam Frankfurt, ia langsung mengukir namanya dalam sejarah klub. Puncak dari masa bakti singkatnya terjadi pada final DFB-Pokal tahun 1988 melawan VfL Bochum. Dalam pertandingan yang berlangsung sengit tersebut, Détári mencetak gol tunggal kemenangan melalui tendangan bebas yang sangat indah. Gol tersebut tidak hanya membawa Eintracht Frankfurt meraih trofi, tetapi juga mengukuhkan status Détári sebagai salah satu gelandang paling berbahaya di Eropa saat itu. Musim itu ditutupnya dengan catatan 12 gol dari 33 pertandingan Bundesliga, sebuah angka yang impresif untuk seorang gelandang serang di liga seketat Bundesliga.

Kepindahan Rekor Dunia ke Olympiacos

Musim panas tahun 1988 menjadi momen paling fenomenal sekaligus titik balik penuh kontroversi dalam karir Lajos Détári. Setelah penampilan gemilangnya di Jerman, klub-klub raksasa Eropa seperti Juventus berkali-kali dikabarkan memburu tanda tangannya. Namun, dunia sepak bola dibuat guncang ketika klub raksasa Yunani, Olympiacos, memenangkan perburuan tersebut dengan nilai transfer yang memecahkan rekor dunia saat itu.

Pemilik Olympiacos kala itu, George Koskotas, menggelontorkan dana luar biasa besar untuk memboyong Détári ke Piraeus. Kedatangan Détári di Athena disambut bagaikan kedatangan seorang raja atau pahlawan perang. Puluhan ribu pendukung Olympiacos memadati jalanan dan stadion hanya untuk menyambut kedatangan sang maestro Hungaria. Suasana euforia tersebut mencerminkan betapa besarnya ekspektasi yang dibebankan ke pundaknya.

Di Yunani, Détári tetap menampilkan performa individu yang luar biasa. Selama dua musim membela Olympiacos, ia berhasil mencetak 35 gol dari 55 pertandingan liga. Ia memenangkan Piala Yunani pada tahun 1990 dan membawa hiburan kelas tinggi bagi publik sepak bola Yunani. Namun, situasi internal klub yang goyah akibat masalah hukum yang menimpa sang pemilik, Koskotas, membuat masa-masa cantiknya di Piraeus harus berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.

Perjalanan di Italia dan Akhir Karir sebagai Nomaden Sepak Bola

Setelah meninggalkan Yunani pada tahun 1990, Détári melanjutkan petualangannya ke Italia, yang saat itu merupakan liga terkuat dan paling megah di dunia. Ia bergabung dengan Bologna, di mana ia menunjukkan kilasan kejeniusannya meskipun klub berjuang di papan bawah. Setelah Bologna, ia sempat membela Ancona dan Genoa di Serie A. Di Italia, kemampuan teknisnya tetap diakui, tetapi inkonsistensi tim dan cedera mulai menghambat kontinuitas performa puncaknya.

Setelah era di Italia, karir Détári mulai memasuki fase nomaden. Ia sempat mencicipi sepak bola Swiss bersama Neuchâtel Xamax, kembali ke Hungaria untuk membela Ferencváros, hingga bermain di Austria bersama VSE St. Pölten. Meskipun ia tidak lagi bermain di panggung tertinggi Eropa, sentuhan emas dan visi bertandingnya tidak pernah benar-benar hilang sampai ia akhirnya gantung sepatu pada akhir dekade 1990-an.

Pilar Utama Tim Nasional Hungaria

Di level internasional, Lajos Détári adalah jenderal lapangan tengah tim nasional Hungaria dari pertengahan 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Ia mengumpulkan 61 penampilan (caps) dan mencetak 18 gol untuk negaranya.

Salah satu babak paling penting dalam karir internasionalnya adalah partisipasinya di Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu, Hungaria datang dengan ekspektasi tinggi setelah tampil sangat dominan di babak kualifikasi. Meskipun turnamen tersebut berakhir tragis bagi Hungaria—termasuk kekalahan telak dari Uni Soviet—Détári sempat mencetak satu gol dalam kemenangan atas Kanada. Gol tersebut menjadi catatan sejarah tersendiri, karena menjadi gol terakhir yang dicetak oleh tim nasional Hungaria di panggung Piala Dunia hingga berdekuh-dekuh tahun kemudian.

Gaya Bermain dan Warisan Sang Maestro

Lajos Détári adalah penggambaran sempurna dari pesepak bola romantik. Ia bukan tipe pemain modern yang mengandalkan daya jelajah fisik tanpa henti atau pressing ketat. Kekuatannya terletak pada kecerdasan taktis, kontrol bola yang sangat halus, serta umpan-umpan terobosan yang bisa membelah pertahanan lawan dalam sekejap mata. Eksekusi bola matinya adalah sebuah seni, di mana ia bisa melengkungkan bola melewati pagar betis dengan presisi milimeter.

Namun, gaya bermain yang sangat elegan ini terkadang membuatnya dinilai kurang memiliki kedisiplinan bertahan dalam sepak bola modern yang mulai berkembang pesat pada akhir 1980-an. Kendati demikian, bagi para penikmat sepak bola murni, menonton Détári menguasai bola adalah sebuah pertunjukan seni yang indah.

Setelah pensiun sebagai pemain, Détári mencoba peruntungannya di dunia kepelatihan, memimpin berbagai klub di Hungaria, Yunani, dan Vietnam, serta sempat menjabat di tim nasional Hungaria. Walaupun karir kepelatihannya tidak secemerlang saat ia masih mengenakan sepatu bola, namanya tetap dihormati setinggi langit di tanah airnya.

Lajos Détári akan selalu dikenang sebagai salah satu talenta paling murni yang pernah dilahirkan oleh sepak bola Eropa Timur. Pada masa ketika sepak bola mulai bergeser ke arah fisik dan taktik yang makin kaku, Détári berdiri sebagai pengingat akan keindahan, kebebasan, dan kejeniusan individu di atas lapangan hijau. Bagi publik sepak bola Hungaria, ia adalah maestro terakhir yang membawa secercah keagungan masa lalu ke dalam panggung sepak bola modern.

(EA/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...