Jakarta – Di dunia UFC, tidak semua juara lahir dari jalan yang mulus. Alexandre Pantoja justru membangun namanya melalui perjalanan panjang yang dipenuhi kemenangan, kekalahan, pekerjaan kasar, dan penantian bertahun-tahun sebelum akhirnya menggenggam sabuk juara. Lahir pada 16 April 1990 dan dibesarkan di kawasan Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil, Pantoja dikenal dengan julukan “The Cannibal”. Petarung yang berlatih di American Top Team ini memiliki tinggi sekitar 165 cm, bobot 125 pound atau 56,7 kg, serta jangkauan 67 inci atau sekitar 170 cm menurut data resmi UFC. Ia kini memiliki rekor profesional 30–6, terdiri dari 8 kemenangan KO/TKO, 12 submission, dan 10 kemenangan melalui keputusan.
Ketertarikannya terhadap pertarungan tumbuh dari pengalaman langsung di dunia bela diri. Pantoja lebih dulu berkompetisi dalam jiu-jitsu dan Muay Thai, lalu menyadari bahwa kombinasi kedua disiplin tersebut dapat membawanya menjadi petarung MMA profesional. Ia mulai bertarung secara profesional pada usia 17 tahun, ketika kehidupan belum memberikan banyak pilihan kepadanya. UFC menggambarkan masa mudanya sebagai periode ketika Pantoja berusaha mencari jalan keluar dari kondisi ekonomi sulit. Sebelum sepenuhnya hidup sebagai petarung, ia pernah bekerja sebagai pelayan, tukang batu, awak kapal wisata, hingga guru Muay Thai. Semua pekerjaan tersebut pada akhirnya menjadi sarana untuk membiayai impiannya di dunia pertarungan.
Debut profesional Pantoja berlangsung pada 2007. Ia segera memperlihatkan bakat besar dengan memenangkan tujuh dari delapan pertarungan pertamanya sebelum mengalami kekalahan dari sesama petarung Brasil, Jussier Formiga. Kekalahan tersebut tidak menghentikannya. Pantoja kemudian bangkit dan meraih tujuh kemenangan beruntun, sebuah rentetan yang membawanya ke Amerika Serikat dan membuka jalan menuju panggung internasional. Di sana ia menjadi juara Resurrection Fighting Alliance (RFA) dan kemudian tercatat sebagai juara flyweight pertama Legacy Fighting Alliance. Kesuksesan tersebut menjadi tiket menuju The Ultimate Fighter Season 24 pada 2016, turnamen yang mempertemukan para juara dari berbagai organisasi untuk memperebutkan kesempatan menantang Demetrious Johnson.
Menariknya, Pantoja tidak memenangkan turnamen tersebut. Ia bahkan tersingkir di semifinal setelah kalah dari Hiromasa Ogikubo melalui keputusan. Namun UFC melihat sesuatu yang istimewa dalam dirinya dan tetap memberinya kontrak. Debutnya di Octagon terjadi pada 29 Januari 2017 melawan Eric Shelton. Sejak saat itu, perjalanan Pantoja di UFC berkembang secara bertahap. Ia mengalami beberapa kekalahan penting, termasuk dari Dustin Ortiz, Deiveson Figueiredo dan Askar Askarov, tetapi setiap kemunduran justru membuat permainannya semakin matang. Di antara kemenangan pentingnya terdapat submission atas Brandon Royval, Alex Perez, serta kemenangan KO atas Matt Schnell.
Hubungan Pantoja dengan Brandon Moreno menjadi salah satu bagian paling menarik dalam kariernya. Mereka pertama kali bertemu di The Ultimate Fighter, ketika Pantoja mengalahkan Moreno melalui rear-naked choke. Keduanya kembali berhadapan pada 2018 dan Pantoja menang melalui keputusan mutlak. Pertemuan ketiga akhirnya terjadi di UFC 290 pada 8 Juli 2023. Moreno datang sebagai juara bertahan, tetapi Pantoja kembali menemukan cara untuk mengalahkannya dalam pertarungan lima ronde yang sangat ketat. Dua juri memberikan skor 48-47 untuk Pantoja, sementara satu juri memberikan 49-46 untuk Moreno. Kemenangan split decision tersebut akhirnya mengantarkan “The Cannibal” menjadi juara UFC Flyweight untuk pertama kalinya.
Setelah merebut sabuk, Pantoja membuktikan bahwa gelarnya bukan hasil keberuntungan. Pada UFC 296, Desember 2023, ia mengalahkan Brandon Royval melalui unanimous decision. Lima bulan kemudian, dalam laga kandang di Rio de Janeiro, Pantoja mengalahkan Steve Erceg melalui unanimous decision setelah lima ronde. Pada UFC 310, ia menghadapi mantan bintang RIZIN Kai Asakura dan menyelesaikannya dengan rear-naked choke pada ronde kedua. Pertahanan gelar keempat datang di UFC 317 pada Juni 2025, ketika Pantoja kembali menunjukkan keunggulan grappling untuk mengalahkan Kai Kara-France melalui rear-naked choke ronde ketiga. Empat pertahanan tersebut memperpanjang dominasinya sekaligus membuatnya menjadi salah satu pemegang sabuk paling konsisten di era modern divisi Flyweight.
Pemerintahan Pantoja akhirnya berakhir secara dramatis di UFC 323 pada 6 Desember 2025. Menghadapi Joshua Van, pertarungan hanya berlangsung 26 detik. Van dinyatakan menang TKO setelah Pantoja mengalami cedera siku ketika melakukan gerakan untuk menyerang kaki lawannya. Karena itu, hasil resmi tersebut bukanlah KO akibat pukulan, melainkan TKO karena cedera. Kekalahan itu sekaligus mengakhiri rentetan delapan kemenangan Pantoja dan membuatnya kehilangan sabuk setelah mempertahankan gelar sebanyak empat kali.
Di dalam oktagon, kekuatan utama Pantoja terletak pada kemampuan mencampurkan agresivitas dengan grappling kelas tinggi. Ia tidak ragu masuk ke jarak dekat, menerima pukulan untuk mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan, kemudian mengubah pertarungan menjadi permainan kontrol dan submission. Statistik UFC mencatat 12 kemenangan submission, dengan rear-naked choke menjadi senjata favoritnya. Ia juga memiliki rata-rata hampir satu percobaan submission per 15 menit dan pertahanan takedown sekitar 69 persen. Di American Top Team, program latihannya mencakup wrestling, BJJ, Muay Thai, boxing, kardio, serta latihan kekuatan, biasanya dalam dua sesi sehari.
Filosofi Pantoja sederhana tetapi keras: pertarungan adalah pekerjaan yang harus dijalani dengan penuh keyakinan. Ia tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, tetapi membangun identitas sebagai petarung yang bersedia terus maju ketika keadaan menjadi sulit. Dari anak muda di Copacabana, pekerja serabutan, juara berbagai organisasi regional, peserta The Ultimate Fighter, hingga juara UFC, perjalanannya membutuhkan hampir dua dekade dan puluhan pertarungan. Kini dengan rekor 30–6, 20 kemenangan finis dan status sebagai mantan juara UFC Flyweight, Pantoja telah meninggalkan jejak penting dalam sejarah divisi 125 pound. Dan setelah kehilangan sabuk secara tidak biasa, cerita “The Cannibal” belum selesai: ia masih memiliki kesempatan untuk merebut kembali takhtanya dalam rematch melawan Joshua Van yang dijadwalkan pada UFC 331, 19 September 2026.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda