Elies Abdelali: Talenta Muay Thai Prancis

Jakarta – Di dunia Muay Thai, tidak mudah menemukan petarung Eropa muda yang berani menghadapi kerasnya kompetisi Thailand — terlebih lagi di panggung sebesar ONE Championship. Namun, dari Prancis lahirlah seorang anak muda bernama Elies Abdelali, seorang petarung berbakat kelahiran tahun 2003, yang membawa semangat baru ke dalam dunia Muay Thai internasional.

Meski usianya baru menginjak awal 20-an, Elies telah menapaki jalur yang penuh ambisi dan keberanian, jauh dari tanah kelahirannya di Prancis. Ia memilih untuk menguji dirinya di tempat yang dianggap pusat dari seni bela diri ini — di Lumpinee Boxing Stadium, Bangkok — lokasi yang dijuluki sebagai “rumah suci Muay Thai.”

Mimpi Besar dari Prancis

Prancis telah menjadi salah satu negara Eropa dengan perkembangan Muay Thai tercepat. Generasi muda di sana terinspirasi oleh legenda-legenda seperti Fabio Pinca dan Rafi Bohic, petarung Eropa yang sukses di Thailand. Di tengah lingkungan kompetitif inilah Elies Abdelali tumbuh.

Sejak remaja, Elies sudah akrab dengan:

    • latihan keras di gym lokal,
    • disiplin teknik tendangan dan kombinasi pukulan,
    • serta sparring melawan petarung-petarung senior.

Ia menunjukkan karakter yang berbeda dari rekan-rekannya. Elies memiliki drive yang kuat, ambisi untuk tidak hanya menjadi juara regional Prancis, tetapi juga untuk membuktikan diri di panggung dunia.

Keputusannya mengejar karier ke tingkat internasional bukanlah hal yang tiba-tiba. Ia tumbuh dengan impian untuk bertarung di Thailand — negara yang menjadi pusat seni bela diri yang ia cintai.

Debut di ONE Championship

Mimpi itu berubah menjadi kenyataan pada 27 Juni 2025, ketika nama Elies Abdelali diumumkan sebagai salah satu petarung dalam acara ONE Friday Fights. Ajang ini berlangsung di venue yang sangat legendaris: Lumpinee Boxing Stadium.

Dalam debutnya, ia menghadapi petarung lokal Thailand, Apichart Farm. Lawan yang jauh lebih berpengalaman dan lahir dari kultur Muay Thai yang mendalam. Namun, bagi Elies, ini adalah sebuah kehormatan — sekaligus ujian batu.

Atmosfer Lumpinee bukan seperti arena lainnya:

    • ritme drum tradisional yang memompa adrenalin,
    • sorakan keras para penonton lokal,
    • dan aura sakral ring yang penuh sejarah.

Hanya sedikit petarung muda asing yang berani menginjakkan kaki di sana, dan lebih sedikit lagi yang mampu tampil dengan kepala tegak.

Elies hadir dengan ketenangan, rasa hormat, dan keberanian yang menandakan masa depan cerah.

Muay Thai Tradisional dengan Sentuhan Mobilitas Eropa

Salah satu hal yang membuat Elies Abdelali menonjol di antara petarung muda Eropa lainnya adalah perpaduan gaya bertarungnya.

    1. Teknik Muay Thai Tradisional Thailand. Elies benar-benar mempelajari teknik-teknik inti Muay Thai, antara lain:tendangan keras ke tubuh dan kaki, pukulan kombinasi yang rapat, permainan jarak tengah yang disiplin, dan kemampuan membaca ritme serangan. Ia bukan sekadar petarung agresif — ia teknikal dan memahami struktur Muay Thai klasik.
    2. Mobilitas ala Eropa. Berbeda dari petarung Thailand yang lebih mengandalkan clinch dan serangan beruntun, Elies membawa sentuhan Eropa: footwork cepat dan lincah, pergerakan maju-mundur yang dinamis, kontrol jarak dengan speed, dan taktik memancing lawan keluar ritme. Gaya hybrid inilah yang membuatnya dinamis dan sulit diprediksi.
    3. Agresivitas dan Timing. Salah satu ciri khas tekniknya adalah agresivitas terkontrol. Ia tidak maju membabi buta, tetapi: menunggu timing yang tepat, masuk dengan kombinasi cepat, lalu kembali menjaga jarak dengan aman. Catatan ini menunjukkan bahwa meski muda, Elies memiliki kematangan strategi.

Langkah Awal Menuju Panggung Dunia

ONE Championship dikenal sebagai salah satu organisasi yang memberi ruang besar bagi petarung muda berbakat. Dengan memberikan kesempatan debut di ONE Friday Fights, mereka menunjukkan keyakinan pada potensinya.

Karier Elies masih panjang dan terbuka lebar. Namun debutnya di panggung besar menandai fase penting:

ia kini berada di radar komunitas Muay Thai internasional,
ia mendapatkan eksposur dari fans global,
dan ia kini memikul tanggung jawab sebagai wakil Prancis di ajang elite Asia.

Dengan perkembangan Muay Thai Eropa yang pesat, Elies berpotensi menjadi salah satu wajah baru dari perkembangan tersebut.

Prestasi Awal dan Jalan Menuju Kesuksesan Lebih Besar

Walau baru memulai karier di ONE, Elies membawa beberapa poin penting:

    • Debut internasional di usia sangat muda (22 tahun)
    • Bertarung langsung di Lumpinee — bukti tingkat kepercayaan tinggi dari ONE
    • Gaya bertarung adaptif yang cocok untuk panggung global
    • Potensi besar untuk berkembang dalam beberapa tahun mendatang

Dengan bimbingan pelatih tepat dan eksposur kompetitif yang terus meningkat, tidak tertutup kemungkinan bagi Elies untuk:

    • naik ke ranking featherweight Muay Thai,
    • mendapatkan laga-laga besar melawan petarung Thailand terkemuka,
    • dan menjadi inspirasi bagi petarung-petarung muda Eropa.

Masa Depan Muay Thai Eropa di ONE Championship

Kisah Elies Abdelali bukan sekadar kisah seorang petarung muda yang melakukan debut internasional. Ini adalah kisah tentang keberanian menantang tradisi, tentang generasi baru petarung Eropa yang berani berdiri di ring Thailand, dan tentang mimpi besar yang mulai terwujud.

Dengan gaya bertarung yang agresif namun cerdas, teknik hybrid antara Muay Thai tradisional dan mobilitas Eropa, serta mental baja yang ia tunjukkan di Lumpinee Stadium, Elies Abdelali adalah salah satu talenta paling menarik untuk diikuti dalam beberapa tahun mendatang.

ONE Championship telah melihat potensinya — dan kini, dunia juga mulai memperhatikannya.

(PR/timKB).

Sumber foto: tapology

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Kisah Jose Johnson: Petarung UFC Flyweight

Jakarta – Dunia mixed martial arts (MMA) selalu penuh dengan kisah perjuangan. Dari gym kecil di kota-kota terpencil hingga panggung megah UFC, setiap petarung memiliki cerita uniknya masing-masing. Salah satu kisah menarik datang dari Jose Johnson “Lobo Solitario”, seorang petarung asal Amerika Serikat yang lahir pada 20 Mei 1995 di Flint, Michigan.

Kini, Johnson berkompetisi di divisi flyweight UFC dengan gaya ortodoks yang menggabungkan striking tajam dan submission mematikan. Perjalanannya menuju UFC bukanlah jalan yang mulus, tetapi penuh dengan kerja keras, kegagalan, dan kebangkitan yang membentuk dirinya menjadi petarung tangguh seperti sekarang.

Tangguh dari Kota Flint

Flint, Michigan, bukan hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai tempat lahirnya individu-individu yang kuat mentalnya. Johnson tumbuh di lingkungan ini, di mana kerja keras dan ketahanan mental menjadi bagian dari keseharian.

Sejak remaja, ia sudah menunjukkan minat besar pada olahraga bela diri. Pilihannya jatuh pada MMA, sebuah disiplin yang memadukan berbagai seni tempur. Untuk mewujudkan mimpinya, ia bergabung dengan Wave Combat Sports, tempat ia mengasah kemampuan teknis sekaligus membangun karakter sebagai atlet kompetitif.

Fondasi di Wave Combat Sports

Di bawah bimbingan pelatih-pelatih di Wave Combat Sports, Johnson belajar untuk menggabungkan kekuatan fisik dengan strategi. Latihan keras membentuk striking ortodoks yang solid, dengan jab presisi dan kombinasi pukulan yang disiplin. Namun, pelatihnya juga menekankan pentingnya grappling dan submission agar ia menjadi petarung komplet.

Johnson pun mulai menemukan gaya khasnya: perpaduan striking dan submission, yang membuatnya fleksibel dalam menghadapi lawan. Ia bisa mengendalikan pertarungan di atas, tetapi juga berbahaya ketika laga dibawa ke ground.

Pintu Masuk ke UFC

Tahun 2022 menjadi titik balik besar. Johnson mendapat kesempatan tampil di Dana White’s Contender Series (DWCS) musim ke-6, ajang pencarian bakat yang telah melahirkan banyak bintang UFC. Pada 16 Agustus 2022, ia menghadapi Jack Cartwright, salah satu petarung yang saat itu tidak terkalahkan.

Pertarungan berlangsung ketat. Cartwright datang dengan reputasi besar, tetapi Johnson menunjukkan ketenangan luar biasa. Dengan striking disiplin, kontrol jarak, serta transisi grappling yang rapi, ia berhasil mendikte jalannya pertarungan.

Setelah tiga ronde penuh, para juri memberikan kemenangan kepada Jose Johnson melalui keputusan bulat. Kemenangan itu bukan hanya memperpanjang rekornya, tetapi juga menghadiahkan kontrak resmi UFC—mimpi yang sejak lama ia kejar.

Debut di UFC: Ujian Pertama

Memasuki UFC berarti memasuki liga paling kompetitif di dunia MMA. Johnson menjalani debutnya dengan penuh antusiasme, tetapi debut tersebut tidak berakhir sesuai harapan. Ia harus menerima kekalahan di laga perdana.

Namun, bukannya mundur, Johnson menjadikan kekalahan itu sebagai bahan evaluasi. Ia kembali ke gym, memperbaiki kelemahan, memperkuat strategi, dan berlatih lebih keras dari sebelumnya. Ia tahu bahwa setiap petarung hebat pernah jatuh, dan yang terpenting adalah bagaimana bangkit kembali.

Mencatat Kemenangan Penting

Beberapa pertarungan setelah debutnya menunjukkan perkembangan besar dalam diri Johnson. Ia mencatat kemenangan penting di divisi flyweight UFC, kemenangan yang memperlihatkan kematangannya sebagai petarung.

Kemenangan itu lahir dari kemampuannya memadukan striking ortodoks yang rapi dengan submission berbahaya. Johnson mampu membuat lawan kesulitan menebak arah serangan, apakah ia akan menekan dengan pukulan, menjaga jarak dengan tendangan, atau justru membawa pertarungan ke bawah dan mengunci lawan dengan teknik submission.

Serba Bisa dan Sulit Ditebak

Johnson adalah tipikal petarung serba bisa.

Striking: gaya ortodoks yang mengandalkan jab, straight, serta kombinasi pukulan presisi.
Submission: kemampuan BJJ yang ia asah bertahun-tahun membuatnya mampu mengakhiri laga lewat kuncian.
Fleksibilitas: bisa menyesuaikan diri dengan tipe lawan apa pun, baik striker murni maupun grappler.

Keseimbangan inilah yang menjadikannya ancaman di flyweight. Lawan harus siap menghadapi tekanan di segala lini.

Prestasi Penting

    • Lahir pada 20 Mei 1995 di Flint, Michigan, AS.
    • Berlatih di Wave Combat Sports sebagai fondasi karier profesionalnya.
    • Mengalahkan Jack Cartwright di Dana White’s Contender Series musim ke-6 (16 Agustus 2022) lewat keputusan juri.
    • Mendapat kontrak resmi UFC setelah kemenangan di DWCS.
    • Bertarung di divisi flyweight UFC dengan gaya ortodoks yang memadukan striking dan submission.
    • Mencatat kemenangan penting di UFC setelah sempat kalah di debutnya.

Potensi Besar di Flyweight UFC

Di usianya yang kini 29 tahun, Johnson masih berada di fase matang untuk karier seorang petarung. Divisi flyweight UFC adalah salah satu divisi paling kompetitif, dengan banyak petarung cepat, eksplosif, dan berteknik tinggi. Namun, Johnson punya atribut yang lengkap: striking solid, submission tajam, serta mental pantang menyerah.

Jika ia mampu menjaga konsistensi, memperbaiki pertahanan, dan terus mengembangkan strategi, Jose Johnson berpotensi naik ke papan atas divisi flyweight dan bahkan menjadi salah satu penantang sabuk di masa depan.

Penutup

Jose Johnson adalah gambaran nyata petarung pekerja keras. Dari kota Flint yang keras, ia melangkah ke Wave Combat Sports, menorehkan sejarah dengan kemenangan di Dana White’s Contender Series, hingga akhirnya masuk ke UFC flyweight.

Meski debutnya tidak berjalan mulus, Johnson membuktikan dirinya dengan bangkit mencatat kemenangan-kemenangan penting. Dengan gaya bertarung ortodoks yang memadukan striking tajam dan submission berbahaya, ia kini menjadi salah satu petarung yang patut diperhitungkan di UFC.

Perjalanannya masih panjang, dan publik MMA menunggu sejauh mana Jose Johnson bisa melangkah. Dari Flint menuju panggung dunia, kisah Johnson adalah bukti bahwa kegigihan dan disiplin bisa membawa siapa pun menaklukkan rintangan.

(PR/timKB).

Sumber foto: instagram

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Austin Bashi, Petarung Featherweight UFC

Jakarta – Setiap generasi dalam dunia mixed martial arts (MMA) selalu melahirkan sosok baru yang dianggap sebagai harapan masa depan. Dari Amerika Serikat, tepatnya West Bloomfield Township, Michigan, lahir seorang petarung muda yang kini mulai mengukir nama di pentas dunia: Austin Bashi.

Lahir pada 29 September 2001, Bashi bukan hanya sekadar petarung muda biasa. Ia adalah talenta yang dibentuk dari fondasi gulat dan Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ), dua disiplin penting yang mendominasi arena MMA modern. Dengan gaya bertarung agresif namun cerdas, ia menjadikan submission—khususnya rear-naked choke—sebagai senjata andalannya untuk menutup laga lebih cepat.

Awal Perjalanan Bela Diri

Sejak kecil, Austin Bashi dikenal memiliki semangat kompetitif yang tinggi. Tumbuh di Michigan, ia hidup dalam lingkungan yang mendukung pengembangan bakat olahraga. Dari usia dini, ia sudah jatuh hati pada gulat, sebuah cabang olahraga yang tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga daya tahan mental.

Tak butuh waktu lama baginya untuk menonjol. Bashi menunjukkan ketekunan luar biasa, memadukan teknik dengan disiplin latihan harian. Namun, rasa haus akan tantangan mendorongnya untuk mengeksplorasi seni bela diri lain. Di sinilah Brazilian Jiu-Jitsu hadir, melengkapi keahliannya dalam dunia grappling.

Batu Loncatan Menuju Ketangguhan

Bashi mulai meniti jalannya di ajang regional, sebuah arena yang menjadi titik awal bagi banyak petarung muda sebelum menembus panggung internasional. Ia bertarung di beberapa organisasi ternama seperti Lights Out Championship dan Shamrock FC.

Di kedua ajang ini, Bashi membuktikan diri sebagai petarung yang berbeda. Ia jarang membiarkan pertarungan berlangsung penuh ronde. Begitu mendapat kesempatan membawa lawan ke ground, ia langsung mengeksekusi submission yang hampir selalu berakhir sukses. Dominasi ini membuat publik regional mulai menaruh perhatian pada namanya.

Kemenangan demi kemenangan akhirnya mengantarkannya merebut gelar juara di level regional. Gelar ini bukan sekadar pencapaian, tetapi simbol bahwa Austin Bashi telah siap melangkah lebih jauh.

Panggung Penentu

Titik balik karier Bashi datang pada 3 September 2024 ketika ia tampil di Dana White’s Contender Series (DWCS), ajang seleksi yang menjadi gerbang bagi banyak petarung menuju UFC.

Malam itu, Bashi tampil dengan penuh kepercayaan diri. Ia menjaga jarak dengan striking sederhana, lalu segera memanfaatkan peluang untuk melakukan takedown. Sejak pertarungan masuk ke ground, kendali sepenuhnya berada di tangannya.

Pada ronde kedua, ia menutup laga dengan rear-naked choke—signature move yang sudah berulang kali membawanya pada kemenangan. Eksekusi yang cepat dan presisi membuat para juri dan penonton terkesan. Dana White pun tak ragu memberinya kontrak UFC, menandai awal petualangan besar Bashi di panggung terbesar MMA dunia.

Grappler Muda dengan Senjata Submission

Austin Bashi dikenal sebagai petarung featherweight dengan spesialisasi grappling.

    • Gulat: membantunya mendominasi clinch dan mengendalikan lawan di posisi ground.
    • Brazilian Jiu-Jitsu: memberinya kemampuan teknis untuk mengeksekusi submission yang efisien.
    • Rear-naked choke: menjadi senjata pamungkasnya, sering kali mengakhiri pertarungan sebelum bel berbunyi.

Meski grappling adalah kekuatan utamanya, Bashi juga menunjukkan perkembangan dalam striking, meski masih terus disempurnakan untuk menghadapi striker elit UFC.

Prestasi dan Catatan Karier

    • Lahir pada 29 September 2001 di West Bloomfield Township, Michigan, AS.
    • Fondasi bela diri dari gulat dan Brazilian Jiu-Jitsu.
    • Mendominasi ajang regional seperti Lights Out Championship dan Shamrock FC.
    • Juara regional sebelum masuk ke UFC.
    • Menang di Dana White’s Contender Series (3 September 2024) lewat submission ronde kedua.
    • Saat ini berkompetisi di divisi featherweight UFC dengan reputasi sebagai spesialis grappling.

Bintang Muda Featherweight

Dengan usia yang baru 23 tahun, Austin Bashi memiliki masa depan panjang di UFC. Divisi featherweight adalah salah satu kelas paling kompetitif, penuh petarung dengan gaya beragam, dari striker eksplosif hingga grappler veteran. Namun, Bashi memiliki modal besar untuk bersaing: teknik grappling yang matang, mental baja, serta kecepatan adaptasi.

Jika ia terus mengembangkan arsenal striking dan menjaga konsistensi performa, bukan mustahil Bashi akan naik ke papan atas dan menjadi salah satu penantang sabuk di masa depan. Banyak pengamat melihatnya sebagai salah satu prospek terbaik generasi baru UFC.

Penutup

Austin Bashi adalah kisah tentang seorang anak muda dari Michigan yang menolak untuk sekadar bermimpi, tetapi benar-benar bekerja keras mewujudkannya. Dari ajang lokal seperti Lights Out Championship, ia menapaki jalan panjang penuh kemenangan, hingga akhirnya mengunci kontrak UFC lewat Dana White’s Contender Series 2024.

Dengan gaya bertarung yang memadukan gulat dan Brazilian Jiu-Jitsu, serta kemampuan submission mematikan seperti rear-naked choke, Bashi kini menjadi salah satu bintang muda yang patut diperhitungkan di divisi featherweight UFC.

Dunia MMA kini menanti: sejauh mana langkah Austin Bashi akan membawanya? Apakah ia akan menjadi sekadar prospek muda, atau bintang besar yang benar-benar menguasai panggung UFC?

(PR/timKB).

Sumber foto: instagram

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Rafael Lovato Jr.: Maestro BJJ dari Amerika

Jakarta – Lahir pada 25 Juni 1983 di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, Rafael Lovato Jr. tumbuh di lingkungan yang tidak bisa dipisahkan dari dunia seni bela diri. Ayahnya, Rafael Lovato Sr., adalah seorang pelatih bela diri legendaris yang memperkenalkan BJJ dan Jeet Kune Do ke Amerika pada era 1980-an. Dari sang ayah, Lovato Jr. belajar bahwa bela diri bukan sekadar kompetisi — melainkan cara hidup yang berakar pada disiplin, kehormatan, dan pengendalian diri.

Lahir pada 25 Juni 1983 di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, Rafael Lovato Jr. tumbuh di lingkungan yang tidak bisa dipisahkan dari dunia seni bela diri. Ayahnya, Rafael Lovato Sr., adalah seorang pelatih bela diri legendaris yang memperkenalkan BJJ dan Jeet Kune Do ke Amerika pada era 1980-an. Dari sang ayah, Lovato Jr. belajar bahwa bela diri bukan sekadar kompetisi — melainkan cara hidup yang berakar pada disiplin, kehormatan, dan pengendalian diri.

Baca juga: Jelang ONE 173: Superbon vs. Noiri

Sejak kecil, Rafael Jr. menghabiskan waktu di dojo milik keluarganya di Oklahoma City, tempat di mana filosofi bela diri dipraktikkan setiap hari. Ia mulai berlatih sejak usia lima tahun, dan ketika remaja, ia telah menguasai berbagai seni bela diri seperti kickboxing, boxing, dan BJJ (Brazilian Jiu-Jitsu).

Namun, begitu ia menemukan BJJ — seni yang mengedepankan teknik, leverage, dan strategi ketimbang kekuatan fisik — Lovato Jr. tahu bahwa ia telah menemukan panggilannya.

“Saya dibesarkan dalam dojo, tapi BJJ mengubah cara saya memandang kehidupan. Ini bukan sekadar seni bela diri — ini adalah meditasi dalam gerakan,” ujar Lovato Jr. dalam sebuah wawancara dokumenter tentang perjalanan hidupnya.

Dari Murid Hingga Maestro BJJ Dunia

Rafael Lovato Jr. mulai meniti karier profesionalnya di dunia Brazilian Jiu-Jitsu kompetitif sejak awal tahun 2000-an. Ia berlatih di bawah bimbingan Saulo dan Xande Ribeiro, dua ikon BJJ dunia yang membentuk dasar filosofi grappling-nya — menekankan kontrol, efisiensi, dan pemahaman mendalam terhadap transisi posisi.

Dengan dedikasi luar biasa, Lovato Jr. segera menorehkan prestasi gemilang di berbagai kompetisi nasional dan internasional. Ia dikenal bukan hanya karena tekniknya yang presisi, tetapi juga karena ketenangannya di bawah tekanan, sesuatu yang membuatnya sering membalikkan keadaan saat menghadapi lawan-lawan tangguh.

Pada tahun-tahun awal kariernya, Lovato Jr. menjadi pionir BJJ Amerika, karena pada masa itu dominasi di dunia grappling masih dipegang oleh atlet-atlet asal Brasil. Namun, ia membuktikan bahwa dengan kerja keras dan disiplin, seorang grappler Amerika juga bisa mencapai level dunia.

Puncak Karier Grappling

Selama dua dekade, Rafael Lovato Jr. telah mencatatkan prestasi luar biasa di dunia Brazilian Jiu-Jitsu dan submission grappling. Ia meraih gelar dari berbagai federasi bergengsi seperti IBJJF, CBJJ, dan ADCC, menjadikannya salah satu grappler paling komplet dalam sejarah.

Beberapa prestasi pentingnya meliputi:

    • Juara Dunia IBJJF (Gi & No-Gi) di berbagai kategori berat
    • Juara ADCC World Championship 2024 di kelas -99 kg
    • Juara Pan American BJJ Championship (berulang kali)
    • European BJJ Champion & Brazilian Nationals Champion
    • Pemegang sabuk hitam tingkat kelima di bawah Saulo Ribeiro

Kemenangan di ADCC 2024 menjadi salah satu pencapaian paling monumental dalam kariernya. Pada usia 41 tahun, Lovato Jr. membuktikan bahwa usia hanyalah angka, ketika ia menaklukkan lawan-lawan muda dengan teknik matang, kontrol tekanan luar biasa, dan kecerdasan strategi yang hanya dimiliki oleh master sejati.

Juara Tanpa Noda di Bellator

Selain menjadi legenda grappling, Rafael Lovato Jr. juga menorehkan sejarah di dunia Mixed Martial Arts (MMA). Ia berkarier secara profesional sejak 2014 dan membangun rekor sempurna 11 kemenangan tanpa kekalahan (11–0) — sebuah prestasi langka, terutama bagi petarung yang memulai di usia 30-an.

Di ajang Bellator MMA, Lovato Jr. menunjukkan bahwa kemampuan grappling tingkat dunia bisa menjadi senjata dominan dalam MMA modern. Ia merebut gelar juara dunia kelas middleweight Bellator pada tahun 2019 setelah mengalahkan Gegard Mousasi, salah satu petarung paling berpengalaman di dunia.

Kemenangan itu menandai puncak karier MMA-nya. Namun, tak lama setelah itu, ia didiagnosis menderita kelainan otak langka (cavernoma), yang membuatnya harus mengakhiri karier MMA lebih awal demi keselamatan.

Meski begitu, semangat bertarungnya tak pernah padam. Ia kembali ke akar BJJ — dunia di mana ia bisa terus berkompetisi, mengajar, dan menginspirasi.

“Saya tidak pernah berhenti menjadi pejuang. Saya hanya berpindah medan perang — dari oktagon ke matras,” tutur Lovato Jr. setelah comeback-nya di dunia grappling.

Efisiensi, Kontrol, dan Ketenangan

Rafael Lovato Jr. dikenal sebagai grappler dengan gaya klasik namun sangat efisien, sebuah refleksi langsung dari ajaran Saulo Ribeiro dan pengalamannya di dunia MMA.

Ia mengandalkan:

    • Top control dan pressure passing: Lovato menggunakan tekanan konstan dari atas untuk mematahkan pertahanan lawan dan membuka ruang untuk kuncian.
    • Closed guard yang solid: Guard miliknya merupakan salah satu yang paling dihormati di dunia grappling — aktif, adaptif, dan sangat sulit ditembus.
    • Strategi bertahan dan adaptasi tinggi: Ia jarang terburu-buru mengejar submission. Bagi Lovato, kemenangan datang melalui kendali penuh atas waktu dan ruang.
    • Ketenangan dari pengalaman MMA: Berkat masa lalunya di Bellator, Lovato membawa tingkat mental fortitude yang tinggi, menjadikannya sulit digoyahkan dalam pertarungan panjang.

Dengan kombinasi itu, ia menjadi representasi BJJ klasik yang disempurnakan dengan pengalaman modern.

Bergabung dengan ONE Championship

Kini, Rafael Lovato Jr. siap menulis babak baru dalam perjalanannya — sebagai ikon submission grappling di ONE Championship.

Ia bergabung di divisi middleweight submission grappling, membawa nama besar, pengalaman luas, dan ambisi untuk memperkenalkan filosofi BJJ klasik kepada generasi baru.

Lovato Jr. dijadwalkan menghadapi Giancarlo Bodoni, juara dunia ADCC dua kali, dalam laga super fight yang akan digelar di ONE 173: Superbon vs. Noiri di Tokyo, Jepang.

Pertemuan dua generasi ini — sang maestro berpengalaman melawan sang arsitek muda — menjadi salah satu laga grappling paling dinanti tahun 2025.

Pertarungan ini bukan sekadar soal siapa yang menang. Ini adalah pertemuan dua filosofi grappling:

    • Bodoni dengan gaya modern yang cepat dan menyerang dari berbagai sudut,
    • Lovato Jr. dengan gaya klasik berbasis kontrol dan efisiensi.

Lebih dari Sekadar Atlet

Selain sebagai kompetitor, Rafael Lovato Jr. adalah seorang guru, pelatih, dan duta seni bela diri sejati. Ia mendirikan Lovato’s School of BJJ and MMA di Oklahoma City, yang kini menjadi salah satu akademi paling dihormati di Amerika Serikat.

Melalui akademinya, ia telah melatih ratusan murid, mencetak banyak sabuk hitam, dan menginspirasi generasi baru grappler untuk menyeimbangkan kekuatan teknik dengan kebijaksanaan spiritual.

Ia juga dikenal sebagai pengajar yang puitis dalam menjelaskan seni BJJ — menekankan bahwa grappling bukan hanya tentang menang, tetapi tentang menemukan harmoni antara tubuh dan pikiran.

“BJJ bukan tentang mendominasi. Ini tentang memahami dirimu sendiri melalui pergerakan,” ucapnya dalam salah satu seminar internasional.

Sang Maestro Abadi dari Dunia Grappling

Dari dojo kecil di Ohio hingga panggung dunia di ADCC dan ONE Championship, perjalanan Rafael Lovato Jr. adalah kisah tentang dedikasi, disiplin, dan cinta sejati terhadap seni bela diri.

Dengan gelar juara dunia IBJJF, ADCC, dan Bellator MMA, Lovato Jr. adalah bukti hidup bahwa seorang petarung sejati bisa menguasai berbagai medan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Kini, di usia 42 tahun, ia tidak hanya menjadi legenda — tetapi juga penjaga warisan BJJ klasik di era grappling modern.

“Saya mungkin sudah tidak muda, tapi saya masih belajar setiap hari. Karena dalam BJJ, perjalanan tidak pernah berakhir.”

 

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Felipe “Jungle Boy” Lima: Profil Petarung UFC Asal Brasil

Dalam beberapa tahun terakhir, divisi Bantamweight UFC menjadi salah satu kelas tersengit di MMA modern — penuh talenta muda, striker eksplosif, dan grappler elite. Di antara nama-nama baru yang mencuri perhatian, Felipe De Oliveira Lima, atau yang lebih dikenal dengan julukan “Jungle Boy”, muncul sebagai salah satu fenomena paling menarik. Dengan kombinasi teknik Brazilian Jiu-Jitsu yang matang, kecepatan striking mematikan, dan mentalitas agresor khas petarung Brasil, Felipe Lima dengan cepat menempatkan dirinya sebagai prospek berbahaya yang wajib diperhitungkan.

Dari Coari, Amazonas, Menuju Panggung Dunia

Felipe Lima lahir pada 7 Mei 1998 di Coari, sebuah kota di jantung wilayah Amazonas, Brasil — daerah yang dikenal sebagai rumah bagi banyak pejuang tangguh dan atlet penuh daya juang. Tumbuh di lingkungan yang keras dan penuh tantangan, Felipe kecil menemukan disiplin dan arah hidup ketika ia mulai mempelajari Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ).

Sejak usia muda, Felipe memperlihatkan bakat alami dalam grappling. Kecepatan transisinya, insting submission yang tajam, serta pemahaman teknikal yang mendalam membuatnya berkembang pesat. BJJ menjadi fondasi kuat yang kelak membangun identitasnya sebagai petarung profesional.

Dari BJJ ke Dunia MMA Profesional

Memiliki dasar grappling yang solid, Felipe mulai melirik arena pertarungan yang lebih luas: Mixed Martial Arts (MMA). Pada tahun 2015, di usia 17 tahun, ia resmi memulai karier profesionalnya di MMA.

Perjalanannya tidak langsung mulus. Felipe bertanding di berbagai ajang regional di Brasil, Eropa, dan Timur Tengah. Namun dari setiap pertarungan, gaya khasnya mulai terbentuk:

    • Striking cepat dan agresif
    • Grappling yang halus dan bertenaga
    • Kemampuan membaca momentum di awal ronde
    • Finishing instinct yang kuat

Dalam waktu singkat, ia menjadi salah satu petarung muda paling menjanjikan dari Brasil.

Meniti Karier di Brave CF dan OKTAGON MMA

Sebelum menembus UFC, Felipe Lima lebih dulu membangun reputasi kuat di dua organisasi besar:

Brave Combat Federation

Di Brave CF, Felipe bertanding melawan banyak petarung internasional, mengasah kemampuannya dalam berbagai situasi dan gaya bertarung.

Oktagon MMA (Republik Ceko–Eropa)

Puncak kesuksesannya di kancah pra-UFC datang saat ia meraih gelar juara Oktagon Bantamweight.

Keberhasilan ini tidak hanya membuat namanya bersinar di Eropa, tetapi juga memperkuat reputasinya sebagai petarung lengkap dengan kemampuan striking dan grappling kelas dunia.

Di OKTAGON, ia tampil seperti predator hutan — cepat, agresif, dan mematikan. Dari sinilah julukannya, “Jungle Boy”, semakin melekat.

Lompatan Besar Sang “Jungle Boy”

Performa impresif Felipe di Eropa menarik perhatian scout UFC. Pada tahun 2024, ia resmi direkrut oleh organisasi MMA terbesar di dunia tersebut. Dalam waktu singkat, ia langsung membuktikan kualitasnya di hadapan jutaan penonton.

Submission atas Muhammad Naimov – UFC Saudi Arabia 2024

Inilah pertarungan yang menegaskan bahwa Felipe Lima bukan sekadar pendatang baru.

Melalui permainan grappling cerdas dan serangan yang presisi, Felipe mengunci kemenangan melalui submission.

Pertarungan tersebut menjadi momen besar yang memperlihatkan kombinasi eksplosif dua gaya bertarung utamanya:

    • Striking cepat untuk membuka celah,
    • Grappling mematikan untuk mengakhiri laga.

Agresif, Seimbang, dan Selalu Mencari Finish

Felipe Lima adalah petarung yang sulit ditebak. Ia bisa menyerang dari berbagai sudut, bertarung dalam ritme tinggi, dan beradaptasi cepat terhadap gaya lawan.

Karakteristik Teknis:

    • Striking cepat & eksplosif. Ia mampu mendaratkan kombinasi tangan dan kaki yang memaksa lawan bertahan sejak awal ronde.
    • Grappling kuat & transisi halus. Sebagai petarung dengan dasar BJJ, ia sangat percaya diri dalam scrambles, takedown reversals, dan permainan ground.
    • Mentalitas agresor. Felipe bukan tipe petarung yang menunggu — ia menyerang, menekan, dan mencari penyelesaian secepat mungkin.

Rekor Profesional (14–2):

    • 4 KO/TKO – serangan cepat dan bertenaga
    • 3 Submission – efisiensi dan teknik tinggi
    • 7 Keputusan juri – daya tahan, kontrol, dan konsistensi

Keseimbangan inilah yang membuatnya petarung lengkap.

Prestasi dan Pencapaian Karier

    • Juara Oktagon MMA Bantamweight
    • Salah satu gelar yang paling mengangkat namanya di Eropa
    • Multi-finisher
    • Dengan kemenangan yang datang dari KO, TKO, dan submission, Felipe membuktikan dirinya sebagai petarung all-rounder.
    • Debut UFC Sukses: Submission atas Muhammad Naimov adalah pernyataan besar bahwa ia siap bersaing di papan atas.
    • Rekor impresif: 14 kemenangan dari 16 pertarungan di usia muda menunjukkan prospek jangka panjangnya sangat menjanjikan.
    • Julukan “Jungle Boy”: Cerminan Akar & Identitas

Felipe tumbuh di Amazonas — wilayah yang identik dengan alam liar, ketangguhan, dan daya tahan. Gaya bertarungnya yang cepat, bertempo tinggi, dan agresif mencerminkan karakter itu.

Julukan “Jungle Boy” menggambarkan:

    • insting predator,
    • gerakan cepat dan lincah,
    • serta kekuatan alami yang lahir dari perjalanan hidup penuh tantangan.

Ia adalah petarung yang bertarung seperti sedang berburu — mencari celah, menyerang dengan presisi, dan menyelesaikan lawan tanpa ragu.

Masa Depan di Divisi Bantamweight UFC

Dengan usia yang baru 26 tahun, Felipe Lima memiliki masa depan cerah di UFC.

Divisi Bantamweight adalah salah satu yang paling kompetitif, namun juga paling cepat menaikkan petarung muda berbakat.

Jika ia melanjutkan pola progresinya:

    • Teknik grappling kuat
    • Striking cepat
    • Agresivitas tanpa henti
    • Mental pemenang

maka tidak mustahil “Jungle Boy” akan menjadi salah satu ancaman serius dalam jajaran peringkat 10 besar dan bahkan kandidat gelar di masa depan.

Harimau Amazon yang Siap Mendominasi UFC

Felipe De Oliveira Lima adalah contoh sempurna bagaimana kombinasi disiplin, kerja keras, dan bakat alami bisa membawa seorang anak muda dari Coari, Amazonas, menuju puncak arena pertarungan dunia.

Sebagai petarung dengan kemampuan lengkap, daya ledak, dan keberanian untuk bertarung melawan siapa pun, Felipe “Jungle Boy” Lima terus menarik perhatian para penggemar MMA global — dan kisah kenaikannya baru saja dimulai.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Kisah Alonzo Menifield: Mesin Knockout UFC dari Los Angeles

Dalam dunia MMA yang penuh dengan petarung bertalenta, hanya sedikit yang memiliki daya ledak dan karakter sekuat Alonzo Theodoro Menifield. Lahir pada 18 Oktober 1987 di Los Angeles, California, Menifield menjelma menjadi salah satu finisher paling ditakuti di divisi Light Heavyweight UFC. Dengan julukan “Atomic”, ia dikenal sebagai pemilik pukulan eksplosif, agresivitas tinggi, serta kemampuan menyelesaikan laga dalam hitungan detik — kualitas yang membuat setiap pertandingannya menjadi tontonan yang tak boleh dilewatkan.

Dari Tantangan Hidup Menuju Panggung MMA Dunia

Perjalanan hidup Alonzo Menifield tidak pernah mudah. Ia melalui masa kecil yang keras — berpindah-pindah panti asuhan, rumah singgah, dan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Namun justru di tengah badai inilah karakter kuat dan mental baja dirinya terbentuk.

Menifield menemukan pelarian dan arah hidup melalui olahraga. Ia mulai menonjol dalam American football, tampil sebagai linebacker dan defensive end di tingkat perguruan tinggi. Atletis, kuat, dan cepat — sifat-sifat alami itu kelak akan menjadi modal penting dalam karier MMA-nya.

Meskipun memiliki potensi besar dalam football, Menifield akhirnya memilih jalur berbeda: seni bela diri campuran. Keputusan itu mengubah hidupnya dan membuka jalan menuju panggung internasional.

LFA, Bellator, dan Jalan Panjang Menuju UFC

Alonzo memulai karier profesional MMA pada tahun 2015, dan sejak awal, gaya bertarungnya sudah menarik perhatian. Dengan kekuatan fisik luar biasa dan insting finisher alami, ia mencatat beberapa kemenangan cepat di ajang regional.

Perjalanan Awal:

    • Bertanding di Bellator MMA, di mana ia menunjukkan kemampuan striking keras.
    • Melanjutkan karier di Legacy Fighting Alliance (LFA), salah satu organisasi terbesar di Amerika untuk petarung prospek UFC.

Di LFA, Menifield menunjukkan bahwa ia bukan sekadar atlet berbadan besar — ia adalah kekuatan destruktif dengan ketepatan teknik dan mental agresor.

Tiket Menuju UFC

Nama Alonzo Menifield semakin dikenal ketika ia tampil di Dana White’s Contender Series, ajang pencarian bakat resmi UFC yang telah melahirkan puluhan bintang.

Dalam penampilan menentukan itu, Menifield hanya butuh kelincahan, ketenangan, dan tenaga ledak luar biasa untuk meraih kemenangan impresif. Penampilan meyakinkan tersebut membuat Dana White langsung memberikan kontrak UFC.

Itulah titik di mana “Atomic” resmi memasuki panggung terbesar MMA dunia.

Ledakan KO dan Reputasi sebagai Finisher Berbahaya

Sejak debutnya, Menifield membuktikan bahwa ia bukan petarung biasa. Setiap kali masuk ke oktagon, ancaman knockout selalu hadir.

Rekor Profesional:

17 kemenangan – 5 kekalahan – 1 hasil imbang

🔸 10 kali KO/TKO

🔸 3 kali submission

🔸 Mayoritas kemenangan di ronde pertama

Statistik ini tidak hanya menggambarkan efektivitas, tetapi juga menunjukkan sesuatu yang jarang dimiliki petarung lain: kemampuan menyelesaikan laga cepat dan brutal.

Gaya Bertarung: Atomic Power

Alonzo Menifield membawa gaya bertarung yang sangat eksplosif dan efisien:

    • Striking keras berbasis power punching
    • Tangan kanan yang bisa mematikan dalam satu pukulan
    • Fisik atletis dari latar belakang football
    • Kemampuan clinch kuat dan tekanan konstan
    • Insting finisher yang tajam

Ia merupakan petarung yang jarang menunggu lama. Begitu melihat celah, ia langsung menerjang — memberikan pukulan kombinasi cepat yang sering menghentikan lawan sebelum mereka sempat masuk ke ritme permainan.

Dari Brawler Menjadi Petarung Lengkap

Seiring bertambahnya pengalaman di UFC, Menifield tidak hanya mengandalkan tangan kanannya. Ia mulai memperkuat:

    • Kontrol grappling
    • Pertahanan takedown
    • Transisi teknik ground
    • Akurasi counter striking

Hal ini tercermin dalam beberapa kemenangannya melalui submission, termasuk guillotine choke yang ia eksekusi dengan kekuatan luar biasa.

Transformasi ini membuatnya tidak lagi dipandang sebagai “one-dimensional brawler”, tetapi sebagai petarung Light Heavyweight yang semakin matang dan berbahaya.

Prestasi dan Sorotan Karier

Beberapa highlight penting dari perjalanan Menifield:

    1. Kemenangan Impresif di Debut UFC. Menifield langsung mencetak KO cepat dalam debutnya, memperkuat kesan bahwa ia benar-benar “Atomic”.
    2. Dominasi Kemenangan Ronde Pertama. Dengan 10 KO/TKO dan banyak di antaranya terjadi sebelum bel ronde pertama berakhir, reputasinya sebagai finisher tak perlu diragukan.
    3. Performa Konsisten di UFC. Meski menghadapi nama-nama besar, Menifield mampu bertahan, berkembang, dan mencatat beberapa kemenangan signifikan.

Julukan “Atomic”: Cerminan Kekuatan dan Kepribadian

Julukan “Atomic” bukanlah nama panggilan sembarangan.

Ia menggambarkan:

    • Daya ledak pukulannya
    • Agresivitas alami
    • Kecepatan memburu penyelesaian
    • Mentalitas menyerang tanpa ragu

Menonton pertarungannya sering terasa seperti menunggu ledakan — cepat, keras, dan mematikan.

Warisan dan Dampak Menifield dalam Dunia MMA

Alonzo Menifield bukan hanya petarung yang menghibur, tetapi juga contoh nyata ketangguhan manusia. Dari masa kecil yang sulit hingga menjadi salah satu petarung paling eksplosif di UFC, ia membuktikan bahwa keberanian dan disiplin bisa mengubah hidup.

Ia menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda, terutama yang berasal dari latar belakang keras, bahwa tidak ada masa depan yang ditentukan oleh masa lalu.

Ancaman Besar di Light Heavyweight UFC

Dengan kombinasi kekuatan knockout, agresi buas, dan perjalanan hidup yang penuh ketekunan, Alonzo Menifield telah mengukir namanya sebagai salah satu petarung paling berbahaya di divisi Light Heavyweight.

Dari LFA dan Bellator hingga panggung UFC, ia telah berkembang menjadi simbol kekuatan dan ketangguhan — petarung yang selalu siap memberikan pertarungan spektakuler.

Selama “Atomic” masih aktif di oktagon, satu hal pasti: Setiap pertarungannya adalah potensi ledakan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Giancarlo Bodoni: Sang Juara Dunia ADCC

Jakarta – Lahir pada 15 Oktober 1995 di Miami, Florida, Amerika Serikat, Giancarlo Bodoni tumbuh di lingkungan yang penuh keberagaman budaya dan kompetisi. Sejak usia muda, ia sudah tertarik pada seni bela diri — bukan untuk bertarung, tetapi untuk menemukan bentuk disiplin dan kendali diri yang bisa membentuk karakter.

Di usia belasan tahun, Bodoni menemukan dunia Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ), sebuah disiplin bela diri yang segera menjadi pusat kehidupannya. Latihan pertamanya dilakukan di sebuah akademi kecil di Miami, di mana ia langsung jatuh cinta dengan konsep mengalahkan kekuatan dengan teknik dan strategi.

Baca juga: Jelang ONE 173: Superbon vs. Noiri

“BJJ mengajarkan saya untuk tetap tenang dalam kekacauan. Ini bukan tentang siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang bisa berpikir lebih cepat,” ujar Bodoni dalam salah satu wawancara pasca-kemenangannya di ADCC.

Kecintaan itu tumbuh menjadi obsesi. Ia berlatih setiap hari, mempelajari setiap detail teknik — dari guard retention hingga pressure passing. Tak butuh waktu lama hingga namanya mulai dikenal di kejuaraan lokal Florida sebagai remaja yang berbakat dan haus belajar.

Dari Kompetisi Regional ke Juara Dunia

Perjalanan Giancarlo Bodoni menuju puncak dunia grappling tidak terjadi dalam semalam. Ia menghabiskan bertahun-tahun berpindah dari satu akademi ke akademi lain, menyerap filosofi dan gaya dari berbagai pelatih ternama.

Salah satu momen paling penting dalam kariernya adalah ketika ia bergabung dengan New Wave Jiu-Jitsu, tim elite yang dipimpin oleh John Danaher dan beranggotakan nama-nama besar seperti Gordon Ryan, Garry Tonon, dan Nicholas Meregali.

Di bawah bimbingan Danaher — yang dikenal dengan sistem “positional control and submission hierarchy” — Bodoni berkembang pesat, tidak hanya secara teknis, tetapi juga dalam pemahaman taktis dan psikologis terhadap grappling.

Latihannya bersama tim New Wave memberinya kemampuan untuk menggabungkan teknik efisien dengan kekuatan mental baja, menjadikannya bukan sekadar grappler, melainkan arsitek taktik di atas matras.

Dari sinilah lahir gaya khas Bodoni yang kini dikenal di dunia: pressure passing yang konstan, transisi mulus, dan kontrol punggung yang nyaris mustahil dilepaskan lawan.

Juara Dunia ADCC Dua Kali

Turnamen ADCC (Abu Dhabi Combat Club) adalah puncak kompetisi submission grappling dunia — ajang yang hanya diikuti oleh para grappler terbaik dari seluruh planet.

Giancarlo Bodoni menorehkan sejarah besar di sini.

    • ADCC 2022 (-88 kg): Bodoni tampil luar biasa di Las Vegas, mengalahkan beberapa nama besar seperti Lucas “Hulk” Barbosa dan Eoghan O’Flanagan. Dalam final, ia menunjukkan ketenangan luar biasa, memanfaatkan transisi cepat dan kontrol posisi untuk meraih kemenangan dan gelar juara dunia pertamanya.
    • ADCC 2024 (-88 kg): Dua tahun kemudian, Bodoni kembali membuktikan bahwa dominasinya bukan kebetulan. Di ajang ADCC 2024, ia tampil lebih matang dan agresif, mempertahankan gelar juaranya dengan kemenangan tegas atas lawan-lawannya — termasuk submission indah lewat rear-naked choke di semifinal. Dengan dua gelar ADCC berturut-turut, Giancarlo Bodoni resmi menjadi salah satu grappler terbaik dalam sejarah modern.

“Saya tidak datang untuk menjadi yang terbaik di satu turnamen. Saya datang untuk membangun warisan,” ujar Bodoni seusai final ADCC 2024.

Precision, Pressure, and Control

Giancarlo Bodoni dikenal karena pendekatan teknis yang ilmiah namun brutal. Ia bukan tipe grappler yang mencari highlight flashy, melainkan petarung yang menghancurkan lawan melalui tekanan konstan dan efisiensi posisi.

Ciri khas gaya bertarungnya meliputi:

    • Pressure Passing: Bodoni menguasai seni mengontrol lawan dari atas dengan tekanan berat dan stabil. Ia menggunakan bahu dan pinggul untuk menekan pernapasan lawan, memaksa mereka membuat kesalahan.
    • Submission Chaining: Ia jarang mengandalkan satu teknik saja. Bodoni selalu memiliki “rantai serangan” — jika armbar gagal, ia langsung beralih ke triangle, lalu ke back take.
    • Back Control yang Presisi: Salah satu kekuatannya terletak pada kemampuan menjaga posisi punggung lawan dengan sempurna. Sekali ia mendapatkan kontrol belakang, keluar adalah misi mustahil.
    • Transisi Cepat: Gaya Bodoni sangat cair. Ia bisa berpindah dari guard ke mount, lalu ke submission dalam hitungan detik — gaya yang ditunggu oleh penggemar grappling.

Era Baru di Dunia Submission Grappling

Setelah mendominasi dunia BJJ dan ADCC, langkah berikutnya bagi Giancarlo Bodoni adalah membawa keahliannya ke panggung global: ONE Championship.

Ia resmi diumumkan sebagai bagian dari divisi Middleweight Submission Grappling, bergabung dengan nama-nama besar seperti Tye Ruotolo, Kade Ruotolo, dan Mikey Musumeci.

Bodoni dijadwalkan melakukan debut pada ONE 173: Superbon vs. Noiri di Tokyo, Jepang, melawan sesama legenda grappling, Rafael Lovato Jr., dalam duel yang disebut-sebut sebagai “Pertarungan Mahakarya Teknikal.”

Pertarungan ini bukan sekadar laga debut — melainkan simbol transisi generasi antara dua era grappler: Lovato sebagai ikon lama, dan Bodoni sebagai wajah baru grappling modern.

Keduanya dikenal dengan permainan berbasis kontrol dan strategi, membuat laga ini sangat dinanti oleh penggemar BJJ di seluruh dunia.

Prestasi dan Rekor Karier

Beberapa pencapaian penting Giancarlo Bodoni sejauh ini:

    • Juara Dunia ADCC 2022 (-88 kg)
    • Juara Dunia ADCC 2024 (-88 kg)
    • IBJJF No-Gi World Champion (2021)
    • IBJJF Pan American Champion (Gi & No-Gi)
    • 3x IBJJF World Championship Medalist
    • Sabuk hitam di bawah Lucas Lepri
    • Anggota tim New Wave Jiu-Jitsu bersama Gordon Ryan dan John Danaher

Selain itu, Bodoni juga dikenal aktif memberikan seminar internasional dan pelatihan teknik grappling modern di berbagai negara, membagikan filosofi “tekanan efisien” yang menjadi DNA gaya bertarungnya.

Filosofi dan Pendekatan Mental

Di luar teknik, Giancarlo Bodoni adalah sosok yang dikenal memiliki mental juara. Ia menekankan pentingnya disiplin, fokus, dan introspeksi diri dalam setiap aspek latihan.

“Saya tidak berlatih untuk menjadi sempurna. Saya berlatih agar bisa tenang dalam situasi yang tidak sempurna,” katanya dalam sebuah sesi podcast grappling.

Pendekatan ini menjadikannya grappler yang sulit digoyahkan — baik secara fisik maupun emosional. Ia percaya bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan lawan, melainkan menguasai diri sendiri di tengah tekanan.

Dari Matras ADCC ke Panggung Dunia ONE Championship

Kini, di usianya yang masih 29 tahun, Giancarlo Bodoni berdiri di persimpangan karier yang gemilang. Dengan dua gelar ADCC dan reputasi tak tergoyahkan sebagai salah satu teknisi terbaik di dunia grappling, ia siap membawa keahliannya ke level baru bersama ONE Championship.

Dengan teknik halus, mental baja, dan dedikasi tinggi, Bodoni tak hanya mewakili kebanggaan Amerika, tetapi juga semangat evolusi grappling modern — di mana ilmu, strategi, dan seni berpadu menjadi satu bentuk bela diri yang indah.

“Saya ingin membuat grappling lebih menarik bagi dunia. Ini bukan hanya tentang kuncian — ini tentang seni mengendalikan kekacauan,” ujar Bodoni dengan penuh keyakinan.

Giancarlo Bodoni adalah simbol dari evolusi grappling masa kini — di mana presisi bertemu kekuatan, strategi berpadu dengan seni, dan ketenangan menjadi senjata utama.

Dari akademi kecil di Miami hingga podium tertinggi ADCC dan panggung megah ONE Championship, ia telah membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan kecintaan pada detail adalah jalan menuju kejayaan sejati.

Dengan rekor juara dunia beruntun dan gaya bertarung agresif namun terkendali, Bodoni kini melangkah menuju babak baru dalam kariernya. Dunia grappling menanti — apakah ia akan menaklukkan panggung baru dengan cara yang sama elegannya seperti di ADCC?

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Volkan Oezdemir: Petarung Eksplosif UFC Dari Swiss

Jakarta – Lahir pada 19 September 1989 di Fribourg, Swiss, Volkan Oezdemir tumbuh di tengah suasana khas Eropa Tengah yang tenang dan teratur — jauh dari hiruk-pikuk dunia seni bela diri. Namun di balik ketenangan itu, ia memiliki energi dan keberanian luar biasa sejak kecil.

Sejak usia muda, Volkan sudah tertarik pada olahraga fisik dan kompetitif. Ia memulai perjalanannya bukan langsung di MMA, melainkan melalui kickboxing dan Muay Thai, dua disiplin yang menuntut kecepatan, presisi, dan kekuatan mental.

Dalam waktu singkat, ia menunjukkan potensi besar dengan refleks cepat dan kekuatan pukulan alami, yang kemudian menjadi ciri khasnya hingga hari ini.

Meski datang dari negara yang jarang menghasilkan petarung MMA terkenal, Volkan membuktikan bahwa bakat sejati tidak mengenal batas geografis. Ia membawa semangat khas Swiss — presisi, disiplin, dan ketenangan — ke dunia pertarungan yang keras dan tak kenal kompromi.

“Saya mungkin berasal dari negara yang damai, tapi saya selalu punya semangat petarung di dalam diri,” ujar Oezdemir dalam sebuah wawancara pasca-kemenangan UFC-nya.

Dari Kickboxing ke Dunia MMA Profesional

Sebelum dikenal sebagai petarung UFC, Volkan Oezdemir meniti jalannya di dunia kickboxing profesional, di mana ia mencatat serangkaian kemenangan impresif berkat kecepatan tangannya dan kemampuan membaca arah serangan lawan.

Namun, rasa ingin tahu terhadap seni bela diri campuran (MMA) membawanya untuk memperluas keterampilan — menambahkan elemen grappling dan ground control ke dalam arsenal striking-nya. Ia kemudian mulai berlatih MMA secara serius, berpindah-pindah antara Swiss dan Belanda untuk memperdalam teknik di berbagai gym Eropa.

Pada tahun 2010, Oezdemir menjalani debut profesionalnya di MMA dan langsung mencatat kemenangan KO cepat di ronde pertama. Dari titik itu, julukannya “No Time” lahir — simbol dari gaya bertarungnya yang agresif dan efisien, menyelesaikan laga bahkan sebelum jam ronde pertama berjalan penuh.

Dengan serangkaian kemenangan di Eropa dan Amerika Selatan, Oezdemir mulai menarik perhatian dunia. Ia sempat bertarung di ajang Bellator MMA, di mana ia mencetak kemenangan KO dalam waktu kurang dari dua menit. Performa luar biasa itu membuka jalan baginya menuju organisasi MMA terbesar di dunia — Ultimate Fighting Championship (UFC).

“No Time” Menggebrak Divisi Light Heavyweight

Volkan Oezdemir bergabung dengan UFC pada tahun 2017, dan dalam waktu singkat, ia menjelma menjadi salah satu petarung paling berbahaya di divisi Light Heavyweight (93 kg).

Ia melakukan debutnya melawan Ovince Saint Preux pada Februari 2017, dan meski datang sebagai underdog, ia mengejutkan dunia dengan kemenangan melalui keputusan juri.

Namun, yang membuat namanya benar-benar dikenal luas adalah dua kemenangan brutal berikutnya:

    • *KO atas Misha Cirkunov (17 detik di ronde pertama)
    • KO atas Jimi Manuwa (42 detik di ronde pertama)

Dua kemenangan cepat itu memperkuat reputasinya sebagai finisher paling eksplosif di UFC. Tak butuh waktu lama bagi penggemar dan komentator untuk menyematkan julukan “No Time” — karena Volkan hampir tidak memberi lawan kesempatan untuk bernafas.

Gaya bertarungnya memadukan striking teknikal Eropa dengan agresivitas khas Muay Thai, menjadikannya salah satu petarung paling menghibur di kelasnya.

Dengan tangan kanan yang mematikan, ia mampu mengakhiri pertarungan dengan satu pukulan bersih, bahkan melawan lawan yang lebih berpengalaman.

Menantang Sabuk Juara Dunia UFC

Setelah mencatat tiga kemenangan beruntun spektakuler, Volkan Oezdemir mendapatkan kesempatan emas untuk menantang Daniel Cormier dalam perebutan sabuk juara dunia Light Heavyweight UFC pada UFC 220 (Januari 2018).

Meskipun akhirnya kalah melalui TKO di ronde kedua, penampilan Oezdemir tetap mendapat banyak pujian. Ia menunjukkan keberanian luar biasa dan kemampuan bertarung yang solid menghadapi salah satu legenda terbesar UFC.

Kekalahan itu justru menjadi batu loncatan baginya untuk berkembang — memperkuat pertahanan grappling dan meningkatkan stamina dalam laga panjang.

Usai perebutan sabuk, Oezdemir terus menjadi nama besar di papan atas divisi Light Heavyweight. Ia menghadapi petarung elit seperti Dominick Reyes, Aleksandar Rakić, dan Nikita Krylov, menunjukkan konsistensinya menghadapi kompetisi keras di UFC.

Meski tidak selalu menang, ia selalu memberikan pertarungan seru dan penuh aksi, mempertahankan reputasinya sebagai salah satu striker paling eksplosif di dunia MMA.

Cepat, Akurat, dan Mematikan

Volkan Oezdemir dikenal dengan gaya bertarung orthodox yang sangat efektif di jarak menengah. Ia memadukan kekuatan tangan kanan khas kickboxer dengan akurasi luar biasa.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya antara lain:

    • Kecepatan tangan luar biasa: Ia sering memulai serangan dengan jab atau hook kiri cepat untuk membuka ruang bagi pukulan kanan keras yang menghancurkan.
    • Low kick dan kombinasi jarak menengah: Oezdemir menggunakan tendangan rendah untuk memperlambat pergerakan lawan sebelum melancarkan kombinasi tinju.
    • Kesabaran strategis: Meski agresif, ia jarang terburu-buru. Ia menunggu celah, lalu melancarkan serangan cepat dan presisi — membuat lawan sulit menebak timing-nya.
    • Kemampuan KO alami: Dari 20 kemenangan profesionalnya, 13 diraih melalui KO/TKO, termasuk beberapa di antaranya dalam waktu kurang dari satu menit.

Julukan “No Time” bukan sekadar gimmick — itu adalah manifestasi nyata dari gaya bertarungnya yang mematikan dan efisien.

Ia adalah simbol dari filosofi bahwa pertarungan terbaik adalah yang diselesaikan secepat mungkin.

Rekor dan Prestasi Profesional

Hingga kini, Volkan Oezdemir telah mencatatkan karier profesional yang panjang dan penuh warna.

Berikut beberapa pencapaian pentingnya:

    • Rekor profesional MMA: 20 kemenangan – 8 kekalahan dimana 13 kemenangan melalui KO/TKO, 2 kemenangan melalui submission dan 5 kemenangan melalui keputusan juri
    • Penantang sabuk juara dunia UFC Light Heavyweight (2018)
    • Kemenangan tercepat dalam karier UFC: 17 detik (vs. Misha Cirkunov)
    • Salah satu petarung Swiss pertama yang berlaga di UFC

Konsistensinya di level tertinggi UFC selama lebih dari tujuh tahun menjadikannya ikon MMA Eropa, membuka jalan bagi generasi baru petarung dari Swiss dan negara-negara sekitarnya.

Filosofi dan Mentalitas Petarung

Di balik persona agresifnya di oktagon, Volkan Oezdemir dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan introspektif. Ia percaya bahwa pertarungan sejati tidak hanya terjadi di dalam ring, tetapi juga di dalam diri seseorang — melawan rasa takut, ego, dan kelelahan.

“Setiap pertarungan adalah ujian jiwa. Kamu tidak hanya melawan lawan di depanmu, tapi juga dirimu sendiri,” kata Volkan dalam sebuah wawancara di UFC Fight Week.

Ia menekankan pentingnya kedisiplinan, kesabaran, dan mental tenang — atribut yang seringkali menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan di dunia MMA.

Simbol Ketangguhan Swiss di UFC

Kini, di usia 36 tahun, Volkan Oezdemir masih menjadi bagian penting dari divisi Light Heavyweight UFC. Ia dikenal sebagai veteran yang mampu memberi tantangan berat bagi siapa pun — dari petarung baru hingga calon juara dunia.

Dengan pengalaman luas, kekuatan pukulan yang belum pudar, dan semangat juang yang tetap menyala, Oezdemir terus menjadi representasi daya juang dan disiplin ala Swiss di kancah global MMA.

Ke depan, ia berencana memperluas kariernya tidak hanya sebagai petarung, tetapi juga sebagai mentor dan pelatih, membagikan pengalaman kepada generasi muda yang bermimpi menembus UFC.

“No Time” yang Tak Pernah Kehilangan Waktu untuk Berjuang

Dari kota kecil di Swiss hingga panggung megah Ultimate Fighting Championship, perjalanan Volkan Oezdemir adalah kisah inspiratif tentang tekad, disiplin, dan keberanian menantang batas.

Dengan gaya bertarung cepat, tangan mematikan, dan filosofi sederhana untuk bertarung tanpa keraguan, ia telah mengukir namanya di antara petarung paling berbahaya dalam sejarah divisi Light Heavyweight UFC.

Julukannya — “No Time” — bukan sekadar nama panggilan, melainkan representasi dari seluruh kariernya: tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada waktu untuk menyerah.

(PR/timKB).

Sumber foto: instagram

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Shozo Isojima: Bintang Baru MMA Jepang di ONE Championship

Jakarta – Lahir pada 2 September 1997 di Kuwana, Prefektur Mie, Jepang, Shozo Isojima tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai disiplin, kerja keras, dan dedikasi — prinsip yang sangat melekat dalam budaya Jepang. Sejak kecil, ia sudah tertarik pada dunia olahraga bela diri. Awalnya, Shozo menekuni karate dan judo di sekolah, dua disiplin yang menjadi fondasi bagi banyak petarung Jepang modern.

Namun, semangat kompetitif dan rasa ingin tahu yang besar mendorongnya untuk melangkah lebih jauh. Ia mulai mempelajari Mixed Martial Arts (MMA), seni bela diri campuran yang menuntut penguasaan di berbagai aspek — mulai dari striking, grappling, hingga ground control.

Baca juga: Jelang ONE 173: Superbon vs. Noiri

Bagi Shozo, MMA bukan sekadar olahraga, tetapi cara hidup: sebuah perpaduan antara ketepatan, keseimbangan, dan keberanian.

“MMA mengajarkan saya keseimbangan antara agresi dan kesabaran. Ini bukan hanya pertarungan fisik, tapi juga pertarungan mental,” ungkap Isojima dalam sebuah wawancara usai kemenangan debutnya di ONE Championship.

Dari Dojo Lokal ke Arena Profesional

Shozo Isojima memulai kariernya di dunia MMA regional Jepang, di mana persaingan begitu ketat. Ia berlatih di beberapa gym bergengsi di wilayah Kansai dan Tokyo, memperdalam kemampuannya di bawah bimbingan pelatih-pelatih berpengalaman.

Dengan latar belakang karate dan judo, Isojima dengan cepat berkembang menjadi petarung komplet — memiliki kemampuan striking tajam sekaligus grappling kuat.

Di awal karier profesionalnya, Shozo tampil di sejumlah ajang MMA lokal seperti DEEP, Shooto, dan Pancrase, yang dikenal sebagai tempat berkembangnya petarung-petarung top Jepang.

Dari setiap laga, ia menunjukkan kematangan teknik dan mental yang jarang dimiliki petarung muda. Ia tidak hanya berfokus pada kekuatan, tetapi juga efisiensi gerak dan strategi.

Dengan kombinasi pukulan lurus presisi, takedown bersih, serta ground control efektif, Shozo berhasil membangun rekor tak terkalahkan di Jepang — langkah penting sebelum menembus panggung Asia yang lebih besar, yaitu ONE Championship.

Keseimbangan antara Kecepatan, Tekanan, dan Ketepatan

Gaya bertarung Shozo Isojima adalah hasil perpaduan disiplin bela diri klasik Jepang dengan pendekatan modern MMA. Ia dikenal sebagai petarung ortodoks yang memadukan striking tajam dan grappling teknikal, menjadikannya sosok seimbang antara agresivitas dan efisiensi.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya meliputi:

    • Striking cepat dan presisi: Shozo menggunakan jab dan kombinasi pukulan pendek untuk menekan lawan, lalu memanfaatkan celah untuk melancarkan serangan siku yang mematikan.
    • Kontrol grappling kuat: berkat latar belakang judo dan latihan grappling modern, ia mahir melakukan transisi antara posisi atas dan bawah dengan mulus.
    • Tempo dan tekanan konstan: Isojima jarang memberi ruang bagi lawan untuk bernapas. Ia selalu menjaga ritme tinggi tanpa kehilangan fokus.
    • Kecerdasan taktis: Ia mampu membaca pergerakan lawan dengan cepat, menyesuaikan strategi dalam hitungan detik — ciri khas petarung yang matang secara mental.

Dengan pendekatan yang disiplin dan efektif, Shozo Isojima menjadi representasi petarung Jepang modern: beretika tinggi, terlatih secara teknis, dan memiliki semangat “Bushido” dalam setiap pertarungan.

Debut Gemilang di ONE Championship

Langkah besar Shozo Isojima datang ketika ia resmi bergabung dengan ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia yang menjadi rumah bagi banyak petarung elite dunia.

Debutnya terjadi pada 3 Oktober 2025 dalam ajang ONE Fight Night 36, di mana ia menghadapi Nicolas Vigna, petarung asal Argentina yang dikenal berbahaya dalam striking.

Pertarungan berlangsung sengit sejak ronde pertama. Isojima tampil percaya diri, mengendalikan jarak dengan kombinasi pukulan lurus dan low kick yang tepat sasaran. Nicolas Vigna sempat mencoba melakukan tekanan balik, namun Isojima tetap tenang dan fokus, memanfaatkan momen untuk membalas dengan counter tajam.

Memasuki ronde kedua, Shozo menemukan celah emas. Ia melancarkan kombinasi cepat — pukulan kanan ke arah rahang diikuti dengan siku kiri yang mematikan. Lawan terjatuh, dan wasit menghentikan pertarungan. Shozo Isojima menang melalui TKO di ronde kedua.

Kemenangan debut itu langsung menandai kehadirannya di ONE Championship sebagai bintang baru dari Jepang yang layak diperhitungkan.

Rekor dan Prestasi Profesional

Dalam waktu singkat, Shozo Isojima berhasil membangun reputasi mengesankan sebagai petarung muda tak terkalahkan dengan gaya bertarung komplet.

Berikut adalah catatan dan pencapaian pentingnya sejauh ini:

    • Rekor profesional: 6 kemenangan – 0 kekalahan (6–0) dengan rincian 2 kemenangan melalui KO/TKO, 2 kemenangan melalui submission dan 2 kemenangan melalui keputusan juri
    • Kemenangan TKO ronde kedua atas Nicolas Vigna – ONE Fight Night 36 (3 Oktober 2025)
    • Rekor sempurna ini memperlihatkan bahwa Isojima bukan hanya petarung teknikal, tetapi juga memiliki insting penyelesai laga (finisher instinct) yang kuat.

Filosofi Bertarung dan Mentalitas

Shozo Isojima dikenal sebagai petarung dengan mental disiplin dan fokus luar biasa. Ia tidak pernah meremehkan lawan, berapa pun rekor atau reputasi lawannya.

Filosofinya sederhana namun kuat: “Kemenangan sejati datang dari menguasai diri sendiri sebelum mengalahkan lawan.”

Di luar ring, Isojima adalah pribadi yang tenang dan rendah hati. Namun di dalam cage, ia berubah menjadi sosok berbeda — tenang di wajah, tetapi berbahaya dalam aksi.

Latihan hariannya mencakup sesi sparring intensif, latihan ground grappling, cardio ekstrem, dan meditasi Jepang tradisional (zazen) untuk menjaga kejernihan mental.

“Saya ingin bertarung dengan cara yang menghormati lawan, tetapi juga menunjukkan bahwa Jepang masih memiliki petarung yang bisa bersaing di dunia,” ujar Isojima.

Harapan Baru Jepang di Kancah MMA Dunia

Dengan usia baru 28 tahun, Shozo Isojima berada di masa keemasan untuk menapaki puncak karier MMA-nya.

Kemenangan debutnya di ONE Championship menjadi batu loncatan besar menuju peluang lebih besar — menghadapi petarung top Asia dan mungkin, dalam waktu dekat, menjadi penantang sabuk juara divisi welterweight.

Banyak pengamat menilai bahwa Shozo memiliki potensi untuk mengikuti jejak legenda Jepang seperti Shinya Aoki dan Yushin Okami, namun dengan gaya modern dan dinamika khas generasi baru.

Dengan kombinasi disiplin Jepang, teknik presisi, dan insting agresif, ia bisa menjadi bintang global berikutnya dari Negeri Sakura.

“Samurai Modern” yang Membawa Jepang ke Era Baru MMA

Shozo Isojima bukan sekadar petarung tak terkalahkan — ia adalah cerminan dari filosofi bela diri Jepang yang berpadu dengan evolusi MMA modern.

Dengan gaya seimbang antara striking tajam dan grappling kuat, serta mentalitas kerja keras yang tak tergoyahkan, Isojima mewakili generasi baru petarung Jepang yang siap menaklukkan dunia.

Kemenangan debutnya di ONE Championship hanyalah permulaan. Jika ia terus berkembang dengan kecepatan seperti sekarang, nama Shozo Isojima dari Mie, Jepang akan segera berada di jajaran elite MMA Asia dan dunia.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Madjid Karimi, Petarung Iran Dengan Gaya Muay Thai Eksplosif

Jakarta – Lahir pada 4 Oktober 1996 di Iran, Madjid Karimi tumbuh di lingkungan yang menanamkan nilai disiplin, kerja keras, dan tekad pantang menyerah sejak usia muda.

Sejak kecil, Karimi sudah tertarik pada olahraga bela diri. Awalnya ia mencoba karate dan taekwondo, dua seni bela diri populer di negaranya, sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya pada Muay Thai dan kickboxing, dua disiplin yang menekankan kecepatan, kekuatan, serta teknik serangan delapan tungkai.

Baca juga:  Jelang ONE Friday Fights 133

Ketertarikannya pada Muay Thai muncul setelah menonton pertandingan antara legenda Thailand Buakaw Banchamek di televisi. Dari situ, Karimi terinspirasi untuk menekuni seni bela diri yang terkenal keras dan menuntut ketahanan tinggi tersebut.

Ia mulai berlatih secara intens di usia remaja di bawah bimbingan pelatih lokal di Teheran, berfokus pada penguasaan teknik dasar Muay Thai dan peningkatan stamina.

“Muay Thai mengajarkan saya bukan hanya cara bertarung, tapi juga cara hidup dengan disiplin dan rasa hormat,” ujar Karimi dalam sebuah wawancara setelah salah satu laga profesionalnya.

Dari Sirkuit Lokal ke Panggung Asia

Madjid Karimi memulai perjalanan profesionalnya di kompetisi Muay Thai dan kickboxing lokal di Iran, di mana ia dengan cepat menjadi sorotan karena gaya bertarungnya yang agresif dan efektif.

Dalam beberapa tahun, ia memperluas jangkauannya ke ajang regional Asia Barat dan Asia Tenggara, mencari lawan-lawan yang lebih tangguh serta pengalaman internasional.

Dedikasinya membawa hasil. Karimi mulai dikenal di komunitas Muay Thai sebagai petarung yang disiplin dan pekerja keras, dengan kombinasi teknik yang solid dan kemampuan adaptasi tinggi di atas ring. Ia kerap berlatih lintas negara, terutama di Thailand, untuk memperdalam pemahaman dan merasakan atmosfer asli olahraga tersebut.

Bagi Karimi, pindah ke Thailand bukan hanya soal meningkatkan keterampilan, tetapi juga tentang menghormati budaya Muay Thai — dari cara berlatih, tradisi wai kru, hingga etika bertarung di ring. Pengalaman ini membentuknya menjadi petarung yang matang secara fisik dan mental.

Perpaduan Presisi, Kekuatan, dan Kendali Jarak

Sebagai petarung dengan stance ortodoks, Madjid Karimi lebih dominan menggunakan tangan kanan sebagai senjata utama. Ia memadukan pukulan cepat dan kombinasi tendangan tajam yang menjadi ciri khasnya, sementara kontrol jarak menjadi aspek kunci dalam strateginya.

Beberapa karakteristik gaya bertarungnya meliputi:

    • Pukulan kanan keras dan akurat: Digunakan untuk menekan lawan dan membuka celah bagi serangan berikutnya.
    • Tendangan cepat ke arah tubuh dan kaki: Sebagai senjata untuk menjaga jarak dan melumpuhkan pergerakan lawan.
    • Kontrol jarak efektif: Karimi mahir menjaga posisi aman tanpa kehilangan peluang serangan, menunjukkan pemahaman taktis yang tinggi.
    • Perpaduan Muay Thai dan Kickboxing: Ia menggabungkan tekanan konstan ala kickboxer Eropa dengan teknik siku dan clinch khas Thailand.

Gaya ini membuatnya sulit diprediksi, terutama bagi lawan yang cenderung pasif atau terlalu mengandalkan pertahanan. Ia mampu mengubah tempo dari bertahan menjadi menyerang dalam sekejap, dan sering kali mengakhiri pertarungan dengan pukulan atau tendangan yang presisi.

Perjalanan di ONE Championship

Langkah besar dalam karier Madjid Karimi datang ketika ia resmi bergabung dengan ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia yang menampilkan petarung elite dunia dari berbagai disiplin.

Ia tampil di kelas strawweight Muay Thai, sebuah divisi yang dikenal sangat cepat dan kompetitif.

Debutnya di ajang ONE Friday Fights langsung memperlihatkan potensi besar yang ia miliki. Dengan ketenangan dan kendali tempo yang matang, Karimi menunjukkan kualitasnya sebagai petarung berpengalaman. Namun, puncak performanya terjadi pada 16 Mei 2025, ketika ia berlaga di ONE Friday Fights 108 yang digelar di Lumpinee Stadium, Bangkok — tempat suci bagi para pejuang Muay Thai sejati.

Dalam laga tersebut, ia menghadapi petarung Thailand tangguh, Kaenpitak NhongBangsai. Karimi tampil percaya diri sejak ronde pertama, memanfaatkan jangkauan dan variasi serangan untuk menekan lawan.

Ronde kedua menjadi momen penentuan — Karimi melepaskan kombinasi pukulan kanan dan tendangan kiri keras yang menghantam tepat ke arah rahang Kaenpitak, menghasilkan kemenangan KO spektakuler.

Kemenangan tersebut bukan hanya membuktikan ketangguhan fisiknya, tetapi juga kematangan teknis dan strategi yang ia miliki. Sejak itu, nama Madjid Karimi mulai dikenal luas oleh penggemar ONE Championship sebagai salah satu petarung Iran paling menjanjikan.

Prestasi dan Rekor Profesional

Hingga kini, Madjid Karimi telah mengumpulkan sejumlah pencapaian penting dalam karier profesionalnya:

    • Kemenangan KO ronde kedua atas Kaenpitak NhongBangsai di ONE Friday Fights 108 (Mei 2025)
    • Pernah berkompetisi di sirkuit kickboxing profesional Asia Barat dan Thailand
    • Rekor profesional: beberapa kemenangan dengan mayoritas melalui KO atau keputusan mutlak

Karimi tidak hanya membawa nama negaranya di kancah internasional, tetapi juga menjadi salah satu pionir generasi baru petarung Iran yang sukses menembus panggung besar ONE Championship.

Karakter dan Etos Latihan

Madjid Karimi dikenal sebagai pribadi yang rendah hati namun memiliki determinasi luar biasa.

Di luar ring, ia hidup sederhana dan fokus penuh pada latihan. Ia sering mengatakan bahwa rahasia kesuksesannya adalah disiplin harian dan rasa lapar untuk belajar.

Latihan harian Karimi biasanya meliputi:

    • Lari pagi sejauh 10 km,
    • Latihan teknik pukulan dan tendangan,
    • Sesi clinch dan sparring berat di sore hari.

Ia juga aktif membantu rekan-rekannya yang lebih muda dalam latihan, menunjukkan sisi kepemimpinan yang alami.

“Setiap hari di gym adalah pertarungan. Bukan dengan orang lain, tapi dengan diri saya sendiri,” ujar Karimi saat ditanya tentang motivasinya berlatih tanpa henti.

Misi Membawa Iran ke Peta Muay Thai Dunia

Sebagai atlet berusia 29 tahun, Madjid Karimi kini berada di masa puncak kariernya. Dengan pengalaman luas di berbagai kompetisi Asia dan kemenangan besar di ONE Championship, ia bertekad untuk mendapatkan kesempatan bersaing untuk sabuk juara di kelas strawweight.

Lebih dari sekadar ambisi pribadi, Karimi membawa misi besar untuk mengharumkan nama Iran di dunia Muay Thai dan kickboxing internasional. Ia menjadi inspirasi bagi generasi muda petarung di negaranya — bahwa dengan tekad dan disiplin, mereka pun bisa bersaing di panggung global.

Ke depannya, penggemar ONE Championship menantikan duel-duel baru Karimi melawan nama-nama besar di kelas strawweight, di mana setiap pertarungan menjanjikan aksi cepat, keras, dan penuh emosi khas gaya bertarungnya.

Simbol Semangat dan Ketangguhan Iran di Arena Dunia

Madjid Karimi bukan hanya petarung bertalenta — ia adalah simbol semangat juang dan dedikasi tanpa batas. Dari gym kecil di Iran hingga Lumpinee Stadium di Bangkok, perjalanannya adalah kisah inspiratif tentang tekad, disiplin, dan keberanian menembus batas.

Dengan gaya ortodoks yang tajam, kombinasi serangan cepat, dan mental baja, Karimi telah membuktikan dirinya sebagai salah satu bintang yang layak diperhitungkan di panggung ONE Championship.

Dan seperti yang sering ia katakan, “Setiap kemenangan dimulai dari keyakinan bahwa kamu bisa.”

(PR/timKB).

Sumber foto: instagram

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Erdenebayar Tsolmon, Petarung Muda Mongolia

Jakarta – Lahir pada 20 Februari 2001 di Mongolia, Erdenebayar Tsolmon tumbuh di tengah budaya yang menjunjung tinggi keberanian, kekuatan, dan semangat juang — nilai-nilai yang berakar kuat dalam tradisi bangsa penggembala nomaden itu. Sejak kecil, Tsolmon dikenal sebagai anak yang enerjik, kompetitif, dan selalu haus tantangan.

Di Mongolia, olahraga bela diri seperti judo, gulat, dan sambo merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Banyak anak laki-laki tumbuh dengan menonton turnamen gulat nasional dan bermimpi menjadi juara. Namun, Tsolmon memiliki pandangan berbeda — ia ingin membawa semangat petarung Mongolia ke panggung internasional MMA, di mana disiplin, teknik, dan mental baja diuji tanpa batas.

Baca juga: Jelang ONE Friday Fights 133

Ketertarikannya pada MMA berawal ketika ia menonton pertarungan antara Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor. Dari situ, ia mulai mempelajari berbagai disiplin bela diri — mulai dari striking khas kickboxing hingga grappling dari Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) dan gulat Mongolia. Dalam waktu singkat, ia menunjukkan kemajuan luar biasa.

“Saya lahir di tanah para pejuang. Di sini, kami belajar untuk kuat sejak kecil — bukan hanya tubuh, tapi juga hati,” ujar Tsolmon dalam wawancara pascadebutnya di ONE Championship.

Dari Matras Mongolia ke Ring Profesional

Sebelum memasuki dunia MMA profesional, Tsolmon berkompetisi di ajang-ajang lokal Mongolia yang mempertemukan para petarung muda berbakat dari berbagai provinsi. Di sinilah ia mulai membangun reputasi sebagai petarung tangguh dengan gaya agresif dan determinasi tanpa henti.

Di usia 19 tahun, ia mulai berlatih penuh waktu di bawah bimbingan pelatih lokal yang juga mantan atlet gulat nasional. Mereka menyempurnakan teknik dasar grappling-nya dan memperkuat kemampuan striking-nya agar bisa bersaing di dunia MMA modern.

Setelah mencatat beberapa kemenangan di sirkuit regional, Tsolmon menarik perhatian promotor Asia. Ia kemudian mendapatkan kesempatan emas — kontrak dengan ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia yang menjadi rumah bagi petarung elite dunia.

Perpaduan Kecepatan, Tekanan, dan Transisi Cerdas

Julukan “The Beast” bukan sekadar label, tetapi refleksi nyata dari gaya bertarung Erdenebayar Tsolmon. Ia dikenal dengan tempo tinggi, serangan konstan, dan kemampuan menjaga tekanan sepanjang tiga ronde tanpa kehilangan fokus.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya antara lain:

    • Striking eksplosif: Tsolmon memiliki kombinasi pukulan cepat dan akurat, sering kali diakhiri dengan hook keras atau tendangan ke arah tubuh.
    • Kontrol grappling solid: Ia memanfaatkan latar belakang gulatnya untuk menjatuhkan lawan dan mengendalikan posisi di ground dengan transisi mulus.
    • Transisi cepat antara stand-up dan ground: Salah satu kekuatan terbesarnya adalah kemampuan membaca situasi. Ia bisa berpindah dari striking ke takedown dalam hitungan detik.
    • Tekanan tanpa henti: Julukan “The Beast” berasal dari gaya agresifnya — ia jarang memberi lawan kesempatan untuk bernapas, selalu menekan dengan kombinasi serangan.

Keseimbangan antara teknik dan kekuatan membuatnya menjadi petarung yang efisien sekaligus menakutkan, terutama bagi lawan yang tidak terbiasa menghadapi tempo tinggi.

Kemenangan di ONE Friday Fights 122

Debut Erdenebayar Tsolmon di ONE Championship berlangsung pada 29 Agustus 2025 dalam ajang ONE Friday Fights 122, yang digelar di Lumpinee Boxing Stadium, Bangkok — tempat bersejarah yang kini menjadi pusat pertarungan elit Asia.

Tsolmon menghadapi Katsuaki Aoyagi, petarung asal Jepang yang dikenal teknikal dan berpengalaman. Meski menghadapi lawan yang lebih senior, Tsolmon tampil percaya diri. Sejak bel pembuka, ia langsung menerapkan strategi agresif, memaksa Aoyagi bertahan dengan kombinasi pukulan cepat dan tekanan grappling.

Pertarungan berlangsung tiga ronde penuh, menampilkan adu teknik dan ketahanan luar biasa. Namun, dominasi Tsolmon di setiap ronde membuat tiga juri memberikan kemenangan mutlak (unanimous decision) kepadanya.

Kemenangan ini menjadi pernyataan kuat: Mongolia memiliki bintang muda baru di dunia MMA.

Rekor dan Prestasi Profesional

Meski baru meniti karier di level internasional, Erdenebayar Tsolmon telah menunjukkan konsistensi dan potensi besar untuk menjadi bintang masa depan.

Berikut adalah catatan prestasinya sejauh ini:

    • Rekor profesional: 3 kemenangan tanpa kekalahan (3–0): 1 kemenangan melalui TKO dan 2 kemenangan melalui keputusan juri
    • Debut gemilang di ONE Friday Fights 122 (2025) – menang atas Katsuaki Aoyagi
    • Latar belakang gulat Mongolia dan pelatihan BJJ di Bangkok

Catatan impresif ini menegaskan bahwa Tsolmon adalah petarung lengkap — kuat di striking, tangguh di grappling, dan cerdas secara taktis.

Mentalitas dan Filosofi Bertarung

Erdenebayar Tsolmon dikenal dengan karakter rendah hati di luar ring, tapi buas di dalamnya.

Ia memegang teguh filosofi bahwa “pertarungan sejati adalah melawan diri sendiri”, keyakinan yang ia pelajari dari budaya Mongolia yang menjunjung tinggi keseimbangan antara kekuatan dan kehormatan.

“Setiap kali saya naik ke ring, saya membawa kebanggaan rakyat Mongolia. Saya ingin dunia tahu bahwa kami bukan hanya petarung keras — kami juga petarung yang cerdas dan disiplin,” ujar Tsolmon dalam sesi wawancara pascalaga.

Dedikasinya pada latihan sangat tinggi. Ia menjalani rutinitas berat yang mencakup latihan pagi, sparring siang, serta latihan teknik malam hari. Disiplin ekstrem ini membuatnya cepat berkembang meski baru beberapa tahun meniti karier profesional.

Harapan Baru dari Mongolia di ONE Championship

Dengan usia yang baru 24 tahun, Erdenebayar Tsolmon memiliki waktu panjang untuk berkembang menjadi salah satu petarung papan atas.

ONE Championship telah menjadi tempat lahirnya banyak bintang Asia, dan Tsolmon tampaknya siap mengikuti jejak mereka.

Dengan rekor tak terkalahkan (3–0), kecepatan, dan kemampuan adaptasi luar biasa, banyak pengamat MMA menilai bahwa ia bisa segera menjadi pesaing serius di divisi featherweight ONE Championship.

Lebih dari itu, Tsolmon membawa harapan besar bagi generasi muda Mongolia untuk menembus panggung dunia bela diri modern.

“The Beast” dari Mongolia yang Siap Menerkam Dunia

Erdenebayar Tsolmon adalah simbol dari gelombang baru petarung Asia Tengah yang menggabungkan tradisi keras gulat Mongolia dengan teknik modern MMA global.

Dengan gaya agresif, kontrol grappling tajam, dan determinasi luar biasa, ia telah membuktikan diri sebagai bintang muda yang siap menanjak di ONE Championship.

Dari padang luas Mongolia hingga arena legendaris Lumpinee Stadium, perjalanannya adalah kisah tentang keyakinan, kerja keras, dan tekad untuk menjadi yang terbaik.

“The Beast” bukan sekadar julukan — itu adalah cerminan dari semangat juang yang membara di dalam dirinya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Debut Sempurna Ayoub El Khadraoui

Jakarta – Lahir pada 12 November 2004 di Maroko, Ayoub El Khadraoui tumbuh di lingkungan yang keras namun membentuk mental juara sejak dini. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang aktif, penuh energi, dan memiliki semangat kompetitif tinggi. Di negaranya, sepak bola mungkin menjadi olahraga nomor satu, tetapi bagi Ayoub, gairah sejatinya terletak pada dunia bela diri.

Ketertarikannya pada Muay Thai berawal dari video pertarungan petarung legendaris seperti Buakaw Banchamek dan Saenchai, yang sering ia tonton melalui YouTube. Di usia belasan, ia mulai berlatih di sebuah gym kecil di Casablanca, tempat di mana fondasi karier profesionalnya mulai terbentuk.

Baca juga: Jelang ONE Friday Fights 133

“Saya tidak punya banyak hal selain semangat dan impian besar. Muay Thai memberi saya arah hidup,” kata Ayoub dalam sebuah wawancara singkat sebelum debutnya di ONE Championship.

Dedikasi dan kerja kerasnya membuat pelatih lokalnya cepat menyadari bahwa Ayoub memiliki sesuatu yang istimewa — perpaduan antara kekuatan alami, refleks cepat, dan mental pantang menyerah yang menjadi ciri khas petarung besar.

Dari Casablanca ke Bangkok

Perjalanan Ayoub menuju pentas internasional bukanlah jalan yang mudah. Ia harus menyeimbangkan latihan berat dengan pendidikan, sering kali berlatih pagi sebelum sekolah dan kembali ke gym di malam hari.

Setelah beberapa tahun berlaga di kompetisi lokal dan regional di Afrika Utara, Ayoub mulai menarik perhatian promotor internasional berkat gaya bertarungnya yang agresif namun efisien.

Kesempatan besar datang ketika ia mendapat undangan untuk berlatih di Thailand, tanah kelahiran Muay Thai. Di sana, ia bergabung dengan sebuah kamp pelatihan di Bangkok yang dikenal melahirkan banyak petarung elite.

Pengalaman ini menjadi titik balik dalam hidupnya — menghadapi latihan keras di bawah terik matahari, sparring dengan petarung Thailand berpengalaman, dan hidup sederhana di asrama petarung membuat Ayoub memahami arti sebenarnya dari disiplin dan pengorbanan.

“Latihan di Thailand mengubah cara saya melihat dunia. Di sana, saya belajar bahwa menjadi petarung bukan hanya soal menang, tapi tentang menghormati tradisi dan lawan,” ujar Ayoub dalam wawancara pasca-laga debutnya.

Awal Gemilang Karier Profesional

Pada 20 Juni 2025, Ayoub El Khadraoui menorehkan sejarah pribadi saat melakukan debut di ajang ONE Friday Fights 113, yang digelar di Lumpinee Stadium, Bangkok — arena paling ikonik dalam dunia Muay Thai.

Ia menghadapi Kaisei Sato, petarung asal Jepang yang lebih berpengalaman dan dikenal memiliki pertahanan kuat serta ketahanan fisik luar biasa.

Namun, Ayoub tampil tanpa rasa gentar. Sejak bel awal, ia langsung menunjukkan gaya khasnya yang agresif dan eksplosif, menyerang dengan kombinasi cepat antara pukulan kiri-kanan dan tendangan ke arah tubuh.

Ronde pertama diwarnai tekanan konstan dari Ayoub, memaksa Sato bermain defensif. Memasuki ronde kedua, Ayoub melihat celah — sebuah momen singkat yang menjadi penentu.

Ia melepaskan kombinasi jab kanan, hook kiri, dan tendangan tinggi ke kepala, yang mendarat sempurna. Sato terjatuh, dan wasit menghentikan pertarungan.

TKO ronde kedua!

Kemenangan impresif itu langsung mengumandangkan nama Ayoub El Khadraoui di dunia Muay Thai internasional.

Kombinasi Kecepatan, Tekanan, dan Efisiensi

Ayoub dikenal dengan gaya bertarung ortodoks yang mengandalkan kekuatan tangan kanan dan kemampuan striking cepat. Meski masih muda, ia menunjukkan pemahaman taktis yang matang dalam membaca pergerakan lawan.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya antara lain:

    • Tekanan Konstan: Ayoub jarang memberi ruang bagi lawannya untuk bernapas. Ia selalu maju, menjaga jarak ideal sambil terus menekan dengan kombinasi serangan.
    • Kombinasi Presisi: Pukulan dan tendangan Ayoub dilakukan dengan kecepatan dan akurasi tinggi, sering kali menggabungkan hook ke tubuh dan tendangan ke arah kepala dengan timing sempurna.
    • Tendangan Tajam dan Efektif: Tendangan kanan ke arah tubuh menjadi salah satu senjata utamanya, sering digunakan untuk melemahkan stamina lawan sebelum melancarkan serangan akhir.
    • Efisiensi Energi: Meskipun agresif, Ayoub tidak sembrono. Ia memilih momen serangan dengan bijak, memastikan setiap serangan memiliki peluang besar untuk mengenai sasaran.

Kombinasi ini menjadikannya petarung yang sulit ditebak — seorang finisher alami dengan keseimbangan antara kekuatan, kecepatan, dan akurasi.

Rekor dan Prestasi Profesional

Meskipun kariernya masih muda, Ayoub El Khadraoui telah menunjukkan potensi besar untuk menjadi salah satu bintang masa depan Muay Thai.

Berikut pencapaian utamanya sejauh ini:

    • Kemenangan TKO atas Kaisei Sato – ONE Friday Fights 113 (20 Juni 2025)
    • Rekor profesional: 2 kemenangan tanpa kekalahan (2–0)
    • 1 kemenangan melalui TKO dan 1 melalui keputusan mutlak
    • Petarung muda Afrika Utara yang mencatat kemenangan TKO di ONE Championship kelas Featherweight

Prestasi ini tidak hanya menunjukkan bakatnya, tetapi juga menegaskan bahwa Ayoub membawa harapan besar bagi generasi baru petarung Maroko yang ingin menembus kancah global.

Karakter dan Filosofi Bertarung

Di luar ring, Ayoub El Khadraoui dikenal sebagai sosok yang tenang, rendah hati, dan berorientasi pada pembelajaran.

Ia percaya bahwa kemenangan sejati dalam Muay Thai bukan hanya menjatuhkan lawan, tetapi juga mengendalikan diri dan menjaga semangat hormat.

“Setiap pertarungan adalah pelajaran. Saya tidak bertarung untuk melukai, tapi untuk menjadi versi terbaik dari diri saya,” ujar Ayoub dalam salah satu wawancara di Bangkok.

Ia rutin menjalani meditasi dan latihan fokus mental, sesuatu yang ia pelajari dari para pelatih Thailand. Hal ini membantu Ayoub menjaga ketenangan bahkan di tengah tekanan berat di dalam ring.

Harapan Baru dari Afrika Utara

Di usianya yang baru 20 tahun, Ayoub El Khadraoui memiliki masa depan yang cerah. Dengan kombinasi teknik, fisik, dan mental baja, ia siap menjadi wajah baru Muay Thai Afrika Utara di panggung internasional.

Sebagai petarung muda dengan performa luar biasa di debutnya, banyak penggemar dan pengamat Muay Thai memperkirakan bahwa Ayoub akan menjadi salah satu prospek terbaik di kelas featherweight ONE Championship dalam beberapa tahun ke depan.

Ia bertekad untuk terus berkembang dan suatu hari nanti merebut sabuk juara ONE Muay Thai, membawa bendera Maroko berkibar di panggung dunia.

“Saya mewakili Afrika, saya mewakili Maroko, dan saya mewakili mimpi anak muda yang ingin menjadi juara,” kata Ayoub dengan bangga.

Ayoub El Khadraoui, Harapan Baru Muay Thai Dunia

Kisah Ayoub El Khadraoui adalah gambaran sempurna tentang kerja keras, keberanian, dan mimpi besar.

Dari gym sederhana di Maroko hingga ring legendaris Lumpinee Stadium, ia membuktikan bahwa asal bukanlah penghalang untuk mencapai puncak dunia bela diri.

Dengan rekor 2–0, kemenangan TKO impresif, dan kepribadian yang disiplin, Ayoub sedang menapaki jalannya menuju kejayaan.

Ia bukan hanya simbol kebangkitan Muay Thai Maroko, tetapi juga wakil generasi baru petarung global yang membawa semangat tanpa batas.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Rittidet Sor Sommai : Bintang ONE Championship

Jakarta – Lahir pada 21 Agustus 1997 di Provinsi Sisaket, sebuah wilayah pedesaan di timur laut Thailand, Rittidet Sor Sommai dibesarkan di tengah budaya yang lekat dengan Muay Thai — seni bela diri yang tak hanya menjadi olahraga, tetapi juga bagian dari identitas nasional Thailand.

Sisaket dikenal sebagai salah satu “lumbung petarung” negeri gajah putih, tempat banyak juara lahir dari ring sederhana di desa-desa. Bagi Rittidet, aroma minyak pijat, dentuman pad, dan suara pelatih yang berteriak memberi instruksi bukan hal asing. Sejak kecil, dunia Muay Thai sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Ayahnya adalah seorang mantan petarung lokal yang memperkenalkan Rittidet pada dasar-dasar “seni delapan tungkai” — seni bela diri yang menggabungkan pukulan, tendangan, siku, dan lutut. Tak butuh waktu lama bagi sang ayah untuk menyadari bahwa anaknya memiliki bakat alami yang luar biasa.

“Ayah saya adalah pelatih pertama saya. Ia selalu bilang, ‘Jika kamu ingin menjadi petarung sejati, jangan hanya kuat, tapi harus sabar dan cerdas,’” kenang Rittidet dalam wawancara dengan media Thailand.

Kemenangan KO di Usia Enam Tahun

Tidak banyak petarung yang bisa mengatakan bahwa mereka menang KO dalam debut profesional pada usia 6 tahun — tetapi itulah kisah Rittidet.

Pertarungan itu digelar di sebuah festival desa, di mana anak-anak muda sering ditandingkan untuk menunjukkan keterampilan mereka. Dalam laga tersebut, Rittidet muda mengejutkan penonton dengan pukulan kanan yang membuat lawannya tumbang di ronde pertama.

Momen itu menjadi titik balik hidupnya. Sejak hari itu, Muay Thai bukan lagi sekadar olahraga — melainkan jalan hidup. Ia mulai berlatih lebih serius, mengikuti turnamen antarprovinsi, dan terus memperkuat teknik dasar: clinch, siku, dan tendangan tengah (teep), tiga ciri khas Muay Thai klasik.

Pada usia remaja, ia sudah rutin bertarung di stadion-stadion kecil di Isan, wilayah timur laut Thailand. Semangat pantang menyerah dan tekniknya yang semakin matang membuat namanya mulai dikenal di kalangan pelatih dan promotor.

Langkah Menuju Panggung Besar

Ketika bakatnya mulai diperhitungkan, Rittidet bergabung dengan Sor Sommai Gym, salah satu sasana Muay Thai paling legendaris di Thailand. Sasana ini dikenal sebagai rumah bagi banyak petarung top, termasuk juara dunia yang tampil di Lumpinee dan Rajadamnern Stadium.

Di Sor Sommai Gym, disiplin adalah segalanya. Rittidet menjalani rutinitas latihan yang keras — bangun pukul lima pagi, berlari sejauh 10 kilometer, diikuti sesi padwork, clinch, sparring, dan latihan teknik sore hari. Pelatih di sana melihat potensi luar biasa dalam kombinasi kecepatan, kekuatan, dan timing miliknya.

Bersama Sor Sommai, Rittidet mulai berlaga di stadion-stadion utama Bangkok seperti Lumpinee dan Channel 7 Stadium, dua arena paling bergengsi dalam dunia Muay Thai profesional. Ia menghadapi berbagai petarung elite, membangun reputasi sebagai petarung dengan tangan kanan mematikan dan clinch kuat.

Perpaduan Klasik dan Ketepatan Modern

Sebagai petarung orthodox, Rittidet Sor Sommai mengandalkan tangan kanan kuat, tendangan presisi, serta kemampuan clinch yang solid. Ia menguasai ritme tradisional Muay Thai — di mana kesabaran, pengendalian jarak, dan momen serangan adalah kunci kemenangan.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya meliputi:

    • Tendangan kanan presisi: digunakan untuk mengatur jarak sekaligus mengikis stamina lawan.
    • Siku cepat dan tajam: terutama dalam pertarungan jarak dekat, sering kali menjadi senjata penentu.
    • Clinch dominan: memanfaatkan kekuatan tubuh bagian atas untuk menahan dan menyerang dengan lutut.
    • Kontrol ritme: Rittidet tidak tergesa-gesa — ia membaca lawan, mencari celah, dan menyerang dengan efisiensi tinggi.

Kombinasi antara teknik klasik dan efisiensi modern membuatnya menjadi petarung yang bukan hanya keras, tetapi juga cerdas. Ia mampu mengatur tempo pertarungan, bertahan di bawah tekanan, dan mengubah arah laga dengan satu serangan presisi.

Membawa Nama Sisaket ke Dunia

Kesuksesan di arena domestik akhirnya mengantarkan Rittidet Sor Sommai ke ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia. Di sini, ia berkompetisi di divisi strawweight Muay Thai, salah satu kategori paling cepat dan teknikal.

Di ONE, Rittidet membawa gaya khas Muay Thai Thailand ke panggung internasional — memadukan kekuatan, ritme, dan keindahan teknik.

Ia menjadi bagian dari gelombang baru petarung Thailand muda yang menunjukkan bahwa generasi baru Muay Thai tidak hanya bisa bertarung di Lumpinee, tapi juga mendominasi dunia.

Pertarungannya di ONE menampilkan ciri khas yang sama seperti di Bangkok — disiplin tinggi, agresivitas terukur, dan kemampuan mengontrol jarak lewat clinch. Dalam berbagai laga, Rittidet membuktikan bahwa ia mampu bersaing dengan lawan dari berbagai negara yang membawa gaya berbeda seperti kickboxing Belanda atau striking Jepang.

Prestasi dan Rekor Profesional

Hingga kini, Rittidet Sor Sommai telah mencatatkan karier profesional yang mengesankan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Beberapa pencapaiannya antara lain:

    • Menang KO pada debut profesional di usia 6 tahun
    • Berlaga di stadion legendaris Thailand seperti Lumpinee dan Channel 7
    • Bergabung dengan Sor Sommai Gym — salah satu sasana top Thailand
    • Berkompetisi di ONE Championship di kelas strawweight
    • Dikenal dengan kekuatan tangan kanan dan clinch kuat dalam gaya ortodoks klasik

Meskipun catatan statistik rinci di ONE masih berkembang, performanya telah membuat banyak penggemar menaruh perhatian lebih pada namanya. Dengan kombinasi teknik dan mental baja, ia diprediksi akan menjadi salah satu wajah penting Muay Thai modern.

Karakter dan Filosofi Bertarung

Rittidet dikenal bukan hanya karena kemampuan bertarungnya, tetapi juga kerendahan hati dan disiplin ekstrem. Ia memegang filosofi bahwa kemenangan bukanlah segalanya — yang paling penting adalah menghormati lawan dan menjaga semangat Muay Thai sejati.

“Ketika saya naik ke ring, saya membawa nama keluarga saya, gym saya, dan tradisi Muay Thai. Itulah alasan saya berjuang,” katanya usai salah satu laga di Bangkok.

Bagi Rittidet, Muay Thai bukan hanya tentang adu fisik, tetapi juga latihan spiritual. Ia tetap tinggal sederhana di kamp latihan, berlatih bersama rekan-rekan muda, dan membantu melatih anak-anak di desa asalnya saat pulang ke Sisaket.

Kehidupan yang disiplin ini membuatnya menjadi contoh ideal bagi generasi baru petarung Thailand yang ingin menggabungkan tradisi dengan ambisi global.

Misi Mengharumkan Muay Thai Thailand di Panggung Dunia

Di usianya yang masih 28 tahun, Rittidet Sor Sommai berada di masa keemasan kariernya.

Dengan pengalaman panjang sejak kecil, dukungan dari Sor Sommai Gym, dan kesempatan tampil di ONE Championship, masa depannya tampak sangat cerah.

Ia kini berfokus memperkuat kemampuan bertahan dan meningkatkan efisiensi serangan di level internasional — terutama menghadapi lawan dengan gaya non-tradisional seperti kickboxing atau striking hybrid.

Bagi penggemar Muay Thai, Rittidet bukan sekadar petarung baru — ia adalah perwujudan warisan tradisional yang menembus batas dunia modern.

Dari Desa Sisaket ke Ring Dunia

Perjalanan Rittidet Sor Sommai adalah kisah klasik tentang mimpi, disiplin, dan dedikasi. Dari ring kecil di festival desa hingga ring megah di ONE Championship, setiap langkahnya menunjukkan kerja keras dan cinta sejati pada seni bela diri Thailand.

Dengan gaya ortodoks yang kuat, kombinasi tendangan, siku, dan clinch khas Muay Thai, ia membuktikan bahwa semangat tradisional Thailand masih hidup dan terus berkembang.

Rittidet bukan hanya seorang petarung — ia adalah penjaga warisan Muay Thai, yang membawa nama Sisaket dan Thailand dengan bangga ke panggung dunia.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Nachyn Sat “Samurai”: Petarung Mongolia Di ONE Championship

Jakarta – Dunia MMA terus meluas, merangkul talenta-talenta dari berbagai penjuru dunia. Jika dulu panggung internasional lebih banyak dikuasai petarung dari Amerika, Brasil, atau Jepang, kini giliran negara-negara dengan kultur tempur kuat seperti Mongolia mulai menampilkan bintangnya. Salah satu nama yang tengah bersinar adalah Nachyn Sat, petarung yang lahir pada 5 Januari 1998, dan kini berkompetisi di divisi featherweight ONE Championship.

Sat membawa julukan “Samurai”, sebuah nama yang bukan hanya simbol keberanian, tetapi juga disiplin, fokus, dan ketajaman teknik. Ia dikenal dengan gaya bertarung agresif, penuh tekanan, serta kemampuan menyelesaikan laga dengan cepat. Kombinasi grappling kuat dan striking eksplosif membuatnya menjadi salah satu petarung yang selalu menghadirkan pertarungan seru dan berbahaya.

Dari Mongolia ke Dunia Pertarungan

Mongolia memiliki sejarah panjang dalam seni bela diri dan olahraga tempur. Gulat tradisional Mongolia, atau Bökh, adalah bagian dari identitas budaya bangsa. Di tengah kultur inilah, Nachyn Sat tumbuh. Sejak kecil, ia terbiasa dengan lingkungan yang menuntut kekuatan fisik, ketangguhan mental, dan rasa disiplin.

Namun, berbeda dengan sebagian besar rekan sebangsanya yang fokus pada gulat, Sat memilih jalan lebih modern: mixed martial arts (MMA). Ia memulai dari dasar grappling, mengasah teknik kuncian, transisi, serta kontrol tubuh. Lalu, ia menambahkan striking ke dalam repertoarnya, melatih pukulan dan tendangan keras agar bisa bersaing di semua area pertarungan.

Langkah itu tidak mudah, tetapi dengan determinasi tinggi, Sat membuktikan bahwa ia bisa menjadi petarung serba bisa—baik di atas (stand-up) maupun di bawah (ground game).

Agresif dan Serba Bisa

Sebagai petarung featherweight, Sat dikenal memiliki gaya khas yang sulit diantisipasi. Ia jarang memberi ruang bagi lawan untuk mengatur strategi karena selalu menekan sejak awal ronde.

Ciri khasnya adalah:

    • Tekanan konstan: Sat selalu menguasai tengah ring, mendikte tempo, dan memaksa lawan bermain di bawah tekanannya.
    • Transisi cepat: ia bisa berpindah mulus dari striking ke clinch, lalu membawa lawan ke ground dengan grappling.
    • Penyelesaian tajam: baik melalui KO/TKO berkat striking eksplosif maupun submission dari kuncian cepatnya.

Julukan “Samurai” bukan hanya tempelan nama, melainkan representasi nyata dari cara ia bertarung: disiplin, fokus, tajam, dan tanpa kompromi.

Perjalanan Menuju ONE Championship

Karier profesional Sat dimulai di panggung regional, di mana ia mencatatkan kemenangan cepat yang menarik perhatian komunitas MMA. Lawan-lawannya sering kali kewalahan dengan agresivitasnya, tidak diberi ruang untuk membangun momentum, hingga akhirnya dihentikan oleh wasit dalam waktu singkat.

Reputasi ini membuatnya dipandang sebagai prospek berbahaya. ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia, akhirnya memberi kesempatan bagi Sat untuk berkompetisi di divisi featherweight—salah satu kelas yang penuh persaingan dengan petarung-petarung eksplosif.

Masuk ke ONE adalah langkah besar. Di sana, ia harus menghadapi lawan dari berbagai latar belakang: Muay Thai, jiu-jitsu, gulat, hingga kickboxing. Namun, gaya bertarung Sat yang fleksibel membuatnya mampu menyesuaikan diri. Ia tidak hanya datang untuk berpartisipasi, tetapi untuk benar-benar menggebrak divisi.

Filosofi “Samurai”: Disiplin dan Ketajaman

Mengapa dijuluki “Samurai”?

Sat dikenal sebagai sosok dengan fokus luar biasa di gym maupun di atas ring. Ia disiplin menjaga kondisi, tekun mempelajari teknik baru, dan selalu tampil dengan mental siap tempur. Julukan ini juga melambangkan ketajaman tekniknya, yang mampu menuntaskan laga dengan satu peluang kecil.

Seperti samurai di masa lalu, ia mengandalkan kombinasi keberanian dan keahlian. Setiap kali masuk ring, Sat seakan membawa filosofi bahwa pertarungan adalah arena kehormatan, di mana satu-satunya jalan adalah maju ke depan.

Prestasi dan Reputasi

Meski usianya masih relatif muda, 27 tahun, Sat sudah membangun reputasi sebagai petarung eksplosif di kancah internasional. Beberapa prestasi penting dalam perjalanan kariernya antara lain:

    • Catatan kemenangan cepat di panggung regional Asia yang memperkenalkan namanya.
    • Reputasi sebagai salah satu petarung Mongolia paling berbahaya yang kini berlaga di ONE Championship.
    • Julukan “Samurai”, yang kini melekat dan menjadi simbol kepribadian serta gayanya di atas ring.

Masa Depan di Divisi Featherweight

Featherweight di ONE Championship dikenal sebagai divisi yang padat dengan talenta. Ada striker eksplosif, grappler ulung, dan petarung hybrid dengan gaya modern. Namun, Sat memiliki keunggulan: ia adalah paket lengkap. Dengan dasar grappling yang kuat, ditambah striking yang agresif, ia bisa beradaptasi melawan berbagai gaya.

Ke depan, dengan pengalaman bertambah dan strategi yang semakin matang, Nachyn Sat berpotensi menjadi salah satu penantang gelar di divisi featherweight. Usianya yang masih muda memberi ruang besar untuk berkembang dan memperkuat kelemahan-kelemahan yang mungkin dimiliki.

Nachyn Sat “Samurai” adalah sosok petarung yang lahir dari semangat Mongolia dan kini menorehkan namanya di panggung dunia. Lahir pada 5 Januari 1998, ia menapaki perjalanan panjang dari grappling dan striking menuju MMA profesional, hingga akhirnya berkompetisi di ONE Championship featherweight.

Dengan gaya bertarung agresif, transisi cepat, serta kemampuan menyelesaikan laga dengan KO atau submission, Sat adalah ancaman nyata bagi siapa pun di kelasnya. Julukan “Samurai” bukan hanya nama, tetapi filosofi yang ia jalani—disiplin, fokus, dan ketajaman di atas ring.

Bagi Mongolia, Sat adalah representasi dari generasi baru yang membawa kebanggaan bangsa ke panggung internasional. Bagi dunia MMA, ia adalah pengingat bahwa bintang bisa lahir dari mana saja, bahkan dari dataran tinggi Mongolia, dan siap menggebrak dunia dengan semangat seorang samurai sejati.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Gregor Thom, Pendatang Baru Di ONE Championship

Jakarta – Lahir pada 11 Februari 2000 di Skotlandia, Gregor Thom tumbuh di tengah lingkungan yang keras namun penuh semangat juang khas negeri asalnya. Sejak kecil, Thom dikenal sebagai anak yang energik dan penuh disiplin. Ia mulai tertarik pada dunia bela diri sejak usia remaja, ketika menonton pertandingan Muay Thai di televisi dan terpesona oleh perpaduan kecepatan, kekuatan, dan ketepatan teknik yang dimiliki para petarung Thailand.

Berbeda dari kebanyakan anak muda di Skotlandia yang lebih memilih sepak bola atau rugby, Thom justru memilih jalur yang tidak biasa: Muay Thai, seni bela diri asal Thailand yang dikenal sebagai “The Art of Eight Limbs” — seni delapan tungkai. Dengan tekad kuat, ia mulai berlatih di gym lokal dan mengasah kemampuan bertarungnya melalui disiplin, kerja keras, dan determinasi tinggi.

“Saya tahu sejak pertama kali menendang pad, bahwa ini adalah jalan saya. Muay Thai memberi saya arah hidup,” ujar Thom dalam wawancara usai debutnya di ONE Championship.

Dari Gym Skotlandia ke Lumpinee Stadium

Perjalanan Gregor Thom di dunia Muay Thai tidaklah instan. Ia memulai kariernya di sirkuit domestik Skotlandia, di mana ia bertanding melawan para petarung muda berbakat dari seluruh Inggris Raya. Berkat gaya bertarungnya yang agresif dan ketepatan serangan, Thom dengan cepat dikenal di komunitas Muay Thai Eropa.

Keputusannya untuk berlatih penuh waktu membawanya ke Thailand — tanah suci Muay Thai — tempat ia mendalami seni bertarung ini langsung dari sumbernya. Ia bergabung dengan kamp latihan lokal di Bangkok, di mana ia berlatih di bawah pelatih-pelatih veteran yang membentuk disiplin teknis dan mentalnya.

Kehidupan di Thailand tidak mudah. Beradaptasi dengan gaya hidup petarung lokal yang keras, latihan berjam-jam setiap hari di bawah terik matahari, serta pertarungan rutin di stadion kecil menjadi pengalaman berharga yang menempa karakter Thom. Namun, justru di sinilah ia menemukan identitasnya sebagai petarung sejati.

“Berlatih di Thailand mengubah segalanya. Saya belajar arti sebenarnya dari ketahanan dan hormat,” kata Thom tentang masa-masa latihannya di Bangkok.

Awal Dari Nama Besar

Setelah menorehkan beberapa kemenangan di kompetisi Eropa dan Asia, Gregor Thom akhirnya menarik perhatian ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di dunia. Kesempatan besar itu datang pada 17 Mei 2024, ketika ia tampil dalam ajang ONE Friday Fights 63 di Lumpinee Stadium, Bangkok — arena legendaris yang menjadi simbol tertinggi dunia Muay Thai.

Dalam debutnya, Thom tampil memukau melawan petarung Jepang Taku Kondo. Dengan gaya orthodox yang rapi dan penuh perhitungan, Thom mendominasi sejak awal ronde. Ia memanfaatkan jarak dengan tendangan tajam dan melancarkan kombinasi pukulan-siku cepat yang memaksa Kondo bertahan.

Puncak momen datang di ronde pertama ketika Thom melepaskan siku kanan keras yang menghantam tepat ke rahang lawan, menjatuhkan Kondo ke kanvas. Wasit segera menghentikan pertarungan — KO ronde pertama!

Kemenangan ini tidak hanya menjadi debut impian bagi Gregor Thom, tetapi juga menandai kehadiran bintang baru dari Skotlandia di panggung Muay Thai dunia.

Presisi, Tekanan, dan Teknik Khas “Art of Eight Limbs”

Sebagai petarung dengan gaya orthodox, Gregor Thom dikenal dengan kombinasi agresivitas khas Eropa dan presisi teknikal ala Thailand. Ia menguasai berbagai aspek seni Muay Thai klasik — mulai dari pukulan cepat, tendangan keras, hingga clinch dominan.

Beberapa ciri khas gaya bertarungnya antara lain:

    • Tendangan Kuat dan Akurat: Thom kerap menggunakan tendangan kiri untuk mengatur ritme dan menjaga jarak, sebelum melancarkan serangan kombinasi ke arah kepala atau tubuh.
    • Siku dan Lutut sebagai Senjata Utama: Seperti petarung Thailand, ia sangat efektif menggunakan siku dalam jarak dekat. Kemenangan atas Kondo adalah bukti efektivitas teknik ini.
    • Clinch yang Terkontrol: Berkat latihan intens di Thailand, Thom memiliki kontrol clinch yang kuat, mampu menekan lawan dan memberikan serangan lutut beruntun yang menyakitkan.
    • Adaptif dan Tenang di Bawah Tekanan: Meskipun masih muda, ia menunjukkan kedewasaan taktis. Ia mampu membaca pergerakan lawan dan menyesuaikan tempo pertarungan dengan cepat.

Gaya bertarungnya memadukan mentalitas keras Skotlandia dengan ketekunan dan seni bertarung Thailand, menjadikannya kombinasi unik yang sulit diprediksi.

Rekor dan Prestasi

Walaupun karier profesionalnya masih muda, Gregor Thom telah menunjukkan potensi besar. Ia saat ini memiliki rekor profesional:

3 kemenangan dan 1 kekalahan (3–1)

Rincian kemenangannya:

    • 1 kemenangan melalui KO (di ONE Championship)
    • 2 kemenangan melalui keputusan juri di kompetisi regional Eropa

Pencapaian penting dalam karier Gregor Thom:

    • Kemenangan debut di ONE Friday Fights 63 (KO ronde pertama vs Taku Kondo)
    • Petarung muda Eropa yang berlatih penuh waktu di Thailand
    • Salah satu pendatang baru Muay Thai paling menjanjikan di ONE Championship

Karakter dan Filosofi Bertarung

Di luar ring, Gregor Thom dikenal sebagai sosok yang rendah hati namun fokus penuh terhadap kariernya. Ia tidak mencari popularitas, melainkan perbaikan diri dan kesempurnaan teknik. Dalam berbagai wawancara, Thom sering menekankan bahwa kemenangan baginya bukan hanya soal menjatuhkan lawan, tetapi tentang menguasai diri sendiri.

“Muay Thai bukan sekadar tentang kekuatan atau kekerasan. Ini tentang disiplin, rasa hormat, dan keseimbangan antara pikiran dan tubuh,” ungkapnya dalam salah satu sesi media pasca-pertandingan di Bangkok.

Pendekatannya terhadap olahraga ini mencerminkan semangat sejati Muay Thai: berjuang dengan kehormatan dan menunjukkan respek terhadap lawan.

Masa Depan di ONE Championship

Dengan usia baru 24 tahun, Gregor Thom memiliki jalan panjang dan menjanjikan di depannya. Kemenangan impresif di debut ONE Championship membuka peluang besar untuk tampil lebih sering di ajang ONE Friday Fights, yang kini menjadi panggung utama bagi bintang-bintang Muay Thai baru.

Jika ia mampu mempertahankan performanya dan terus berkembang di bawah bimbingan pelatih-pelatih Thailand, Thom berpotensi menjadi wakil Eropa terkuat di kelas flyweight Muay Thai ONE Championship.

Kombinasi antara usia muda, semangat belajar tinggi, dan pengalaman internasional menjadikannya salah satu prospek paling menarik dalam dunia Muay Thai modern.

Nama Gregor Thom mulai menggema tidak hanya di Skotlandia, tetapi juga di panggung global — dari Lumpinee hingga penonton dunia yang mengikuti pertarungan lewat siaran internasional.

Gregor Thom, Harapan Baru Muay Thai Skotlandia

Gregor Thom adalah simbol generasi baru petarung Eropa yang menembus batas budaya dan geografis untuk menaklukkan dunia Muay Thai.

Dari gym kecil di Skotlandia hingga arena legendaris Lumpinee Stadium di Bangkok, ia membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan semangat belajar dapat membawa siapa pun mencapai puncak.

Dengan rekor 3–1, kemenangan KO spektakuler atas Taku Kondo, dan dedikasi tinggi terhadap seni bela diri Thailand, Thom telah menempatkan dirinya sebagai bintang muda yang patut diperhitungkan di ONE Championship.

Bagi banyak penggemar, ia bukan sekadar petarung — tetapi wujud nyata dari semangat pantang menyerah dan mimpi global seorang anak Skotlandia yang ingin menaklukkan dunia dengan delapan tungkai.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda