Kulit Bundar

New Age of Sports Community

Unlearning, Proses Kesadaran Untuk Menjadi Diri yang Otentik


Unlearning adalah pelepasan yang disengaja dari apa yang telah kita pelajari dan keterbukaan untuk mengeksplorasi kebenaran pribadi kita sendiri. Dibebaskan dari pengkondisian masa lalu kita. Hal ini dapat menjadi pengambilan langkah percaya diri, dari rasa nyaman atau tidak nyaman, kepada sesuatu yang lebih besar yang tidak kita ketahui sebelummya. Yang pada akhirnya membebaskan diri kita dari programming yang kita terima sebelumnya.

Tujuannya adalah untuk menjauhkan pikiran dan keyakinan yang berpusat pada ketakutan dan kekurangan, dan menggantinya dengan cinta dan kebahagiaan. Pengondisian tidak dapat dihindari, tidak berarti kita tidak dapat merubah belief system dan mindset tersebut. Serta menggantinya dengan apa yang tampaknya lebih otentik bagi kita sebagai individu.

Saat tumbuh dewasa, kita dibombardir oleh nasehat, pengkondisian dan programmning dari orang tua, teman, media, sekolah, dan lembaga keagamaan yang kita anggap sebagai kebenaran kita sendiri. Padahal sebenarnya itu adalah kepercayaan orang lain dan bukan milik kita sendiri.

Jangan biarkan orang lain mendikte di mana atau siapa kita seharusnya atau tidak seharusnya. Jangan biarkan keberadaan kita sesungguhnya, dengan bagaimana kita adanya, menjadi hal yang membatasi kita menjadi diri kita sendiri.

Tantang belief system kita tentang diri dan hidup kita, dan putuskan apa yang membuat kita bahagia, apa yang terbaik untuk kita. Mengikuti kebenaran palsu yang tidak beresonansi dengan siapa kita, diri sejati kita, pada akhirnya akan mengarah pada perasaan hampa dan tidak bahagia, saat kita terus menjalani kehidupan yang tidak menggambarkan siapa kita sebenarnya.

Mungkin sekitar kita, keluarga terdekat dan sahabat tidak akan setuju dengan pilihan kita. Akan tetapi kita dapat hidup dari originalitas diri kita. Bukan dari ekspektasi orang lain terhadap kita.

Foto : LITFL.com

Ketahui apa yang kita butuhkan

Apakah kita benar-benar bahagia? Apakah kita tetap fokus pada saat ini atau apakah kita hanya terbelenggu oleh masa lalu dan/atau hidup di masa depan? Apakah pikiran kita berdasarkan rasa takut atau cinta? Apakah kita merasa kosong atau penuh secara rohani? Apakah kita hidup untuk diri sendiri atau untuk harapan orang lain terhadap kita? Periksa semua bidang kehidupan kita dan kenali kebutuhan akan perubahan jika ada. Keberhasilan kita untuk mengenali apa yang tidak berhasil dalam hidup kita, dan kesiapan kita untuk berubah, akan menentukan kebahagiaan kita.

Hiduplah di saat ini

Momen saat ini bukanlah sarana untuk mencapai masa depan. Jika kita memikirkannya seperti itu, kita akan terus-menerus tidak terpenuhi. Jika masa lalu telah berlalu dan masa depan tidak ada, kita adalah lembaran kosong yang indah yang ada pada saat ini, bebas dari pengkondisian masa lalu, sistem kepercayaan salah, dan ketakutan masa depan.

Lepaskan ego kita

Kita mungkin tahu ego kita, suara kecil di dalam diri kita, yang menilai (diri kita dan orang lain), takut akan hal yang tidak diketahui, terikat pada dunia material, dan ingin mengendalikan setiap detail. Langkah pertama untuk unlearning dan re-learning adalah mengatasi pikiran ego kita sehingga kita bisa tetap terbuka untuk berubah. Sadarilah kehadirannya dengan mendengarkan pikiran kita secara sadar saat menjalani hari-hari kita. Setelah kita mengenalinya, kita bisa belajar untuk melepaskannya.

Mulailah bertanya

Pertanyakan apa yang telah diberitahukan kepada kita oleh orang tua, guru, pemimpin agama, pasangan kita, media, dan teman kita. Periksa intuisi kita dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini terasa benar bagi saya?” Jika jawabannya tidak, luangkan waktu untuk mencari tahu apa yang resonate dengan diri kita.

Hancurkan pola lama

Mendobrak pola lama bisa menjadi pengalaman yang sulit tetapi bermanfaat karena mengharuskan kita menelanjangi hingga ke inti diri kita yang bebas dari pengaruh luar. Kita hampir menjadi seperti bayi yang belajar merangkak, berjalan, dan berlari lagi. Kita mulai lagi lagi nol, menjadi diri yang lahir kembali. Dan siap untuk menerima diri yang baru.

Mungkin sangat sulit untuk melupakan sesuatu. Akan tetapi begitu kita menyadarinya dan menjalani prosesnya, kita bisa merangkul semuanya menjadi satu kesatuan yang utuh.

Keterampilan membaca kita telah diasah dengan sedemikian rupa sempurnanya selama bertahun-tahun. Tapi sebelum kemampuan kita membaca, otak kita sangat pandai mengidentifikasi warna.

Untuk mengujinya, lihat seberapa cepat kita dapat menyebutkan semua warna di bawah ini.

Jika kita seperti kebanyakan orang, kita pasti dapat menyelesaikan latihan itu tanpa kesalahan dalam waktu sekitar tiga sampai lima detik. Kita sangat cepat dalam menemukan warna dan dapat menamainya.

Mari kita coba latihan serupa, kali ini ucapkan dengan lantang, secepat mungkin, warna setiap kata. Ucapkan warna teks di bawah ini, bukan kata sebenarnya yang tertulis.

Kita pasti membuat banyak kesalahan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat menyebutkan warnanya. Faktanya adalah, bahwa sebelum kita dapat memberi nama warna, kita secara tidak sadar membaca kata tersebut dan mengalir ke dalam kesadaran kita.

Hebatnya, latihan kedua ini bisa menjadi sangat mudah untuk anak-anak, sebelum mereka belajar membaca. Tapi begitu kita telah belajar membaca, sangat sulit untuk mundur, atau tidak mempelajari pengondisian diri kita.

Paradigma di atas dikenal sebagai efek Stroop yang dinamai dari psikolog John Ridley Stroop dan penelitian terobosannya dalam kognisi dan interferensi.

Begitulah pengalaman kita dengan ego dan persepsi kita tentang apa yang kita yakini sebagai kenyataan. Setelah tertanam sistem pemikiran ego, semua yang kita pelajari, mengajarkan kita bahwa dunia kita, termasuk kehidupan kita adalah nyata adanya. Dan akhirnya itu menjadi kepercayaan kita, belief system kita. Programming yang sudah kita dapatkan bertahun-tahun, dapat menimbulkan konsekuensi yang serius. Dan sangat sulit untuk melupakannya.

Kita begitu dikondisikan oleh apa yang telah kita pelajari. Sehingga kita tidak dapat menghargai diri kita, bagaimana memahami kesedihan, kesepian, kecemasan, kemarahan, kecemburuan, frustrasi, kelelahan, kekecewaan, atau perjuangan, semua alat ego untuk membuat kita tetap berakar di dunia dan keyakinan keliru bahwa kita dapat menemukan kebahagiaan abadi di sini.

Pernyataan yang kuat, tetapi kita tidak tahu ingin menjadi siapa. Bahkan jika kita melakukannya, sangat tidak jarang kita tidak yakin apakah kita bisa melakukannya.

Untuk waktu yang lama, kita pikir memperbaiki situasi eksternal dengan menjadi lebih kaya, lebih kurus, dan lebih pintar artinya kita sedang belajar. Namun, dalam siklus itu kita ternyata tidak belajar, tetapi mengulang cerita atau pola yang sama.

Kita mungkin terus berusaha, mendorong diri kita sendiri dan selalu mengharapkan hasilnya memenuhi harapan kita. Dan lingkaran setan itu berlanjut.  Ironisnya, keinginan itu terus merugikan kita. Dan hanya membawa kita lebih jauh dari apa yang kita inginkan.

Sekarang kita menyadari betapa pentingnya bagi kita untuk melepaskan kendali, menciptakan ruang untuk sesuatu yang lebih besar. Kesadaran integral, menerima informasi di semua tingkatan, pikiran, tubuh, dan jiwa. Tidak menolak, tidak mengharapkan, tidak menghakimi, tetapi membiarkannya, menghapus ide-ide sebelumnya tentang siapa diri kita.

Kata lainnya adalah pemrograman ulang. Atau kita harus mulai dengan mengosongkan cangkirnya. Bruce Lee pernah berkata, “Kosongkan cangkirmu agar bisa diisi, menjadi kosong untuk mendapatkan totalitas.” Dengan mengosongkan cangkir, kita memberi ruang untuk pengalaman baru dalam hidup kita, alih-alih membiarkan diri kita mengulangi pola-pola toxic.

Dalam proses melepaskan dan unlearning kita akan mengalami beberapa perubahan dramatis di beberapa bidang, seperti, relationship menjadi lebih sehat, tubuh mengalami perbaikan, kita akan lebih mudah bersyukur dan lebih bahagia karena kita menjadi diri kita sebenarnya. Kita tidak lagi terikat pada hasil akhir dan kita akan sangat menikmati prosesnya.

(DK-TimKB)