Jakarta – Ketika membicarakan kejayaan tim nasional Brasil pada Piala Dunia 1970 di Meksiko, nama Pele sering kali menjadi magnet utama yang menyedot seluruh perhatian dunia. Namun, di samping sang raja, ada satu sosok yang bergerak dengan kecepatan badai di sisi kanan penyerangan Selecao. Pria itu adalah Jair Ventura Filho, yang lebih dikenal dunia dengan nama Jairzinho. Dengan julukan O Furacao atau Sang Badai, ia mencatatkan sebuah pencapaian yang hingga hari ini belum mampu disamai oleh megabintang modern sekalipun, yaitu mencetak gol di setiap pertandingan dalam satu edisi Piala Dunia.
Lahir di Rio de Janeiro pada hari Natal tahun 1944, Jairzinho tumbuh dalam era emas sepak bola Brasil. Masa kecilnya diwarnai oleh gairah jalanan yang membentuk karakter bermainnya menjadi sangat bertenaga, cepat, dan penuh determinasi. Berbeda dengan penyerang sayap klasik pada masanya yang cenderung mengandalkan kelincahan murni untuk mengirimkan umpan silang, Jairzinho mengombinasikan kecepatan lari yang menakjubkan dengan kekuatan fisik yang kokoh. Ia adalah purwarupa dari penyerang sayap modern yang tidak hanya menjadi pelayan bagi penyerang tengah, melainkan juga mesin gol utama yang mematikan dari koridor sayap.
Karier profesionalnya dimulai bersama Botafogo, sebuah klub legendaris yang saat itu dihuni oleh salah satu seniman sepak bola terbesar sepanjang masa, Garrincha. Menempati posisi yang sama dengan sang idola tentu bukan perkara mudah bagi seorang pemain muda. Pada awal kariernya di Botafogo, Jairzinho sering kali dimainkan di sisi kiri atau sebagai penyerang tengah untuk mengakomodasi kehadiran Garrincha di sisi kanan. Proses magang ini justru membentuknya menjadi pemain yang sangat serbabisa. Ketika Garrincha mulai menua dan meninggalkan klub, Jairzinho mewarisi nomor punggung tujuh yang sakral dan langsung menjelma menjadi pahlawan baru publik Stade General Severiano dengan memenangkan berbagai gelar domestik.
Panggung penegasan kebesaran Jairzinho terjadi pada musim panas tahun 1970. Di bawah asuhan pelatih Mario Zagallo, Brasil membangun salah satu skuad paling ofensif dan indah dalam sejarah sepak bola. Zagallo mengumpulkan lima pemain nomor sepuluh dari klub berbeda untuk bermain bersama dalam satu lapangan: Pele, Tostao, Rivelino, Gerson, dan Jairzinho sendiri. Banyak pengamat yang awalnya meragukan taktik ini karena dianggap terlalu tidak seimbang dan rentan di lini pertahanan. Namun, Jairzinho menjadi kepingan taktik yang membuat formula berani ini bekerja dengan sempurna berkat daya jelajah dan etos kerjanya yang luar biasa.
Sepanjang turnamen di Meksiko, Sang Badai benar-benar meneror setiap lini pertahanan yang mencoba menghalangi jalannya. Ia membuka keran golnya saat Brasil menumbangkan Cekoslowakia dengan skor meyakinkan. Ketajamannya berlanjut pada pertandingan kedua yang sangat krusial melawan juara bertahan Inggris, di mana ia mencetak satu-satunya gol kemenangan setelah menerima umpan matang dari Pele. Jairzinho tidak pernah berhenti melesakkan bola ke gawang lawan pada laga-laga berikutnya melawan Rumania di fase grup, Peru di perempat final, dan Uruguay di semifinal yang penuh tensi tinggi.
Puncak dari performa fenomenalnya terjadi dalam pertandingan final melawan Italia di Stadion Azteca yang padat. Menghadapi sistem pertahanan Catenaccio Italia yang terkenal sangat rapat dan disiplin, kecepatan dan kekuatan fisik Jairzinho menjadi pemecah kebuntuan yang sangat efektif. Ia mencetak gol ketiga Brasil setelah memanfaatkan umpan sundulan Pele, sebelum akhirnya memberikan asis ikonik untuk gol penutup yang dicetak oleh kapten Carlos Alberto Carlos. Pertandingan berakhir dengan kemenangan telak empat satu untuk Brasil, dan Jairzinho menutup turnamen dengan catatan tujuh gol dari tujuh pertandingan berturut-turut.
Keberhasilan mencetak gol di setiap laga dari fase grup hingga final adalah rekor yang sangat langka. Sebelum dirinya, hanya ada Alcides Ghiggia dari Uruguay yang mampu melakukannya pada Piala Dunia 1950, namun saat itu format turnamen tidak melibatkan babak gugur perempat final dan semifinal yang panjang seperti tahun 1970. Prestasi Jairzinho membuktikan tingkat konsistensi dan ketahanan mental yang luar biasa di bawah tekanan kompetisi sepak bola tertinggi di planet bumi. Ia tidak sekadar menjadi pelengkap di antara nama-nama besar, melainkan motor serangan yang memastikan Selecao membawa pulang trofi Jules Rimet untuk selamanya.
Setelah masa-masa indahnya di Meksiko, Jairzinho sempat mencicipi atmosfer sepak bola Eropa dengan bergabung bersama klub Prancis, Olympique de Marseille. Meskipun petualangannya di Eropa terhitung singkat karena masalah adaptasi dan cedera, ia tetap dihormati sebagai salah satu talenta asing terbesar yang pernah menginjakkan kaki di Prancis. Ia kemudian kembali ke Amerika Selatan dan memperkuat Cruzeiro, di mana ia sukses mempersembahkan gelar Copa Libertadores pada tahun 1976. Menjelang akhir kariernya, Jairzinho berkelana ke berbagai negara seperti Venezuela dan Bolivia, menyebarkan keindahan sepak bola Brasil sebelum akhirnya gantung sepatu.
Kontribusi Jairzinho bagi dunia sepak bola ternyata tidak berhenti setelah ia pensiun sebagai pemain profesional. Ketika beralih fungsi menjadi seorang pemandu bakat dan pelatih usia muda, ia memiliki insting yang sama tajamnya seperti saat ia mengendus ruang kosong di area penalti lawan. Pada awal dekade 1990-an, Jairzinho menemukan seorang bocah kurus yang memiliki kecepatan luar biasa di Sao Cristovao. Bocah tersebut kemudian ia rekomendasikan ke mantan klubnya, Cruzeiro. Bocah ajaib itu tidak lain adalah Ronaldo Luis Nazario de Lima, yang di kemudian hari tumbuh menjadi salah satu penyerang tengah terbaik dalam sejarah sepak bola dunia. Melalui penemuan Ronaldo, Jairzinho seolah mewariskan tongkat estafet ketajaman lini depan Brasil kepada generasi baru.
Hingga saat ini, nama Jairzinho selalu masuk dalam daftar jajaran legenda terbesar sepak bola dunia. Ketika dunia mengenang keindahan estetika tim Brasil tahun 1970, mereka tidak hanya mengingat senyuman Pele atau tendangan bebas keras Rivelino, tetapi juga bayangan siluet rambut afro Jairzinho yang berlari kencang meninggalkan para pemain bertahan lawan yang kelelahan. Gaya bermainnya yang meledak-ledak namun tetap elegan menjadi standar baru bagi posisi penyerang sayap di era modern.
Mengenang Jairzinho berarti mengenang masa di mana sepak bola dimainkan dengan kegembiraan murni tanpa melupakan efektivitas yang mematikan di atas lapangan hijau. Ia adalah perwujudan sejati dari istilah Joga Bonito, sebuah permainan yang indah yang dikombinasikan dengan kekuatan fisik yang tangguh. Bagi masyarakat Brasil dan pencinta sepak bola di seluruh dunia, Sang Badai dari Rio de Janeiro ini akan selalu menempati posisi khusus dalam sejarah sebagai sosok yang pernah menaklukkan dunia dengan mencetak gol di setiap jengkal langkahnya di Meksiko. Warisannya tetap hidup di setiap gocekan penyerang sayap modern yang berani melakukan tusukan langsung ke jantung pertahanan lawan.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda