Hern NF Looksuan: Kisah Petarung Muay Thai Thailand

Jakarta – Di Thailand, Muay Thai bukan sekadar cabang olahraga. Ia adalah napas budaya, ruang pembentukan karakter, dan bagi banyak anak muda, jalan hidup yang ditempa sejak sangat dini. Dari ribuan nama yang tumbuh di lingkungan seperti itu, hanya sedikit yang berhasil menembus panggung besar dan membuat publik mulai menunggu penampilan berikutnya dengan rasa penasaran. Hern NF Looksuan adalah salah satu nama yang kini bergerak ke arah sana. Ia datang bukan dengan kebisingan berlebihan, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih meyakinkan: kemenangan, penyelesaian, dan kesan bahwa dirinya belum menunjukkan seluruh potensi terbaiknya.

Hern NF Looksuan lahir pada 1 Agustus 2002. Profil resmi ONE Championship saat ini tidak menampilkan tanggal lahir lengkap, tetapi mencantumkan usianya 23 tahun, tinggi 164 sentimeter, negara asal Thailand, dan tim NF Looksuan. Ia berlaga di kelas strawweight Muay Thai, dan profil resminya kini mencatat rekor 4 kemenangan tanpa kekalahan di ONE Championship. Ini berarti data 3-0 yang Anda sebutkan kemungkinan merujuk pada fase sebelum kemenangan terbarunya pada ONE Friday Fights 145.

Yang membuat Hern menarik bukan hanya fakta bahwa ia belum terkalahkan. Daya tariknya justru terletak pada cara ia menang. Ia dikenal sebagai petarung southpaw yang agresif, mengandalkan kombinasi pukulan cepat dan tendangan keras, lalu menerjemahkan gaya itu menjadi hasil nyata di atas ring. Dari empat kemenangan di ONE, tiga di antaranya berakhir lewat knockout, sementara satu lainnya diraih melalui unanimous decision. Kombinasi ini membuat finish rate resminya berada di angka 75 persen, sebuah angka yang menunjukkan bahwa ia bukan hanya petarung muda yang rapi, tetapi juga sosok yang punya naluri penyelesai laga.

Menjadi petarung Thailand di era ONE Championship

Bertarung sebagai atlet Thailand di panggung ONE Championship adalah situasi yang unik. Di satu sisi, ada keuntungan besar karena Thailand adalah rumah Muay Thai. Tradisi, teknik, dan pemahaman publik terhadap olahraga ini begitu dalam. Namun di sisi lain, ekspektasinya juga sangat tinggi. Setiap petarung Thailand di ONE hampir selalu dinilai bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai representasi dari standar Muay Thai itu sendiri. Hern tumbuh di tengah tekanan semacam itu, dan sejauh ini ia menjawabnya dengan cukup baik.

Format ONE Friday Fights juga memberi panggung yang berbeda dibanding arena Muay Thai tradisional. Ini adalah ruang yang menuntut petarung bukan hanya teknis, tetapi juga menarik untuk ditonton. Penonton internasional menyukai tempo, agresi, keberanian, dan penyelesaian. Hern tampak cocok dengan format itu. Ia tidak datang dengan gaya pasif atau terlalu berhati-hati. Ia datang dengan keberanian menyerang dan kemampuan membuat lawan merasa tidak nyaman. Dalam konteks hiburan olahraga modern, kualitas seperti ini sangat penting.

Karier Hern di ONE Championship dimulai di ONE Friday Fights 83, ketika ia menghadapi Petthongkao Patcharagym. Ia memenangkan pertarungan itu lewat KO pada ronde kedua. Debut seperti ini selalu memiliki arti besar. Debut bukan hanya tentang hasil, melainkan tentang bagaimana seorang petarung menyesuaikan diri dengan panggung, sorotan, dan ritme pertandingan yang berbeda. Hern tidak sekadar lolos dari ujian itu. Ia langsung memberi tanda bahwa dirinya bukan peserta biasa. Ia datang, bertarung, dan pulang dengan penyelesaian.

Kemenangan debut itu juga sering menjadi fondasi psikologis yang sangat penting. Seorang petarung muda yang menang meyakinkan di laga pertama biasanya memasuki pertarungan berikutnya dengan kepercayaan diri yang jauh lebih besar. Bagi Hern, momentum awal itu tampaknya benar-benar dimanfaatkan. Ia tidak terlihat seperti atlet yang puas dengan satu kemenangan bagus. Ia justru menjadikannya pijakan untuk menambah tekanan pada lawan-lawan berikutnya.

Pada pertarungan keduanya di ONE Friday Fights 94, Hern menghadapi Hinlekfai Samchaiwisetsuk. Hasilnya kembali tegas: kemenangan KO, kali ini bahkan lebih cepat, hanya 1:21 di ronde pertama. Di sinilah narasi tentang dirinya mulai berubah. Kemenangan KO pertama bisa saja dianggap sebagai pembuka yang impresif. Kemenangan KO kedua, apalagi dengan cara yang cepat, mulai membangun reputasi. Ia tidak lagi dilihat sebagai nama baru yang kebetulan tampil bagus, tetapi sebagai petarung muda yang benar-benar memiliki daya rusak.

Bagi penonton dan pengamat, hasil seperti ini penting karena menunjukkan konsistensi identitas. Seorang striker agresif seharusnya menang dengan cara yang mencerminkan karakter itu, dan Hern melakukan hal tersebut. Dua kemenangan knockout beruntun di awal karier ONE membuat orang mulai paham apa yang ia bawa: tekanan, keberanian, dan penyelesaian. Itu adalah kombinasi yang sangat efektif untuk membangun nama di ONE Friday Fights.

Dalam dunia tarung, satu laga tambahan bisa mengubah persepsi publik secara signifikan. Rekor 3-0 menunjukkan potensi. Rekor 4-0, terutama ketika kemenangan keempat juga datang lewat KO, mulai memberi aroma konsistensi. Ini adalah tahap ketika seorang petarung tidak lagi hanya disebut prospek menarik, tetapi mulai dibicarakan sebagai nama yang perlu diawasi serius dalam divisinya.

Rekam jejak yang lebih luas: bukan prospek mentah

Ada detail lain yang membuat kisah Hern semakin menarik. Saat diumumkan untuk ONE Friday Fights 115 pada 2025, ONE menulis bahwa Hern datang dengan rekor karier keseluruhan 43-3 dan telah mengantongi tiga kemenangan dominan di ONE Friday Fights saat itu. Angka ini sangat penting karena menunjukkan bahwa ia bukan petarung yang baru belajar bersaing. Sebelum tampil di bawah sorotan publik internasional, ia sudah lebih dulu dibentuk oleh pengalaman bertanding yang panjang. Itu menjelaskan mengapa di atas ring ia tampak relatif tenang meski usianya masih muda.

Rekor karier 43-3 itu juga memperlihatkan satu hal yang sering menjadi pembeda besar: kebiasaan menang. Petarung yang tumbuh dengan banyak kemenangan biasanya membawa rasa percaya diri yang berbeda. Mereka tidak panik ketika pertarungan mulai rumit, karena tubuh dan pikiran mereka sudah berkali-kali melewati situasi serupa. Pada Hern, jejak seperti itu terasa. Ia terlihat sebagai atlet yang sudah terbiasa bertarung, bukan sekadar berbakat.

Tantangan berikutnya: dari prospek menarik menjadi ancaman nyata

Semua awal yang bagus pada akhirnya akan membawa seorang petarung ke ujian yang lebih sulit. Bagi Hern, tantangan berikutnya hampir pasti datang dalam bentuk lawan yang lebih berpengalaman, lebih disiplin bertahan, dan lebih siap membaca pola southpaw agresifnya. Di titik itulah kualitas sejati seorang rising star diuji. Bukan lagi sekadar soal apakah ia bisa menang saat semuanya berjalan sesuai keinginan, tetapi apakah ia tetap bisa menang ketika ritme dipatahkan atau ketika lawan menolak runtuh. Hasil-hasil sejauh ini belum menjawab semua pertanyaan itu, tetapi cukup memberi alasan untuk optimistis.

Jika Hern mampu mempertahankan agresivitasnya sambil memperhalus kontrol jarak, kesabaran, dan manajemen tempo, ia bisa berkembang dari prospek yang enak ditonton menjadi ancaman sungguhan di strawweight Muay Thai. Ini adalah pembacaan atas pola hasil dan gaya bertarungnya sejauh ini, bukan klaim resmi dari ONE. Namun fondasinya jelas terlihat: rekor bersih, kemampuan finis, pengalaman luas sebelum ONE, dan identitas teknis yang sudah cukup jelas.

Hern NF Looksuan adalah contoh bagaimana seorang petarung muda Thailand bisa tumbuh cepat di panggung internasional tanpa kehilangan akar Muay Thai-nya. Ia datang dari Thailand, bertarung untuk tim NF Looksuan, memiliki tinggi 164 sentimeter, dan menurut profil resmi ONE saat ini memegang rekor 4 kemenangan tanpa kekalahan di organisasi tersebut. Tiga dari empat kemenangan itu datang lewat knockout, menjadikannya salah satu nama muda yang paling menarik untuk dipantau di kelas strawweight Muay Thai.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Yodphupa Petkiapet, Striker Agresif Di ONE Championship

Jakarta – Di Muay Thai, ada petarung yang menang dengan rapi. Ada pula petarung yang bertarung seolah-olah setiap ronde adalah undangan untuk membuat penonton berdiri dari kursinya. Yodphupa Petkiapet termasuk golongan kedua. Ia bukan tipe atlet yang datang ke ring untuk bermain aman. Ia datang untuk menekan, memaksa lawan bereaksi, dan membuka peluang knockout dari kombinasi pukulan serta tendangan keras yang menjadi ciri khasnya. Itu sebabnya namanya cepat melekat di benak penggemar. ONE sendiri menggambarkannya sebagai salah satu petarung bantamweight Muay Thai yang paling fan-friendly, sementara profil resminya menempatkannya sebagai atlet Thailand dari Team Petkiatpet dengan tinggi 167 cm dan batas divisi 65,8 kg.

Menurut data biografis yang Anda berikan, Yodphupa lahir pada 5 Desember 2003 di Chaiyaphum, Thailand. Profil resmi ONE saat ini tidak menampilkan kota lahir secara lengkap di potongan hasil pencarian, tetapi menegaskan bahwa ia berasal dari Thailand, berusia 22 tahun, dan bertanding di divisi bantamweight Muay Thai. ONE juga menulis bahwa ia mulai berlatih Muay Thai pada usia 12 tahun di kampung halamannya, lalu menjadikan olahraga ini sebagai jalan untuk membantu keluarganya sebelum kariernya berkembang ke level yang lebih tinggi.

Dari Chaiyaphum ke dunia Muay Thai profesional

Banyak kisah besar Muay Thai Thailand lahir jauh dari lampu panggung. Mereka berawal dari provinsi-provinsi yang keras, dari gym lokal, dan dari anak-anak muda yang belajar bahwa ring bukan sekadar tempat bertarung, tetapi juga ruang untuk mengubah hidup. Chaiyaphum memberi latar seperti itu bagi Yodphupa. Saat mulai berlatih pada usia 12 tahun, ia belum berada di panggung besar. Ia masih berada di titik ketika Muay Thai lebih dekat dengan disiplin hidup daripada ketenaran. Namun seiring waktu, latihan berubah menjadi kesempatan, kesempatan berubah menjadi penghasilan, dan penghasilan itu membuat Muay Thai punya makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar olahraga.

Ada sesuatu yang khas dari petarung Thailand yang tumbuh dari jalur tradisional. Mereka biasanya tidak datang dengan teknik setengah matang. Tubuh mereka telah lama mengenal ritme, jarak, timing, dan rasa sakit. Pada Yodphupa, fondasi itu terasa jelas. Ia tidak terlihat seperti petarung yang masih mencari identitas di atas ring. Ia sudah punya bentuk yang tegas: maju, aktif, keras, dan selalu mencari celah untuk mengubah tekanan menjadi kerusakan. Karena itulah sebutan striker agresif terasa begitu pas untuk dirinya. Gaya bertarungnya bukan tempelan; ia seperti lahir dari proses yang panjang dan jujur.

Jalan menuju ONE Championship

Karier Yodphupa tidak meledak dalam semalam. ONE mencatat bahwa salah satu titik balik terbesarnya datang pada 2022, ketika ia diundang bertarung di Road to ONE: Thailand untuk memperebutkan kontrak bernilai besar dengan organisasi tersebut. Turnamen atau jalur seleksi semacam itu selalu penting bagi petarung muda, karena di sana bakat harus diterjemahkan menjadi hasil nyata di bawah tekanan yang jauh lebih tinggi. Yodphupa tidak hanya lolos, ia menang dengan cara yang paling kuat untuk menarik perhatian: tiga knockout dalam perjalanannya merebut kontrak.

Tiga kemenangan KO itu bukan sekadar statistik. Itu adalah deklarasi identitas. Ia seperti mengatakan kepada semua orang bahwa jika diberi panggung lebih besar, ia tidak akan berubah menjadi petarung yang pasif. Ia justru akan tetap menjadi dirinya sendiri: ofensif, tegas, dan mencari penyelesaian. Dari sana, Yodphupa masuk ke ONE Championship bukan sebagai nama anonim, melainkan sebagai petarung muda Thailand yang sudah membawa reputasi sebagai knockout artist.

Perjalanan di ONE Championship: naik, jatuh, lalu terus bergerak

Perjalanan Yodphupa di ONE tidak lurus, dan justru di situlah kisahnya terasa hidup. Anda menyebut rekornya saat ini 5 kemenangan dan 3 kekalahan. Namun profil resmi ONE yang tersedia sekarang menunjukkan catatan yang sudah diperbarui: Yodphupa memiliki 6 kemenangan dan 4 kekalahan di organisasi tersebut. Hasil terbaru yang tampil di profil resminya mencakup kemenangan unanimous decision atas Adam Benwarwar di ONE Friday Fights 144 pada 27 Februari 2026. Jadi, untuk kondisi terkini, rekor yang lebih akurat adalah 6-4.

Kalau hanya melihat angka, orang bisa salah paham terhadap nilai perjalanan itu. Rekor 6-4 memang tidak terlihat sempurna, tetapi konteksnya menunjukkan hal yang lebih penting: Yodphupa telah diuji berkali-kali oleh lawan yang berbeda gaya dan kualitas. Ia pernah menang majority decision atas Soner Sen di ONE Friday Fights 63, kalah dari Parham Gheirati di ONE Friday Fights 74, serta mengalami laga-laga ketat lain melawan Komawut FA Group dan Mavlud Tifiyev. Rekam jejak seperti ini menunjukkan bahwa ia hidup di tengah persaingan yang sesungguhnya, bukan dibangun dari lawan-lawan mudah.

Pertarungan lawan Antar Kacem: ketika nama Yodphupa benar-benar terasa “hidup”

Kalau ada satu bagian yang paling menggambarkan kenapa Yodphupa begitu menarik untuk ditonton, itu adalah duel-duelnya melawan Antar Kacem. ONE menyoroti kemenangan split decision Yodphupa atas Kacem di ONE Friday Fights 21 sebagai pertarungan sengit yang penuh knockdown dan pertukaran serangan liar. Narasi resmi organisasi bahkan menekankan betapa panas dan kerasnya duel tersebut. Ini bukan sekadar menang di kartu juri; ini adalah jenis kemenangan yang membangun identitas. Penonton mengingatnya bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi karena drama yang terjadi sepanjang laga.

Lalu datang pertemuan kedua, ketika Kacem membalas dengan kemenangan KO atas Yodphupa di ONE Friday Fights 28. Dari sudut pandang naratif, hasil ini justru menambah lapisan pada cerita Yodphupa. Ia bukan petarung yang bersembunyi dari risiko. Ia masuk lagi ke pertarungan berbahaya, dan dalam olahraga seperti Muay Thai, keberanian semacam itu punya nilai besar di mata penggemar. Bahkan dalam kekalahan, petarung seperti Yodphupa tetap meninggalkan jejak, karena ia selalu membuat pertarungan terasa penting.

Pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah Yodphupa menarik ditonton. Itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah seberapa jauh ia bisa berkembang dari petarung fan-friendly menjadi ancaman yang lebih lengkap di divisi bantamweight Muay Thai. Untuk mencapai level itu, ia mungkin tidak perlu mengubah jati dirinya. Ia hanya perlu menambahkan lapisan baru: lebih sabar saat momentum belum hadir, lebih hemat dalam pengeluaran energi, dan lebih tajam dalam memilih kapan harus meledak. Jika itu terjadi, gaya ofensifnya justru bisa menjadi lebih mematikan. Ini adalah inferensi dari pola karier dan gaya bertarungnya, bukan klaim resmi dari ONE.

Yodphupa Petkiapet adalah gambaran petarung muda Thailand yang tumbuh dari akar Muay Thai tradisional lalu membawa semangat itu ke panggung modern. Ia mulai berlatih pada usia 12 tahun, bertarung demi membantu keluarganya, menembus ONE lewat tiga knockout di Road to ONE: Thailand, dan kini tercatat di profil resmi organisasi sebagai atlet bantamweight Muay Thai dengan rekor 6 kemenangan dan 4 kekalahan, tinggi 167 cm, serta afiliasi dengan Team Petkiatpet.

Tetapi yang membuatnya layak diingat bukan hanya biodata atau rekor itu. Yang membuat Yodphupa menonjol adalah caranya bertarung. Ia datang dengan naluri menyerang, dengan keberanian membuka duel, dan dengan kemampuan membuat penonton merasa bahwa selalu ada kemungkinan KO di depan mata. Dalam dunia Muay Thai modern, itu adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Dan sejauh ini, Yodphupa menjalani keduanya dengan cara yang sangat jujur: terus maju, terus bertarung, dan terus memberi alasan bagi orang untuk menunggu penampilan berikutnya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Victoria Souza: Perjalanan “Vick” Menuju ONE Championship

Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung memulai perjalanan mereka dari mimpi masa kecil yang lurus dan jelas. Ada yang sejak kecil sudah tahu bahwa hidupnya akan berada di arena. Ada pula yang justru tiba di dunia tarung lewat jalan memutar, lewat kebetulan, lewat pencarian diri, lalu pada akhirnya menemukan bahwa di sanalah mereka benar-benar hidup. Victoria Souza adalah salah satu nama yang tumbuh dari jalur seperti itu. Ia bukan sekadar petarung wanita asal Brasil yang bertarung di ONE Championship. Ia adalah sosok yang membangun dirinya dari keberanian untuk mengubah arah hidup, dari disiplin untuk belajar banyak hal sekaligus, dan dari keyakinan bahwa tekanan hidup bisa diubah menjadi tenaga untuk bertarung.

Victoria “Vick” Souza lahir pada 13 Agustus 1997 di Florianópolis, Santa Catarina, Brasil. Ia dikenal sebagai petarung MMA wanita yang berkompetisi di ONE Championship pada divisi atomweight, meski basis data lain juga mencatatnya dalam kategori strawweight tergantung konteks promosi dan pencatatan. Julukannya adalah “Vick,” dan julukan itu kini melekat pada sosok petarung agresif yang memadukan kickboxing cepat dengan ancaman submission dari Brazilian Jiu-Jitsu. Ia berlatih di Ataque Duplo/Chute Boxe Floripa, dua nama yang langsung memberi gambaran tentang fondasi striking keras khas Brasil selatan.

Awal hidup di Florianópolis dan karakter yang dibentuk dari lingkungan

Ada sesuatu yang khas dari banyak atlet Brasil, terutama mereka yang datang dari cabang olahraga tarung. Mereka sering membawa perpaduan antara spontanitas, keberanian, dan kemampuan beradaptasi. Victoria terlihat mencerminkan hal itu. Ia tidak dibentuk hanya oleh satu dunia. Ia mengenal kehidupan akademik, mengenal tuntutan pekerjaan, lalu mengenal disiplin keras dalam bela diri. Semua itu kemudian menyatu menjadi fondasi kariernya sebagai petarung. Mungkin itulah sebabnya, ketika orang melihatnya hanya sebagai striker agresif, sebenarnya yang terlihat di permukaan hanyalah bagian kecil dari keseluruhan sosoknya.

Tiga kali juara kickboxing Brasil: fondasi awal yang membentuk “Vick”

Sebelum dikenal sebagai petarung MMA, Victoria lebih dulu membangun reputasi di kickboxing. ONE Championship menyebutnya sebagai juara kickboxing Brasil tiga kali, dan juga pernah menjadi juara Pan-Amerika di cabang tersebut. Prestasi ini penting karena menjelaskan akar dari identitas bertarungnya. Victoria bukan striker yang belajar menyerang setelah masuk MMA. Striking sudah lebih dulu menjadi rumah pertamanya.

Menjadi juara kickboxing nasional di Brasil bukan pencapaian kecil. Brasil adalah salah satu negara dengan tradisi olahraga tarung paling kaya di dunia. Persaingan di tingkat nasional selalu keras, dan untuk bisa menjadi juara hingga tiga kali berarti seorang atlet harus memiliki kualitas yang sangat nyata: teknik yang matang, ketahanan mental, konsistensi latihan, dan kemampuan tampil baik di momen penting. Victoria memiliki semua elemen itu.

Bergabung dengan ONE Championship dan mulai menulis namanya di panggung global

Victoria Souza bergabung dengan ONE Championship pada 2021. Masuk ke organisasi sebesar ONE adalah langkah besar dalam karier petarung mana pun. Ini berarti menghadapi lawan yang lebih berkualitas, sorotan yang lebih besar, dan standar performa yang jauh lebih tinggi. ONE sendiri menilai Victoria sebagai salah satu nama yang perlahan menjadi bagian penting dari divisi atomweight wanita mereka. Itu berarti ia bukan hanya hadir sesaat, tetapi mulai membangun tempatnya sendiri di tengah persaingan yang padat.

Perjalanan awalnya di ONE tidak sepenuhnya mulus. Seperti banyak petarung muda yang naik ke panggung besar, Victoria harus belajar melalui pengalaman langsung. Ia menang, kalah, lalu bangkit lagi. Proses seperti ini justru lazim dalam karier petarung yang sedang tumbuh. Tidak semua orang langsung melesat tanpa hambatan. Sering kali, kualitas sejati justru terlihat dari cara seorang atlet merespons kekalahan, memperbaiki diri, lalu kembali tampil lebih matang.

Dalam konteks itu, Victoria menunjukkan kualitas yang penting. Ia tetap bertahan, terus berkembang, dan terus memberi bukti bahwa dirinya layak diperhitungkan. Rekornya membuat satu hal jelas: ia bukan petarung yang mudah hilang setelah mengalami setback. Ia punya daya tahan karier, dan itu sangat penting dalam dunia MMA.

Pertarungan-pertarungan penting yang membentuk kariernya

Dalam menilai karier seorang petarung, angka rekor memang penting, tetapi sering kali yang lebih penting adalah kualitas perjalanan di balik angka itu. Victoria Souza telah melalui beberapa pertarungan penting yang membantu membentuk identitasnya di ONE Championship. Ia pernah kalah dari Victoria Lee, sebuah hasil yang menjadi salah satu pelajaran awal dalam panggung besar. Kemudian ia bangkit dengan mengalahkan Linda Darrow lewat keputusan mutlak, memberi sinyal bahwa ia mampu merespons tekanan dengan cara yang tepat.

Setelah itu, jalannya kembali diuji ketika ia kalah angka dari Noelle Grandjean. Namun karier petarung tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh satu hasil. Victoria membuktikan itu lewat respons berikutnya. Pada ONE 167, ia meraih kemenangan besar atas Itsuki Hirata melalui technical submission, guillotine choke, hanya dalam ronde pertama. Kemenangan seperti ini sangat penting karena menunjukkan dua hal sekaligus: ketenangan dalam memanfaatkan celah dan kematangan permainan grappling-nya.

Ia lalu melanjutkan momentumnya dengan mengalahkan Alyse Anderson lewat keputusan mutlak. Kemenangan ini mempertegas bahwa ia tidak hanya bisa menang lewat ledakan singkat, tetapi juga mampu menjaga kualitas permainannya sepanjang laga. Ini memberi lapisan baru pada citranya sebagai petarung. Ia bukan semata finisher, tetapi juga kompetitor yang bisa bertahan dan tetap efektif dalam pertarungan yang lebih panjang.

Julukan “Vick” kini tidak lagi hanya sekadar nama panggilan. Ia menjadi simbol dari seorang petarung yang bergerak cepat, bertarung dengan agresif, dan terus menyesuaikan dirinya dengan tantangan baru. Rekornya mungkin berubah dari waktu ke waktu, hasil laga bisa naik turun, tetapi identitasnya tetap jelas: ia adalah atlet yang datang dengan gaya menyerang, fondasi striking yang kuat, dan mentalitas untuk terus bertumbuh.

Bagi penggemar MMA wanita, Victoria Souza adalah nama yang tetap layak diikuti. Kisahnya belum selesai. Dan seperti banyak kisah terbaik dalam olahraga tarung, bagian paling menarik sering justru datang setelah masa-masa sulit, ketika seorang atlet memutuskan untuk bangkit lagi dan menulis bab berikutnya dengan cara yang lebih kuat. Victoria tampak seperti sosok yang masih memiliki banyak bab semacam itu di depannya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Khundet PK Saenchai: Talenta Muda Di Lumpinee

Jakarta – Di ONE Friday Fights, bel pembuka bukan sekadar tanda mulai. Di Lumpinee Stadium, bel pembuka adalah lampu hijau: siapa yang lebih dulu menemukan ritme, dialah yang biasanya mengambil kendali. Dan untuk petarung muda seperti Khundet PK Saenchai, panggung ini adalah ruang ujian paling jujur, karena di sini, keberanian dihargai, tetapi kecerobohan juga dihukum secepat kilat.

Khundet lahir di Thailand pada 24 Mei 2005. Ia bernaung di salah satu “pabrik petarung” paling terkenal di negaranya, PK Saenchai Muay Thai Gym. Profil resminya di ONE mencatat tinggi 170 cm dan batas berat 131,6 lbs / 59,7 kg, yang menempatkannya pada rentang bantamweight/catchweight 59–60 kg untuk format Friday Fights. Namun yang membuat namanya cepat menempel di kepala penonton bukan sekadar biodata. Yang membuat orang mengingat Khundet adalah fakta bahwa ia sudah merasakan dua kutub paling ekstrem dari olahraga tarung—dan semuanya terjadi saat usianya masih sangat muda:

    • Menang TKO pada 0:46 ronde pertama atas ManU Sitjanim di ONE Friday Fights 77 (30 Agustus 2024).
    • Kalah KO pada 0:24 ronde kedua dari Nong Oh LaoLaneXang di ONE Friday Fights 98 (28 Februari 2025).

Dua laga, dua penyelesaian cepat, dan dua pelajaran besar: bagaimana rasanya menjadi petarung yang “membakar” ring… dan bagaimana rasanya ketika api itu berbalik arah.

Profil singkat

    • Nama: Khundet PK Saenchai
    • Lahir: 24 Mei 2005, Thailand
    • Tinggi: 170 cm
    • Batas berat ONE: 131,6 lbs / 59,7 kg
    • Tim: PK Saenchai Muay Thai Gym
    • Ajang: ONE Championship (ONE Friday Fights)
    • Stance: Ortodoks (sesuai deskripsi gaya dan tipikal profil petarung Muay Thai tradisional Thailand yang ia usung)
    • Ciri gaya: agresif, eksplosif, menekan sejak awal ronde dengan kombinasi pukulan cepat dan tendangan keras (tercermin dari pola pertarungan yang berakhir cepat di dua laga besarnya).

PK Saenchai: “Sekolah tempo tinggi” yang membentuk gaya Khundet

Nama PK Saenchai di Muay Thai modern bukan cuma soal teknik. Ia soal ritme. Banyak petarung dari camp ini dikenal punya cara bertarung yang “hidup” sejak detik pertama: kombinasi tangan-kaki berlapis, tekanan maju yang tidak putus, dan insting untuk menutup pertandingan ketika lawan goyah. Khundet tumbuh di lingkungan seperti itu. Maka wajar jika gaya yang menempel padanya adalah gaya yang sangat ONE-friendly: menekan, menabrak jarak, memaksa lawan bertahan, lalu menggandakan serangan sampai lawan kehilangan keseimbangan.

Di ring Lumpinee, gaya ini punya dua kemungkinan:

    • kamu membuat pertarungan selesai cepat; atau
    • kamu membuka celah yang bisa dimanfaatkan lawan untuk menyelesaikan lebih cepat.

Dan Khundet sudah merasakan keduanya.

Ortodoks yang eksplosif: cara Khundet “mencuri” menit pertama

Petarung muda yang agresif biasanya punya kebiasaan: mereka percaya menit pertama adalah kesempatan terbaik untuk merebut psikologi pertarungan. Pada Khundet, agresi itu tampak sebagai pola:

Masuk cepat untuk merebut pusat ring atau menekan lawan ke pagar.
Kombinasi pukulan untuk membuat guard lawan naik.
Tendangan keras (ke badan atau kaki) untuk memutus ritme dan membuat lawan tidak nyaman keluar-masuk jarak.

Yang membuatnya menarik: ia tidak terlihat seperti petarung yang ingin menunggu pertarungan “jadi cantik”. Ia ingin pertarungan “jadi selesai”. Itulah identitas yang sering melahirkan highlight.

ONE Friday Fights 77: 46 detik yang mengangkat nama

Pada ONE Friday Fights 77 (30 Agustus 2024), Khundet menghadapi ManU Sitjanim pada laga 132 lbs Muay Thai. Hasilnya sangat cepat: Khundet menang TKO pada 0:46 ronde pertama. Kemenangan 46 detik itu seperti kartu nama yang dilempar langsung ke meja promotor:

    • “Saya bisa menyelesaikan laga.”
    • “Saya berbahaya sejak bel pertama.”
    • “Saya punya insting finisher.”

Dan bagi penonton, kemenangan seperti ini menciptakan kesan yang sulit hilang: petarung muda yang tampil tanpa ragu—dan tidak memberi waktu lawan untuk membangun apa pun.

ONE Friday Fights 98: ketika ledakan berbalik arah

Namun panggung yang sama bisa kejam. Pada ONE Friday Fights 98 (28 Februari 2025), Khundet kembali tampil di 132 lbs Muay Thai, kali ini melawan Nong Oh LaoLaneXang. Hasilnya berbalik: Khundet kalah KO pada 0:24 ronde kedua.
Kekalahan seperti ini biasanya tidak sekadar soal “kurang kuat”. Di level ONE Friday Fights, KO cepat sering terjadi karena detail:

    • Timing lawan lebih dulu “klik”.
    • Serangan masuk saat petarung sedang bergerak maju (counter).
    • Atau saat tekanan terlalu agresif, posisi kepala/guard terbuka sepersekian detik.

Untuk petarung muda agresif, ini adalah pelajaran paling bernilai: bagaimana tetap menyerang tanpa memberi lawan jalan pintas.

Dua laga, dua pesan besar: potensi dan kebutuhan evolusi

Kalau rekor Khundet di ONE Friday Fights dibaca sebagai cerita, dua pertarungan ini mengirim dua pesan yang sama kuatnya:

Potensinya nyata. Menang TKO 46 detik di Lumpinee bukan hal yang terjadi pada petarung “biasa”. Ia punya mental untuk menekan dan kemampuan untuk menuntaskan.
Detail kecil akan menentukan masa depannya. Kalah KO di ronde 2 juga bukan aib—tetapi itu tanda bahwa agresi harus dipoles menjadi agresi yang lebih cerdas: masuk dengan sudut, disiplin guard, variasi serangan pembuka, dan manajemen tempo.

Di sinilah prospek muda sering terbagi: ada yang tetap agresif tapi semakin rapi, dan ada yang kehilangan identitas karena takut diserang balik. Khundet akan menarik untuk dipantau karena ia sudah punya “api”—tinggal bagaimana ia mengontrol api itu.

Aspek menarik: kenapa Khundet disebut talenta muda yang “naik daun

Usia muda, panggung sudah besar. Profil ONE mencatat ia masih sangat muda (sekitar 20 tahun pada periode ini). Gaya bertarung cocok untuk ONE Friday Fights. Petarung yang menekan dan berani menyelesaikan punya peluang cepat jadi favorit penonton.
Sudah merasakan dua ekstrem lebih cepat dari kebanyakan petarung. Menang cepat dan kalah cepat di panggung yang sama sering mempercepat kedewasaan, karena “pelajaran” datang tanpa kompromi.

Khundet PK Saenchai sudah membuktikan ia bisa membuat ring hening hanya dalam 46 detik. Ia juga sudah belajar bahwa ring yang sama bisa membuat segalanya berakhir cepat jika pertahanan lengah. Dalam karier petarung muda, kombinasi pengalaman seperti ini bisa menjadi bahan bakar yang luar biasa, asal ia mengambil kesimpulan yang tepat. Jika Khundet mampu mempertahankan ciri khas PK Saenchai, tekanan, tempo, kombinasi, sambil menambah satu lapisan penting: defense dan sudut masuk yang lebih disiplin, maka ia punya peluang besar untuk kembali menjadi “pemecah kartu” di ONE Friday Fights. Dan untuk penonton, itu artinya satu hal sederhana: setiap kali Khundet bertarung, ada kemungkinan pertandingan selesai sebelum kita sempat berkedip.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Kisah Yusup Saadulaev Menjadi Maestro Grappling

Jakarta – Ada petarung yang membuat keributan dengan KO kilat. Tapi ada juga petarung yang menang dengan cara yang jauh lebih sunyi—sunyi karena lawan tak sempat berteriak, tak sempat membalas, bahkan tak sempat berdiri lagi. Mereka menang bukan dengan dentuman, melainkan dengan posisi. Dengan tekanan. Dengan tangan yang mengunci dan kaki yang membuat ruang gerak lawan menghilang.

Di ONE Championship, nama Yusup “Maestro” Saadulaev lama dikenal sebagai simbol tipe petarung ini: spesialis grappling, berakar dari gulat Dagestan, lalu dipoles oleh Brazilian Jiu-Jitsu yang ia dalami di Amerika Serikat. Ia bertarung di featherweight (145,1 lbs / 65,8 kg), tinggi 168 cm, dan bernaung di Uflacker Academy menurut profil resmi ONE.

Statistiknya juga keras dan jelas: rekor profesionalnya tercatat 20 menang, 6 kalah, 1 seri, dan 1 no contest, dengan 11 kemenangan lewat submission—lebih dari separuh total kemenangan.

Itu bukan kebetulan. Itu identitas.

Profil singkat

    • Nama: Yusup Saadulaev
    • Julukan: “Maestro”
    • Lahir: 31 Maret 1985, Republik Dagestan, Rusia
    • Divisi di ONE: Featherweight (145,1 lbs / 65,8 kg)
    • Tinggi: 5’6” / 168 cm
    • Tim: Uflacker Academy
    • Rekor pro: 20-6-1 (1 NC)
    • Cara menang: 11 submission, 2 KO/TKO, 7 keputusan

Dagestan: tempat “tenang” berarti siap menekan

Dagestan punya reputasi yang seperti legenda dalam dunia gulat dan MMA: tempat di mana latihan bukan hiburan, melainkan kebiasaan hidup. Dalam feature ONE yang paling sering dikutip, Saadulaev digambarkan datang dari latar sederhana—bahkan pernah menggembala—sebelum hidupnya berbelok menuju seni bela diri.

Yang penting dari detail itu bukan romantisasi. Yang penting adalah “bahasa tubuh” yang lahir dari hidup seperti itu:

    • terbiasa kerja panjang,
    • terbiasa menahan capek,
    • terbiasa tidak mengeluh ketika posisi tidak nyaman.

Dan semua itu adalah fondasi ideal untuk grappler. Karena grappler terbaik tidak selalu menang karena gerakan paling rumit. Mereka sering menang karena lawan yang duluan menyerah—secara fisik dan mental.

Bab Amerika Serikat: kuliah, Chicago, dan lahirnya BJJ “Maestro”

Yang membuat Saadulaev menarik bukan hanya karena ia “Dagestan”. Banyak petarung Dagestan murni-gulat. Saadulaev justru punya bab penting di Amerika Serikat.

ONE menulis bahwa pada 2004, saat berusia 19 tahun, Saadulaev berada di Chicago dan mulai mendalami Brazilian Jiu-Jitsu di bawah Christian Uflacker, serta Thai Boxing (Muay Thai) di bawah Ricardo Perez.

Di sana ia jatuh cinta pada dua hal: sistem BJJ yang sangat detail, dan striking yang bisa dipakai bukan untuk berkelahi panjang, tapi untuk membuka pintu takedown.

Feature itu juga menyebut ia meraih prestasi grappling yang serius—seperti medali NAGA dan gelar Pan American BJJ—sebelum akhirnya dikenal sebagai BJJ black belt.

Inilah bagian yang membuat julukan “Maestro” terasa masuk akal: ia bukan sekadar pegulat yang menjatuhkan, tapi pengatur transisi—dari berdiri ke clinch, dari clinch ke ground, dari ground ke submission.

Gaya bertarung: tinju sebagai kunci pintu, ground sebagai ruang eksekusi

Kalau kamu ingin memahami Saadulaev, bayangkan pertarungan sebagai rumah yang ia desain sendiri.

    • Pintu depan: striking yang fungsional
      Saadulaev tidak selalu terlihat seperti petinju “cantik”. Tetapi tinjunya dipakai sebagai alat: memaksa lawan bereaksi, mengangkat guard, atau mundur dalam garis lurus. Reaksi itulah yang menciptakan celah untuk gulat.
    • Ruang tamu: gulat dan kontrol posisi
      Begitu pertarungan menyentuh clinch atau ground, Saadulaev jarang terlihat panik. Ia “tinggal” di situ. Ia menempel, menahan pinggul, mengunci bahu, dan mengurangi pilihan lawan satu demi satu.
    • Ruang eksekusi: submission
      Statistik 11 submission dari 20 kemenangan menjelaskan: ketika ia sudah sampai di posisi yang ia inginkan, probabilitas pertarungan selesai meningkat drastis.
    • Bagi lawan, ini seperti terjebak: kamu tidak hanya harus bertahan dari satu kuncian, tapi dari rangkaian posisi yang terus berubah sampai satu tangan terlambat bergerak.

Kiprah di ONE: “Maestro” yang menulis karier panjang lewat kemenangan teknis

Saadulaev termasuk petarung yang punya sejarah panjang di ONE. Salah satu momen penting yang memperkuat labelnya sebagai submission specialist adalah duel melawan Masakazu Imanari—leg lock legend Jepang.

Pada ONE: Kings of Courage di Jakarta, Saadulaev mengalahkan Imanari lewat unanimous decision. ONE menulis pertarungan itu sebagai “ground battle” yang tegang antara dua spesialis submission, dan Saadulaev keluar sebagai pemenang pada 20 Januari 2018.

Kemenangan ini penting karena:

melawan Imanari berarti melawan seseorang yang sangat nyaman dalam kekacauan leg lock,
dan Saadulaev tetap menang lewat kontrol dan disiplin posisi.

ONE bahkan menulis feature khusus tentang bagaimana mengalahkan Imanari adalah “dream come true” baginya.

Namun, karier panjang juga berarti ada malam pahit. Saadulaev pernah kalah KO dari Thanh Le—ONE menggambarkan bagaimana Le menghentikannya dengan lutut saat Saadulaev mencoba masuk takedown.

Bagi grappler, kekalahan seperti ini adalah alarm: timing entry harus makin rapi, karena di level elite, satu tebakkan salah bisa dibayar mahal.

“Maestro” bukan hanya submission—ia juga tentang kesabaran yang menyiksa

Salah satu hal yang sering membuat submission specialist terlihat “membosankan” bagi penonton kasual adalah tempo. Tapi di tangan Saadulaev, tempo lambat adalah senjata.

Ia bisa:

    • membuat lawan menahan berat tubuhnya,
    • memaksa lawan bekerja hanya untuk berdiri,
    • lalu menarik mereka jatuh lagi,
    • dan mengulang sampai lawan mulai “kehabisan ide”.

Di titik itu, submission sering datang bukan karena satu trik, tetapi karena akumulasi: lawan akhirnya memberi leher, memberi lengan, atau memberi celah kecil yang tidak bisa ditutup lagi.

Itulah mengapa angka 11 submission menjadi penting: itu bukan data “sekali-kali.” Itu pola hidup.

Kenapa Saadulaev tetap relevan untuk dibahas sekarang

1. Kombinasi Dagestan + BJJ Amerika adalah paket langka

Dagestan memberi gulat dan mentalitas menekan. Chicago memberi sistem BJJ yang sangat detail. ONE menegaskan dua elemen itu dalam kisahnya.

2. Ia menang bukan karena “satu kuncian”

Banyak grappler tergantung pada satu jurus favorit. Saadulaev lebih seperti arsitek posisi—ia menang karena menguasai rute menuju kuncian.

3. Rekor panjang menunjukkan ketahanan karier

Rekor 20-6-1 (1 NC) bukan angka petarung “sebentar lewat”. Itu tanda ia bertahan lama di dunia yang terus berubah.

4. Ia sudah terbukti dalam duel grappler elite

Mengalahkan Imanari lewat keputusan adalah validasi yang jarang bisa dipamerkan submission specialist mana pun.

Sang maestro yang membuat lawan “hilang pilihan”

Yusup “Maestro” Saadulaev adalah contoh bahwa dominasi tidak selalu harus keras terdengar. Kadang dominasi itu seperti pintu yang ditutup satu per satu. Kamu masih berdiri, tapi ruangmu mengecil. Kamu masih melawan, tapi pilihanmu habis.

Dari Dagestan yang keras, ke Chicago yang membentuk BJJ-nya, sampai ONE Championship yang menjadi panggung panjangnya—Saadulaev membangun reputasi sebagai petarung yang memaksa orang bertarung dalam dunia miliknya: dunia ground control, transisi, dan submission.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Dione Barbosa “The Witch”: Dari Recife Ke UFC

Jakarta – Ada petarung yang paling “hidup” ketika jarak aman terbentuk—mereka menari di luar jangkauan, memetik poin satu demi satu. Dione Barbosa justru terlihat paling nyaman ketika jarak itu lenyap. Saat clinch menempel, pinggul bertabrakan, lalu pertarungan jatuh ke kanvas—di situlah ia berubah menjadi “penyihir” yang sesuai julukannya: “The Witch.” Sekali lawan terseret ke bawah, banyak yang merasa seperti masuk ruangan gelap tanpa pintu keluar: satu kesalahan kecil, dan tangan atau leher sudah dikunci.

Dione lahir pada 8 Mei 1992 di Recife, Pernambuco, Brasil. Rekor profesionalnya tercatat 8 kemenangan dan 4 kekalahan, dengan pola kemenangan yang menggambarkan identitasnya jelas: 4 kemenangan lewat submission dan 4 lewat keputusan.  Di UFC, ia aktif di Women’s Flyweight (125 lbs/56,7 kg), membawa gaya grappling agresif yang berulang: takedown, kontrol, lalu berburu kuncian—sering kali sebelum ronde sempat “matang.”

Profil singkat

    • Nama: Dione Barbosa (juga tercatat sebagai Dione Silva Barbosa de Lima di beberapa database)
    • Julukan: “The Witch”
    • Lahir: 8 Mei 1992, Recife, Pernambuco, Brasil
    • Divisi: UFC Women’s Flyweight (125 lbs)
    • Tinggi / reach: sekitar 168 cm / 169 cm
    • Rekor pro MMA: 8–4 (4 submission, 4 keputusan)
    • Gerbang UFC: Dana White’s Contender Series (menang submission ronde 1 vs Rainn Guerrero)

Recife: kota pesisir, mental “tahan banting”

Recife bukan kota yang membesarkan petarung dengan karpet merah. Ia kota pesisir yang keras—ritme hidup cepat, dan banyak atlet Brasil tumbuh dengan satu prinsip: kalau ingin naik kelas, kamu harus membuktikan diri dengan cara paling nyata. Bagi Dione, “cara paling nyata” itu bukan pukulan jarak jauh. Itu kontak, kontrol, dan kuncian.

Di Brasil, Brazilian Jiu-Jitsu bukan sekadar olahraga; ia semacam bahasa kedua. Banyak petarung bisa “BJJ”, tetapi tidak banyak yang menjadikannya identitas utama di MMA modern—terutama di flyweight wanita yang sering dipenuhi striker cepat. Dione memilih jalur yang lebih jarang: ia ingin membuat lawan terjebak dalam permainan yang memeras tenaga.

Kenapa dijuluki “The Witch”

Julukan “The Witch” terasa pas karena gaya Dione sering bekerja seperti mantra: pelan-pelan, lalu tiba-tiba selesai.

Ada grappler yang menang lewat kontrol panjang, menahan lawan sampai bel. Dione sering terlihat lebih “lapar”: begitu mendapat posisi yang tepat—kepala lawan turun, lengan mulai terjebak, atau punggung terbuka—ia tidak menunggu lama. Ia menutup kuncian dengan cepat, seolah lawan hanya diberi satu kesempatan untuk selamat.

Data rekornya memperkuat citra itu: separuh kemenangannya datang dari submission.  Dan yang paling “UFC-friendly”: ia bisa menang keputusan juga, artinya ia tidak runtuh ketika finishing tidak langsung muncul.

DWCS dan armbar yang membuka pintu

Banyak prospek masuk UFC lewat KO viral. Dione masuk lewat bahasa yang ia kuasai: submission.

Di Dana White’s Contender Series 2023 (Week 5), Dione mengalahkan Rainn Guerrero lewat armbar di ronde pertama (4:35).  Ini bukan sekadar kemenangan—ini “kartu nama” yang jelas untuk UFC: petarung yang bisa menyelesaikan cepat di malam audisi, di bawah tekanan, tanpa perlu menunggu pertarungan berjalan jauh.

Kemenangan itu juga memberi gambaran tentang prioritasnya: ia ingin membawa pertarungan ke tanah, mengunci posisi, lalu menutup dengan kuncian yang tegas.

Menang, jatuh, lalu bangkit dengan kuncian

Masuk UFC berarti masuk ke level di mana takedown tidak selalu mudah, dan lawan tidak panik saat ditekan. Di sinilah cerita Dione jadi menarik: ia tetap setia pada identitasnya, tapi harus menajamkan detail.

Menang di UFC 301: bukti bisa menang “penuh tiga ronde”

Salah satu penanda penting adalah kemenangan atas Ernesta Kareckaite di UFC 301 lewat unanimous decision.  Ini momen yang sering dibutuhkan grappler: bukti bahwa ia tetap bisa menang saat submission tidak datang, dengan kontrol, tempo, dan disiplin selama tiga ronde.

“Kutukan” arm-triangle untuk Diana Belbita

Lalu ada momen yang membuat publik kembali mengingat julukan “The Witch”: pada UFC Vegas 105 (5 April 2025), Dione menundukkan Diana Belbita lewat arm-triangle choke di ronde pertama.  Kemenangan cepat seperti ini adalah bensin untuk petarung grappling—karena publik melihat lagi versi terbaiknya: takedown, posisi, kuncian, selesai.

UFC 319: rematch Brasil yang ketat vs Karine Silva

Di UFC 319 (16 Agustus 2025), Dione menghadapi sesama Brasil, Karine Silva, dalam rematch dari karier awal mereka. Karine menang lewat unanimous decision (29-28 di semua kartu juri).

Menariknya, laporan menyebut pertarungan itu berlangsung ketat dengan pertukaran grappling yang seru—jenis duel yang sering ditentukan oleh detail kecil: siapa yang lebih lama mengontrol, siapa yang lebih bersih mencetak damage, dan siapa yang lebih “terlihat menang” di mata juri.

Kekalahan ini tidak menghapus ancamannya—justru mengingatkan bahwa flyweight UFC adalah level di mana bahkan spesialis submission harus menang bukan hanya dengan niat, tetapi dengan efisiensi.

Gaya bertarung

Kalau harus diringkas, gaya Dione seperti ini:

    1. Masuk jarak dulu, baru berpikir menang. Ia tidak selalu ingin bertukar pukulan panjang. Ia ingin “menempelkan” lawan pada situasi yang tidak nyaman.
    2. Takedown bukan sekali—tapi berulang. Grappler kelas UFC jarang mendapat takedown bersih di percobaan pertama setiap laga. Yang membuat Dione berbahaya adalah keberaniannya mengulang.
    3. Kuncian sebagai tujuan, bukan bonus. Dengan 4 kemenangan submission, Dione bukan hanya “bisa BJJ”—ia menyelesaikan.

Dan ada satu detail penting: ia tidak punya kemenangan KO/TKO di rekor pro yang tercatat di beberapa database utama—ini memperkuat narasi bahwa senjatanya benar-benar grappling.

Melissa Gatto dan peluang menghidupkan momentum

Dione dijadwalkan menghadapi Melissa Gatto pada 4 April 2026 di UFC Apex, Las Vegas (kelas 125 lbs).

Catatan penting: jadwal UFC bisa berubah—beberapa situs pihak ketiga kadang menandai bout “cancelled” atau berubah status.  Namun listing event dan fight center menunjukkan matchup ini ada di kartu UFC Fight Night: Moicano vs Duncan (nama event bisa berubah sesuai promosi/penyiaran).

Untuk Dione, pertarungan ini seperti kesempatan klasik petarung grappling

    • menang dengan kontrol dan takedown,
    • atau menang cepat lewat submission,
    • dan membuka pintu ke lawan yang lebih tinggi peringkatnya.

“The Witch” dan ancaman yang selalu sama

Dione Barbosa adalah tipe petarung yang membuat lawan bertarung dengan rasa takut yang berbeda. Bukan takut pada satu pukulan KO dari jarak jauh, tetapi takut pada satu momen yang tampak sepele: pinggul jatuh, punggung terbuka, lengan tersangkut—dan semuanya selesai.

Dengan rekor 8–4, empat submission, dan pengalaman UFC yang sudah mengajarinya kerasnya level elit, Dione berada di fase karier yang menarik: bukan pemula, tapi juga belum selesai berkembang.  Dan di divisi yang selalu mencari finisher, “The Witch” punya sesuatu yang selalu dicari: kemampuan mengakhiri laga ketika kesempatan muncul.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Talita Alencar “Problem Child”: Dari Carutapera Ke Oktagon UFC

Jakarta – Ada petarung yang terlihat hidup ketika pertarungan berdirli, bertukar pukulan, menari di jarak, dan menunggu momen KO. Talita Alencar justru seperti menemukan napasnya saat pertarungan jatuh ke bawah. Di sana, di atas kanvas, ia berubah menjadi sesuatu yang paling dibenci oleh striker mana pun: grappler yang tidak memberi ruang.

Talita lahir pada 17 Oktober 1990 di Carutapera, Maranhão, Brasil. Dari kota kecil di utara Brasil itu, ia menempuh jalan yang panjang sampai akhirnya berdiri di panggung paling keras di MMA: UFC.

Kini ia bertarung di Women’s Strawweight (115 lbs/52 kg), dikenal sebagai spesialis Brazilian Jiu-Jitsu dengan gaya grappling agresif—takedown berulang, kontrol posisi, lalu submission yang datang cepat ketika lawan panik. Rekor profesionalnya tercatat 7 menang, 1 kalah, 1 imbang (dan kamu menyebut jalurnya lewat DWCS yang mengantarnya ke panggung utama).

Siapa Talita Alencar di mata angka

Sebelum masuk ke ceritanya, biodatanya menggambarkan identitasnya dengan cukup jujur:

    • Nama lengkap: Ana Talita de Oliveira Alencar
    • Asal: Carutapera, Maranhão, Brasil
    • Tanggal lahir: 17 Oktober 1990
    • Divisi UFC: Strawweight (115 lbs)
    • Rekor pro MMA: 7–1–1 (UFCStats menampilkan total record dan daftar lawan)
    • Pola kemenangan: mayoritas menang lewat submission (Sherdog menampilkan 4 submission dari 7 kemenangan; UFCStats menampilkan daftar kemenangan/kekalahan)

Julukannya “Problem Child” terasa pas karena gaya bertarungnya memang mengundang masalah: sekali tangan Talita sudah mengunci pinggul, pertarungan berubah jadi teka-teki yang tidak semua orang bisa pecahkan.

Dari Maranhão menuju hidup yang lebih besar

Talita bukan kisah “anak kecil yang sejak awal ditakdirkan jadi petarung.” Ia tumbuh, berpindah, dan mengalami banyak fase—Wikipedia mencatat keluarganya pindah ke Fortaleza ketika ia masih kecil, dan Talita sempat mencoba berbagai olahraga sebelum benar-benar “klik” dengan BJJ.

Yang menarik dari fase ini adalah: Talita membangun stamina mental lebih dulu. Orang-orang yang lama berada di olahraga ketahanan dan disiplin biasanya membawa satu kualitas saat masuk MMA: mau melakukan hal yang melelahkan berulang-ulang. Dan grappling adalah dunia yang sangat mengandalkan kebiasaan itu.

BJJ sebagai identitas, bukan sekadar latar

Sebelum MMA memanggil, Talita sudah lebih dulu mengumpulkan reputasi di BJJ. BJJHeroes menulis bahwa ia sabuk hitam (dengan jalur guru/afiliasi yang kuat), serta mengantongi titel-titel penting sejak masa belt bawah, termasuk performa menonjol saat membawa bendera GF Team sebelum kemudian bergabung dengan Alliance.

Inilah fondasi yang menjelaskan kenapa Talita di MMA terlihat “lebih nyaman” ketika pertarungan jadi kotor:

    • ia paham cara mengunci posisi,
    • paham kapan menahan dan kapan menyerang,
    • dan paham bahwa kemenangan sering datang bukan dari satu gerakan, tetapi dari rangkaian transisi.

Menyeberang ke MMA

Peralihan dari BJJ ke MMA biasanya punya satu tantangan utama: pukulan. Di BJJ, kamu bisa “mengorbankan” posisi tertentu untuk mengejar kuncian. Di MMA, pengorbanan itu bisa dibayar mahal karena lawan akan memukulmu di tengah transisi.

Talita memilih menjadi tipe grappler yang ofensif, bukan yang menunggu lawan masuk clinch, tetapi yang mencari takedown. Dan ketika takedown tidak langsung bersih, ia akan mengulang lagi: dorong ke pagar, ganti level, tarik kaki, jatuhkan, lalu kontrol.

Gaya ini menjelaskan kenapa banyak kemenangan Talita terasa seperti “dibangun.” Ia memaksa lawan bekerja keras hanya untuk berdiri—dan saat lawan mulai lelah, leher dan punggung sering terbuka.

Draw yang tidak manis, tapi penting

Talita sempat muncul di Dana White’s Contender Series Season 7 Week 7 melawan Stephanie Luciano dan pertarungan itu berakhir draw (UFC menuliskan hasilnya draw dengan skor 28-28 di semua kartu).

Ini jenis hasil yang “menggantung” bagi petarung:

    • kamu tidak kalah,
    • tapi juga tidak memberi alasan “mudah” bagi promotor untuk langsung memelukmu.

Namun bagi Talita, draw ini justru menjadi semacam cap: ia bisa tampil di panggung audisi paling kejam, dan tetap berdiri. Itu bukan akhir—itu batu loncatan.

Menang, kalah, dan karakter yang tetap sama

Pada level UFC, Talita sudah merasakan dua sisi yang sama-sama membentuknya:

Menang lewat grappling—cara yang paling “Talita”

Salah satu kemenangan terbesarnya adalah saat ia mengunci Ariane Carnelossi dengan rear-naked choke di UFC Vegas 110 (laporan hasil menulis submission R3).

Pertarungan ini terasa seperti ringkasan identitasnya: dia bisa melewati momen sulit, terus menempel, lalu ketika peluang punggung terbuka, ia menyelesaikan.

Menang angka—tanda bahwa ia tidak bergantung pada satu hasil

Talita juga mencatat kemenangan keputusan atas Vanessa Demopoulos (tertera di UFCStats).

Ini penting, karena grappler yang ingin bertahan lama di UFC tidak boleh “mati” ketika submission tidak datang. Mereka harus tetap bisa menang lewat kontrol, damage kecil, dan konsistensi.

Kekalahan yang menguji: saat lawan punya jawaban

UFCStats juga menampilkan bahwa Talita memiliki kekalahan dari Stephanie Luciano di panggung UFC.

Kekalahan seperti ini sering menjadi cermin: apakah entry takedown sudah cukup rapi? apakah transisi terlalu memaksa? apakah striking cukup untuk memaksa lawan bereaksi?

Talita terlihat seperti petarung yang, apa pun hasilnya, tidak mengubah identitas. Ia tetap “Problem Child” yang ingin membawa pertarungan ke tempat paling berbahaya bagi lawan: ground.

Kenapa Talita Alencar selalu berbahaya di 115 lbs

Pertama, dia kecil tapi “berat.” Dalam grappling, ukuran bukan hanya soal tinggi. Ini soal cara memindahkan berat badan dan menutup ruang. Talita adalah tipe yang membuat lawan merasa ditindih, walau di atas kertas ia tidak besar.

Kedua, dia menyerang dengan pola yang menyiksa. Takedown Talita jarang berhenti di satu percobaan. Ia mengulang sampai lawan membuat kesalahan. Dan di UFC, kesalahan kecil biasanya cukup untuk memberi punggung—dan punggung adalah rumah bagi rear-naked choke.

Ketiga, dia punya identitas yang jelas. Banyak petarung bingung: ingin striker atau grappler. Talita jelas: aku grappler duluan. Striking dipakai untuk membuka pintu, bukan untuk tinggal lama di ruang tamu.

Talita Alencar adalah tipe petarung yang membuat orang bertanya bukan “seberapa keras pukulannya,” tetapi “seberapa lama aku bisa bertahan sebelum jatuh.” Dengan rekor yang solid dan kemenangan submission yang menegaskan identitas BJJ-nya, Talita adalah ancaman nyata di strawweight—divisi yang sering ditentukan oleh pace tinggi, scramble cepat, dan siapa yang lebih sabar di posisi buruk.

Kalau kamu bertemu Talita di oktagon, kamu sebenarnya sedang bernegosiasi dengan satu hal: apakah kamu bisa tetap berdiri sepanjang malam. Karena begitu jatuh, dunia milik Talita dimulai.

(PR/timKB).

Sumber foto: facebook

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Alexandre Khan: Petarung Prancis–Thailand Di ONE Championship

Jakarta – Ada petarung yang terlihat “terlahir” dari satu aliran—entah striker murni yang ingin bertukar sampai salah satu jatuh, atau grappler murni yang hidup di clinch dan kanvas. Alexandre Khan terasa seperti produk generasi baru: petarung yang dibentuk untuk punya dua pintu kemenangan. Ia bisa merobohkan orang dengan pukulan… tapi juga bisa membuat lawan “menghilang napas” lewat kuncian.

Lahir pada 12 September 1993 di Thailand dan berdarah Prancis–Thailand, Khan membawa identitas yang nyaris otomatis cocok dengan ekosistem ONE Championship: dunia yang menggabungkan budaya bela diri Asia dan atmosfer kompetisi global. Profil resmi ONE menuliskan kebangsaan ganda itu dengan jelas, begitu juga afiliasinya: Phuket Fight Club—tempat yang bagi banyak petarung adalah “pabrik tempur” yang tidak mengizinkan spesialis setengah matang.

Khan bertarung di divisi Lightweight (155 lbs/70 kg). Rekornya pun langsung memberi sinyal: 5 kemenangan tanpa kekalahan plus 1 no contest, dengan komposisi yang menegaskan keseimbangan gaya—2 kemenangan KO/TKO dan 3 kemenangan submission.

Di sinilah cerita Khan menjadi menarik: ia belum lama mencuri perhatian publik besar, tetapi cara ia menang membuat orang cepat mengingat namanya. Bukan sekadar menang—melainkan menang dengan cara yang “memaksa” penonton menoleh: arm-triangle, anaconda, lalu sebuah pertarungan yang berakhir no contest karena insiden low blow.

Profil singkat

    • Nama: Alexandre Khan (juga tercatat sebagai Alexandre Khan Jean Blin)
    • Tanggal lahir: 12 September 1993
    • Kebangsaan: Prancis / Thailand
    • Tinggi: sekitar 175 cm
    • Divisi: Lightweight (155 lbs / 70 kg)
    • Gym: Phuket Fight Club
    • Rekor pro: 5-0-0 (1 NC), termasuk 2 KO/TKO & 3 submission

Dua budaya, satu arah

Membawa darah Prancis–Thailand bisa berarti banyak hal dalam narasi MMA, tapi pada Khan, itu terasa seperti metafora gaya: keras namun adaptif. Ia lahir di Thailand—negara yang ritme tarungnya terkenal tajam—namun juga membawa akar Eropa yang sering identik dengan struktur dan disiplin. Di ONE, kebangsaan ganda itu bukan sekadar biodata; itu bagian dari cara promosi memperkenalkan Khan sebagai petarung yang bisa menjembatani dua dunia.

Lalu ada Phuket—pulau yang bagi banyak orang adalah tujuan liburan, tetapi bagi petarung adalah tempat kerja. Phuket Fight Club bukan gym yang “memanjakan.” Kamu akan dipaksa mengerti striking agar tidak jadi korban, dan dipaksa mengerti grappling agar tidak jadi pelengkap. Khan bertumbuh dalam suasana seperti itu—dan hasilnya terlihat jelas pada statistik kemenangannya: ia tidak bergantung pada satu rute.

Jalan menanjak di ONE Friday Fights

Di ONE, terutama pada rangkaian ONE Friday Fights di Lumpinee Stadium, petarung yang cepat naik biasanya memiliki satu ciri: finishing. Kamu boleh menang keputusan—tapi kalau kamu bisa menyelesaikan orang, promotor akan lebih cepat menaruhmu di pertandingan yang lebih besar.

Khan melakukan itu dengan cara yang “mengunci ingatan.”

Arm-triangle choke: kemenangan yang terasa seperti “tutup pintu”

Pada ONE Friday Fights 108, Khan mengalahkan Yovanis Decroz lewat submission arm-triangle choke pada 3:55 ronde 2.

Arm-triangle bukan kuncian yang muncul dari keberuntungan. Ini kuncian yang lahir dari kontrol: kepala lawan terkunci, satu lengan terjebak, tekanan datang pelan-pelan sampai napas menjadi pendek. Biasanya, petarung yang nyaman memakai arm-triangle adalah petarung yang sabar—yang tidak panik walau butuh waktu beberapa detik lebih lama untuk memastikan kuncian “rapat.”

Anaconda choke

Lalu pada ONE Friday Fights 117, Khan kembali menyelesaikan pertandingan di ronde 2—kali ini lewat anaconda choke atas Fujun Cao pada 1:17 ronde 2.

ONE sendiri menyorot momen itu sebagai anaconda yang “flawless”—sebuah kata yang jarang dipakai kalau finishing-nya terlihat terburu-buru. Ini menegaskan bahwa permainan submission Khan bukan “pelengkap striker,” melainkan bagian inti dari identitasnya.

Dua kemenangan ini membentuk pola yang menarik: Khan bukan finisher yang hanya berbahaya di ronde pertama. Ia justru terlihat makin berbahaya ketika pertarungan memasuki menit-menit di mana lawan mulai kehilangan bentuk dan mulai panik saat diseret ke clinch atau ground.

No Contest vs Seiya Matsuda

Kemudian datang momen yang sering menjadi batu sandungan prospek yang sedang naik: hasil yang tidak memberi jawaban tuntas.

Pertarungan Khan melawan Seiya Matsuda di ONE Friday Fights 131 berakhir No Contest karena accidental knee to groin (insiden low blow).

No contest adalah jenis hasil yang “menggantung.” Untuk petarung, itu bisa terasa lebih menyebalkan daripada kalah tipis—karena kamu tidak mendapat kesempatan membuktikan siapa yang lebih baik sampai akhir. Untuk publik, NC sering menjadi bahan rasa penasaran: apakah Khan sedang menuju kemenangan? Apakah Matsuda punya jawaban? Pertanyaan seperti ini sering melahirkan permintaan rematch, atau setidaknya membuat nama petarung semakin sering disebut.

Dan untuk seorang prospek seperti Khan—yang sedang membangun momentum—momen NC bisa menjadi dua hal: gangguan ritme, atau justru pemicu fokus baru.

Gaya bertarung

Kamu menggambarkan Khan sebagai petarung agresif dengan grappling dan striking yang seimbang—dan rekornya memperkuat narasi itu.

    • 3 submission menunjukkan ia berbahaya saat pertarungan menyentuh posisi kontrol.
    • 2 KO/TKO menunjukkan ia juga bisa mengakhiri laga saat masih berdiri.

Petarung “dua ancaman” selalu memaksa lawan bertarung dalam ketidaknyamanan. Jika lawan terlalu fokus menahan takedown, mereka cenderung berdiri kaku—dan itu membuat striking lebih mudah mendarat. Jika lawan terlalu fokus bertukar pukulan, mereka membuka peluang clinch dan transisi ke kuncian. Dalam MMA modern, terutama di lightweight yang kompetitif, keseimbangan seperti ini adalah mata uang mahal.

Dan dua jenis kuncian yang ia pakai (arm-triangle dan anaconda) memberi petunjuk soal preferensi teknik: Khan tampak nyaman dengan kontrol kepala-leher dan tekanan bahu—gaya submission yang biasanya lahir dari grappling “pressure,” bukan dari scramble liar semata.

Mengapa Alexandre Khan menarik untuk masa depan lightweight ONE

Ada beberapa alasan mengapa nama Khan berpotensi terus naik:

    1. Rekor tak terkalahkan (dengan 1 NC), tapi bukan “kosong”
      Ia menang dengan penyelesaian, bukan sekadar mengumpulkan keputusan.
    2. Finishing di ronde 2 menunjukkan stamina dan kontrol
      Dua kemenangan submission-nya di ONE sama-sama terjadi di ronde 2—indikasi bahwa ia tetap tajam setelah tempo awal.
    3. Phuket Fight Club memberi ekosistem untuk berkembang cepat
      Gym ini dikenal sebagai tempat petarung lintas disiplin ditempa untuk jadi komplet, dan profil ONE menegaskan afiliasinya di sana.
    4. No Contest membuka ruang narasi lanjutan
      Hasil NC vs Matsuda membuat publik ingin “jawaban” tuntas—dan itu sering mendorong spotlight tambahan.

Alexandre Khan masih berada di fase awal kariernya di panggung besar—tetapi ia sudah punya sesuatu yang paling dicari promotor dan paling ditakuti lawan: cara menang yang jelas.

Ia tidak menunggu pertandingan memberinya jalan. Ia memaksa jalan itu: memukul bila perlu, mengunci bila ada ruang, dan menyelesaikan saat lawan mulai kehilangan bentuk. Dengan darah Prancis–Thailand, dididik Phuket Fight Club, dan rekam jejak finishing yang kuat, Khan punya pondasi untuk menjadi salah satu nama yang menarik di lightweight ONE—divisi yang selalu menguji apakah kamu benar-benar komplet, atau hanya sedang menumpang tren.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Hiroki Naruo Dan Kemenangan TKO Heboh Di ONE Friday Fights

Jakarta – Di ONE Championship—terutama di panggung ONE Friday Fights yang hampir setiap pekan “membakar” Lumpinee Stadium—kickboxing tidak sekadar soal teknik. Ini soal keberanian. Banyak petarung punya kombinasi bagus, punya tendangan kencang, punya rencana matang. Tapi hanya sedikit yang benar-benar sanggup membuat ring berubah jadi badai—dan tetap nyaman berada di tengah badai itu.

Hiroki Naruo adalah salah satu dari sedikit nama yang identik dengan “badai”.

Ia lahir pada 26 Agustus 2002 di Jepang, dan sejak awal tampil di ONE, Naruo sudah menunjukkan satu karakter yang sulit diajarkan: insting untuk memaksa tempo. Bukan tempo “rapi” yang pelan, melainkan tempo yang mencekik—kombinasi pukulan dan tendangan datang berlapis, memaksa lawan bertahan sambil berjalan mundur, sampai suatu saat kaki mereka berhenti bergerak dan wasit masuk. Tapology mencatat tanggal lahir Naruo dan menyebutnya bertarung di kelas bantamweight.

Namun, seperti semua prospek yang naik cepat, Naruo juga mengalami fase ketika gaya agresifnya bertemu lawan yang mampu membaca ritme, lalu menghukum satu celah kecil dengan harga paling mahal: knockout. Ia mengalami dua KO yang paling banyak dibicarakan di ONE:

    • KO tendangan kepala dari Zhang Jingtao di ONE Friday Fights 118 (1 Agustus 2025).
    • KO satu pukulan dari Chen Jiayi di ONE Friday Fights 140 (30 Januari 2026).

Di antara dua kekalahan itu, ada kisah menarik tentang bagaimana Naruo sempat membangun momentum lewat kemenangan-kemenangan TKO yang penuh knockdown dan drama—menciptakan reputasi bahwa setiap pertandingannya “berisiko jadi highlight”.

Profil singkat

    • Nama: Hiroki Naruo (成尾拓輝)
    • Lahir: 26 Agustus 2002, Jepang
    • Disiplin: Kickboxing (ONE Championship)
    • Kelas: bantamweight / flyweight catchweight di ONE Friday Fights (sering tercatat 139 lb atau flyweight kickboxing tergantung matchup)
    • Ciri gaya: striker agresif, kombinasi cepat, tempo tinggi, sering menciptakan knockdown dan TKO

Lahir 2002: generasi petarung yang dibesarkan oleh ritme cepat

Naruo lahir di era ketika kickboxing modern makin menuntut dua hal: kecepatan dan kesanggupan bertahan di bawah tekanan. Banyak petarung muda Jepang membawa ciri striking yang bersih—lurus, rapat, dan disiplin. Naruo punya fondasi itu, tetapi ia memilih cara yang lebih “berbahaya”: membuat pertarungan jadi liar.

Di ONE, ia sering tampil seperti petarung yang tidak menunggu “momentum”. Ia menciptakan momentum dengan paksa. Saat lawan mulai “menyetel jarak”, Naruo sudah melempar kombinasi. Saat lawan ingin memutar sudut, Naruo menutup jalur kabur. Dan ketika lawan berusaha membalas, Naruo justru mengundang pertukaran—karena ia percaya pada power dan volume.

Inilah mengapa banyak kemenangan Naruo di ONE Friday Fights terasa cepat: bukan karena ia sekadar memukul keras, tapi karena ia membuat lawan tidak sempat membangun rencana.

ONE Friday Fights

ONE Friday Fights adalah ekosistem yang “menghadiahi” gaya Naruo: format ring di Lumpinee, tempo cepat, dan penonton yang haus aksi. Di sinilah Naruo menciptakan identitasnya.

Salah satu highlight yang menggambarkan “DNA Naruo” adalah pertarungan melawan Zhang Haiyang. ONE menggambarkannya sebagai comeback dramatis—Naruo sempat knockdown, lalu membalas dengan tiga knockdown miliknya sendiri untuk mengamankan TKO (stoppage) yang menguatkan reputasinya sebagai petarung yang berbahaya bahkan saat sedang terluka.

Naruo juga punya duel yang sering disebut sebagai “nonstop chaos” melawan Zhang Jinhu. ONE memutar ulang pertarungan itu sebagai laga penuh jatuh-bangun yang berakhir dengan kemenangan TKO untuk Naruo—lagi-lagi menegaskan bahwa ia bukan petarung yang menang karena aman; ia menang karena sanggup bertahan di tengah kekacauan dan tetap mendaratkan serangan lebih banyak.

Di titik ini, Naruo tampak seperti “produk ideal” untuk Friday Fights: petarung yang membuat penonton yakin bahwa KO bisa datang kapan saja—dari dirinya, atau untuk dirinya.

Kebangkitan yang rapuh

Momentum adalah pedang bermata dua. Ketika Naruo mengumpulkan kemenangan-kemenangan TKO, ia otomatis menarik lawan yang lebih disiplin—petarung yang mau menahan badai, membaca pola, lalu menghukum.

Dan di situlah dua malam pahit itu datang.

1. KO tendangan kepala dari Zhang Jingtao: akhir dari win streak

Pada ONE Friday Fights 118, Naruo menghadapi Zhang Jingtao dalam laga kickboxing 139-pound. ONE mencatat Zhang Jingtao menang KO lewat tendangan kepala, memutus kemenangan beruntun Naruo.

Untuk petarung agresif, tendangan kepala lawan sering terjadi karena satu hal: ritme sudah terbaca. Saat Naruo menekan dan masuk dengan pola tertentu, lawan menunggu timing. Begitu jarak tepat, satu tendangan kepala mengakhiri semuanya. Ini bukan sekadar kekalahan—ini pelajaran pahit tentang bagaimana agresi harus disertai variasi entry dan defense.

2. KO satu pukulan dari Chen Jiayi: dihukum saat pertarungan berjalan jauh

Beberapa bulan kemudian, Naruo kembali menerima KO, kali ini dari Chen Jiayi pada ONE Friday Fights 140 (30 Januari 2026). ONE menyebut Chen Jiayi meraih KO ronde 3 lewat satu pukulan.

Yang menarik: KO ini terjadi di ronde 3. Artinya, Naruo masih berada dalam pertarungan panjang—dan di situlah bahaya gaya tekanan muncul. Ketika kamu menekan terus, kamu juga membuka peluang counter. Jika lawan tetap tenang sampai ronde akhir, satu counter bersih bisa mematikan tubuh yang sudah lelah.

Dua KO ini membentuk ulang narasi Naruo: dari “finisher muda yang sedang naik” menjadi “petarung atraktif yang harus memoles defense untuk naik level berikutnya.”

Gaya bertarung

Kalau harus diringkas, gaya Naruo punya tiga ciri utama:

    1. Kombinasi cepat, bukan satu serangan tunggal
      Ia menembak pukulan-tendangan dalam rangkaian. Ketika lawan menutup guard, ia pindah target. Ketika lawan mundur, ia menambah volume.
    2. Tekanan dengan langkah maju
      Naruo tidak hanya memukul; ia memaksa lawan bertarung sambil mundur. Itu melelahkan karena lawan harus bertahan sambil mengatur posisi.
    3. Keberanian bertukar di momen “tidak nyaman”
      Naruo terbukti sanggup kembali dari knockdown dan tetap menang TKO, seperti yang ditonjolkan ONE pada pertarungan melawan Zhang Haiyang.

Kenapa Naruo tetap “bernilai” meski sudah dua kali KO

Di olahraga tarung, KO bisa membunuh hype—atau justru membentuk karakter. Untuk Naruo, dua KO itu membuatnya masuk fase paling penting dalam karier striker muda:

    • Apakah ia akan tetap menjadi petarung “chaos” yang sama?
    • Atau ia akan menjadi versi yang lebih dewasa—tetap agresif, tapi lebih cerdas?

Banyak striker besar di masa lalu lahir dari momen KO yang memaksa mereka memperbaiki detail kecil: head movement, timing keluar-masuk, guard saat menyerang, dan disiplin jarak. Naruo punya modal paling sulit: keberanian dan insting menyerang. Jika ia menambahkan lapisan defense tanpa mematikan identitas, ia bisa kembali bukan hanya sebagai “petarung seru”, tapi juga kompetitor yang lebih stabil.

Hal lain yang membuatnya menarik: ONE sendiri cukup sering mengangkat laga-laganya dalam konten highlight dan playlist—tanda bahwa Naruo adalah tipe petarung yang membawa nilai hiburan tinggi untuk platform Friday Fights.

Hiroki Naruo adalah simbol “Friday Fights fighter”: agresif, cepat, penuh kombinasi, dan sering berakhir TKO—jenis petarung yang membuat Lumpinee terasa seperti arena gladiator modern. Ia sudah merasakan dua sisi profesi ini: euforia menang lewat stoppage, dan dinginnya KO saat lawan menemukan celah.

Jika Naruo mampu memoles pertahanan—terutama terhadap tendangan kepala dan counter punch—tanpa menghilangkan tekanan khasnya, ia bisa menjadi ancaman yang lebih komplet di peta kickboxing ONE. Karena pada akhirnya, petarung yang paling berbahaya bukan yang selalu menyerang… tapi yang tahu kapan harus menyerang, dan kapan harus mengundang lawan masuk ke perangkap.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Lyoto Alexandre Jr: Dari Santa Catarina Ke Panggung UFC

Jakarta – Ada petarung yang membuat namanya besar karena satu malam—satu KO, satu sorotan, lalu semua orang membicarakannya. Tapi ada juga petarung yang kisahnya dibangun oleh sesuatu yang lebih sulit difoto: ketahanan mental, teknik yang konsisten, dan kemampuan bertahan hidup dalam sistem yang kejam.

Márcio Alexandre Júnior, si “Lyoto”, berada di jalur kedua. Ia mungkin bukan sosok yang selalu muncul dalam daftar “paling viral”, namun jejaknya di dunia MMA—terutama lewat The Ultimate Fighter: Brazil 3—membuktikan satu hal: ia pernah berada di pusat badai, menghadapi tekanan kamera, turnamen, cedera, dan ekspektasi, lalu tetap berdiri sebagai petarung yang identitasnya jelas: southpaw yang efisien, seimbang, dan punya pintu kemenangan di atas maupun di bawah.

Ia berasal dari São José, Santa Catarina, Brasil—kota yang tidak selalu disebut pertama ketika orang membicarakan “pabrik bintang” MMA Brasil. Tetapi justru dari tempat-tempat seperti itulah sering lahir petarung yang membawa karakter khas: tidak banyak gaya, tidak banyak bicara, tapi punya disiplin yang menonjol ketika pertarungan sudah masuk menit-menit paling melelahkan.

Profil singkat

    • Nama: Márcio Alexandre Júnior
    • Julukan: “Lyoto”
    • Asal: São José, Santa Catarina, Brasil
    • Lahir: 5 Mei 1989 (sebagian basis data juga pernah mencatat tanggal yang berdekatan di awal Mei)
    • Divisi utama di jalur UFC/TUF: Middleweight (185 lbs / 83,9 kg)
    • Tinggi: sekitar 185 cm
    • Stance: Southpaw
    • Ciri gaya: striking efisien (akurasi disebut sekitar 45%), kombinasi pukulan southpaw, dan grappling agresif dengan ancaman submission
    • Gerbang ke panggung internasional: The Ultimate Fighter: Brazil 3 (TUF Brazil 3)

Kenapa julukannya “Lyoto” terasa pas

Julukan “Lyoto” hampir otomatis membuat orang berpikir tentang efisiensi. Bukan efisiensi dalam arti pasif, tetapi efisiensi dalam arti: setiap gerakan punya tujuan. Petarung yang efisien tidak perlu melempar 20 pukulan untuk terlihat dominan; ia cukup melempar 8–10 pukulan yang bersih, menjaga jarak, memotong sudut, lalu mencetak poin dan kerusakan yang terlihat.

Di sinilah gaya southpaw menjadi alat yang sangat cocok untuk identitas “Lyoto”:

    • Sudut serangan berbeda dibanding orthodox
    • Straight kiri dan hook kiri sering datang dari jalur yang “mengganggu kebiasaan lawan”
    • Footwork southpaw yang rapi bisa membuat lawan terlambat setengah langkah—dan setengah langkah di MMA sering berarti satu pukulan bersih

Tapi Lyoto Alexandre Jr bukan sekadar striker. Ia punya “pintu kedua” yang membuat lawan tidak bisa hanya fokus bertahan di atas: grappling dan submission. Petarung yang punya dua jalur kemenangan biasanya terasa lebih “tenang” karena mereka tidak harus memaksa satu rencana; mereka bisa menyesuaikan.

São José, Santa Catarina: akar yang membentuk mental “kerja rapi”

Brasil punya banyak pusat MMA, tetapi Brasil juga punya tradisi petarung yang tumbuh dari daerah: orang-orang yang tidak memiliki fasilitas glamor, lalu mengandalkan jam terbang dan kultur latihan yang keras.

Dari Santa Catarina, banyak petarung datang dengan karakter yang cenderung “keras tapi rapi”—tidak selalu flamboyan, tetapi konsisten. Dalam konteks MMA, petarung seperti ini sering punya dua kekuatan:

    1. Mereka nyaman bertarung panjang karena terbiasa bekerja pada ritme stabil.
    2. Mereka jarang panik ketika pertarungan tidak berjalan sesuai rencana, karena mereka sudah biasa beradaptasi di gym.

Karakter itu terasa relevan ketika Alexandre Jr masuk ke salah satu format paling menekan dalam olahraga tarung: The Ultimate Fighter.

TUF Brazil 3: rumah yang menguji bukan hanya tubuh, tapi pikiran

The Ultimate Fighter bukan sekadar turnamen. Ia adalah “pabrik tekanan”.

Kamu tinggal bersama orang-orang yang sama-sama ingin kontrak UFC. Kamu latihan setiap hari. Kamu lihat temanmu terluka, menangis, panik, atau meledak emosinya. Dan di saat yang sama, kamera selalu ada. Banyak petarung bagus yang gagal bukan karena tekniknya jelek, tetapi karena mereka tidak tahan dengan sistemnya.

TUF Brazil 3 (2014) punya dua turnamen: middleweight dan heavyweight. Di sinilah Lyoto Alexandre Jr masuk ke peta publik MMA.

Kemenangan cepat yang menunjukkan identitas grappling

Pada laga awal, ia pernah mencatat kemenangan cepat lewat guillotine. Ini jenis kemenangan yang sangat “Lyoto”: tidak harus menunggu perang panjang, cukup tunggu lawan masuk terlalu agresif, lalu hukum dengan kuncian yang efisien.

Guillotine dalam MMA bukan sekadar teknik; ia tanda bahwa seorang petarung:

    • paham timing transisi
    • paham bagaimana menghukum entry yang buruk
    • dan tidak panik ketika posisi berubah dari striking ke grappling

Momen yang paling sering disebut: menang atas Paulo Costa

Salah satu alasan nama Márcio Alexandre Jr masih dibahas sampai sekarang adalah pertarungannya melawan Paulo Costa di dalam musim TUF—yang ia menangkan lewat split decision.

Terlepas dari opini orang soal skor, kemenangan itu penting karena dua hal:

    1. Costa kemudian menjadi nama besar.
    2. Mengalahkan petarung seperti itu di atmosfer TUF menunjukkan mental dan ketahanan.

Namun kemenangan seperti itu sering punya “pajak”: tubuh harus dibayar. Lyoto Alexandre Jr sempat mengalami cedera kaki setelah laga tersebut—jenis konsekuensi yang sering menghancurkan laju petarung di format turnamen, karena kamu menang hari ini, tapi harus siap bertarung lagi besok-lusa.

Di sinilah TUF menjadi brutal: kamu bukan hanya harus menang. Kamu harus menang sambil tetap “utuh”.

TUF Brazil 3 Finale: langkah ke panggung UFC yang sesungguhnya

Finale TUF selalu terasa seperti gerbang: dari reality show menuju event UFC yang benar-benar dihitung di catatan resmi. Di sini, tekanan berubah bentuk.

Jika di rumah TUF kamu melawan kamera dan rutinitas, di event UFC kamu melawan:

    • lampu lebih terang
    • penonton lebih banyak
    • lawan yang persiapannya lebih matang
    • dan konsekuensi yang lebih permanen pada reputasi

Lyoto Alexandre Jr sampai pada momen itu sebagai petarung yang sudah membuktikan dua hal:

    • ia bisa menang cepat (submission)
    • ia bisa menang rapat (split decision)
      Artinya, ia bukan petarung satu warna.

Southpaw efisien dengan “pintu kedua” yang berbahaya

Kamu menyebut akurasi striking sekitar 45%—dan itu cocok untuk tipe petarung yang bermain efisien. Angka seperti ini biasanya datang dari gaya yang:

    • tidak spam pukulan untuk terlihat aktif
    • memilih momen dan sudut
    • menjaga jarak agar pukulan yang dilepas punya peluang mendarat lebih tinggi
    • lalu siap mengubah level ke grappling jika lawan bereaksi berlebihan

1. Striking: kombinasi southpaw yang mengunci ritme

Southpaw yang rapi biasanya punya pola klasik:

    • jab/lead hand untuk mengukur jarak
    • straight kiri untuk menembus guard
    • hook kiri saat lawan masuk lurus
    • dan counter saat lawan terlalu fokus menyerang

Lyoto Alexandre Jr dikenal sebagai striker yang tidak “menghias” serangan. Ia mencari serangan yang memberi hasil: poin, damage, atau pembukaan untuk transisi.

2. Grappling: agresif dan opportunistic

Grappling “agresif” bukan berarti selalu shooting takedown. Kadang justru berarti:

    • cepat mengunci leher saat lawan masuk
    • cepat menempel dan mengubah posisi
    • cepat mencari kuncian ketika lawan panic scramble

Guillotine adalah simbol gaya grappling seperti ini—kuncian yang sering muncul dari momen transisi, bukan dari posisi yang sudah mapan lama.

Prestasi dan aspek menarik yang menonjol

Mengalahkan nama besar sebelum nama itu menjadi besar

Kemenangan atas Paulo Costa di TUF Brazil 3 adalah salah satu “kapsul waktu” menarik dalam MMA: momen ketika seorang petarung yang belum jadi bintang, bertemu petarung yang kelak jadi bintang—dan hasilnya menciptakan narasi panjang.

Petarung yang “seimbang”

Banyak petarung dikenal hanya karena pukulan atau hanya karena grappling. Lyoto Alexandre Jr berada di wilayah yang lebih sulit: petarung yang bisa memaksa lawan menghormati dua ancaman sekaligus.

Efisiensi sebagai identitas

Di era ketika banyak petarung mengejar highlight, petarung efisien sering lebih tahan lama. Mereka tidak selalu menang paling heboh, tetapi mereka punya peluang lebih besar untuk bertahan karena tidak membakar energi secara sia-sia.

Kenapa kisah Lyoto Alexandre Jr relevan untuk pembaca hari ini

Karena cerita seperti ini adalah cerita tentang jalur yang keras. TUF tidak memberi jalan pintas yang gratis; ia memberi jalan pintas yang dibayar dengan tekanan mental.

Lyoto Alexandre Jr adalah contoh petarung yang:

    • masuk ke sistem keras (TUF)
    • menghadapi lawan berbahaya
    • meraih kemenangan penting
    • menghadapi cedera dan konsekuensi turnamen
    • lalu membuka pintu menuju panggung internasional

Tidak semua petarung punya kisah seperti itu. Dan tidak semua petarung bisa keluar dari TUF dengan nama yang masih dibicarakan bertahun-tahun kemudian.

“Lyoto” sebagai simbol petarung efisien dari Brasil

Márcio Alexandre Júnior “Lyoto” mungkin bukan nama yang paling sering muncul di headline besar, tetapi kisahnya punya bobot: petarung southpaw dari São José yang menembus UFC lewat salah satu jalur paling kejam, lalu dikenal sebagai atlet yang memadukan striking efisien dengan ancaman grappling yang nyata.

Ia adalah pengingat bahwa di MMA, keberhasilan tidak selalu berbentuk KO spektakuler. Kadang keberhasilan adalah kemampuan untuk:

    • bertahan dalam sistem yang menekan
    • menang ketika pertarungan rapat
    • menutup peluang lawan lewat teknik
    • dan tetap menemukan jalan meski tubuh dan mental diuji

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Mansur Malachiev: “Mesin Grappling” Dagestan

Jakarta – Ada petarung yang menang karena satu momen—satu pukulan keras, satu serangan yang kebetulan masuk tepat waktu. Lalu ada petarung yang menang karena menghapus pilihan lawan sedikit demi sedikit. Mereka tidak perlu terlihat liar. Mereka cukup memastikan satu hal: begitu pertarungan menyentuh kanvas, lawan mulai kehabisan pintu keluar.

Mansur Malachiev adalah jenis petarung yang kedua.

Ia lahir 3 November 1991 di Dagestan, Rusia—wilayah yang dalam peta MMA modern sudah seperti “pabrik” pegulat. Profil resmi ONE menyebut Malachiev adalah pegulat seumur hidup yang tumbuh dengan gulat sejak usia muda, lalu mencoba MMA pada 2014.

Di ONE Championship, namanya menonjol sebagai petarung yang mengutamakan grappling, kontrol ground, dan submission. Rekor profesionalnya juga mendukung reputasi itu: 14 menang – 1 kalah, dengan 7 kemenangan lewat submission (setengah dari total kemenangannya).

Profil singkat

    • Nama: Mansur Malachiev
    • Lahir: 3 November 1991, Dagestan, Rusia
    • Rekor MMA pro: 14–1
    • Cara menang: 7 submission, 3 KO/TKO, 4 keputusan
    • Divisi di ONE: sering tampil di strawweight (125 lbs/56,7 kg), dan sempat bertarung di flyweight pada laga tertentu (contoh vs Jarred Brooks)

Dagestan dan “bahasa ibu” Malachiev

Kalau kamu pernah menonton petarung Dagestan yang matang, ada satu pola yang selalu terasa: mereka tidak bereaksi panik. Mereka membangun. Dari clinch, dari pegangan pergelangan, dari tekanan kepala, dari langkah kecil yang memotong pinggul lawan.

Malachiev tumbuh dengan bahasa itu. ONE menggambarkannya sebagai pegulat seumur hidup yang sudah bergulat sejak usia muda di Dagestan.

Itu menjelaskan kenapa, saat ia masuk MMA, ia tidak terlihat seperti petarung yang “mencoba-coba” grappling. Ia terlihat seperti orang yang pulang ke rumah.

Memulai pro pada 2014

ONE menyebut Malachiev mulai mencoba MMA pada 2014—dan dari sana ia membangun karier dengan pola yang konsisten: jadikan takedown dan kontrol sebagai jalan utama, lalu cari kuncian saat lawan mulai panik.

Data dari basis catatan pertarungan (ESPN/Sherdog/Tapology) memperlihatkan identitas ini bukan sekadar narasi promosi. Distribusi kemenangannya memang “berat” ke submission—angka yang jarang dimiliki petarung yang hanya mengandalkan gulat tanpa kemampuan kuncian.

Masuk ONE Championship

Ketika Malachiev masuk ekosistem ONE (yang ritmenya cepat dan lawannya beragam gaya), ia tidak berubah menjadi striker. Ia tetap menjadi dirinya sendiri—hanya lebih rapih, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi pertahanan takedown yang makin baik.

Salah satu penanda awal yang paling jelas: ia bisa menang bukan hanya dengan “menahan”, tapi juga bisa menyelesaikan. ESPN mencatat ia menang submission (D’Arce choke) atas Jeremy Miado pada Juni 2023.

Kemenangan seperti ini penting untuk petarung grappling: ia menunjukkan bahwa ground control Malachiev bukan sekadar alat untuk mencuri ronde, tapi juga alat untuk mengakhiri malam lebih cepat.

Satu-satunya noda

Tidak ada rekor bersih tanpa malam yang membuat petarung melihat cermin. Untuk Malachiev, malam itu adalah kekalahan keputusan bulat dari Joshua Pacio di ONE Fight Night 15 (Oktober 2023).

Kekalahan keputusan untuk grappler biasanya terasa lebih menyakitkan daripada kalah KO, karena itu berarti:

    • kamu punya waktu untuk membalik keadaan,
    • tapi ada detail kecil—posisi, kontrol, efektivitas damage—yang tidak cukup meyakinkan juri.

ONE bahkan memuat komentar Pacio pasca-pertarungan yang memperlihatkan betapa ketatnya duel itu dan bagaimana Pacio melihat kemenangan tersebut sebagai langkah penting dalam perebutan status puncak divisi.

Dan di sinilah Malachiev terlihat “Dagestan banget”: bukannya berubah haluan, ia justru kembali membangun.

Dari Saruta, Masunyane, sampai “mematikan” Jarred Brooks

Sesudah Pacio, Malachiev menjalani fase yang biasanya menentukan kualitas seorang kandidat juara: fase ketika semua orang sudah tahu gaya kamu, dan kamu tetap harus menang.

1. Menang keputusan atas Yosuke Saruta

ESPN mencatat ia menang keputusan bulat atas mantan juara strawweight Yosuke Saruta pada Februari 2024.

Ini kemenangan yang punya nilai besar: Saruta adalah petarung yang terbiasa melawan grappler, dan tetap menang keputusan berarti Malachiev bisa memaksakan kontrol bahkan saat lawan paham cara bertahan.

2. Menang keputusan atas Bokang Masunyane

Masih menurut ESPN, Malachiev menang keputusan bulat atas Bokang Masunyane pada Oktober 2024.

Laga seperti ini biasanya bukan sekadar soal teknik, tapi soal stamina dan disiplin. Masunyane dikenal atletis dan cepat; menang atas tipe seperti ini menunjukkan Malachiev mampu menjaga struktur gulatnya di tiga ronde penuh.

3. Momen paling “statement”: menidurkan Jarred Brooks

Puncaknya datang di ONE Fight Night 36 (3 Oktober 2025) ketika Malachiev menghadapi Jarred Brooks—mantan juara strawweight ONE—dalam laga yang diposisikan sebagai flyweight bout.

Hasilnya bukan sekadar menang: Malachiev menyelesaikan Brooks lewat north-south choke pada ronde 2 (2:09), sampai Brooks benar-benar tertidur.

Kemenangan ini mengubah narasi Malachiev dari “kandidat” menjadi “ancaman dua divisi”:

    • Ia mengalahkan mantan juara yang levelnya terbukti,
    • Ia menang bukan lewat split tipis, melainkan lewat penyelesaian yang tegas,
    • Dan ia melakukannya dengan gaya khasnya: kontrol → transisi → kuncian.

Mengapa gaya Malachiev terasa “mengunci” bagi lawan

Kalau harus disederhanakan, Malachiev punya tiga lapis senjata yang saling menguatkan:

1. Entry gulat yang tidak selalu indah, tapi efektif

Ia tidak butuh takedown yang “cantik”. Ia butuh takedown yang membuat lawan jatuh di posisi buruk. Pegulat Dagestan sering menang bukan karena satu tembakan spektakuler, tapi karena rangkaian: dorong ke pagar, ganti level, angkat kaki, jatuhkan, ulang.

2. Kontrol ground yang membuat lawan “bekerja dua kali”

Banyak petarung bisa berdiri cepat setelah takedown pertama. Malachiev membuat lawan membayar mahal untuk setiap usaha berdiri. Karena begitu lawan fokus berdiri, leher dan lengan mulai terbuka.

3. Submission sebagai hukuman untuk kepanikan

North-south choke vs Brooks adalah contoh klasik: saat lawan mencoba memutar dan mencari ruang napas, Malachiev sudah memindahkan tekanan ke posisi yang lebih menyesakkan.

Apa yang membuatnya menarik untuk masa depan divisi strawweight ONE

Malachiev bukan sekadar petarung dengan rekor bagus. Ia petarung dengan “kartu nama” yang jelas: 7 submission dari 14 kemenangan.

Itu berarti, setiap kali pertarungan menyentuh kanvas, lawan harus bertarung dengan rasa takut yang berbeda—takut bukan hanya kalah ronde, tapi takut selesai.

Dan ketika kamu sudah menidurkan mantan juara seperti Jarred Brooks, pertanyaan yang tersisa biasanya hanya satu: kapan peluang emas itu datang?

Dagestan selalu punya pegulat, tapi Malachiev punya “seni menghilangkan pilihan”

Mansur Malachiev adalah gambaran petarung Dagestan yang modern: gulat sebagai fondasi, kontrol sebagai senjata utama, dan submission sebagai klimaks. Ia sudah merasakan kekalahan, lalu kembali dengan rangkaian kemenangan yang makin tegas—puncaknya saat membuat Jarred Brooks tertidur lewat north-south choke.

Di divisi strawweight ONE Championship yang penuh kecepatan dan scramble, petarung seperti Malachiev adalah masalah besar. Karena ia tidak perlu memenangkan semua momen. Ia hanya perlu memenangkan satu momen yang ia sukai: momen ketika pertarungan menyentuh kanvas—dan dunia menjadi miliknya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Davey Grant: Kisah “Dangerous” Dari Darlington

Jakarta – Di MMA, ada petarung yang terkenal karena sabuk. Ada yang dikenal karena rekor sempurna. Lalu ada pula petarung yang dihormati karena satu hal yang jauh lebih sulit dipertahankan: kemampuan untuk tetap relevan setelah melewati begitu banyak fase keras dalam karier. Davey Grant termasuk dalam kelompok itu. Ia bukan sekadar petarung bantamweight asal Inggris yang sudah lama berada di UFC. Ia adalah gambaran tentang daya tahan, tentang keberanian untuk terus bertarung di usia yang bagi banyak orang sudah terlalu senior untuk divisi yang sangat cepat ini, dan tentang bagaimana seorang atlet bisa tetap menarik karena gaya bertarungnya selalu membawa ancaman.

Davey Grant lahir pada 18 Desember 1985 di Darlington, County Durham, Inggris. Ia bertarung di divisi bantamweight, memakai stance ortodoks, memiliki bobot sekitar 135–136 pound dan jangkauan 69 inci, serta berlatih di SBG UK/Bishop Auckland. Julukannya adalah “Dangerous,” dan julukan itu terasa tepat karena ia menggabungkan striking agresif dengan ancaman submission yang nyata dari Brazilian Jiu-Jitsu. Rekor profesionalnya kini tercatat 17 kemenangan dan 8 kekalahan, dan ESPN juga menampilkan laga berikutnya melawan Adrian Luna Martinetti pada 25 April.

Yang membuat kisah Grant begitu menarik bukan hanya angka 17-8 itu. Daya tariknya justru lahir dari bentuk karier yang tidak pernah sederhana. Ia masuk ke UFC lewat The Ultimate Fighter: Team Rousey vs. Team Tate pada 2013, lalu menjalani perjalanan panjang yang penuh luka, kebangkitan, kemenangan spektakuler, dan kekalahan menyakitkan. Tetapi di sepanjang semua itu, satu hal tidak berubah: Davey Grant hampir selalu datang ke octagon sebagai petarung yang berbahaya.

Dari Darlington menuju dunia tarung profesional

Darlington bukan nama yang otomatis diasosiasikan dengan kilau besar MMA dunia. Justru itu yang membuat kisah Grant terasa begitu membumi. Ia lahir jauh dari pusat glamor olahraga ini, tumbuh dari lingkungan Inggris timur laut yang identik dengan karakter pekerja keras, lalu membangun dirinya lewat proses yang panjang. Dalam banyak hal, Grant terasa seperti representasi klasik petarung Inggris: keras, jujur, tidak terlalu dibuat-buat, dan lebih senang membiarkan pertarungan berbicara daripada citra. Detail asal-usulnya dari Darlington dan County Durham konsisten muncul dalam profil-profil biografisnya.

Afiliasinya dengan SBG UK yang berbasis di Bishop Auckland juga penting. Lingkungan gym seperti itu memberi fondasi teknik dan mental yang kuat, terutama untuk petarung yang bertahan lama di level tertinggi. Dari sana, Grant mengembangkan identitas bertarung yang khas: ia bisa menyerang dengan aktif saat laga berdiri, tetapi juga punya insting grappling yang matang untuk mengubah duel kapan saja. Dalam divisi bantamweight, kombinasi seperti ini sangat berharga, terutama bagi petarung veteran yang harus terus menyesuaikan diri dengan lawan-lawan yang lebih muda dan lebih cepat.

The Ultimate Fighter: pintu besar yang mengubah segalanya

Bagi banyak petarung generasinya, The Ultimate Fighter adalah gerbang emas menuju UFC. Davey Grant mendapat kesempatan itu pada musim Team Rousey vs. Team Tate pada 2013. Ia termasuk salah satu peserta pria di musim tersebut dan berada di bawah Team Ronda Rousey. Itu adalah masa ketika TUF masih sangat berpengaruh: bukan sekadar reality show, tetapi sistem seleksi brutal yang menuntut kemampuan teknis, mental, dan daya tahan di bawah tekanan kamera serta eliminasi cepat.

Grant memanfaatkan peluang itu dengan baik. Ia mencatat kemenangan di ajang TUF dan akhirnya mendapatkan kontrak resmi UFC. Bagi seorang petarung dari sirkuit Inggris, ini adalah titik balik yang sangat besar. Ia tidak masuk ke UFC sebagai bintang yang sudah jadi, tetapi sebagai petarung yang harus membuktikan semuanya dari bawah. Justru karena itu, jalur TUF memberi bobot tambahan pada kisah kariernya. Ia datang melalui jalur kompetitif, bukan karpet merah.

Ortodoks, agresif, dan licin saat grappling

Secara teknik, Davey Grant adalah petarung yang menyenangkan untuk dianalisis karena ia bukan spesialis satu arah. Ia bertarung dengan stance ortodoks dan punya striking yang aktif, tetapi identitasnya tidak berhenti di sana. ESPN mencantumkan gaya bertarungnya sebagai Brazilian Jiu-Jitsu, dan itu masuk akal jika melihat komposisi kemenangannya. Dari 17 kemenangan profesionalnya, banyak yang lahir lewat submission, menandakan bahwa kemampuan grappling-nya bukan pelengkap, melainkan salah satu fondasi utama permainannya.

Namun Grant bukan grappler pasif yang hanya menunggu laga menyentuh matras. Salah satu daya tarik terbesarnya justru datang dari striking yang agresif dan berani. Ia senang bertukar serangan, punya kombinasi yang hidup, dan sering menciptakan pertarungan yang terasa “berbahaya” bahkan ketika hasilnya belum jelas. Ini yang membuat julukan “Dangerous” terasa otentik. Lawan tidak pernah bisa benar-benar santai menghadapinya, sebab ancaman datang dari dua arah sekaligus: pukulan yang aktif dan submission yang bisa muncul dari scramble atau transisi yang tidak diduga.

Veteran yang tidak pernah benar-benar jinak

Karier UFC Grant tidak dibangun dari jalur lurus. Ia sempat mengalami fase naik turun, seperti banyak alumni TUF lainnya. Tetapi justru di situlah letak nilai besarnya. Davey Grant adalah salah satu contoh petarung yang menolak hilang meski berkali-kali diuji. Ia terus bertahan di organisasi terbesar MMA, dan lebih dari itu, ia tetap menjadi lawan yang sulit diprediksi. Dalam olahraga yang sangat kejam terhadap usia, terutama di bantamweight, ketahanan seperti ini adalah prestasi tersendiri.

Usia menjadi bagian menarik dari ceritanya. Lahir pada Desember 1985, Grant bertarung di divisi yang sangat menuntut kecepatan, refleks, dan volume kerja tinggi. Banyak petarung bantamweight mengalami penurunan lebih cepat daripada kelas yang lebih berat. Tetapi Grant tetap aktif, tetap kompetitif, dan tetap berbahaya. Itu menandakan bahwa ia mengandalkan lebih dari sekadar atletisme mentah. Ia bertahan karena pengalaman, insting, dan kemampuan membaca pertarungan.

Momen-momen penting yang menjaga namanya tetap hidup

Dalam fase veteran kariernya, Grant tetap mampu menciptakan momen yang mengangkat namanya kembali. Salah satu yang paling mencolok adalah kemenangan KO atas Louis Smolka, yang menjadi bukti bahwa di usia senior untuk bantamweight, ia masih punya daya ledak di atas kaki. Momen lain yang sangat penting datang saat ia menaklukkan Raphael Assuncao lewat inverted triangle choke pada Maret 2023, sebuah submission yang bukan hanya efektif, tetapi juga artistik. Kemenangan seperti ini menegaskan bahwa Grant tetap memiliki kreativitas dan keberanian dalam bertarung.

Bahkan dalam kekalahan, ia kerap tetap meninggalkan kesan. Sherdog menyoroti kekalahannya dari Charles Jourdain di UFC Vancouver 2025 sebagai duel yang tetap relevan secara naratif, karena Grant masih dipandang sebagai veteran berbahaya. ESPN juga menampilkan hasil kalah dari Da’Mon Blackshear pada Juli 2025, yang membuat rekor profesionalnya menjadi 17-8. Semua ini menunjukkan satu hal: Grant tidak pernah menjadi sekadar nama pelengkap kartu. Ia selalu masuk ke pertarungan dengan potensi mengacaukan rencana lawan.

Rekor 17-8: angka yang lebih dalam dari permukaannya

Rekor Davey Grant saat ini tercatat 17 kemenangan dan 8 kekalahan menurut UFC Stats, dan angka itu juga konsisten dengan pembaruan hasil terbaru di ESPN dan Sherdog. Namun rekor ini tidak boleh dibaca secara dangkal. Bagi petarung veteran seperti Grant, angka menang-kalah tidak menceritakan seluruh kualitasnya. Yang membuat rekor itu bernilai adalah komposisinya: ia punya kemenangan lewat KO, submission, dan keputusan, yang menunjukkan fleksibilitas sebagai petarung. Ia bukan petarung yang bertahan karena satu senjata sempit. Ia bertahan karena bisa menemukan banyak cara untuk menang.

Rekor itu juga berbicara tentang daya tahan karier. Banyak petarung tidak pernah sampai ke tahap memiliki 25 pertarungan profesional dengan level lawan seperti yang dihadapi Grant. Bertahan cukup lama untuk membangun rekor seperti itu di UFC dan level setara berarti seorang atlet telah berkali-kali membuktikan kualitasnya. Jadi, ketika melihat 17-8, yang seharusnya terbaca bukan hanya jumlah kekalahan, tetapi juga umur panjang karier dan kualitas persaingan yang telah ia lewati.

Kenapa Davey Grant tetap disukai penggemar

Salah satu alasan terbesar Grant tetap punya tempat khusus di hati penggemar adalah karena ia hampir selalu membawa unsur hiburan. Ia bukan petarung yang cenderung bermain aman demi kemenangan tipis. Gaya bertarungnya sering mengundang aksi, membuka ruang pertukaran, dan membuat laga terasa hidup. Pada saat yang sama, kemampuan submission-nya menjaga ancaman dari arah lain. Kombinasi ini membuat laga Davey Grant jarang terasa membosankan.

Ada pula faktor manusiawi yang membuatnya mudah dihormati. Ia datang dari jalur TUF, melewati fase sulit, tidak pernah menjadi superstar utama, tetapi tetap bertahan dan memberi pertarungan yang layak diingat. Dalam era ketika banyak petarung dibentuk oleh momentum media sosial, Grant terasa seperti pengingat akan nilai lama dalam MMA: kerja keras, ketangguhan, dan kesiapan untuk terus bertarung meski sorotan tidak selalu mengarah kepadanya.

Masa depan: veteran yang masih punya ancaman

Melihat jadwal ESPN yang menampilkan laga Davey Grant melawan Adrian Luna Martinetti, jelas bahwa ceritanya belum selesai. Ia masih aktif, masih mendapat pertarungan, dan masih diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa pengalaman bisa melawan usia. Tentu jalannya tidak akan mudah. Lawan-lawan baru datang dengan tubuh yang lebih segar dan ritme yang lebih cepat. Tetapi jika ada satu hal yang sudah dibuktikan Grant selama bertahun-tahun, itu adalah bahwa ia tetap berbahaya bahkan ketika publik mulai meragukannya.

Sebagai veteran bantamweight, Grant kini berada dalam posisi unik. Ia bukan hanya bertarung untuk menang, tetapi juga untuk mempertahankan warisan sebagai salah satu petarung Inggris yang paling gigih dan paling menghibur di generasinya. Ia mungkin tidak selalu jadi sorotan utama, tetapi petarung seperti inilah yang membuat roster UFC terasa punya kedalaman dan karakter.

Davey Grant adalah petarung MMA asal Inggris yang membangun kariernya dengan cara yang keras dan jujur. Lahir di Darlington pada 18 Desember 1985, ia masuk ke UFC lewat The Ultimate Fighter 18, berkembang sebagai petarung ortodoks dengan striking agresif dan submission yang berbahaya, lalu bertahan cukup lama untuk mengumpulkan rekor 17-8 di salah satu divisi tercepat dalam olahraga ini. Ia bertarung dari SBG UK, membawa julukan “Dangerous,” dan hingga hari ini julukan itu masih terasa pantas.

Yang membuatnya spesial bukan hanya kemenangan yang ia kumpulkan, tetapi cara ia bertahan. Grant adalah kisah tentang petarung yang tidak pernah berhenti memberi alasan untuk diperhatikan. Dalam dunia yang sangat mudah melupakan, itu adalah kualitas yang langka. Dan mungkin justru karena itulah Davey Grant tetap menjadi salah satu nama yang paling layak dihormati di bantamweight UFC.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Gokhan Saricam: Petarung Turki Divisi Kelas Berat UFC

Jakarta – Di kelas heavyweight, reputasi sering lahir dari satu hal yang paling mudah dikenali: kemampuan mengakhiri pertarungan dalam sekejap. Ada petarung yang membangun karier lewat kontrol, ada yang bertahan dengan ketahanan, dan ada yang menanamkan rasa takut lewat pukulan yang bisa mengubah arah laga dalam satu momen. Gokhan Saricam termasuk dalam kelompok terakhir. Ia datang sebagai petarung asal Turki yang membawa gaya agresif berbasis striking, dengan keyakinan bahwa tekanan dan pukulan keras adalah jalan paling langsung menuju kemenangan. Itulah citra yang menempel padanya sejak ia bertarung di panggung regional Eropa, berlanjut di Bellator, dan kini membawanya ke UFC.

Gokhan Saricam lahir pada 26 Februari 1991 di Istanbul, Turki. Profil ESPN mencatatnya sebagai heavyweight dengan tinggi 6 kaki 3 inci, berat sekitar 247 pound, jangkauan 76 inci, dan berlatih di Kops Gym. Sementara itu, UFC telah menampilkan profil resminya dan menempatkannya dalam laga melawan Tanner Boser di UFC Fight Night Winnipeg pada 18 April 2026, yang menandai babak baru dalam kariernya di panggung MMA terbesar di dunia.

Yang membuat Saricam menarik bukan hanya angka rekornya, tetapi juga jalur yang membentuknya. Sportsnet melaporkan bahwa ia masuk UFC setelah membangun rekor profesional 11-2, dengan pengalaman lima tahun di Bellator dan catatan 5-2 di organisasi itu. Dengan kata lain, ia tidak datang ke UFC sebagai nama yang baru tumbuh, melainkan sebagai veteran yang sudah melewati cukup banyak pertarungan keras dan memahami seperti apa tekanan kompetisi level tinggi.

Ukuran, gaya, dan identitas seorang heavyweight

Secara fisik, Saricam membawa atribut yang cukup ideal untuk kelas berat modern. Berat di kisaran 246–247 pound dan jangkauan 76 inci memberinya kombinasi antara massa tubuh, jangkauan serang, dan ancaman pukulan dalam jarak menengah. Profil ESPN juga menegaskan afiliasinya dengan Kops Gym, yang selama ini dikenal sebagai lingkungan latihan keras bagi petarung Eropa. Semua ini membantu menjelaskan kenapa gaya bertarungnya terasa lugas: ia adalah heavyweight yang dibangun untuk maju, menekan, dan melepaskan pukulan berat sejak awal.

Gaya Saricam paling mudah dijelaskan sebagai striking agresif. Dalam ringkasan yang dimuat Sportsnet, ia digambarkan datang ke UFC dengan reputasi dari Bellator dan sirkuit regional, sementara catatan hasil kariernya menunjukkan bahwa banyak kemenangannya lahir dari penyelesaian cepat. Ini selaras dengan gambaran dirinya sebagai petarung yang mengandalkan tangan berat untuk mencari KO, bukan petarung yang menunggu terlalu lama untuk bermain aman.

Dari Istanbul menuju arena profesional

Saricam berasal dari Istanbul, kota yang sering melahirkan karakter keras dan kompetitif pada banyak atlet Turki. Walau sumber-sumber utama yang tersedia tidak mengurai masa kecilnya secara rinci, identitas geografis itu tetap penting. Banyak petarung heavyweight membawa aura dari lingkungan tempat mereka dibesarkan, dan pada Saricam, aura itu terasa lewat caranya bertarung: langsung, tegas, dan tidak bertele-tele. Karier profesionalnya kemudian berkembang melalui jalur Eropa, yang menjadi fondasi penting sebelum ia mencapai Bellator dan UFC.

Di tahap awal karier, pola bertarung Saricam sudah mulai terlihat. Ia membangun nama lewat kemenangan-kemenangan yang menegaskan daya rusaknya. Bahkan sebelum panggung besar datang, fondasi identitasnya sudah terbentuk: ia ingin memaksa lawan bertarung di jarak pukulan dan menyelesaikan pertarungan secepat mungkin. Ketika seorang heavyweight menunjukkan pola seperti itu sejak dini, biasanya itu bukan kebetulan, melainkan identitas teknis yang memang sudah tertanam.

Menapaki sirkuit regional Eropa

Sebelum dikenal lebih luas, Saricam menempuh jalur yang umum tetapi keras bagi petarung Eropa: ia harus membangun dirinya di ajang-ajang regional. Fase ini penting karena di situlah seorang petarung belajar menghadapi berbagai tipe lawan, kondisi pertarungan yang tidak selalu ideal, dan tekanan untuk menang tanpa kemewahan sorotan besar. Bagi Saricam, panggung regional menjadi tempat ia mengasah senjata utamanya, yaitu striking agresif dan kemampuan menghukum lawan dengan cepat. Fakta bahwa ia akhirnya sampai ke Bellator dan UFC menunjukkan bahwa fondasi di level regional itu cukup kuat dan cukup meyakinkan.

Dalam banyak kasus, kelas berat adalah divisi yang kejam terhadap petarung yang setengah matang. Jika seorang atlet bisa bertahan dan naik kelas dari regional Eropa menuju organisasi besar, biasanya itu berarti ia memiliki sesuatu yang nyata. Pada Saricam, “sesuatu” itu adalah daya hancur di tangannya serta mental untuk membawa pertarungan ke wilayah yang paling berbahaya. Jalur ini membentuknya menjadi petarung yang tidak asing dengan duel keras.

Bab Bellator: saat nama Gokhan Saricam mulai diperhitungkan serius

Peningkatan terbesar dalam karier Saricam datang ketika ia bergabung dengan Bellator. Sportsnet menyebut bahwa ia menghabiskan lima tahun di organisasi itu dan mencatat rekor 5-2. Ini adalah fase yang sangat penting, karena Bellator bukan lagi tempat bagi petarung mentah. Di sana, Saricam harus membuktikan bahwa gaya agresifnya tetap bekerja ketika lawan-lawan menjadi lebih besar, lebih berpengalaman, dan lebih sulit dijatuhkan.

Salah satu momen yang paling menonjol dari masa Bellator-nya adalah kemenangan atas Charlie Milner. Bellator pernah menyoroti laga itu sebagai salah satu knockout tercepat dalam sejarah promosi, dan cuplikan yang masih tersedia menunjukkan betapa cepat Saricam mengakhiri perlawanan lawannya. Kemenangan seperti ini sangat penting bagi petarung heavyweight, karena ia menegaskan identitas dengan cara yang tidak bisa disalahartikan: Saricam adalah ancaman nyata sejak detik pertama.

Namun fase Bellator Saricam tidak hanya berisi kemenangan kilat. Sportsnet merangkum catatan 5-2 itu sebagai bukti bahwa ia juga mampu bertahan di lingkungan kompetitif dalam jangka menengah. Bagi seorang heavyweight, bertahan dan menang di organisasi sebesar Bellator selama beberapa tahun sudah merupakan indikator kualitas yang penting. Artinya, ia bukan sekadar pemukul keras sekali pakai, tetapi petarung yang cukup komplet untuk tetap relevan di level tinggi.

Daya ledak, tekanan, dan pencarian KO

Kalau harus diringkas dalam satu gambaran, Saricam adalah petarung yang ingin mengubah setiap pertarungan menjadi ujian ketahanan lawan terhadap pukulannya. Profil ESPN menampilkan statistik kemenangan yang menonjol lewat (T)KO, dan Sportsnet juga menekankan bahwa ia datang ke UFC dengan reputasi sebagai petarung berbahaya dari Bellator. Artinya, kekuatan pukulan bukan sekadar atribut tambahan, melainkan pusat dari seluruh pendekatan bertarungnya.

Dalam kelas berat, gaya seperti ini selalu punya nilai tinggi. Satu pukulan bisa menghapus semua rencana lawan. Tetapi yang membuat Saricam menarik adalah ia tidak hanya punya pukulan keras, ia juga punya niat menyerang. Ia bertarung dengan pola yang menekan lawan, bukan hanya menunggu peluang datang. Kombinasi antara power dan dorongan untuk mengambil inisiatif inilah yang sering membuat heavyweight jadi sangat berbahaya.

Meski begitu, perjalanan panjangnya di Bellator menunjukkan bahwa ia bukan petarung yang sepenuhnya buta strategi. Rekor 5-2 di sana mengisyaratkan bahwa ia mampu bertahan dalam berbagai jenis pertarungan, tidak melulu menang atau kalah dalam hitungan detik. Ini memberi lapisan tambahan pada citranya. Ia memang finisher, tetapi juga petarung berpengalaman yang sudah cukup sering menghadapi lawan tangguh untuk memahami kerasnya kompetisi.

Rekor 11-2 dan arti di balik angka tersebut

Saat ini, Saricam banyak dirujuk memiliki rekor profesional 11 kemenangan dan 2 kekalahan, sebagaimana dilaporkan Sportsnet ketika mengumumkan debut UFC-nya. Angka ini penting bukan hanya karena terlihat impresif, tetapi juga karena ia mencerminkan perjalanan yang padat pengalaman. Rekor seperti itu, apalagi untuk heavyweight yang sudah melewati Bellator, menunjukkan bahwa Saricam lebih dari sekadar prospek baru. Ia datang dengan jam terbang, dengan kemenangan penting, dan dengan bukti bahwa dirinya mampu bertahan di level yang tidak mudah.

Yang lebih menarik lagi, rekor 11-2 itu dibawa masuk ke UFC pada saat yang tepat. Sportsnet mencatat bahwa ia menuju UFC setelah kemenangan terakhir atas Hyago Silva pada November sebelumnya. Momentum seperti ini sangat berharga. Di divisi berat, kepercayaan diri bisa menjadi pembeda besar, dan datang ke organisasi baru dengan hasil-hasil positif di belakang biasanya membuat seorang petarung tampil lebih berani mempertahankan identitasnya.

Masuk UFC: tantangan baru di panggung paling keras

UFC sudah mencantumkan Gokhan Saricam dalam kartu UFC Fight Night: Burns vs Malott di Winnipeg pada 18 April 2026. Di sana, ia dijadwalkan menghadapi Tanner Boser dalam duel heavyweight. Sportsnet juga mengonfirmasi bahwa laga itu adalah debut UFC Saricam. Ini adalah titik yang sangat menentukan dalam kariernya, karena perbedaan antara Bellator dan UFC bukan hanya soal nama organisasi, tetapi juga soal intensitas sorotan dan tekanan ekspektasi.

Menariknya, profil UFC Saricam masih tampil tanpa rekor UFC, yang menandakan ia memang belum bertanding di oktagon saat data itu dipublikasikan. Ini berarti rekor 11-2 yang melekat padanya adalah rekor profesional total sebelum debut UFC, bukan catatan UFC murni. Perbedaan ini penting, sebab banyak pembaca sering mencampur dua hal tersebut. Secara status, ia sudah petarung UFC. Secara hasil, ceritanya di UFC baru akan dimulai saat ia resmi masuk ke octagon.

Kenapa Gokhan Saricam layak diperhatikan

Ada beberapa alasan mengapa Saricam layak dipantau lebih dekat. Pertama, ia datang dari Bellator, jadi ia bukan pendatang baru yang belum pernah merasakan organisasi besar. Kedua, ia membawa gaya heavyweight klasik yang sangat disukai penonton: agresif, berbasis striking, dan berbahaya dalam satu momen. Ketiga, ia masuk UFC dengan momentum dan rekor profesional yang kuat. Dan keempat, ia membawa representasi Turki di kelas berat, sesuatu yang memberi warna tersendiri dalam peta heavyweight modern.

Selain itu, lawannya di debut, Tanner Boser, juga bukan nama sembarangan. Sportsnet mencatat Boser kembali ke UFC setelah beberapa tahun pergi dan membawa pengalaman 5-5 di UFC. Artinya, Saricam tidak diberi jalur lembut untuk memulai. Ia langsung diuji oleh lawan yang pernah hidup di panggung UFC cukup lama. Kalau ia mampu tampil baik, dampaknya terhadap persepsi publik bisa sangat besar.

Peluang besar di divisi yang selalu haus penyelesai

Heavyweight selalu menjadi divisi yang unik. Tidak perlu terlalu banyak kemenangan untuk membuat orang menoleh, karena satu penyelesaian impresif bisa langsung mengubah posisi seorang petarung dalam percakapan publik. Untuk orang seperti Saricam, realitas ini justru menguntungkan. Gaya bertarungnya memang dirancang untuk menciptakan momen seperti itu. Ia bukan petarung yang membutuhkan lima ronde untuk menunjukkan identitasnya. Ia bisa memperkenalkan diri dengan satu rangkaian pukulan bersih.

Tentu saja, jalan di UFC tidak akan mudah. Lawan akan lebih disiplin, lebih sulit goyah, dan lebih cepat menghukum kesalahan. Tetapi justru di situlah menariknya perjalanan Saricam. Ia datang bukan dari nol, melainkan dari pengalaman panjang, dari Bellator, dan dari sirkuit Eropa yang keras. Semua itu seharusnya memberinya fondasi mental yang cukup untuk tidak terkejut oleh besarnya panggung. Bagaimana ia menerjemahkan fondasi itu ke hasil nyata, itulah bab berikutnya yang akan menentukan seberapa jauh ia bisa melangkah.

Gokhan Saricam adalah petarung MMA asal Turki kelahiran Istanbul, 26 Februari 1991, yang kini memasuki fase paling penting dalam kariernya sebagai heavyweight UFC. Dengan ukuran fisik sekitar 246–247 pound, jangkauan 76 inci, latar latihan di Kops Gym, serta rekor profesional 11-2 yang dibawa dari sirkuit Eropa dan Bellator, ia datang ke UFC dengan bekal yang tidak sedikit. Ia sudah merasakan kerasnya organisasi besar, sudah membangun reputasi sebagai finisher, dan sekarang mendapat panggung untuk membuktikan dirinya di level tertinggi.

Lebih dari sekadar angka, Saricam membawa identitas yang jelas. Ia adalah heavyweight agresif berbasis striking yang percaya pada pukulan keras, tekanan, dan kemungkinan knockout di setiap pertarungan. Dalam dunia kelas berat, identitas seperti itu selalu punya tempat. Dan bila ia mampu menerjemahkan gaya tersebut ke debut UFC yang meyakinkan, bukan tidak mungkin Gokhan Saricam akan segera berubah dari nama baru menjadi ancaman nyata di divisi paling brutal dalam MMA.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget and

Mick Parkin: Petarung Yang Tenang Tapi Mematikan

Jakarta – Di kelas heavyweight, satu kesalahan bisa jadi akhir. Banyak petarung memeluk filosofi “hidup-mati dalam 60 detik”: maju, bertukar, berharap satu pukulan cukup. Mick Parkin justru terasa seperti kebalikan dari stereotip itu. Ia memang punya tenaga untuk merobohkan siapa pun—namun cara ia menata pertarungan sering seperti teknisi pabrik di Inggris Utara: rapi, sabar, dan tidak tergesa-gesa.

Parkin lahir pada 2 Oktober 1995 di Sunderland, Tyne and Wear, Inggris. Ia bertarung di divisi Heavyweight UFC, dengan tinggi sekitar 191–193 cm dan jangkauan 200–201 cm—angka yang membuatnya bisa “menguasai udara” di depan lawan.

Rekor profesionalnya tercatat 10 menang dan 1 kalah, dengan komposisi yang menjelaskan gaya bertarungnya: 6 KO/TKO, 1 submission, 3 keputusan.

Yang membuat Parkin semakin relevan adalah statusnya saat ini: ia berada di peringkat #13 heavyweight UFC. Daftar peringkat resmi UFC menempatkan namanya di posisi tersebut.

Profil singkat

    • Nama: Mick Parkin
    • Asal: Sunderland, Tyne and Wear, Inggris
    • Divisi: Heavyweight UFC
    • Tinggi / reach: ±193 cm / ±201 cm (79 inci)
    • Stance: Orthodox
    • Tim: Team Fish Tank MMA (TFT MMA)
    • BJJ: sabuk cokelat
    • Rekor: 10–1 (6 KO/TKO, 1 SUB, 3 DEC)
    • Peringkat: #13 Heavyweight UFC

Sunderland membentuk karakter: “tenang dulu, kerja dulu”

Sunderland bukan kota yang terkenal melahirkan petarung flamboyan. Banyak atlet dari wilayah Inggris Utara tumbuh dengan budaya “keep it simple”: jangan banyak gaya, fokus kerja. Aura itu menempel pada Parkin. Ia bukan heavyweight yang tampak panik ketika ronde tidak langsung selesai. Ia nyaman memenangi momen-momen kecil: jab yang menahan langkah, kontrol di clinch, lalu memaksa lawan memikul beban tubuhnya.

UFC sendiri pernah menyorot Parkin sebagai petarung yang mengakui dirinya masih “belajar di level dunia”—dan ia menikmatinya. Ini bukan pengakuan kelemahan, tapi pengakuan proses: Parkin adalah proyek heavyweight yang berkembang di depan mata.

Senjata utama: orthodox yang panjang + grappling yang diam-diam berbahaya

Parkin bertarung orthodox. Dengan reach 79 inci, ia punya “tongkat” yang membuat lawan harus melewati pagar sebelum bisa memukul tubuhnya.

Yang menarik: di heavyweight, reach sering identik dengan striker murni. Parkin berbeda. Ia punya sabuk cokelat BJJ, dan itu terasa pada cara ia bertarung: ketika jarak menjadi sempit dan posisi saling menempel, ia tidak terlihat canggung.

Dalam praktiknya, ini membuat Parkin punya dua mode yang sama-sama menyakitkan:

    1. Mode “jarak jauh”
      Jab, satu-dua, low kick secukupnya—cukup untuk membuat lawan ragu maju.
    2. Mode “dekat dan berat”
      Clinch, tekanan badan, kontrol, lalu ground-and-pound atau ancaman kuncian ketika lawan berusaha bangkit.

Heavyweight yang punya dua mode seperti ini sering sulit dibaca, karena lawan tidak bisa fokus pada satu ancaman saja.

Pintu UFC terbuka

Jalur Parkin ke UFC datang dari gerbang paling modern: Dana White’s Contender Series. Di sana, ia mengalahkan Eduardo Neves lewat rear-naked choke pada 1:57 ronde pertama—hasil yang langsung mengunci kontrak UFC.

Kemenangan submission di ronde pertama untuk heavyweight selalu mengirim pesan jelas: Parkin bukan “pukulan doang”. Ia punya kemampuan mengakhiri laga ketika lawan melakukan kesalahan kecil dalam scramble.

Menanjak di UFC

Awal karier UFC Parkin menunjukkan pola petarung yang matang: ia tidak memaksa KO di setiap kesempatan. Ia bersedia menang melalui keputusan—yang sering berarti ia bisa menjaga pace tiga ronde, tetap disiplin, dan tidak kehabisan bensin. Catatan UFCStats memperlihatkan deretan kemenangan sebelum kekalahan pertamanya.

Lalu datang malam yang mengubah narasi: UFC 304 di Manchester. Parkin menghadapi Łukasz Brzeski dan menang KO ronde pertama pada 3:23. Hasil ini tercatat di skor resmi UFC, dan kemenangan itu juga memberinya Performance of the Night.

Yang membuat momen ini penting bukan hanya karena KO—tetapi karena KO itu terjadi di panggung kandang, saat tekanan penonton lokal biasanya membuat petarung tergesa-gesa. Parkin justru terlihat tenang: ia bekerja, menemukan celah, lalu menutup laga.

Pelajaran mahal

Setiap pendakian ranking butuh satu malam yang membuat petarung melihat cermin. Untuk Parkin, malam itu datang saat ia menghadapi Marcin Tybura dan kalah lewat keputusan mutlak pada 22 Maret 2025 di London. Catatan hasilnya muncul di UFCStats, Sherdog, dan sejumlah database pertandingan.

Kekalahan keputusan di heavyweight sering memberi pelajaran yang spesifik:

    • bagaimana mencuri ronde ketika laga ketat,
    • bagaimana menahan lawan veteran yang paham tempo,
    • bagaimana tetap efektif saat lawan tidak takut power.

UFC juga menulis feature yang menggambarkan Parkin “memaksimalkan setiap walk” dan menyorot bagaimana laga vs Tybura menjadi momen penting dalam fase pendewasaan kariernya.

Kenapa Parkin terasa seperti “heavyweight modern” yang berbahaya

Ada beberapa hal yang membuat Parkin menonjol sebagai prospek/penantang heavyweight yang realistis:

1. Ia bisa menang dengan beberapa cara

Rekor 10–1 dengan 6 KO, 1 submission, dan 3 keputusan menunjukkan ia bukan petarung satu dimensi.

2. Reach yang membuat lawan bekerja dua kali

79 inci di heavyweight adalah alat kontrol jarak yang serius—terutama bila dipakai disiplin, bukan hanya untuk pamer jangkauan.

3. Grappling yang tidak “kelihatan” sampai terlambat

Submission kemenangan di DWCS dan status sabuk cokelat BJJ menjelaskan ancaman bawah yang sering diremehkan di heavyweight.

4. Peringkat #13: sudah masuk “zona pertarungan besar”

Di posisi ini, satu kemenangan meyakinkan bisa membawa Parkin bertemu nama Top 10—wilayah di mana titel shot mulai jadi perhitungan.

Langkah berikutnya

Mick Parkin sedang membangun versi heavyweight Inggris yang komplet: panjang, kuat, tapi juga sabar dan punya jalur grappling yang nyata. Ia sudah membuktikan bisa menang lewat keputusan, bisa mengakhiri lewat KO di panggung besar, dan sudah merasakan kekalahan pertama—jenis pengalaman yang sering membuat petarung menjadi lebih berbahaya pada fase berikutnya.

Dan ketika namamu sudah duduk di ranking #13, cerita bukan lagi “apakah dia bisa bertahan di UFC?” Ceritanya berubah jadi: siapa yang cukup berani untuk menguji apakah Parkin bisa menembus Top 10?

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew: Southpaw Sor Takainthong

Jakarta – Di panggung ONE Championship—terutama atmosfer ONE Friday Fights di Lumpinee—banyak petarung tampil seperti kembang api: ledakan cepat, sorak keras, lalu selesai. Tapi ada jenis petarung lain yang justru lebih “kejam” dengan cara yang tidak selalu langsung terlihat: ia tidak meledak, ia mengikis. Ia memenangi ruang sedikit demi sedikit, memenangi jarak setengah langkah demi setengah langkah, memenangi clinch satu detik lebih lama daripada lawan, lalu menutup ronde dengan serangan yang cukup bersih untuk membuat juri tidak ragu.

Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew masuk ke kategori itu.

Lahir pada 17 Mei 2000, kini berusia 25 tahun, Jaruadsuk adalah petarung Muay Thai asal Thailand dengan tinggi 175 cm. Ia bertarung di rentang bantamweight/catchweight (sekitar 61–63 kg / 135–140 lbs) di ONE Championship. Ia berafiliasi dengan Sor Takainthong, dan dikenal sebagai southpaw dengan spesialisasi Muay Thai klasik: tendangan keras, clinch kuat, serta siku presisi—senjata tradisional yang jika dipakai dengan tempo modern, bisa membuat lawan seperti tersedot ke dalam pertarungan yang tidak mereka pilih.

Rekam jejaknya di ONE memperlihatkan pola yang jelas: Jaruadsuk bukan petarung yang mengejar menang cepat setiap saat. Ia petarung yang percaya pada cara paling “bersih” untuk menang: mendominasi ronde demi ronde. Kemenangan keputusan atas nama-nama seperti Sherzod Kabutov dan Amir El Dakkak menjadi contoh bagaimana ia memaksakan ritme, menjaga stamina, dan mengontrol jarak sampai bel terakhir.

Profil Singkat

    • Nama: Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew
    • Tanggal lahir: 17 Mei 2000
    • Usia: 25 tahun
    • Kebangsaan: Thailand
    • Tinggi: 175 cm
    • Divisi: Bantamweight/catchweight (±61–63 kg / 135–140 lbs) di ONE Championship
    • Gym: Sor Takainthong
    • Gaya: Southpaw, Muay Thai klasik (tendangan, clinch, siku)
    • Sorotan hasil: Menang keputusan atas Sherzod Kabutov dan Amir El Dakkak

Sor Takainthong: Sekolah “Muay Thai Rapi” yang Membentuk Identitas

Di Thailand, nama gym sering terasa seperti marga. Ketika seorang petarung membawa nama camp, ia membawa tradisi—cara bergerak, cara memukul, cara mengunci lawan di clinch, bahkan cara mengatur napas saat ronde makin berat. Sor Takainthong dikenal sebagai tempat yang menuntut disiplin teknis: bukan sekadar keras, tapi rapi.

Dan Jaruadsuk tampak sebagai produk dari disiplin itu.

Ia tidak bertarung dengan gaya “sembarangan”. Ia menekan dengan metode. Ia memaksa lawan berjalan di jalur yang ia gambar sendiri—dan jika lawan mencoba keluar jalur, ada dua hal yang biasanya menunggu: tendangan kiri yang menahan langkah, atau clinch yang mengunci pinggang dan leher.

Southpaw: Keuntungan Sudut yang Selalu Mengganggu Lawan

Di Muay Thai, southpaw bukan hanya soal “tangan kiri dominan”. Southpaw adalah matematika sudut.

Banyak petarung orthodox terbiasa melihat serangan datang dari jalur tertentu. Ketika berhadapan dengan southpaw, jalur itu berubah. Tendangan kiri ke badan datang dari sisi yang berbeda, straight kiri masuk melalui celah yang tidak biasa, dan perputaran kaki lawan sering “terbalik” dibanding kebiasaan.

Jaruadsuk memanfaatkan itu dengan cara klasik—bukan dengan gaya eksperimental, melainkan dengan fondasi tradisional:

    • Tendangan kiri untuk mencetak poin dan merusak ritme
    • Kontrol jarak agar lawan selalu berada di ujung serangan
    • Timing masuk clinch saat lawan mulai frustrasi dan memaksa brawl

Southpaw yang disiplin adalah teka-teki yang menyulitkan, karena ia tidak perlu menang dengan drama. Ia cukup membuat lawan kehilangan kenyamanan.

Muay Thai Klasik Versi Jaruadsuk: Tiga Senjata yang Menjadi Tanda Tangan

1. Tendangan keras sebagai “pagar”

Tendangan—terutama ke badan—bukan hanya untuk menyakitkan. Ia adalah pagar. Setiap kali lawan ingin masuk, tendangan memaksa mereka berhenti atau mengubah langkah. Ketika langkah berubah, timing lawan hilang.

Jaruadsuk terlihat mengandalkan tendangan sebagai cara untuk “mengatur halaman” pertarungan: lawan boleh maju, tapi harus membayar.

2. Clinch kuat sebagai alat kontrol

Clinch yang kuat bukan sekadar memeluk. Clinch adalah cara mengontrol kepala, bahu, pinggang, dan posisi kaki lawan. Di ONE Friday Fights yang ritmenya cepat, clinch yang efektif adalah alat untuk:

    • merusak tempo lawan,
    • menguras tenaga,
    • menambah poin lewat lutut,
    • dan memaksa lawan berpikir ulang sebelum masuk lagi.

Untuk petarung southpaw, clinch juga memberi kesempatan menciptakan sudut siku—dan di situlah senjata ketiga masuk.

3. Siku presisi sebagai “hukuman”

Siku yang baik jarang dipakai sembarangan. Siku dipakai saat lawan terlalu berani masuk di garis lurus, atau saat posisi clinch memberi ruang sepersekian detik.

Siku presisi adalah senjata yang tidak selalu menghasilkan KO, tapi selalu menghasilkan efek: luka, keraguan, atau perubahan strategi lawan. Dan begitu lawan mulai ragu, kontrol ronde menjadi lebih mudah.

Seni Menguasai Ronde

Banyak penonton menganggap kemenangan keputusan itu “kurang menarik”. Tapi bagi petarung teknis seperti Jaruadsuk, kemenangan keputusan justru bisa menjadi pernyataan paling kuat: ia bisa mengendalikan pertarungan tanpa harus memaksa finish.

Kemenangan keputusan atas Sherzod Kabutov dan Amir El Dakkak adalah contoh bagaimana petarung Muay Thai klasik bisa sukses di panggung yang sering menuntut aksi cepat. Cara seperti ini biasanya terlihat lewat:

    • mencuri awal ronde dengan tendangan bersih,
    • mengunci tengah ronde dengan clinch,
    • menutup akhir ronde dengan kombinasi yang terlihat jelas di mata juri.

Ini kemenangan yang “diam-diam” tetapi tegas. Lawan merasa bertarung, namun tidak pernah benar-benar memegang kendali.

Stamina dan “Menang di Menit-Menit Kecil”

Jika ada satu aset yang sering tidak terlihat di highlight, itu adalah stamina. Banyak petarung bisa terlihat bagus di satu menit pertama. Tidak banyak yang terlihat bagus di menit terakhir.

Gaya Jaruadsuk cocok untuk pertarungan yang panjang karena ia tidak membakar diri sendiri. Ia bekerja dengan ritme yang stabil. Ia mengulang pola yang sederhana, tapi efektif: tendangan—jarak—clinch—siku—ulang.

Dan di Muay Thai, pola yang diulang dengan disiplin adalah hal yang mematahkan mental lawan. Karena lawan mulai sadar: “Saya sudah coba banyak cara, tapi ia tetap punya jawaban yang sama.”

Kenapa Jaruadsuk Layak Dipantau di ONE

1. Usia ideal untuk “naik kelas”

Di usia 25 tahun, ia berada di fase yang ideal: fisik sudah matang, pengalaman sudah cukup, dan ruang berkembang masih sangat panjang.

2. Southpaw teknis selalu jadi matchup berbahaya

Divisi bantamweight/catchweight ONE penuh petarung agresif dan cepat. Southpaw teknis sering menjadi “pengganggu” yang mematahkan pola agresif itu.

3. Gaya klasik yang cocok untuk evolusi modern

Muay Thai klasik bukan berarti ketinggalan zaman. Jika dipadukan dengan pace modern ONE Friday Fights, gaya klasik justru bisa menjadi senjata yang membuat lawan frustasi—karena ia memaksa pertarungan kembali ke “dasar-dasar”: jarak, clinch, dan timing.

4. Jalur kemenangan yang stabil

Kemenangan keputusan menunjukkan ring IQ. Dalam ekosistem ONE, ring IQ yang stabil sering menjadi fondasi untuk mendapatkan lawan yang lebih besar dan kesempatan yang lebih tinggi.

Petarung yang Menang Seperti Arus—Tenang, Konsisten, dan Tidak Bisa Dihentikan

Jaruadsuk Sor Jor Wichitpadriew bukan petarung yang harus selalu “meledak” untuk menang. Ia menang seperti arus: tenang, konsisten, dan lama-lama membuat lawan tenggelam. Southpaw dari Sor Takainthong ini membawa Muay Thai klasik ke panggung modern ONE—tendangan keras untuk mengunci jarak, clinch kuat untuk menguras, dan siku presisi untuk menghukum.

Jika ia terus menjaga disiplin yang sama—dan menambah sedikit “penegas” agar kemenangan semakin jelas—Jaruadsuk bisa menjadi nama yang makin sulit dihindari dalam peta bantamweight Muay Thai ONE Championship. Karena pada akhirnya, petarung yang paling berbahaya bukan hanya yang bisa KO cepat… tapi yang bisa menang kapan saja, dengan cara apa saja—dan tetap terlihat tenang saat melakukannya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda