Norika Ryu: Grappler Jepang Di ONE Championship

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang menarik perhatian karena pukulan keras, ada yang dikenang karena stamina tanpa henti, dan ada pula yang membuat lawan tidak nyaman karena satu hal yang sangat sulit dihadapi: grappling yang sabar, rapi, dan mematikan. Norika Ryu termasuk dalam kelompok terakhir itu. Ia adalah petarung MMA asal Jepang yang lahir pada 25 Februari 1994, dan dalam beberapa tahun terakhir mulai dikenal sebagai salah satu nama menarik di kelas flyweight ONE Championship. Norika Ryu berasal dari Jepang, memiliki tinggi 162 cm, berusia 31 tahun, dan saat ini berafiliasi dengan Alliance Fight Team.

Perjalanan Norika Ryu di ONE yang paling jelas mulai terlihat pada ONE Friday Fights 83 tanggal 18 Oktober 2024, saat ia menghadapi Mariane Mariano. Profil resmi ONE mencatat bahwa Norika menang lewat unanimous decision setelah tiga ronde penuh. Kemenangan ini sangat penting, karena menjadi fondasi awal dari identitasnya di organisasi: petarung yang mampu menjaga ritme, tetap disiplin, dan memenangkan pertarungan secara bersih tanpa harus memaksakan penyelesaian. Menang keputusan bulat di debut atau fase awal biasanya menjadi tanda bahwa seorang atlet punya dasar permainan yang rapi dan tidak mudah kehilangan bentuk di tengah pertarungan.

Kemenangan atas Mariane Mariano memberi gambaran awal tentang siapa Norika sebenarnya. Ia tidak terlihat seperti petarung yang terburu-buru. Ia justru seperti atlet yang nyaman membiarkan laga berkembang, membaca lawan, lalu memastikan bahwa tiap ronde bergerak ke arah yang ia inginkan. Dalam MMA, itu adalah kualitas yang sering kali lebih sulit dibangun daripada sekadar daya serang. Banyak petarung bisa tampil eksplosif. Tidak semua bisa tampil tenang. Norika tampak memiliki ketenangan itu.

Sesudah fondasi itu terbentuk, Norika mulai menunjukkan wajah lain dari permainannya. Pada ONE Friday Fights 107, ia menghadapi Zemfira Alieva. Profil resmi ONE menulis dengan sangat jelas bahwa Norika menang lewat submission ronde kedua pada 4:53, sementara data untuk laga tersebut juga menegaskan bahwa kemenangan itu membuat rekornya naik menjadi 4-0 pada saat itu. Kemenangan ini sangat penting, karena memperlihatkan bahwa Norika bukan hanya petarung yang bisa menang angka, tetapi juga sangat berbahaya ketika pertarungan mulai mengarah ke wilayah bawah.

Submission atas Zemfira Alieva memberi warna kuat pada profil Norika Ryu. Ia seperti memberi pesan kepada lawan-lawannya bahwa bila mereka terlalu nyaman masuk ke pertukaran grappling, ia punya kemampuan untuk mengubah itu menjadi akhir pertarungan. Menang submission di ronde kedua juga menunjukkan kualitas lain: ia tidak hanya berbahaya di awal laga, tetapi bisa tetap sabar, menunggu momen, lalu mengeksekusi penyelesaian saat kesempatan datang. Untuk seorang grappler, ini adalah ciri yang sangat penting.

Langkah berikutnya datang pada ONE Friday Fights 132 tanggal 7 November 2025, saat Norika menghadapi Adele Niebel. Sekali lagi, hasil resminya sangat sesuai dengan identitasnya: kemenangan lewat submission armbar ronde pertama pada 2:09. Profil ONE mencatatnya dengan jelas, dan halaman profil Adele Niebel di ONE juga mengonfirmasi bahwa ia kalah submission dari Norika pada ronde pertama. Kemenangan seperti ini memperlihatkan betapa efektifnya permainan bawah Norika. Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenali celah, mengambil posisi, lalu memaksakan penyelesaian.

Kalau ditarik sebagai satu rangkaian, tiga kemenangan resmi Norika di ONE membentuk narasi yang sangat menarik. Ia memulai dengan kemenangan keputusan bulat, lalu berlanjut dengan dua kemenangan submission beruntun. Itu berarti grafik kariernya di organisasi justru bergerak ke arah yang semakin berbahaya. Ia bukan hanya terus menang, tetapi juga makin tegas dalam cara menutup pertarungan. Dari sudut pandang perkembangan atlet, pola seperti ini sangat sehat. Ia menunjukkan bahwa seorang petarung mulai menemukan rasa percaya diri dan identitas yang lebih kuat di panggung besar.

Yang juga patut diperhatikan adalah fakta bahwa data publik di luar ONE menempatkan Norika dengan rekor profesional 5-0-0 dan bahkan current streak 6 wins pada data yang lain. Itu berarti, di luar tiga kemenangan resminya yang sangat jelas di ONE, ada fase karier sebelumnya yang juga berjalan mulus. Beberapa jejak di sumber lain menunjukkan ia pernah bertarung di Shooto, termasuk kemenangan atas Momoka Hoshuyama pada 2021 dan Haruka Hasegawa pada 2022. Walau detail penuh seluruh jalur karier sebelum ONE tidak saya uraikan semua di sini, hal itu cukup untuk menegaskan bahwa Norika bukan petarung yang datang tanpa fondasi. Ia sudah membawa kebiasaan menang bahkan sebelum masuk ke ekosistem ONE.

Dari sisi teknik, identitas Norika Ryu terasa cukup jelas. Ia adalah grappler yang sangat nyaman memburu submission, terutama bila lawan memberinya ruang sedikit saja. Namun kemenangan unanimous decision atas Mariane Mariano menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya bergantung pada penyelesaian cepat. Ia juga bisa membangun kemenangan lewat kontrol dan disiplin selama tiga ronde. Kombinasi ini membuatnya sangat menarik sebagai petarung flyweight. Ia punya satu kekuatan utama yang tajam, tetapi juga cukup tenang untuk menang dengan cara yang lebih metodis bila dibutuhkan.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Norika Ryu belum memegang sabuk atau status bintang utama di ONE. Namun fondasi yang ia bangun sudah sangat layak diperhatikan. Ia masih tak terkalahkan, punya 3 kemenangan resmi di ONE, dengan 2 submission dan 1 keputusan bulat, serta menunjukkan pola perkembangan yang sangat positif. Untuk petarung flyweight wanita, kombinasi seperti ini sangat bernilai. Ia bukan hanya menang, tetapi menang dengan identitas yang jelas.

Pada akhirnya, Norika Ryu adalah kisah tentang petarung Jepang yang membangun jalannya dengan cara yang tenang tetapi sangat efektif. Ia lahir pada 25 Februari 1994, datang ke ONE sebagai petarung flyweight dengan dasar grappling yang kuat, lalu mulai menunjukkan bahwa submission bisa menjadi bahasa paling berbahaya dalam kariernya. Ia mungkin belum menjadi nama paling besar di divisinya, tetapi semua tanda awal menunjukkan bahwa ia bukan sekadar penambah jumlah roster. Ia adalah petarung yang benar-benar tahu apa yang ingin ia lakukan ketika masuk ke ring. Dan dalam MMA, petarung seperti itu selalu layak untuk terus diikuti.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Yuan Pengjie: Petarung Tiongkok Di ONE Championship

Jakarta – Dalam dunia olahraga tarung, ada petarung yang datang dengan nama besar sejak awal, tetapi ada juga yang tumbuh pelan-pelan, lalu tiba-tiba membuat banyak orang berhenti dan menoleh. Yuan Pengjie termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia datang ke panggung ONE bukan sebagai petarung grappling atau MMA campuran, melainkan sebagai striker murni dari jalur kickboxing. Artikel resmi ONE menjelang debutnya menulis bahwa Yuan membawa rekor karier 38 kemenangan dan 4 kekalahan ke organisasi tersebut, sebuah angka yang langsung menunjukkan bahwa ia bukan atlet mentah. Ia datang sebagai petarung yang sudah terbiasa menang, sudah punya jam terbang, dan cukup matang untuk langsung diuji di panggung internasional.

Yang membuat profil Yuan Pengjie terasa kuat adalah cara ia dibentuk oleh pengalaman, bukan oleh promosi berlebihan. Ia adalah petarung asal China yang lahir pada 26 September 2002, dan menempatkannya di kelas bantamweight/flyweight kickboxing, bukan MMA. Artinya, identitas utamanya sangat jelas: ia adalah petarung striking yang hidup dari tempo, sudut serangan, dan kemampuan mengontrol pertukaran di atas kaki. Dalam olahraga seperti kickboxing, fondasi seperti ini sangat penting, karena tidak ada ruang untuk menyembunyikan kelemahan di matras atau transisi grappling. Semuanya ditentukan oleh kejelasan teknik dan keberanian berdiri di depan lawan.

Salah satu momen yang mulai memperkenalkan namanya ke radar penggemar ONE datang ketika organisasi itu mengumumkan duel melawan Lamnamoonlek Torfunfarm pada ONE Friday Fights 148 & The Inner Circle tanggal 27 Maret 2026. Halaman resmi event ONE menempatkan laga ini sebagai flyweight kickboxing, sementara artikel promosi satu hari sebelumnya menulis bahwa Lamnamoonlek sedang mempelajari Yuan dengan serius karena petarung Tiongkok itu datang dengan rekor 38-4 dan dianggap sebagai ujian dunia nyata untuk melihat apakah perkembangan kickboxing Lamnamoonlek memang sahih atau tidak. Fakta bahwa lawannya sendiri memandang Yuan sebagai ancaman yang nyata sudah cukup untuk menunjukkan kualitasnya.

Dan ketika pertarungan itu benar-benar terjadi, Yuan Pengjie membuat pernyataan yang sangat besar. Profil resmi Lamnamoonlek di ONE kini mencatat hasil laga tersebut sebagai kekalahan unanimous decision dari Yuan Pengjie di ONE Friday Fights 148 & The Inner Circle. Sebuah forum dan listing event yang muncul di hasil pencarian juga sama-sama menyebut bahwa Yuan Pengjie mengalahkan Lamnamoonlek lewat unanimous decision dalam duel kickboxing 135 lbs/flyweight tersebut. Kemenangan ini sangat penting, karena Lamnamoonlek bukan nama biasa. Mengalahkan petarung Thailand yang mapan di arena ONE, apalagi lewat keputusan bulat, langsung memberi sinyal bahwa Yuan bukan sekadar pendatang baru yang numpang lewat.

Kemenangan atas Lamnamoonlek terasa seperti titik ledak dalam kisah Yuan Pengjie. Ia tidak hanya menang, tetapi menang dengan cara yang memperlihatkan kematangan. Menang lewat unanimous decision berarti ia cukup konsisten selama tiga ronde, cukup rapi untuk meyakinkan semua juri, dan cukup kuat secara mental untuk tidak goyah melawan lawan yang punya nama besar serta pengalaman tinggi di panggung ONE. Dalam kickboxing, kemenangan seperti ini sering lebih berbobot daripada KO cepat, karena menunjukkan bahwa seorang petarung benar-benar mampu mengelola pertarungan dari awal sampai akhir.

Menariknya, kemenangan itu juga langsung mengubah arah narasinya di ONE. Tak lama sesudahnya, ONE merilis artikel resmi terbaru yang mengumumkan bahwa Jaosuayai Mor Krungthepthonburi akan menghadapi Yuan Pengjie dalam laga flyweight kickboxing pada 5 Juni 2026 di The Inner Circle. Artikel itu menegaskan bahwa Jaosuayai kini memulai bab baru di kickboxing dengan melawan Yuan, sementara feature lain dari ONE menyebut duel ini sebagai salah satu alasan paling eksplosif untuk menyaksikan acara tersebut. Artinya, setelah satu kemenangan besar, Yuan langsung naik menjadi lawan yang relevan untuk nama besar berikutnya. Itu bukan sesuatu yang diberikan kepada atlet sembarangan.

Di sinilah daya tarik Yuan Pengjie terasa semakin kuat. Ia bukan petarung yang masuk ONE dengan banyak gembar-gembor, lalu tenggelam setelah satu penampilan. Sebaliknya, ia langsung menciptakan kemenangan yang cukup besar untuk memaksa organisasi membangun cerita berikutnya di sekeliling namanya. Ini adalah tanda penting bagi petarung muda. Banyak atlet mampu debut bagus. Tidak banyak yang setelah itu langsung ditempatkan dalam narasi melawan nama-nama Thailand yang punya reputasi besar. Yuan sudah mulai berada di jalur itu.

Aspek lain yang menarik adalah soal afiliasinya. Ini penting, karena Sitsongpeenong adalah nama gym yang memiliki reputasi besar dalam dunia striking Thailand dan internasional. Bila seorang petarung Tiongkok muda seperti Yuan kini tercatat di sana, itu memberi konteks bahwa perkembangannya berada dalam lingkungan latihan yang sangat serius dan kompetitif. Dalam dunia kickboxing dan Muay Thai, kualitas gym sangat menentukan, dan hal ini menambah bobot pada potensinya ke depan.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Yuan Pengjie belum memegang sabuk ONE atau status superstar besar. Namun fondasinya sudah sangat kuat. Ia datang dengan rekor karier 38-4 menurut artikel resmi ONE sebelum debut, mengalahkan Lamnamoonlek pada debutnya di panggung ONE, lalu langsung dipasangkan dengan Jaosuayai untuk laga berikutnya. Untuk petarung berusia 23 tahun, ini adalah perkembangan yang sangat cepat dan sangat menjanjikan. Ia belum sampai puncak, tetapi semua tanda menunjukkan bahwa ia sudah bergerak ke arah yang sangat serius.

Pada akhirnya, Yuan Pengjie adalah kisah tentang petarung muda Tiongkok yang datang ke ONE Championship bukan untuk belajar perlahan, tetapi untuk langsung membuktikan bahwa ia layak berada di sana. Ia lahir pada 26 September 2002, berasal dari Tiongkok, bertinggi 172 cm, berafiliasi dengan Sitsongpeenong, dan membangun identitasnya sebagai petarung kickboxing yang matang, disiplin, dan sanggup mengejutkan nama besar. Data awal yang Anda berikan memang perlu dikoreksi cukup banyak, tetapi setelah diperjelas, ceritanya justru menjadi lebih kuat: Yuan Pengjie bukan sekadar prospek biasa, melainkan petarung yang sedang membuka jalannya sendiri di panggung striking terbesar Asia.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Alex Pereira Sang “Poatan” Dari Brasil

Jakarta – Alex Sandro Silva Pereira, atau yang dikenal dengan julukan Poatan, adalah petarung MMA asal Brasil yang lahir pada 7 Juli 1987 di São Bernardo do Campo, São Paulo. Ia berkompetisi di UFC dan dikenal sebagai mantan juara dua divisi, Middleweight dan Light Heavyweight. Poatan memiliki rekor profesional 13 kemenangan dan 3 kekalahan, dengan mayoritas kemenangan diraih lewat KO/TKO berkat latar belakang kickboxing yang kuat.

Sebelum meniti karier sebagai petarung profesional, Pereira bekerja sebagai tukang ban di Brasil. Kehidupan keras dan kebiasaan buruk seperti kecanduan alkohol sempat membayangi masa mudanya. Namun pada tahun 2009, ia memutuskan untuk mengubah jalan hidup dengan mulai berlatih kickboxing. Keputusan ini bukan hanya untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga sebagai cara untuk keluar dari lingkaran kebiasaan buruk. Dari sinilah kariernya mulai berkembang pesat.

Pereira kemudian menorehkan prestasi besar di dunia kickboxing, termasuk menjadi juara dunia di Glory Kickboxing pada kelas Middleweight dan Light Heavyweight. Dominasi dan gaya bertarung agresifnya membuat UFC tertarik merekrutnya, dan pada tahun 2021 ia resmi bergabung. Debutnya di UFC langsung mencuri perhatian dengan kemenangan atas Andreas Michailidis, lalu berlanjut dengan kemenangan spektakuler atas Sean Strickland yang membuka jalan menuju perebutan sabuk.

Foto: youtube.com

Puncak kariernya datang pada November 2022 ketika ia merebut gelar Middleweight dengan menaklukkan Israel Adesanya lewat TKO ronde kelima di UFC 281. Meski kehilangan sabuk tersebut dalam laga ulang di UFC 287, Pereira bangkit dengan naik ke divisi Light Heavyweight. Pada November 2023, ia merebut sabuk dengan mengalahkan Jiří Procházka, kemudian mempertahankannya dengan kemenangan atas Jamahal Hill dan Procházka lagi. Ia juga menjalani duel sengit melawan Magomed Ankalaev pada 2025.

Kini, Alex Pereira dijadwalkan kembali bertarung pada 14 Juni 2026 melawan Ciryl Gane di ajang UFC White House – Freedom 250: Topuria vs. Gaethje yang digelar di Washington. Pertarungan ini akan menjadi laga perebutan gelar di divisi Light Heavyweight dan menjadi ujian besar berikutnya bagi Poatan.

Dengan gaya kickboxing agresif, kombinasi tinju yang tajam, serta persentase KO yang tinggi, Pereira dianggap sebagai salah satu pemukul paling berbahaya di UFC modern. Dari pekerja tukang ban hingga menjadi juara dua divisi UFC, kisah hidup Poatan adalah contoh nyata bagaimana tekad dan disiplin bisa mengubah nasib seseorang.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Ciryl Gane: Perjalanan “Bon Gamin” Di UFC

Jakarta – Ciryl Romain Jacky Gane adalah sosok yang mendefinisikan ulang gaya bertarung di divisi Kelas Berat Ultimate Fighting Championship (UFC). Lahir pada 12 April 1990 di La Roche-sur-Yon, Prancis, Gane membuktikan bahwa seni bela diri campuran (MMA) di kelas berat tidak melulu soal kekuatan dan agresi mentah. Dengan julukan “Bon Gamin”—yang berarti “anak baik”—Gane membawa pendekatan teknis, elegan, dan cerdas ke dalam oktagon, menciptakan gaya bertarung yang unik dan sangat memikat.

Namun, perjalanan Gane menuju kejayaan tidak terjadi dalam semalam. Dengan latar belakang sebagai petarung Muay Thai, ia memulai karir profesionalnya di MMA lebih lambat dibandingkan banyak atlet lainnya. Meskipun demikian, dedikasi, kerja keras, dan kemampuannya untuk beradaptasi membawa Gane ke puncak olahraga ini, menjadikannya salah satu bintang terbesar dalam divisi kelas berat UFC.

Tumbuh di La Roche-sur-Yon

Ciryl Gane tumbuh di La Roche-sur-Yon, sebuah kota kecil di wilayah barat Prancis. Ayahnya, Romain Gane, adalah mantan pemain sepak bola profesional yang bermain untuk klub lokal. Lingkungan ini memberikan Gane pengaruh awal pada dunia olahraga, tetapi ia tidak segera menemukan jalannya di seni bela diri. Sebagai remaja, Gane lebih tertarik pada bola basket, olahraga yang memanfaatkan tinggi badannya yang menjulang hingga 195 cm.

Namun, kecintaannya pada olahraga terus berkembang, dan saat ia mulai bekerja di sebuah perusahaan penjualan furnitur di usia 20-an, ia diperkenalkan kepada seni bela diri, khususnya Muay Thai. Meski memulai di usia yang relatif terlambat untuk seorang atlet profesional, Gane dengan cepat menunjukkan bakat alaminya. Pelatih dan rekan-rekannya segera menyadari bahwa ia memiliki kombinasi fisik dan mental yang sangat jarang ditemukan.

Awal Dominasi di Ring

Ciryl Gane memulai debut profesionalnya di Muay Thai pada tahun 2016. Dalam waktu singkat, ia membangun reputasi sebagai salah satu petarung paling menjanjikan di Prancis. Berkat fisiknya yang impresif, gerakannya yang lincah, dan kemampuannya membaca lawan, ia berhasil mencatatkan rekor sempurna 7-0 (tujuh kemenangan tanpa kekalahan). Semua kemenangan ini diraih dengan gaya dominan, sebagian besar melalui KO atau TKO.

Gane tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga keahliannya dalam menyerang secara strategis. Tendangan rendahnya yang presisi, pukulan kombinasi, dan kemampuan bertahan membuatnya menjadi mimpi buruk bagi lawan-lawannya. Gaya bertarungnya yang mengutamakan teknik, efisiensi, dan kecepatan segera menarik perhatian dunia seni bela diri campuran.

Awal Baru dalam Oktagon

Pada tahun 2018, Gane membuat keputusan besar untuk beralih ke seni bela diri campuran (MMA). Dengan bimbingan pelatihnya, Fernand Lopez, yang juga dikenal sebagai mentor dari mantan juara kelas berat UFC Francis Ngannou, Gane memulai debutnya di MMA dengan penuh semangat dan ambisi.

Debut Profesional di TKO MMA

Debut Gane di MMA terjadi di organisasi TKO MMA di Kanada, di mana ia langsung tampil memukau. Dalam pertarungan pertamanya, ia tidak hanya menang, tetapi juga merebut TKO Heavyweight Championship melalui kemenangan submission dengan kuncian front choke di ronde pertama. Ini membuktikan bahwa Gane tidak hanya menguasai striking, tetapi juga mampu bertarung dengan efektif di ground.

Gane mempertahankan gelarnya sebanyak dua kali di TKO MMA sebelum akhirnya dipanggil untuk bergabung dengan UFC. Dengan rekor sempurna 3-0, ia membawa momentum besar ke panggung terbesar MMA.

Meninggalkan Jejak di Divisi Kelas Berat

Ciryl Gane bergabung dengan Ultimate Fighting Championship (UFC) pada tahun 2019, dan sejak itu, ia telah menjadi salah satu petarung yang paling dominan di divisi kelas berat. Dengan gaya bertarung yang tidak biasa untuk ukuran petarung kelas berat, Gane langsung menarik perhatian penggemar dan analis MMA di seluruh dunia.

Debut di UFC

Dalam debutnya di UFC pada Agustus 2019, Gane menghadapi Raphael Pessoa di UFC Fight Night 156. Gane memanfaatkan keahliannya di grappling untuk memenangkan pertarungan melalui submission (arm-triangle choke) di ronde pertama. Kemenangan ini menunjukkan kemampuannya untuk menjadi petarung serba bisa, sesuatu yang jarang terlihat di divisi kelas berat.

Kemenangan Penting di UFC

Sejak debutnya, Gane telah mencatatkan kemenangan melawan beberapa nama besar di divisi kelas berat, termasuk:

    • Junior dos Santos: Mantan juara UFC yang dikalahkan Gane melalui TKO di ronde kedua.
    • Alexander Volkov: Dalam pertarungan lima ronde, Gane menunjukkan ketenangan dan kecerdasannya dengan mendominasi Volkov melalui keputusan mutlak.
    • Jairzinho Rozenstruik: Gane mendominasi striker eksplosif ini dengan permainan yang cerdas dan taktis.

Juara Interim Kelas Berat UFC

Pada 7 Agustus 2021, Gane menghadapi Derrick Lewis untuk gelar interim kelas berat UFC di UFC 265. Dalam pertarungan ini, Gane mendemonstrasikan keterampilan striking-nya yang elegan, memenangkan pertandingan melalui TKO di ronde ketiga. Dengan kemenangan ini, Gane menjadi petarung asal Prancis pertama yang memenangkan gelar di UFC.

Setelah itu, Gane menghadapi Francis Ngannou pada Januari 2022 di UFC 270 untuk gelar juara tak terbantahkan, tetapi kalah lewat keputusan bulat.

Elegan, Teknis, dan Efisien

Ciryl Gane adalah contoh unik di divisi kelas berat. Gaya bertarungnya menggabungkan elemen-elemen seni bela diri yang halus dengan efisiensi luar biasa. Berikut adalah elemen utama dari gayanya:

    1. Mobilitas dan Kecepatan
      Gane dikenal karena kemampuannya bergerak dengan lincah di sekitar oktagon. Untuk seorang petarung kelas berat, ia menunjukkan fleksibilitas dan kecepatan yang biasanya ditemukan di divisi yang lebih ringan.
    2. Teknik Striking yang Presisi
      Sebagai mantan petarung Muay Thai, Gane memiliki striking yang sangat teknis. Kombinasi pukulan, tendangan, dan serangan lututnya selalu dieksekusi dengan presisi tinggi.
    3. Kemampuan Grappling yang Kuat
      Meskipun striking adalah kekuatannya, Gane telah menunjukkan bahwa ia juga nyaman bertarung di ground, dengan beberapa kemenangan submission yang membuktikan keahliannya di grappling.
    4. Mentalitas Tenang
      Salah satu ciri khas Gane adalah ketenangannya di oktagon. Ia mampu membaca situasi dengan baik, mengontrol tempo pertarungan, dan menghindari kesalahan fatal.

Julukan “Bon Gamin”

Julukan “Bon Gamin” mencerminkan karakter Ciryl Gane di dalam dan luar oktagon. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, ramah, dan penuh profesionalisme. Julukan ini juga mencerminkan pendekatannya dalam bertarung: seorang “anak baik” yang mampu berubah menjadi petarung mematikan di dalam oktagon.

Penghargaan dan Prestasi

    • Juara Interim Kelas Berat UFC (2021)
    • Juara Kelas Berat TKO MMA (2018-2019)
    • Performance of the Night di UFC.
    • Rekor terbaru Cyril Gane per Mei 2026 adalah 13 kemenangan, 2 kekalahan, dan 1 no contest.

Masa Depan Ciryl Gane di UFC

Sebagai salah satu petarung kelas berat terbaik di UFC, masa depan Ciryl Gane terlihat cerah. Dengan usia yang masih produktif dan keahliannya yang terus berkembang, Gane memiliki potensi besar untuk menjadi juara kelas berat yang tak terbantahkan.

Gane juga membawa harapan besar bagi komunitas MMA di Prancis, yang terus berkembang pesat. Dengan kombinasi kerja keras, dedikasi, dan dukungan penggemar, Ciryl Gane siap mencetak sejarah lebih besar di UFC.

(PR/timKB).

Sumber foto: youtube

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Perjalanan Anuar Cisneros Dari Meksiko Ke ONE Friday Fights

Jakarta – Di dunia striking internasional, ada petarung yang lahir dari tradisi kuat Thailand, Jepang, atau Eropa. Namun sesekali, muncul nama dari tempat yang tidak selalu menjadi pusat sorotan, lalu memaksa publik menoleh karena keberanian, gaya bertarung, dan kemauan untuk menantang siapa pun. Anuar Cisneros adalah salah satu nama itu. Ia datang dari Meksiko, membawa identitas petarung ortodoks yang berfokus pada striking, lalu menapaki panggung ONE Championship dengan cara yang keras, cepat, dan penuh risiko. Anuar Cisneros sebagai atlet dari Meksiko dengan rangkaian hasil di ONE berupa kemenangan atas Walid Sakhraji dan Shun Shiraishi, serta kekalahan dari Khundet PK Saenchai.

Cisneros memang tampil sebagai petarung striking dengan orientasi Muay Thai yang kuat. Ia bertarung di batas 135 lbs / 61,2 kg pada beberapa laga yang tercatat di sebuah sumber, yang sesuai dengan konteks bantamweight ONE. Profil resmi ONE menempatkannya sebagai petarung dari Meksiko, sementara sumber lain menulis ia lahir di Meksiko dan bertarung dari Thailand, sebuah detail yang menarik karena menunjukkan bahwa jalur kariernya juga melewati lingkungan latihan Asia Tenggara yang sangat dekat dengan tradisi Muay Thai.

Salah satu bab penting dalam kisahnya dimulai pada ONE Friday Fights 133 tanggal 14 November 2025, ketika Anuar menghadapi Walid Sakhraji. Sebuah sumber mencatat laga itu berlangsung di 135 lbs (61,2 kg) dan berakhir dengan kemenangan unanimous decision untuk Cisneros. Kemenangan ini penting karena memperlihatkan sisi yang lebih tenang dari dirinya. Ia tidak menang lewat ledakan sesaat, tetapi lewat kontrol pertarungan selama tiga ronde penuh. Untuk petarung yang ingin dikenal sebagai striker, kemenangan seperti ini menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pemburu knockout, melainkan atlet yang juga mampu menjaga ritme dan disiplin sepanjang laga.

Kemenangan atas Walid Sakhraji menjadi fondasi awal yang berarti. Dalam banyak kasus, petarung muda atau pendatang baru di ONE Friday Fights sering berusaha terlalu keras untuk langsung tampil spektakuler. Cisneros justru memperlihatkan pendekatan yang lebih matang. Ia mampu menyelesaikan tiga ronde, memenangi keputusan juri, dan membangun kepercayaan diri dengan cara yang bersih. Itu penting, karena kemenangan pertama yang rapi sering kali menjadi dasar mental untuk laga-laga yang lebih berat sesudahnya.

Lalu datang momen yang benar-benar membuat namanya lebih mudah diingat. Pada ONE Friday Fights 138 tanggal 16 Januari 2026, Anuar Cisneros menghadapi petarung Jepang Shun Shiraishi dalam laga kickboxing flyweight/bantamweight ringan 135 lbs. Hasilnya tegas: Cisneros menang lewat TKO ronde kedua pada 0:42. Ini adalah kemenangan yang sangat penting, karena memperlihatkan sisi paling berbahaya dari dirinya: ketika peluang terbuka, ia mampu menutup laga dengan cepat dan tanpa banyak keraguan.

Kemenangan atas Shun Shiraishi memberi warna yang jauh lebih kuat pada identitas Anuar Cisneros. Ia tidak lagi hanya terlihat sebagai petarung yang bisa menang angka, tetapi juga petarung yang punya daya rusak nyata. Menang TKO di panggung ONE Friday Fights memberi dampak psikologis besar, bukan hanya untuk lawan-lawan berikutnya, tetapi juga untuk penonton dan promotor. Dari sana, Cisneros mulai tampak seperti petarung yang layak dipantau lebih serius, terutama karena ia datang dari Meksiko, negara yang tidak selalu menjadi pusat utama Muay Thai dunia.

Namun, seperti banyak kisah petarung lainnya, perjalanan Anuar tidak berjalan lurus terlalu lama. Pada ONE Friday Fights 148 akhir Maret 2026, ia berhadapan dengan Khundet PK Saenchai. Kali ini, hasilnya berbalik. Sumber data lain dan profil resmi ONE menampilkan bahwa Khundet menang lewat unanimous decision, sementara halaman profil Khundet juga mencatat kemenangan itu secara jelas. Kekalahan ini penting karena menunjukkan bahwa setelah naik momentum lewat dua kemenangan, Cisneros kembali diingatkan tentang kerasnya kompetisi di level ONE.

Kekalahan dari Khundet bukan sekadar angka tambahan di kolom kalah. Ia adalah bagian penting dari pembentukan. Dalam olahraga seperti Muay Thai dan kickboxing, kekalahan keputusan juri sering berbicara tentang detail: siapa yang lebih efisien, siapa yang lebih bersih, siapa yang lebih konsisten memegang ronde. Bagi petarung seperti Anuar Cisneros, yang tampak dibangun dari agresi dan keberanian, duel seperti ini memberi pelajaran penting tentang manajemen tempo dan kematangan taktis. Ia masih muda, dan justru kekalahan seperti inilah yang sering membentuk petarung menjadi versi yang lebih lengkap.

Dari sisi gaya, deskripsi tentang Anuar sebagai petarung ortodoks dengan fokus striking terasa sangat tepat. Meski profil resmi ONE tidak merinci seluruh tekniknya dalam paragraf panjang, seluruh jejak laganya menunjukkan bahwa ia hidup sepenuhnya di wilayah striking. Ia menang dan kalah dalam duel berdiri, baik dalam aturan Muay Thai maupun kickboxing. Ini membuatnya mudah dikenali: ia adalah petarung yang datang untuk bertukar, untuk menekan, dan untuk mencari celah melalui pukulan serta serangan kaki yang rapi.

Ada pula sisi menarik dari identitas geografis dan jalur latihannya. Sumber lain menulis bahwa ia lahir di Meksiko tetapi bertarung dari Thailand, sementara salah satu jejak lain di hasil pencarian juga menyinggung bahwa awal karier profesionalnya berkaitan dengan promosi Muay Thai/MMA di Meksiko seperti Budo Sento. Ini memberi gambaran bahwa Cisneros bukan petarung yang tumbuh hanya di satu dunia. Ia membawa akar Meksiko, tetapi menempuh pembentukan dalam lingkungan yang sangat dekat dengan striking Asia Tenggara. Kombinasi ini membuat kisahnya terasa unik.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Anuar Cisneros belum memiliki gelar besar di ONE. Namun fondasinya sudah cukup menarik untuk dihargai. Ia sudah mencatat kemenangan resmi lewat unanimous decision dan TKO, tampil di ONE Friday Fights, dan menghadapi lawan-lawan dari Maroko, Jepang, dan Thailand dalam rentang waktu yang relatif singkat. Untuk petarung dari Meksiko yang sedang meniti nama di panggung striking internasional, itu adalah awal yang sangat berarti.

Pada akhirnya, Anuar Cisneros adalah kisah tentang petarung Meksiko yang sedang membangun dirinya lewat jalan yang nyata. Ia datang dengan gaya ortodoks, fokus pada striking, dan keberanian untuk melawan siapa saja di panggung ONE. Rekornya kini tidak lagi 2-1, tetapi 2-2 menurut data resmi terbaru. Namun justru di situlah ceritanya menjadi lebih hidup. Ia sudah menang, sudah kalah, sudah merasakan TKO spektakuler, dan juga keputusan juri yang pahit. Dalam olahraga seperti Muay Thai, petarung yang melewati fase-fase seperti itu sering kali menjadi jauh lebih menarik untuk diikuti, karena kisah terbaik mereka biasanya belum selesai ditulis.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Aiemann Zahabi: Menembus Bayang-Bayang Sang Kakak

Jakarta – Dalam dunia olahraga, terkadang nama belakang bisa menjadi beban. Terlahir sebagai adik dari seorang pelatih MMA legendaris seperti Firas Zahabi, bukan hal yang mudah bagi Aiemann Zahabi. Namun alih-alih bersembunyi di balik reputasi keluarganya, Aiemann memilih jalan sunyi dan panjang: membangun warisannya sendiri, dengan darah, keringat, dan ketekunan di atas kanvas oktagon.

Lahir pada 19 November 1987 di Laval, Quebec, Kanada, Aiemann tumbuh dalam keluarga imigran keturunan Lebanon, yang menjunjung tinggi nilai keluarga, kehormatan, dan kerja keras. Dibesarkan di lingkungan yang penuh kedisiplinan spiritual dan fisik, Aiemann tumbuh sebagai pribadi yang tenang, tertutup, namun menyimpan bara api ambisi di dalam dirinya.

Anak Rumahan yang Tersentuh Seni Bela Diri

Aiemann bukan anak yang langsung terjun ke seni bela diri. Meskipun melihat sang kakak Firas melatih petarung-petarung hebat, termasuk Georges St-Pierre, ia justru tumbuh sebagai pemuda pemalu. Ia belajar dari pinggir matras—memperhatikan, menyerap, tanpa banyak bicara.

Namun seiring waktu, hasrat bertarung mulai tumbuh. Bukan karena tekanan keluarga, tapi karena kecintaannya terhadap seni bertarung itu sendiri. Ia mulai berlatih dengan diam-diam, menyempurnakan teknik, memahami filosofi pertarungan yang tak hanya soal kekuatan, tapi tentang logika, kepekaan, dan kendali diri.

Langkah Awal dalam Dunia Profesional

Pada awal 2010-an, Aiemann mulai turun ke kompetisi profesional. Dengan membela Tristar Gym di bawah bimbingan sang kakak dan pelatih elite lainnya, ia menunjukkan bahwa ia bukan hanya “adik dari Firas Zahabi”—ia adalah petarung dengan kemampuan dan karakter sendiri.

Karier profesionalnya dimulai dengan mulus. Ia mencatat beberapa kemenangan meyakinkan di sirkuit MMA Kanada dan Amerika Utara, terutama karena kombinasi:

    • Striking yang presisi, hasil latihan bertahun-tahun.
    • Grappling dan BJJ kompetitif, dengan ketenangan di posisi sulit.
    • IQ bertarung tinggi, khas lulusan Tristar Gym.

Panggung Dunia, Tekanan Dunia

Pada tahun 2017, Aiemann akhirnya menembus UFC. Ia debut melawan Reginaldo Vieira, petarung asal Brasil yang juga jebolan The Ultimate Fighter. Dalam pertandingan itu, Zahabi menunjukkan ketenangan luar biasa—tidak gugup, tidak ceroboh. Ia bertarung seperti seorang veteran dan menang melalui keputusan bulat.

Namun jalannya tidak selalu mulus. Beberapa laga selanjutnya menjadi ujian keras. Ia mengalami kekalahan KO dari Ricardo Ramos, yang menjadi titik evaluasi besar dalam kariernya. Bukannya menyerah, Aiemann justru memilih kembali ke dasar. Ia menghilang dari sorotan media dan fokus membangun kembali dirinya—secara fisik, mental, dan spiritual.

Reinkarnasi Seorang Petarung

Kembalinya Aiemann ke UFC setelah masa vakum disambut dengan keraguan oleh sebagian orang. Tapi ia membungkam kritik dengan kemenangan spektakuler KO ronde pertama atas Ricky Turcios—salah satu penampilan terbaik dalam kariernya, yang menunjukkan bahwa ia kini lebih matang, lebih tajam, dan lebih percaya diri.

Dalam laga itu, Aiemann tak hanya menang. Ia menunjukkan evolusi sebagai petarung: lebih agresif tanpa kehilangan kontrol, dan lebih tajam dalam membaca pergerakan lawan. Komentator menyebutnya sebagai “versi terbaik dari dirinya sejauh ini.”

Kesabaran, Efisiensi, dan Kalkulasi Tajam

Aiemann Zahabi bukan petarung yang mengandalkan kekuatan mentah atau showmanship. Ia bertarung seperti seorang ilmuwan:

    • Menjaga jarak dengan cermat.
    • Menggunakan feint dan footwork untuk membuka celah.
    • Memilih serangan dengan kalkulasi tinggi.
    • Menghindari risiko yang tidak perlu, tapi selalu siap mengeksekusi.

Dengan latar belakang Brazilian Jiu-Jitsu, ia juga sangat berbahaya di bawah. Namun yang membuatnya unik adalah ketenangan dan kecermatan—ia bertarung dengan kepala dingin, bahkan dalam tekanan.

Pribadi Sederhana, Fokus, dan Religius

Di luar ring, Aiemann Zahabi jauh dari sorotan sensasional. Ia adalah pribadi relijius, pendiam, dan fokus pada keluarga. Tidak seperti banyak petarung lain, ia jarang terlibat dalam kontroversi atau trash talk. Sikapnya mencerminkan warisan budaya Lebanon dan pendidikan Islam yang kuat: berbicara lewat tindakan, bukan kata-kata.

Bayangan yang Kini Menjadi Cahaya Sendiri

Bertahun-tahun, Aiemann Zahabi hidup dalam bayang-bayang kakaknya, Firas Zahabi. Namun hari ini, ia mulai membentuk identitas dan warisan sendiri sebagai petarung UFC.

Ia mungkin bukan bintang besar dengan sorotan kamera setiap pekan, tapi ia adalah lambang dari proses yang jujur—petarung yang tak meminta panggung, tapi bekerja untuk mendapatkannya. Dan jika ia terus berkembang seperti sekarang, bukan mustahil namanya akan berdiri sejajar dengan yang lain, bukan karena dia adik siapa, tapi karena dia adalah Aiemann Zahabi.

(PR/timKB).

Sumber foto: google.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Sean “Sugar” O’Malley: Dari Montana Ke Puncak UFC

Jakarta – Dalam dunia seni bela diri campuran (MMA), nama Sean Daniel O’Malley atau yang lebih dikenal dengan julukan “Sugar”, telah menjadi salah satu nama yang paling dihormati dan diperbincangkan di dunia Ultimate Fighting Championship (UFC). Dari Helena, Montana hingga mencapai puncak kompetisi UFC, inilah perjalanan menarik seorang petarung yang patut untuk diketahui.

Lahir pada 24 Oktober 1994 di Helena, Montana, Amerika Serikat, Sean O’Malley telah menunjukkan bakat tinjunya sejak usia muda. Dengan dukungan dan semangat juang yang kuat, O’Malley mulai menunjukkan kemampuannya di ranah seni bela diri campuran sejak 2013.

Dalam lima pertarungan pertamanya, O’Malley memilih untuk bertarung di Montana, negara asalnya. Kemudian, perjalanan profesionalnya membawanya ke North Dakota. Di sini, O’Malley berhasil menorehkan prestasi impresif dengan mengalahkan David Nuzzo di Legacy Fighting Alliance.

Kemenangan atas Nuzzo bukanlah akhir dari perjalanan O’Malley. Kemenangan tersebut justru menjadi pintu masuk bagi O’Malley ke arena yang lebih besar: Dana White’s Contender Series 2. Di sini, dia berhadapan dengan Alfred Khashakyan. Dengan penuh percaya diri, O’Malley mengalahkan Khashakyan dengan KO menakjubkan di babak pertama, sebuah prestasi yang memberinya kontrak UFC.

Foto: ufc.com

Debut di promosi UFC tidak membuat O’Malley gentar. Pada 1 Desember 2017, dia berhadapan dengan Terrion Ware di The Ultimate Fighter 26 Finale. Dengan teknik grappling favoritnya, High elbow guillotine, dan teknik striking, spinning techniques, O’Malley berhasil meraih kemenangan melalui keputusan bulat.

Namun, perjalanan di UFC tidak selalu mulus. O’Malley mengalami pertandingan kontroversial saat menghadapi Petr Yan pada 22 Oktober 2022, di UFC 280. Meskipun O’Malley memenangkan pertarungan melalui keputusan terpisah, banyak penggemar dan petarung lainnya yang percaya bahwa Yan seharusnya menjadi pemenang yang sah.

Namun, kontroversi tersebut tidak menghalangi O’Malley untuk terus berprestasi. Ia telah menerima penghargaan UFC Fight of the Night sebanyak tiga kali dan UFC Performance of the Night sebanyak enam kali. Kemenangan-kemenangan ini menunjukkan dedikasi dan keahliannya di dunia MMA.

Tidak hanya di dalam octagon, O’Malley juga menunjukkan dedikasinya di ranah grappling. Ia berhasil memasuki divisi Advanced No-gi seberat 155lbs dari Grappling Industries Phoenix pada 20 September 2020. Meskipun harus puas menempati posisi ketiga, O’Malley telah menunjukkan bahwa ia adalah sosok petarung yang serbaguna.

Dengan sabuk coklat Brazilian Jiu Jitsu dan rekor profesional 19–3, Sean “Sugar” O’Malley pernah merebut sabuk juara bantam UFC pada Agustus 2023 setelah menumbangkan Aljamain Sterling. Ia kini tetap menjadi salah satu bintang paling bersinar di UFC, meski sabuknya telah berpindah tangan. Perjalanan O’Malley menunjukkan bahwa dedikasi, kerja keras, dan semangat juang mampu mengantarkan seorang petarung ke puncak dunia seni bela diri campuran, dan ia masih berjuang untuk kembali ke jalur perebutan gelar dengan jadwal pertarungan melawan Aiemann Zahabi pada 14 Juni 2026.

(PR/timKB).

Sumber foto: ufc.com

Rory Turner: Gaya Bertarung, Dan Perjalanan Kariernya

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang dibentuk oleh nama besar sejak awal, tetapi ada juga yang pelan-pelan memaksa orang memperhatikan mereka lewat kemenangan yang konsisten dan penampilan yang matang. Rory Turner termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia adalah petarung MMA asal Australia yang lahir pada 27 Juli 2003, dan dalam usia yang masih sangat muda sudah mulai menulis namanya di panggung ONE Championship. Profil publik terbaru menempatkannya dengan rekor profesional 3 kemenangan tanpa kekalahan, aktif di kelas bantamweight, dan baru saja bertarung di ONE pada 24 April 2026.

Ia merupakan petarung muda Australia yang bertarung di kelas bantamweight dengan gaya campuran, dan kekuatan utamanya tampak berada pada striking. Rekor 3-0 yang tercatat saat ini menunjukkan bahwa ia bukan hanya menang, tetapi menang dengan cara yang cukup meyakinkan. Data pendukung menampilkan bahwa ia sudah mencetak 3 kemenangan beruntun sebagai profesional dan bahkan sudah masuk ke radar peringkat kawasan Australia & New Zealand. Untuk petarung berusia awal 20-an, itu adalah fondasi yang sangat menarik.

Yang membuat kisah Rory Turner terasa hidup adalah timing kariernya. Lahir pada 2003 berarti ia masih berada di fase yang sangat awal, tetapi sudah mulai mengumpulkan pengalaman di panggung yang diperhatikan publik internasional. Dalam MMA, usia muda sering identik dengan potensi, tetapi tidak semua petarung muda mampu menunjukkan kedewasaan bertarung. Pada Turner, rekor tak terkalahkan dan langkahnya ke ONE menunjukkan bahwa ia bukan sekadar prospek mentah. Ia sudah mulai membangun identitas.

Nama Rory Turner juga makin menarik karena ia kini sudah tercatat dalam orbit atlet ONE Championship. Hasil pencarian resmi ONE untuk wilayah Australia menampilkan namanya bersama atlet-atlet lain yang sedang bergerak di ekosistem organisasi tersebut. Ini penting, karena berarti ia bukan hanya aktif di tingkat lokal, tetapi sudah mendapat ruang di salah satu panggung seni bela diri campuran terbesar di dunia. Untuk petarung muda dari Australia, jalur seperti ini jelas sangat bernilai.

Perjalanan seorang petarung seperti Rory biasanya tidak lahir dari sorotan besar sejak awal. Ia dibentuk oleh panggung-panggung regional, gym, sparring, dan pertandingan yang mungkin tidak banyak dilihat orang pada mulanya. Salah satu jejak yang terlihat dari data publik adalah keterkaitannya dengan ekosistem MMA Australia yang cukup aktif, dan namanya juga muncul pada hasil kartu Urban Fight Night 33 di Sydney, ketika ia tercatat menang atas C. Chandradjaya lewat KO/TKO ronde kedua. Hasil seperti ini penting, karena menunjukkan bahwa sebelum mulai lebih dikenal, Turner sudah lebih dulu membangun reputasi lewat kemenangan nyata di panggung regional.

Kemenangan KO/TKO seperti itu memberi gambaran yang cukup jelas tentang siapa Rory Turner di dalam arena. Ia bukan petarung yang hanya puas membawa laga sampai keputusan juri. Justru, dari tiga kemenangan profesional yang tercatat, dua di antaranya menurut data datang lewat KO/TKO, dan jejak publik yang saya temukan juga mendukung kesan bahwa striking-nya memang menjadi salah satu senjata utamanya. Untuk petarung bantamweight, kemampuan menyelesaikan laga seperti ini sangat berharga, karena divisi tersebut biasanya dipenuhi atlet cepat dan teknis yang sulit dihentikan.

Menariknya, Rory Turner juga tidak tampak seperti petarung yang sepenuhnya liar. Rekor 3-0 yang masih bersih memberi kesan bahwa ia bertarung dengan cukup terukur. Ia bisa menyelesaikan lawan, tetapi juga mampu menjaga hasil tetap berada di sisinya tanpa banyak kerusakan pada kolom kekalahan. Ini sering menjadi sinyal awal yang baik. Petarung muda yang terlalu bergantung pada kekacauan biasanya sulit bertahan lama. Sebaliknya, petarung muda yang bisa menggabungkan agresi dan disiplin sering kali berkembang menjadi nama besar. Dari pola awal kariernya, Turner tampak lebih dekat ke kategori kedua.

Aspek lain yang membuatnya menarik adalah julukannya. Sumber lainnya mencatat Rory Turner memakai nickname “The Taipan.” Julukan itu terasa sangat cocok untuk petarung Australia: cepat, mematikan, dan tidak butuh terlalu banyak momen untuk membuat lawan berada dalam bahaya. Dalam konteks branding seorang petarung, nama seperti ini juga membantu membangun identitas publik. Ia bukan sekadar Rory Turner, tetapi sosok muda yang mulai punya karakter sendiri di tengah kerasnya dunia MMA.  Ia dikenal berlatih dalam sistem MMA Australia yang aktif dan saat ini terdaftar dengan MMAFFT – Family Fight Team.

Secara teknis, Rory Turner tampak sebagai petarung yang punya masa depan menarik di bantamweight. Rekor tak terkalahkan tentu belum cukup untuk menyebutnya sebagai penantang elite, tetapi itu sudah cukup untuk menyebutnya sebagai prospek yang layak dipantau. Ia punya usia muda, fondasi kemenangan yang rapi, jejak penyelesaian KO/TKO, dan sudah masuk ke orbit ONE. Kombinasi ini sangat penting. Banyak petarung muda punya bakat, tetapi tidak semua mendapat panggung. Turner sudah mulai mendapatkan panggung itu.

Hal yang juga membuat cerita Rory Turner cocok untuk pembaca media olahraga online adalah unsur “awal perjalanan”-nya. Ia belum menjadi nama besar, dan justru itulah kekuatan kisahnya. Ia berada di fase ketika setiap kemenangan terasa penting, setiap penampilan bisa mengubah level perhatian publik, dan setiap langkah masih membuka banyak kemungkinan. Pembaca biasanya tertarik pada dua jenis cerita: legenda yang sudah jadi, atau talenta muda yang sedang tumbuh. Rory Turner jelas berada di kategori kedua.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin sejauh ini pencapaiannya belum berupa gelar besar internasional. Namun fondasinya sudah cukup menjanjikan. Ia memiliki rekor profesional 3-0, mulai muncul di panggung ONE Championship, dan telah menunjukkan bahwa dirinya mampu menang dengan penyelesaian maupun kontrol hasil. Untuk petarung berusia 22 tahun, itu merupakan permulaan yang sangat sehat. Dalam olahraga seperti MMA, awal yang baik sering kali menentukan arah karier beberapa tahun ke depan.

Pada akhirnya, Rory Turner adalah kisah tentang petarung muda Australia yang sedang membentuk identitasnya sendiri. Ia lahir pada 27 Juli 2003, bertarung di bantamweight, membawa striking sebagai senjata utama, dan kini mulai menapak panggung ONE Championship dengan rekor profesional yang masih bersih. Kisahnya masih sangat awal dan masih terus berkembang. Dan untuk petarung seperti Rory Turner, bab terbaik biasanya belum ditulis.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang: Petarung ONE Championship

Jakarta – Di panggung Muay Thai, tidak semua petarung lahir dari cerita yang lurus dan mulus. Ada yang justru dibentuk oleh pertarungan-pertarungan keras, oleh kekalahan yang memaksa mereka belajar cepat, lalu oleh kemenangan yang datang setelah proses panjang. Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang termasuk dalam golongan itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand yang lahir pada 22 Maret 2001, bernaung di 3rd Army Area menurut profil resmi ONE, dan tampil di lintasan ONE Friday Fights sebagai salah satu nama yang berkembang lewat pengalaman nyata di atas ring. Tinggi badannya sekitar 165 cm, sedangkan basis data pendukung mencatat berat tanding terakhirnya di kisaran 56,7 kg / 125 lbs dan stance orthodox.

Salah satu titik penting dalam kisahnya datang pada ONE Friday Fights 55. Dalam pengumuman resmi kartu pertandingan, ONE menempatkan duel Jompadej Nupranburi vs Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang sebagai salah satu laga Muay Thai di catchweight 122 pound. Sumber pendukung kemudian mencatat bahwa Kaichon memenangkan pertarungan ini lewat decision, yang menjadi salah satu kemenangan awal penting dalam kiprahnya di ONE. Kemenangan seperti itu sangat berarti bagi petarung muda Thailand, karena menang angka di ONE Friday Fights menunjukkan bahwa seorang atlet mampu menjaga ritme selama tiga ronde penuh dan cukup konsisten untuk meyakinkan juri.

Kemenangan itu memberi gambaran awal tentang siapa Kaichon sebenarnya. Ia terlihat sebagai petarung orthodox yang cukup nyaman bertarung di wilayah striking klasik Muay Thai: sabar, terukur, tetapi tetap siap menekan bila lawan mulai kehilangan ritme. Data dari Muay Thai Records juga menegaskan stance-nya sebagai orthodox dan menempatkannya sebagai petarung Thailand berusia 24 tahun dengan bobot terakhir sekitar 125 pound. Ini membuat deskripsi tentang fokusnya pada striking terasa sangat cocok, walau detail resmi tinggi badan dan rekor perlu diperbarui.

Namun, seperti banyak petarung lain, jalan Kaichon tidak terus menanjak dengan mudah. Salah satu ujian paling keras datang pada ONE Friday Fights 72 tanggal 26 Juli 2024, saat ia menghadapi petarung Inggris yang sedang naik daun, Freddie Haggerty. Sumber lain mencatat bahwa Kaichon kalah lewat TKO ronde pertama pada 2:59 akibat pukulan tangan kanan, dan artikel feature resmi ONE tentang Freddie Haggerty juga menyinggung laga ini sebagai bagian penting dari perjalanan sang lawan. Belakangan, ONE bahkan menyorot kemenangan Haggerty atas Kaichon sebagai salah satu knockout paling mengesankan dalam dua penampilan awalnya di organisasi itu. Kekalahan seperti ini tentu berat, tetapi juga sangat penting dalam membentuk seorang petarung. Ia memberi pelajaran tentang kecepatan level elite dan tentang betapa sedikitnya ruang untuk kesalahan di panggung besar.

Menariknya, kekalahan dari Freddie Haggerty tidak menenggelamkan Kaichon. Ia justru menunjukkan kualitas yang sangat penting bagi petarung muda: kemampuan untuk kembali. Pada ONE Friday Fights 105, profil resmi ONE mencatat bahwa Kaichon mengalahkan Issei Yonaha lewat unanimous decision. Kemenangan ini berarti lebih dari sekadar angka di kolom menang. Setelah kalah cepat dari lawan berbahaya, Kaichon mampu bangkit dan menata ulang permainannya dalam laga berikutnya. Menang lewat keputusan bulat setelah sebelumnya kalah TKO memberi sinyal bahwa ia mampu mengembalikan disiplin, kesabaran, dan struktur dalam pertarungannya.

Sesudah itu, Kaichon mencatat salah satu kemenangan paling penting dalam jejak resminya. Pada ONE Friday Fights 122, ia menghadapi sesama petarung Thailand, Suajan Sor Isarachot, dan menang lewat KO ronde kedua pada 1:34. Profil resmi ONE Indonesia menuliskan hasil itu dengan jelas. Inilah kemenangan yang memberi lapisan baru pada kisahnya. Jika kemenangan atas Issei Yonaha menunjukkan bahwa ia bisa bangkit secara taktis, kemenangan KO atas Suajan menunjukkan bahwa Kaichon juga punya daya rusak nyata. Ia bukan hanya petarung yang mampu bertahan tiga ronde, tetapi juga striker yang bisa memanfaatkan celah dan menutup laga secara keras.

Kemenangan atas Suajan terasa sangat penting dari sudut pandang naratif. Banyak petarung muda bisa bangkit setelah kalah, tetapi tidak semua bisa bangkit dengan cara yang begitu meyakinkan. KO di ronde kedua menunjukkan bahwa Kaichon tidak sekadar “selamat” dari fase sulit, melainkan benar-benar kembali dengan keyakinan dan ketajaman baru. Untuk petarung Muay Thai Thailand yang bertarung di panggung ONE, kemenangan seperti ini biasanya menjadi sinyal bahwa namanya patut diperhatikan lebih serius.

Tetapi lagi-lagi, perjalanan Kaichon tidak dibangun dari cerita yang terlalu rapi. Pada ONE Friday Fights 132, profil resmi ONE menunjukkan bahwa ia kalah dari Soe Naung Oo lewat unanimous decision dalam laga strawweight Muay Thai. Hasil ini memperlihatkan satu hal penting: Kaichon memang petarung yang sedang tumbuh, bukan sosok yang sudah selesai dibentuk. Ia bisa menang dengan tegas, tetapi juga masih menghadapi lawan-lawan yang mampu meredam permainan dan memaksanya kalah angka. Bagi petarung usia 24–25 tahun yang sudah beberapa kali diuji di ONE Friday Fights, ini adalah bagian yang wajar dari proses pembentukan.

Dari seluruh hasil yang tercatat, ada pola yang menarik pada Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang. Ia tampak seperti petarung yang dibentuk oleh dua hal sekaligus: ketahanan dan adaptasi. Ia sudah merasakan menang angka, menang KO, kalah TKO, dan kalah keputusan. Ia bukan petarung yang hanya hidup dari keunggulan satu sisi. Justru karena perjalanannya penuh naik-turun, ceritanya terasa lebih hidup. Ia seperti petarung yang benar-benar belajar dari ring, bukan sekadar mengumpulkan rekor. Di profil ONE saat ini ia tercantum bersama 3rd Army Area.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Kaichon belum memegang sabuk besar atau status bintang utama di ONE. Namun fondasinya tetap layak dihargai. Ia sudah mencatat kemenangan resmi atas Jompadej Nupranburi, Issei Yonaha, dan Suajan Sor Isarachot dalam jejak yang terlacak dari sumber resmi dan pendukung, serta sudah menghadapi lawan-lawan keras seperti Freddie Haggerty dan Soe Naung Oo. Itu adalah bahan mentah yang cukup baik untuk seorang petarung yang masih membentuk identitasnya di panggung internasional.

Pada akhirnya, Kaichon Sor Yingcharoenkarnchang adalah kisah tentang petarung Muay Thai Thailand yang sedang ditempa oleh kerasnya ring dan ketatnya persaingan ONE Friday Fights. Ia lahir pada 22 Maret 2001, bertarung dengan gaya orthodox yang berfokus pada striking, tumbuh di jalur Muay Thai ringan, dan sudah menunjukkan bahwa dirinya mampu bangkit setelah benturan keras. Ia mungkin belum menjadi nama terbesar, tetapi justru di situlah daya tariknya. Kaichon masih berada di fase ketika setiap pertarungan bisa menulis bab baru yang menentukan. Dan dalam olahraga seperti Muay Thai, petarung seperti itulah yang sering paling menarik untuk diikuti.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Justin Ray Gaethje: ‘The Highlight’ Dari Octagon UFC

Jakarta – Dalam dunia seni bela diri campuran (MMA), beberapa pejuang mampu menyalakan api semangat dan kegembiraan setiap kali mereka melangkah ke dalam octagon. Justin Ray Gaethje, dikenal dengan julukan “The Highlight“, adalah salah satu dari sedikit petarung yang memiliki kekuatan semacam itu. Gaethje tidak hanya seorang pejuang, tapi juga seorang performer yang setiap pertarungannya ditunggu-tunggu oleh penggemar MMA di seluruh dunia.

Awal Hidup dan Latar Belakang

Justin Gaethje lahir pada 14 November 1988 di Tucson, Arizona, AS. Berasal dari keluarga dengan latar belakang pekerja keras, Gaethje mengembangkan etos kerja dan ketahanan yang akan menjadi fondasi dalam karirnya sebagai pejuang. Sejak usia muda, ia sudah terjun ke dalam dunia gulat, suatu disiplin yang ia pelajari di SMA dan lanjutkan di University of Northern Colorado.

Peralihan ke MMA dan Awal Karir

Setelah menyelesaikan kuliah, Gaethje memutuskan untuk beralih ke MMA. Dia cepat belajar dan mengasah keahliannya, menunjukkan bakat alami untuk olahraga tersebut. Dengan kombinasi kekuatan, kecepatan, dan kegigihan, dia mulai menarik perhatian dalam adegan MMA lokal.

Berkembang di World Series of Fighting (WSOF)

Gaethje mencapai ketenaran di World Series of Fighting, di mana ia menjadi juara kelas ringan WSOF dan berhasil mempertahankan gelarnya sebanyak lima kali. Prestasinya di WSOF menetapkannya sebagai salah satu prospek terpanas dalam MMA.

Transisi ke Ultimate Fighting Championship (UFC)

Kepindahan Gaethje ke UFC pada tahun 2017 adalah langkah alami berikutnya. Debutnya yang dinamis melawan Michael Johnson langsung menjadi klasik, dengan Gaethje memenangkan pertarungan via TKO dan menerima bonus “Fight of The Night” dan “Performance of The Night”.

 

Perjalanan Menuju Juara Interim UFC

Dikenal karena gaya bertarungnya yang menghancurkan dan tak kenal takut, Gaethje dengan cepat naik ke puncak divisi ringan UFC. Dia mencapai puncak kariernya saat ia mengalahkan Tony Ferguson di UFC 249 untuk memenangkan sabuk Juara Kelas Ringan Interim UFC. Walaupun ia akhirnya kehilangan sabuk tersebut kepada Khabib Nurmagomedov, pertarungan tersebut meninggalkan kesan mendalam dan menunjukkan kegigihannya sebagai pejuang.

Posisi Peringkat dan Gaya Bertarung

Saat ini, Justin Gaethje menempati posisi yang sangat tinggi di jajaran elite divisi kelas ringan UFC dengan memegang peringkat #1 sekaligus menyandang status sebagai Juara Interim Kelas Ringan (Interim Lightweight Champion). Sabuk interim ini berhasil ia amankan setelah menumbangkan Paddy Pimblett, yang sekaligus mengantarkannya ke laga unifikasi gelar tak terbantahkan melawan raja kelas ringan saat ini, Ilia Topuria. Mengenai gaya bertarungnya, Gaethje dikenal dengan gaya striking agresif yang selalu menekan, dipadukan dengan tendangan kaki (low kicks) yang destruktif dan pertahanan gulat yang solid. Gaya bertarungnya yang penuh aksi dan tanpa kompromi ini tidak hanya selalu memberikan tantangan yang unik bagi lawan-lawannya, tetapi juga menjadikannya salah satu petarung paling menghibur dan favorit di mata para penggemar MMA di seluruh dunia.

Rekor Profesional

Rekor profesional MMA Justin Gaethje saat ini adalah 27 kemenangan dan 5 kekalahan (27-5). Dari total 27 kemenangannya tersebut, ia dikenal sangat destruktif dengan meraih 20 kemenangan lewat KO/TKO, 1 submission, dan 6 keputusan juri (decision).

Prestasi dan Penghargaan

Selain gelar Juara Interim, Gaethje telah menerima berbagai penghargaan di UFC, termasuk sejumlah bonus malam pertarungan dan bonus performa malam. Kecintaannya terhadap pertarungan yang intens dan dramatis membuatnya menjadi salah satu petarung yang paling dapat diandalkan untuk memberikan hiburan berkualitas tinggi.

Kehidupan Luar Octagon

Di luar octagon, Gaethje dikenal sebagai individu yang rendah hati dan pekerja keras. Dia sering kali terlibat dalam kegiatan amal dan komunitas, menunjukkan bahwa dia tidak hanya seorang pejuang dalam octagon, tapi juga dalam kehidupan nyata.

Masa Depan dan Warisan

Dengan karir yang masih berlangsung, masa depan Gaethje dalam UFC terlihat cerah. Dia terus berlatih dan mengembangkan keahliannya, bertekad untuk mendapatkan gelar UFC yang tak terbantahkan. Gaethje tidak hanya ingin diingat sebagai pejuang yang menghibur tetapi juga sebagai seorang juara yang melampaui ekspektasi dan menciptakan warisan yang akan dikenang selamanya dalam sejarah MMA.

Justin Ray Gaethje telah membuktikan dirinya bukan hanya sebagai “The Highlight” dari pertarungan malam itu, tetapi sebagai salah satu petarung paling bersemangat dan menarik di dunia MMA. Dari asalnya di Tucson hingga puncak UFC, Gaethje’s journey adalah cerita tentang ketekunan, keberanian, dan kegigihan yang berkilauan—layaknya intan di dunia olahraga bela diri campuran.

(PR/timKB).

Sumber foto: mmaoddsbreaker.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Ilia Topuria: El Matador yang Menggebrak di Dunia UFC

Jakarta – Ilia Topuria, yang juga dikenal dengan julukan El Matador, lahir pada tanggal 21 Januari 1997 di Halle Westfalen, Jerman. Ilia Topuria saat ini adalah petarung UFC yang berkompetisi dan memegang sabuk juara di kelas ringan (Lightweight). Sebelumnya, petarung berjuluk El Matador ini adalah juara dominan di kelas bulu (Featherweight) sebelum memutuskan untuk naik kelas. Topuria telah menunjukkan bakat dan keahliannya dalam pertarungan, serta meraih peringkat yang tinggi dalam kelas bulu UFC.

Sebagai seorang petarung kelas bulu, Topuria memiliki kekuatan dan keterampilan yang mengesankan dalam pertarungan. Gaya bertarungnya didominasi oleh Brazilian Jiu Jitsu, di mana ia telah meraih sabuk hitam. Dalam teknik grappling, Topuria memiliki favoritnya sendiri, yaitu Anaconda Choke, yang sering kali menjadi senjata andalannya. Selain itu, dalam teknik striking, Topuria dikenal karena pukulan ke arah liver (Liver Shot) yang mematikan.

Rekor pertarungan Topuria juga menunjukkan prestasinya yang cemerlang. Dengan catatan 16-0 (W-L), ia belum pernah merasakan kekalahan dalam karir MMA-nya. Setiap pertarungan yang dijalani Topuria dipenuhi dengan determinasi, ketekunan, dan strategi yang cermat. Rekor tak terkalahkan ini menjadi bukti akan kualitas dan kemampuan Topuria sebagai seorang petarung yang tangguh.

Perjalanan Topuria dalam dunia bela diri dimulai sejak usia dini. Pada usia tujuh tahun, ia pindah ke Georgia bersama keluarganya dan mulai berlatih Gulat Yunani-Romawi di sekolah. Ketertarikan Topuria terhadap seni bela diri semakin berkembang ketika ia mulai berlatih di Klub Climent pada usia 15 tahun. Di sinilah ia menemukan minat dan bakatnya dalam Brazilian Jiu Jitsu, yang kemudian menjadi landasan keahliannya sebagai seorang petarung.

Foto: youtube

Topuria memulai debutnya sebagai petarung profesional pada tahun 2015, berkompetisi di berbagai ajang lokal. Keberhasilannya dalam pertarungan lokal membawanya untuk melangkah ke panggung internasional. Pada tahun 2018, ia melakukan pertarungan internasional pertamanya di Cage MMA Finland, di mana ia berhasil meraih kemenangan yang mengesankan.

Pada tahun 2019, Topuria menandatangani kontrak dengan Brave Combat Federation, salah satu promosi terkemuka di dunia MMA. Debutnya di Brave Combat Federation berlangsung di Bogota, Kolombia, di mana ia menghadapi Luis Gomez. Dalam pertarungan tersebut, Topuria berhasil meraih kemenangan di babak pertama melalui submission, menunjukkan kualitas dan kemampuannya sebagai petarung yang tangguh.

Kesuksesan Topuria di dunia MMA semakin menanjak saat ia mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi di UFC. Pada 11 Oktober 2020, ia menggantikan Seung Woo Choi untuk melakukan debutnya di UFC Fight Night: Moraes vs. Sandhagen. Topuria menghadapi Youssef Zalal dalam pertarungan debutnya di UFC, dan ia berhasil meraih kemenangan melalui keputusan bulat. Pertarungan ini menjadi pembuktian bahwa Topuria memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa di tingkat tertinggi MMA.

Setelah kemenangan gemilang atas Bryce Mitchell, karier Ilia Topuria melesat tajam ke jajaran elite kelas bulu UFC melalui kemenangan angka mutlak atas Josh Emmett pada Juni 2023, di mana ia mendominasi pertarungan sepanjang lima ronde penuh. Momentum emasnya terjadi pada Februari 2024 di ajang UFC 298, ketika Topuria berhasil merebut sabuk juara dunia kelas bulu setelah menumbangkan sang juara dominan, Alexander Volkanovski, lewat kemenangan KO spektakuler pada ronde kedua. Keperkasaannya kembali teruji di ajang UFC 308 pada Oktober 2024, di mana ia sukses mempertahankan gelarnya sekaligus mencetak sejarah sebagai petarung pertama yang mampu menang TKO atas Max Holloway. Rentetan hasil luar biasa ini tidak hanya mengukuhkan posisinya sebagai raja kelas bulu yang tak terbantahkan, tetapi juga menjaga rekor profesionalnya tetap bersih tanpa kekalahan dengan catatan impresif 16-0.

Selain prestasi dalam pertarungan, Ilia Topuria juga telah meraih beberapa penghargaan. Ia menerima penghargaan Performance of the Night dari UFC atas kemenangannya melawan Alexander Volkanovski di UFC 298, ketika ia merebut gelar juara dunia kelas bulu. Penghargaan ini diberikan kepada petarung yang menampilkan performa luar biasa dalam pertarungan. Sebelum bergabung dengan UFC, Topuria juga pernah meraih gelar MFE Featherweight Championship.

(PR/timKB).

Sumber foto: youtube

Jelang UFC Fight Night: Muhammad vs Bonfim

Jakarta – Rangkaian laga di UFC Fight Night: Muhammad vs Bonfim akan menjadi salah satu sajian menarik di divisi welterweight saat mantan juara dunia UFC, Belal Muhammad, menghadapi rising star asal Brasil, Gabriel Bonfim. Ajang ini akan berlangsung pada 6 Juni 2026 di Meta APEX, Las Vegas, Amerika Serikat. Pertarungan utama ini menjadi momen penting bagi Muhammad yang berusaha kembali ke jalur perebutan gelar setelah kehilangan sabuk juara, sementara Bonfim ingin membuktikan dirinya layak masuk jajaran elite kelas welter.

Muhammad dikenal sebagai petarung dengan kemampuan wrestling, cardio, dan kontrol pertandingan yang sangat solid. Di sisi lain, Bonfim hadir dengan rekor impresif dan kemampuan submission yang berbahaya. Duel ini diprediksi menjadi pertarungan antara pengalaman dan momentum. Jika Muhammad mampu memaksakan ritme serta mendominasi grappling, ia berpeluang besar meraih kemenangan. Namun Bonfim memiliki kemampuan penyelesaian yang bisa mengubah jalannya laga dalam sekejap.

Selain laga utama, UFC juga menyiapkan sejumlah pertarungan menarik yang berpotensi mencuri perhatian. Pertandingan kelas menengah antara Brendan Allen dan Edmen Shahbazyan menjadi salah satu duel yang layak dinantikan. Allen berusaha mempertahankan posisinya di papan atas divisi, sementara Shahbazyan ingin kembali menunjukkan potensi besar yang pernah membuatnya disebut sebagai calon bintang masa depan UFC.

Dengan kombinasi petarung berpengalaman, prospek masa depan UFC, dan sejumlah laga yang berpotensi berakhir lewat KO maupun submission, UFC Fight Night: Muhammad vs. Bonfim diprediksi menjadi tontonan wajib bagi penggemar MMA. Hasil pertarungan utama akan sangat menentukan peta persaingan kelas welterweight menuju paruh kedua tahun 2026.

Berikut Fight Card UFC Fight Night: Muhammad vs. Bonfim selengkapnya:

Main Card

Preliminary Card

(bP/timKB).

Sumber foto: instagram

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Arsoonnoi: Petarung Sitjasing Gym Di ONE Championship

Jakarta – Di dunia Muay Thai, tidak semua petarung lahir dari jalan yang langsung terang. Ada yang menanjak lewat kemenangan beruntun, tetapi ada pula yang dibentuk oleh benturan, oleh kekalahan yang mengajarkan banyak hal, lalu oleh keberanian untuk kembali ke ring dan membuktikan diri. Arsoonnoi Sitjasing termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand yang lahir pada 3 November 2000, bernaung di Sitjasing Gym, dan kini menjadi salah satu nama yang mulai dikenal di rangkaian ONE Friday Fights. Profil resmi ONE mencatat Arsoonnoi berasal dari Thailand, memiliki tinggi sekitar 165 cm, dan saat ini berusia 25 tahun.

Yang membuat Arsoonnoi menarik bukan sekadar angka hasil, melainkan bentuk perjalanan yang membangun angka itu. Ia bukan petarung yang dibesarkan oleh kemenangan cepat semata. Dari hasil yang bisa diverifikasi di ONE, terlihat bahwa ia sudah merasakan dua pengalaman yang sangat berbeda: kalah lewat knockout dari lawan yang sangat agresif, lalu bangkit dengan kemenangan lewat keputusan juri. Untuk petarung muda Muay Thai, dua pengalaman seperti ini sering jauh lebih penting daripada sekadar rekor rapi, karena itu membentuk mental, ritme, dan kedewasaan bertarung.

Salah satu bab paling keras dalam kisahnya datang pada ONE Friday Fights 112 tanggal 13 Juni 2025, ketika Arsoonnoi menghadapi Samanchai Sor Sommai. Hasilnya sangat tegas: Samanchai menang lewat knockout pada ronde kedua, menit 2:43. Artikel hasil resmi ONE mencatat hasil itu secara jelas, dan cuplikan video resmi ONE juga menyorot bagaimana Samanchai membuka pertarungan dengan tekanan kuat, termasuk teep keras di awal sebelum akhirnya menyelesaikan laga dengan knockout. Kekalahan seperti ini tentu pahit, tetapi dalam dunia Muay Thai, momen seperti ini sering menjadi titik paling penting dalam pembentukan seorang petarung.

Kekalahan dari Samanchai memberi lapisan penting pada cerita Arsoonnoi. Ia menunjukkan bahwa di panggung ONE Friday Fights, lawan datang tanpa banyak ruang belas kasihan. Seorang petarung bisa masuk dengan kepercayaan diri, tetapi satu lawan yang lebih cepat membaca ritme dan lebih berani mengambil momen bisa mengubah malam sepenuhnya. Pada titik ini, Arsoonnoi tampak seperti petarung yang sedang belajar keras tentang level kompetisi yang ia masuki. Dan itu penting, karena dalam olahraga seperti Muay Thai, tidak ada guru yang lebih jujur daripada ring.

Namun justru di situlah nilai Arsoonnoi Sitjasing mulai terasa. Banyak petarung bisa goyah setelah kalah KO. Tidak semua mampu kembali dengan kepala tetap dingin. Arsoonnoi justru menunjukkan bahwa ia tidak datang ke ONE untuk menjadi nama lewat semalam, tetapi untuk benar-benar bertahan dan membentuk dirinya. Jawaban terbaik itu datang saat ia kembali bertarung di ONE Friday Fights 146 dan menghadapi sesama petarung Thailand, Nuapayak Jitmuangnon. Kali ini, hasilnya berbeda: Arsoonnoi menang lewat unanimous decision setelah tiga ronde penuh.

Kemenangan atas Nuapayak sangat penting karena memperlihatkan sisi yang lebih matang dari Arsoonnoi. Ia tidak hanya mampu kembali setelah kekalahan pahit, tetapi juga melakukannya dengan cara yang bersih dan meyakinkan. Menang lewat unanimous decision dalam Muay Thai berarti seorang petarung cukup konsisten sepanjang laga, cukup disiplin menjaga ritme, dan cukup efektif untuk membuat seluruh juri berpihak padanya. Ini memberi kesan bahwa Arsoonnoi bukan sekadar petarung yang bisa bertarung keras, melainkan atlet yang juga mampu belajar dari pengalaman lalu kembali dengan bentuk yang lebih terkendali.

Aspek lain yang membuat Arsoonnoi menarik adalah identitas gym-nya, Sitjasing. Profil resmi ONE versi Indonesia dan Inggris sama-sama menempatkan gym itu sebagai rumah latihannya. Dalam Muay Thai Thailand, nama gym bukan sekadar tempat berlatih, melainkan pusat pembentukan identitas. Ketika seorang petarung membawa nama gym ke atas ring, ia juga membawa filosofi latihan, tradisi, dan ekspektasi teknik dari tempat itu. Dalam kasus Arsoonnoi, afiliasi ini memberi konteks bahwa ia tumbuh dalam lingkungan yang memang serius membentuk petarung Muay Thai, bukan sekadar atlet yang datang tanpa fondasi.

Dari sisi gaya, deskripsi tentang Arsoonnoi sebagai petarung dengan fokus striking terasa sangat sesuai dengan data yang tersedia. Semua hasil resminya yang terlihat di ONE lahir di bawah aturan Muay Thai, bukan MMA atau kickboxing, dan seluruh narasi seputar pertarungannya berputar di sekitar pukulan, tendangan, ritme, dan kemampuan menahan tekanan. Walau profil resmi ONE tidak menuliskan stance secara eksplisit di hasil pencarian yang saya temukan, citra Arsoonnoi sebagai petarung Muay Thai murni dengan basis striking tetap sangat jelas.

Yang juga menarik adalah konteks waktu dalam kariernya. Lahir pada tahun 2000 berarti Arsoonnoi masih berada di usia yang sangat produktif untuk Muay Thai. Ia sudah cukup dewasa untuk menyerap pengalaman keras di ring, tetapi masih cukup muda untuk berkembang lebih jauh. Kombinasi ini sering sangat penting dalam ONE Friday Fights, karena banyak petarung yang justru mulai terlihat matang setelah melewati satu-dua benturan besar di awal perjalanan mereka. Dalam kasus Arsoonnoi, kemenangan atas Nuapayak setelah kekalahan KO dari Samanchai memberi sinyal bahwa ia punya salah satu kualitas paling berharga dalam olahraga tarung: kemampuan bangkit.

Soal kiprahnya yang lebih baru, sumber pertandingan pihak ketiga menunjukkan bahwa Arsoonnoi juga tampil melawan Suajan Sor Isarachot di ONE Friday Fights 152 pada 1 Mei 2026, dan laga itu dikategorikan sebagai Flyweight. Namun karena saya tidak menemukan artikel hasil resmi ONE untuk pertarungan tersebut dalam penelusuran ini, saya tidak akan memastikan detail hasilnya di sini. Yang jelas, keberadaan laga itu sendiri menunjukkan bahwa Arsoonnoi masih aktif di jalur ONE dan tetap dipercaya untuk tampil di panggung Friday Fights, sesuatu yang penting bagi petarung yang sedang membangun namanya.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Arsoonnoi Sitjasing belum memiliki gelar besar atau status bintang utama di ONE. Namun fondasinya sudah cukup menarik untuk diperhatikan. Ia telah bangkit dari kekalahan KO, mencetak kemenangan resmi lewat unanimous decision atas petarung Thailand lain, dan tetap berada dalam orbit kompetitif ONE Friday Fights. Untuk petarung Muay Thai yang sedang meniti jalannya, ini adalah bekal yang sangat berarti. Banyak nama besar dalam olahraga tarung memulai cerita mereka dengan pola yang mirip: kalah, belajar, lalu perlahan mengeras.

Pada akhirnya, Arsoonnoi Sitjasing adalah kisah tentang petarung Muay Thai Thailand yang sedang tumbuh lewat jalur yang jujur. Ia lahir pada 3 November 2000, berasal dari Sitjasing Gym, bertarung di lintasan Muay Thai ONE, dan sudah merasakan dua hal paling penting dalam olahraga ini: kalah dengan keras dan bangkit dengan bersih. Ia mungkin belum menjadi nama besar, tetapi justru di situlah pesonanya. Ia masih berada di fase ketika setiap pertarungan bisa membentuk masa depannya. Dan untuk petarung seperti itu, kisah terbaik biasanya belum selesai ditulis.

Chama Superbon: Kisah Petarung Muay Thai Di ONE Friday Fights

Jakarta – Di panggung Muay Thai modern, ada petarung yang datang dengan nama besar warisan keluarga atau gym, dan ada pula yang harus membangun pengakuannya sendiri, pertarungan demi pertarungan, di bawah sorot lampu yang tidak selalu ramah. Chama Superbon termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand yang lahir pada 21 Oktober 1998, dan saat ini menjadi salah satu nama yang menarik diperhatikan di orbit ONE Championship. Chama berasal dari Thailand, memiliki tinggi sekitar 175 cm, bernaung di Superbon Training Camp, dan hingga kini membukukan 2 kemenangan dan 1 kekalahan di ONE.

Yang membuat kisah Chama menarik bukan sekadar angka menang-kalah, melainkan bentuk dari perjalanan awalnya di ONE. Ia bukan petarung yang menang dengan satu pola saja. Dari dua kemenangan resminya, satu datang lewat unanimous decision dan satu lagi lewat TKO, sementara satu kekalahannya datang lewat KO ronde pertama. Ini menunjukkan bahwa Chama bukan hanya petarung teknis yang bisa mengumpulkan poin dengan rapi, tetapi juga memiliki daya rusak yang cukup untuk menghentikan lawan bila momen yang tepat datang.

Perjalanan Chama di ONE mulai benar-benar mendapat bentuk saat ia tampil di ONE Friday Fights 82, menghadapi Uzair Ismoiljonov. Dalam laga itu, ia menang lewat unanimous decision. Kemenangan seperti ini penting, karena memberi gambaran awal tentang siapa dirinya di ring: petarung yang cukup sabar untuk menjaga ritme selama tiga ronde penuh, cukup disiplin untuk mengontrol pertukaran, dan cukup matang untuk membuat para juri berpihak kepadanya. Untuk petarung yang sedang membangun nama di ONE Friday Fights, kemenangan keputusan seperti ini sering kali jauh lebih berharga daripada yang terlihat di permukaan, karena menunjukkan fondasi teknik dan ketahanan yang rapi.

Kemenangan atas Uzair itu juga memberi pesan awal bahwa Chama bukan petarung yang datang sekadar mengandalkan ledakan sesaat. Ia mampu bekerja penuh selama tiga ronde, menjaga fokus, dan menyelesaikan tugasnya secara bersih. Dalam Muay Thai, terutama pada level internasional, kualitas seperti ini sangat penting. Tidak semua petarung yang terlihat eksplosif di awal mampu mempertahankan struktur pertarungan sampai akhir. Chama menunjukkan bahwa ia bisa.

Namun titik yang benar-benar membuat namanya lebih diperhatikan datang pada ONE Friday Fights 109 tanggal 23 Mei 2025, saat ia berhadapan dengan Superjeng Torfunfarm. Hasil resminya sangat tegas: Chama menang lewat TKO pada ronde ketiga, menit 1:57. Baik profil atlet resminya maupun halaman event dan artikel hasil resmi ONE mencatat kemenangan itu dengan jelas. Ini adalah kemenangan yang sangat penting, karena menunjukkan bahwa Chama bukan hanya bisa menang angka, tetapi juga mampu menutup laga dengan penyelesaian keras di panggung besar.

Kemenangan atas Superjeng terasa seperti pernyataan identitas. Dalam olahraga seperti Muay Thai, TKO di ronde ketiga sering menunjukkan lebih dari sekadar power. Itu menandakan stamina tempur, kemampuan membaca lawan, dan kesabaran untuk menunggu sampai momen yang tepat benar-benar terbuka. Chama tampak tidak terburu-buru. Ia membangun pertarungan, mengikis perlawanan lawan, lalu menyelesaikannya ketika struktur pertahanan lawan mulai runtuh. Untuk petarung yang sedang meniti nama di ONE, ini adalah jenis kemenangan yang membuat orang mulai melihatnya lebih serius.

Dari situ, cerita Chama terasa bergerak ke arah yang sangat menjanjikan. Ia sudah punya kemenangan lewat keputusan, sudah punya kemenangan lewat TKO, dan bernaung di Superbon Training Camp, sebuah nama yang membawa bobot besar dalam dunia striking Thailand modern. Afiliasi ini penting, karena dalam olahraga seperti Muay Thai, nama gym bukan sekadar tempat latihan. Ia adalah sistem, warisan teknik, dan kultur bertarung. Bahwa Chama datang dari Superbon Training Camp memberi kesan bahwa ia dibentuk dalam lingkungan yang sangat serius dan kompetitif.

Tetapi seperti banyak karier petarung lain, jalannya tidak sepenuhnya lurus. Pada ONE Friday Fights 118 tanggal 1 Agustus 2025, Chama menghadapi Logan “Dragon” Chan dalam duel 140 lbs Muay Thai. Kali ini, ia harus menerima kekalahan lewat knockout pada ronde pertama, menit 2:51. Halaman hasil resmi ONE dan profil atletnya sama-sama mencatat hasil itu. Kekalahan seperti ini tentu berat, apalagi datang setelah momentum dua kemenangan beruntun. Tetapi dalam olahraga tarung, momen seperti inilah yang sering menjadi pembeda antara petarung yang hanya tampak menjanjikan dan petarung yang benar-benar tumbuh.

Kekalahan dari Logan Chan juga memberi lapisan penting pada cerita Chama. Ia menunjukkan bahwa di level ONE Friday Fights, batas antara menang impresif dan kalah cepat bisa sangat tipis. Lawan-lawan yang datang ke panggung itu bukan sekadar penguji biasa, melainkan petarung yang juga sangat siap mengambil risiko dan mencuri momentum. Dalam konteks ini, kekalahan Chama bukan sekadar noda pada rekor, tetapi bagian dari proses pembentukan. Ia sudah merasakan bagaimana rasanya menang angka, menang TKO, dan kalah KO. Untuk petarung yang masih membangun karier, tiga pengalaman itu adalah bekal yang sangat berarti.

Dari sisi gaya, deskripsi tentang Chama sebagai petarung ortodoks dengan fokus pada striking khas Muay Thai terasa sangat masuk akal. Walau profil resmi ONE tidak merinci seluruh atribut tekniknya dalam narasi panjang, seluruh hasil laganya di organisasi itu berbicara jelas: ia hidup di wilayah striking, menang dan kalah di atas kaki, dan membangun identitasnya lewat ritme Muay Thai, bukan lewat elemen lain. Ia tampak seperti petarung yang nyaman bertukar, cukup disiplin menjaga struktur, dan punya kualitas penyelesaian ketika lawan mulai goyah.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Chama Superbon belum memegang sabuk besar atau status bintang utama. Namun fondasi yang ia bangun sudah cukup layak diperhitungkan. Ia sudah mencatat dua kemenangan resmi di ONE, satu lewat unanimous decision dan satu lewat TKO, serta menghadapi lawan internasional dari Uzbekistan, Thailand, dan Hong Kong/Skotlandia di panggung yang sangat kompetitif. Untuk petarung yang sedang membangun nama di ONE Friday Fights, itu adalah awal yang solid.

Pada akhirnya, Chama Superbon adalah kisah tentang petarung Thailand yang sedang menulis namanya sendiri, bukan sekadar hidup dari nama gym yang dibawanya. Ia lahir pada 21 Oktober 1998, bernaung di Superbon Training Camp, bertarung dengan gaya ortodoks khas Muay Thai, dan sejauh ini telah menunjukkan tiga hal penting: ia bisa menang lewat teknik, bisa menang lewat penyelesaian, dan telah merasakan pahitnya kekalahan cepat. Dalam olahraga seperti Muay Thai, kombinasi pengalaman seperti itu sering kali menjadi fondasi terbaik untuk pertumbuhan. Dan justru karena ia belum selesai dibentuk, kisah terbaik Chama tampaknya masih belum benar-benar dimulai.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Daniel Lacerda: Kisah “Miojo”, Petarung Brasil Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang membangun namanya lewat dominasi panjang, tetapi ada juga yang justru dikenang karena selalu datang dengan keberanian penuh, tempo tinggi, dan risiko besar di setiap penampilan. Daniel Lacerda termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung asal Valença, Brasil, lahir pada 5 Juni 1996, dan dikenal luas dengan julukan “Miojo.”  Ia adalah petarung Brasil dengan tinggi sekitar 168 cm, bertarung di sekitar kelas flyweight, memakai switch stance, dan memiliki rekor profesional13 kemenangan, 7 kekalahan, dan 1 no contest, dengan aktivitas terbaru di luar UFC pada 2024–2025.

Yang membuat Daniel Lacerda menarik bukan cuma hasil akhirnya, melainkan bentuk dari seluruh kariernya. Ia adalah petarung yang hampir selalu hidup di wilayah berbahaya. Statistik salah satu sumber mencatat pada fase rekor 11-6 ia membukukan 5 kemenangan KO/TKO dan 6 kemenangan submission, sedangkan ada sumber lain pada fase terbaru mencatat totalnya menjadi 6 kemenangan KO/TKO dan 7 kemenangan submission. Ini menunjukkan bahwa meskipun identitas utamanya memang seorang striker agresif, Lacerda juga sangat nyaman menyelesaikan lawan di matras. Dengan kata lain, ia bukan petarung satu dimensi. Ia berbahaya di kaki, tetapi juga cukup licin ketika pertarungan berpindah ke bawah.

Perjalanan Daniel Lacerda menuju UFC dibangun dari jalur regional Brasil yang keras. Salah satu jejak penting awal yang masih terlihat di arsip sebuah sumber datang dari Shooto Brazil 90 pada 15 Maret 2019, ketika ia menghadapi João Paulo Alves dan kalah lewat TKO karena cedera lengan hanya dalam 37 detik. Kekalahan seperti ini menunjukkan bahwa kariernya tidak dibangun dari kesempurnaan, melainkan dari benturan yang nyata. Namun justru dari jalur seperti itulah banyak petarung Brasil tumbuh: terus bertarung, terus memperbaiki diri, lalu mencari satu rangkaian kemenangan yang bisa membuka jalan ke panggung lebih besar.

Dan itulah yang pada akhirnya dilakukan Lacerda. Sebelum masuk UFC, ia membangun momentum sebagai petarung regional yang atraktif dan berbahaya. UFC menempatkannya di roster resmi dengan nama Daniel Lacerda, lalu memberinya debut pada 23 Oktober 2021. Halaman resmi UFC mencatat dengan jelas bahwa ia adalah atlet profesional asal Brasil di divisi flyweight dan menempatkan tanggal debut itu sebagai titik awal kiprahnya di organisasi terbesar dunia. Debut pada Oktober 2021.

Namun, seperti banyak pendatang baru lain, langkah awalnya di UFC tidak berjalan mudah. Sebuah sumber dalam preview menuju pertarungannya di UFC 278 pada Agustus 2022 menulis bahwa Lacerda adalah petarung yang “exciting but frustrating,” karena ia beberapa kali memulai laga dengan sangat panas tetapi gagal menjaga momentum sampai akhir. Kalimat itu sangat menggambarkan keseluruhan fase UFC-nya. Ia sering terlihat berbahaya di menit-menit awal, tetapi justru karena gaya agresif itu, ia juga membuka banyak ruang bagi lawan untuk menghukumnya ketika pertarungan mulai masuk fase yang lebih rumit.

Salah satu contoh paling jelas datang saat ia menghadapi Édgar Cháirez di Mexico City. ESPN menampilkan laga itu sebagai kekalahan submission ronde pertama pada 2:17 untuk Lacerda, dan halaman preview UFC Mexico juga menempatkan pertarungan itu dalam konteks flyweight. Kekalahan ini menjadi bagian dari fase sulit dalam karier UFC-nya, sekaligus memperlihatkan kenyataan bahwa di level elite, petarung yang terlalu terbuka di awal bisa segera dihukum lawan yang lebih tenang dan lebih terukur.

Namun yang membuat Daniel Lacerda tetap menarik justru adalah bahwa kisahnya tidak berhenti setelah UFC. Beberapa sumber menunjukkan bahwa setelah fase tersebut, ia kembali aktif di level regional Amerika Serikat, termasuk di Tuff-N-Uff dan Victory Fighting League. Pada 11 Oktober 2024, ia mencatat kemenangan atas Ahmet Kayretli lewat armbar di Tuff-N-Uff, lalu pada 12 Desember 2025 ia menang atas Ashiek Ajim lewat TKO ronde pertama di Victory Fighting League. Kemenangan-kemenangan ini penting karena menunjukkan bahwa “Miojo” tidak sekadar hilang setelah jalan di UFC menjadi berat. Ia justru kembali membangun dirinya lagi, dan itu memberi warna yang jauh lebih manusiawi pada kariernya.

Dari sisi teknik, Daniel Lacerda memang selalu menarik dibahas karena paradoks dalam dirinya. Di satu sisi, ia secara resmi dicatat ESPN sebagai striker dengan switch stance, sesuatu yang cocok dengan gaya awalnya yang cepat, langsung, dan ofensif. Di sisi lain, distribusi kemenangannya menunjukkan bahwa submission justru memegang porsi yang sangat besar dalam kariernya. Artinya, Lacerda bukan sekadar petarung yang hidup dari pukulan liar atau tekanan berdiri. Ia adalah petarung yang berbahaya saat laga memasuki fase transisi. Lawan yang terlalu sibuk menghindari striking-nya bisa saja justru masuk ke perangkap grappling-nya.

Aspek lain yang cukup menarik adalah soal tim latihannya. Salah satu sumber saat ini menampilkan Chute Boxe sebagai timnya, sedangkan sebuah sumber menampilkan RD Champions dan menyebut pelatih kepala Renato Dominguez. Perbedaan ini bisa mencerminkan fase karier yang berbeda, perpindahan tempat latihan, atau cara pendataan yang tidak selalu seragam antar-sumber. Tetapi satu hal tetap jelas: Lacerda datang dari kultur MMA Brasil yang sangat akrab dengan agresi, striking keras, dan transisi submission cepat. Dan seluruh kariernya memang terasa mencerminkan budaya bertarung itu.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Daniel Lacerda bukan nama yang akan dikenang sebagai juara besar UFC. Tetapi itu tidak berarti kisahnya tidak punya nilai. Ia pernah menembus UFC, bertarung di divisi flyweight yang sangat keras, membangun rekor profesional dua digit kemenangan, dan tetap cukup berbahaya untuk terus aktif setelah fase UFC-nya berakhir. Dalam MMA, banyak petarung regional tidak pernah sampai ke titik itu. Lacerda sampai. Dan bahkan setelah gagal mempertahankan tempatnya di panggung utama, ia tetap kembali bertarung dan menang.

Yang paling menarik dari Daniel Lacerda mungkin justru ada pada ritme kariernya. Ia bukan petarung yang membangun cerita dari kestabilan, melainkan dari intensitas. Pertarungannya cepat. Kemenangannya banyak yang selesai sebelum juri dibutuhkan. Kekalahannya pun sering datang dalam bentuk yang tegas. Ia seperti petarung yang menolak hidup di wilayah abu-abu. Dalam setiap bab kariernya, selalu ada rasa bahwa sesuatu akan terjadi cepat. Dan untuk pembaca media olahraga, itulah yang membuat sosok seperti “Miojo” selalu layak diangkat: ia tidak pernah terasa biasa.

Pada akhirnya, Daniel Lacerda adalah kisah tentang petarung Brasil yang hidup dari keberanian. Ia lahir di Valença pada 5 Juni 1996, datang ke UFC sebagai flyweight dengan gaya striker switch stance, lalu menunjukkan bahwa dirinya juga punya submission yang tajam. Rekornya memang tidak lagi sama seperti fase awal UFC, tetapi justru di situlah nilai ceritanya. Ia pernah jatuh, sempat kehilangan tempat di panggung utama, lalu tetap melanjutkan karier dan kembali menang. Dalam dunia MMA, itu adalah jenis perjalanan yang tidak glamor, tetapi sangat nyata. Dan sering kali, kisah seperti itulah yang paling layak diceritakan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda