Jika kita dapat menaklukkan pikiran, kita dapat menaklukkan dunia. Dengan kata lain, kita bisa menjadi penguasa atas diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya meluangkan waktu setiap hari untuk melihat bagaimana keadaan pikiran kita.
Perbedaan antara doa dan meditasi, doa adalah saat kita berbicara dengan Tuhan, dan meditasi adalah saat Tuhan berbicara kepada kita. Tetapi agar kita dapat mendengarkan apa yang Tuhan katakan, kita perlu memiliki pikiran yang hening, pikiran yang tenang. Apakah kita membiarkan Tuhan berbicara kepada kita saat pikiran kita begitu sibuk? Dan pikiran kita mengoceh sepanjang waktu tentang ini dan itu, sehingga kita tidak memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita.
Keheningan pikiran bukanlah berhenti berpikir atau menekan pikiran atau mengosongkan pikiran. Batin yang hening bukanlah menghakimi, mengomentari, mengkritik, analisa, ketertarikan, keinginan atau kemelekatan. Bayangan yang terlintas di benak kita ketika kita berpikir tentang keheningan adalah sebuah danau yang tenang yang bahkan tidak memiliki satu riak pun di permukaannya namun dalam dan kuat. Untuk mencapai keadaan pikiran ini, kita perlu masuk ke esensi keberadaan, hanya sang diri sendiri.
Kita adalah makhluk yang cinta. Diri kita, sang jiwa, adalah tenang. Agama kita adalah cinta kasih. Kita adalah anak dari samudera kebahagiaan dan penghuni daratan kedamaian. Kesadaran sebagai jiwa ini menenangkan organ-organ indera yang kita miliki. Ketika kita dalam kesadaran jiwa, pikiran menjadi tenang, dan tubuh menjadi sejuk.
Pikiran yang hening tidak akan berpikir berlebihan. Terlalu banyak berpikir adalah penyakit pikiran. Batin yang hening akan mengetahui apa yang benar untuk dilakukan, dan ketika hal itu dilakukan tidak akan ada lagi pemikiran lebih lanjut.

Pikiran yang hening akan menjadi terang. Keheningan dan terang itu secara otomatis akan menghubungkan kita dengan Tuhan, yang juga penuh dengan terang dan kekuatan. Kita kemudian dapat melepaskan diri dari situasi. Dan hanya mengamati dalam kedamaian dan cinta atas semua tindakan yang muncul dari keadaan itu.
Kita perlu berlatih kembali ke esensi ini setiap hari, bahkan berkali-kali sepanjang hari. Kita perlu merenungkan dan mengalami kedamaian juga keheningan ini selama beberapa saat setiap hari. Hal ini adalah cara kita memelihara pikiran, mengisinya dengan kekuatan, menghubungkannya dengan Tuhan dan semesta.
Ada banyak nama atas pikiran yang berisik itu, mind chatter, terlalu banyak berpikir, dan bahkan monkey mind. Dan apa pun label pikiran kita, kita mungkin tahu seperti apa rasanya di dalam kepala kita.
Biasanya, ketika kita berbicara tentang pikiran, kita mengacu pada ingatan, persepsi, analisa, perasaan, dan seterusnya. Tetapi dalam kondisi meditatif, hal ini menggambarkan peristiwa mental belaka. Awan bergerak di langit, tetapi awan bukanlah langit. Anggaplah kesadaran adalah langit, di mana awan pikiran mental datang dan pergi. Kesadaran hanyalah mengetahui, mengamati tanpa menganalisa. Saat ini ketika kita sedang membaca kata-kata ini, kita tahu apa yang ditangkap oleh indra suara, penciuman, sentuhan, rasa, dan penglihatan. Kita tahu persepsi dari diri kita sendiri. Itu adalah kesadaran. Terlepas dari keadaan, ceria atau tertekan, terganggu oleh sensasi atau gangguan apapun, ketakutan atau ketenangan, kesadaran akan selalu hadir.
Saat ini, angkat satu tangan sedikit. Apakah tangan kita terasa hangat? Dingin? Mati rasa? Sakit? Mengetahui seperti apa rasanya tangan kita adalah kesadaran. Apakah tidak ada sensasi khusus sama sekali? Mengetahui itu juga adalah kesadaran. Sekarang turunkan tangan. Tahukah kita bahwa kita baru saja menurunkan tangan? Jika demikian, lalu disebut apakah itu? Kesadaran! Apakah kita sudah memahaminya? Jika sudah, itu juga adalah kesadaran. Jika belum, kita tahu bahwa kita pikir kita belum mendapatkannya, itupun kesadaran.
Kesadaran tidak sama dengan monolog batin . Kita tahu aliran pikiran, pendapat, keyakinan, dan gambar yang terus-menerus mengalir di sana 24/7. Meskipun kita menggunakan konsep, pemikiran, dan emosi untuk menggambarkan pengalaman kita kepada diri kita sendiri. Misalnya, kita sedang melihat seseorang yang sedang berjalan-jalan dengan pacarnya. Pertama, pikiran kita mengidentifikasinya, mengkategorikannya. Segera, pikiran kita pergi ke suatu masa dimana kita merasakan indahnya pacarana, atau kita ingat diri kita yang masih single, atau malah rindu dengan pacar kita. Dialog terjadi di kepala kita. Pikiran akan kemana-mana. Namun dalam gambaran yang lebih besar, kesadaran melampaui semua persepsi, tanggapan, dan imajinasi tersebut.
Kesadaran adalah tentang momen saat ini. Apa yang kita alami adalah mengetahuinya. Dan di dalam kesadaran ini terdapat cinta kasih, kedamaian dan kebijaksanaan. Menjadi satu kesatuan utuh. Dan inilah kebenaran tentang siapa diri kita.
(DK-TimKB)
Sumber Foto : Spiritual Earth